Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Arsip untuk ‘Artikel Islam’ Kategori

April Kelabu Dalam Sejarah Muslim Spanyol

Posted by gunawank pada April 5, 2012

Sejak Panglima Thariq bin Ziyad berhasil membebaskan Spanyol pada abad ke-8 M, berangsur-angsur Spanyol tumbuh menjadi satu negeri yang makmur. Dan karena sikap para penguasa Islam begitu baik dan rendah hati, maka banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam.

Warga Spanyol bukan hanya beragama Islam, tapi mereka sungguh-sungguh mempraktekkan kehidupan secara Islami. Mereka tidak hanya membaca Al-Qur’an, tapi juga bertingkah laku berdasarkan Al-Qur’an. Mereka selalu berkata “tidak” untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu, berlangsung hampir enam abad lamanya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Akhlak, Artikel Islam, In memoriam, Kisah Nyata, Musibah, Muslim, Renungan, Sejarah, Serba serbi, Syuhada | Bertanda: , , , , , , | 8 Komentar »

Tulul Amal: Suka Mengulur Waktu Untuk Beramal

Posted by gunawank pada Maret 28, 2012

Marilah dalam hidup ini – kita selalu berusaha – memelihara iman yang ada dalam dada kita. Memperkuat rasa taqwa kita kepada Allah SWT, – baik dalam keadaan lapang – maupun dalam kesempitan hidup, dengan cara meningkatkan taat kita kepada Allah Swt, serta memelihara amal kita dari amal-amal yang dapat merusak ketaatan kita kepada-Nya.

Salah satu sikap yang dapat mengakibatkan bermalas-malasan dalam melakukan taat kepada Allah Swt adalah tulul amal, yaitu suka menunda-nunda kebaikan, mengulur-ulur waktu untuk berbuat amal, terlalu banyak pertimbangan dalam beramal, dengan berbagai macam alasan: sibuk, belum sempat, masih muda, masih ini, masih itu dan lain sebagainya.

Seperti kata seseorang: Nanti kalau sudah dapat pekerjaan, saya akan banyak shadaqoh, rajin berjamaah, rajin menghadiri pengajian dan lain-lain. Tetapi setelah dapat pekerjaan….nanti kalau sudah menikah, setelah menikah …. nanti kalau punya anak, setelah punya anak …nanti kalau anak sudah besar, …nanti kalau sudah pensiun, nanti kalau sudah tua, dan seterusnya dan seterusnya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Islam, Renungan, Tasawuf | Bertanda: , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Laknat Allah Bagi Pemberi dan Penerima Suap Serta Perantara Keduanya

Posted by gunawank pada Februari 12, 2012

لعن الله الراشي والمرتشي والرائش الذي يمشي بينهما

“Allah melaknat orang yang menyuap, orang yang menerima suap dan orang yang menjadi perantara keduanya” (HR. Al-Hakim)

Menyuap atau menyogok adalah pemberian apa saja (berupa uang atau yang lain) kepada penguasa, hakim atau pengurus suatu urusan agar memutuskan perkara atau menangguhkannya dengan cara yang bathil.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa para ulama telah mengatakan, ”Sesungguhnya pemberian hadiah kepada wali amri—orang yang diberikan tanggung jawab atas suatu urusan—untuk melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan, ini adalah haram, baik bagi yang memberikan maupun menerima hadiah itu, dan ini adalah suap yang dilarang Nabi saw.” [Majmu’ Fatawa juz XXXI hal 161]

Perbedaan antara suap dan hadiah sangatlah tipis. Berdasarkan definisi diatas, suap merupakan hadiah yang tercegah untuk diterima oleh pejabat yang berhak menghukumi sesuatu atau menguasai suatu urusan, karena akan menyebabkan timbulnya kasus penyelewengan kekuasaan.

Untuk lebih jelasnya bagaimana perbedaan antara hadiah dan suap, mari perhatiakan dua hadits berikut ini:

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW, beliau bersbda: “Saling memberi hadiahlah, maka kalian akan saling mencintai” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)

Dari Abu Humaid al-Sa’idi, seorang sahabat Nabi SAW menuturkan: “Rasulullah SAW menugaskan kepada seorang pria dari Bani Asad bernama Ibnu al-Luthbiyah (begitu pula diceriterakan oleh Amr dan Ibnu Abi Amr) untuk mengumpulkan harta zakat. Sepulangnya dari tugas ia menghadap baginda Nabi SAW dan berkata, “Harta yang ini adalah hadiah untukmu, sedangkan harta yang itu hadiah untukku.” Mendengar laporan tersebut Rasulullah SAW bangkit menuju mimbar. Setelah memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah, beliau bersabda: “Apa yang terjadi pada seorang petugas yang telah kutugaskan ini, dengan enaknya ia mengatakan bahwa harta ini adalah hadiah untukmu dan harta yang lainnya adalah hadiah untukku. Tidakkah jika ia duduk santai di rumah ayahnya atau rumah ibunya, apakah hadiah itu akan tetap datang kepadanya atau tidak ? Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, salah seorang dari kalian tidak memperoleh sedikitpun dari hadiah (ketika menjadi pejabat), kecuali di hari kiamat nanti ia akan datang dengan memikulnya, di pundaknya terdapat unta atau sapi betina atau kambing yang mengeluarkan suara khasnya masing-masing.” Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya hingga putih ketiaknya terlihat oleh kami, seraya bersabda, “Ya Allah, aku telah menyampaikannya,. Ya Allah, aku telah menyampaikannya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad dan ad-Darimi. Teks riwayat Muslim).

Berdasarkan hadits pertama, memberi hadiah merupakan amal yang dianjurkan dalam Islam. Namun demikian, para ulama sepakat bahwa perintah tersebut tidak sampai pada hukum wajib, melainkan hanya sunnah saja. Hukum sunnah ini berlaku bagi kaum muslimin yang tidak memegang jabatan atau kekuasaan.

Sementara, bagi para pejabat seperti hakim, jaksa, polisi, pemimpin dalam segala tingkatan maupun pekerja yang ditugaskan mengurus suatu urusan  -sebagaimana hadits kedua di atas- bagi mereka tidak diperkenankan menerima hadiah, terlebih-lebih bagi mereka yang tidak pernah menerima hadiah sebelumnya.

Oleh karena itu, wahai saudaraku yang sedang memegang suatu jabatan, hindarilah untuk menerima pemberian dari masyarakat yang membutuhkan pelayananmu, apalagi memintanya.

Demikian pula bagi masyarakat yang membutuhkan tenaga dan jasa mereka jangan sekali-kali memberikan sesuatu kepada mereka, dengan alasan apapun, seperti agar prosesnya lebih cepat, agar mendapat prioritas dan sebagainya. Ingat, bahwa penerima maupun pemberi suap keduanya dilaknat oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Kedua-duanya adalah ahli neraka. Naudzu billahi min dzalik….!

 الراشى والمرتشى فى النار

“Pemberi dan penerima suap (keduanya) di dalam neraka.” (HR. Tabrani)

Wallahu A’lam….

Ditulis dalam Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Pemimpin, Tasawuf | Bertanda: , , , | 4 Komentar »

Bahaya Hubud Dunia; Terlalu Cinta Kepada Perkara Duniawi

Posted by gunawank pada Februari 10, 2012

Salah satu penyakit hati yang harus kita hindari dan buang jauh-jauh dari diri kita adalah  hubud dunya, cinta yang sangat terhadap urusan dunia, terlalu mengejar-ngejar perkara yang bersifat duniawi.

Dalam kehidupan sehari-hari, dalam dunia perdagangan misalnya, karena berharap mendapatkan keuntungan yang lebih besar sampai berani mengurangi timbangan, mengurangi takaran, berbohong tentang harga, jual beli barang illegal dan lain-lain, yang notabene termasuk perbuatan yang dilarang agama.

Demikian juga dalam bidang pekerjaan, demi meraih posisi, jabatan dan sejenisnya, tega memanipulasi laporan agar mendapat perhatian pimpinan, tega menfitnah atau mengorbankan rekan sejawat, sikut sana sikut sini, melalaikan ibadah, bahkan tidak jarang yang berani menjual keyakinan agamanya demi jabatan yang ingin diraihnya. Naudzubillah.

Dan banyak lagi contoh-contoh lain, yang hakekatnya hal itu dilakukan tiada lain semata-mata karena cintanya yang sangat kepada dunia, terlalu berlebihan mengejar urusan dunia. Baik dilakukan secara sadar atau kasat mata, maupun yang tidak disadari atau tidak kasat mata. Termasuk di dalamnya adalah apabila kita sedang shalat teringat kepada pekerjaan, ingat harta, keluarga atau apa saja di luar bacaan dan gerakan shalat, sudah termasuk hubbud dunia. Sabda Nabi SAW:

حُبِّبَ اِلىّ من دنياكم ثلاث الطيب والنساء وجُلِيت قُرَّ ةَُ عينى فى الصلوة

”Aku diberi rasa cinta kepada duniamu itu tiga perkara, yaitu senang kepada wangi-wangian, cinta kepada wanita dan ketika dijadikan padaku rasa sejuk mataku seolah-olah aku melihat Allah di dalam shalat”.

Sifat hubbud dunya tersebut sagat dicela oleh agama, karena merupakan pangkal dari segala sifat kejahatan yang mencelakakan bagi manusia. Firman Allah dalam Al-Qur’an:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

”Barang siapa menghendaki pahala akhirat niscaya Kami tambah pahala itu baginya, dan barang siapa menghendaki pahala dunya niscaya Kami beri pahala baginya, dan tidak ada bagian yang dia peroleh di akhirat”. (QS. Asy-Syura: 20)

Dan sabda Nabi SAW:

حب الدنيا رأسُ كلِ خَطِيئة

“Cinta kepada dunia merupakan pangkal dari segala kesalahan dan kejahatan”.

Dan sabdanya:

الدنيا سِجْنُ المؤمن وجنة الكافر

“Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir”.

Dan sabdanya :

مَن اَحب دنياه اَضَرَّ بآخرته ومن احب آخرتَه اضر بدنياه فأثِروا ما يَبْقَى على ما يفنى

“Barang siapa yang mencintai dunianya niscaya menjadi madlarat bagi akhiratnya, dan barang siapa mencintai akhiratnya niscaya menjadi madlarat bagi dunianya. Maka pilihlah oleh kamu sekalian akhirat yang kekal atas dunia yang fana”.

Bahkan para ulama ahli tashawuf mengatakan :

“Kebekuan iman timbul karena kerasnya hati
Kerasnya hati timbul karena kebekuan mata
Kebekuan mata timbul karena hubbud dunia”

Dengan kata lain akibat paling hebat dari hubbud dunia adalah matinya mata hati yang akan menimbulkan bekunya iman, sehingga akan sulit menerima kebenaran (haq). Naudzu billah tsuma naudzu billah.

Firma Allah dalam Al-Quran :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ * خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ *

”sesungguhnya orang-orang kafir, bagi mereka  sama saja kamu beri peringatan ataupun tidak kamu beri peringatan, tetap mereka tidak akan beriman. Allah telah menutup rapat hati, pendengaran dan pandangan mereka dengan suatu penutup. Bagi mereka itu adzab yang sangat besar” (QS. AlBaqarah : 6-7).

Ditulis dalam Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Kepribadian, Renungan, Tasawuf | Bertanda: , , , , | 1 Komentar »

Beriman Kepada Takdir

Posted by gunawank pada Januari 31, 2012

Beriman kepada Takdir atau Qadha dan Qadar artinya meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini yang baik maupun yang buru telah ditentukan oleh Allah SWT sebelum terjadi.

Akan tetapi manusia wajib berikhtiar dan berusaha, jangan hanya menyerah dan bersandar kepada takdir, sehingga manusia tidak memiliki kemampuan berkehendak dan kemauan berbuat sesuatu.

Misal, ketika ditakdirkan untuk sakit manusia harus berikhtiar mencari kesembuhan dengan cara berobat ke dokter dan berdo’a memohon kesembuhan kepada Allah. Jangan menyerah begitu saja, apalagi berputus asa. Karena pada hakikatnya kita tidak mengetahui apakah sakit kita akan sembuh atau tidak. Oleh karena itu untuk menjawabnya lakukanlah ikhtiar.

Tetapi juga jangan berlebihan dalam menilai kekuatan kehendak manusia sehingga melupakan kuasa dan takdir Allah. Berusahalah sekuat tenaga dan kemampuan, tetapi serahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA dalam bukunya “Riyadhul Mu’min, Lima Puluh Hadits Shahih Membahas Akidah, Syariah dan Akhlak” membagi Qadar atau takdir Allah menjadi empat macam tingkatan, yaitu:

  1. Takdir dalam ilmu Allah, misalnya bahwa manusia diciptakan dengan memiliki dua potensi untuk mengikuti petunjuk atau potensi untuk mengingkari petunjuk Tuhan. Potensi untuk beriman dan potensi untuk bersifat kafir.
  2. Takdir di Lauh al-Mahfudz, yaitu rancangan Tuhan yang sudah disiapkan untuk diterapkan dan diberlakukan kepada makhluk, yang dihimpun dalam Lauh al-Mahfudz.
  3. Takdir dalam rahim, yaitu ketika embrio masih berada dalam kandungan ibunya, Malaikat diutus oleh Allah SWT untuk mengagendakan rancangan dari ketentuan rizki, amal, dan ajal bagi bayi tersebut.
  4. Penetapak takdir pada waktunya. Allah SWT berkuasa merancang ketentuan baik dan buruk, bahagia dan celaka bagi seseorang dalam alam qidam-Nya. Kemudian rancangan ketentuan itu akan diterapkan pada makhluk pada waktunya yang telah ditentukan menurut sunnatullah.

Semua ketentuan Allah bersifat tetap, tidak berubah kecuali bila Alah sendiri menghendaki perubahan. Bukankah pada hakikatnya kehendak Allah untuk merubah apa yang telah ditetapkan-Nya juga merupakan ketetapan atau takdir-Nya juga?

Allah Maha Berkuasa untuk memastikan atau merubah takdir-Nya, karena Dia-lah yang Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Pencipta, Maha Berkehendak dan Maha Pengatur bagi semua makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauhul Mahfuzh)” (QS. Ar-Ra’d: 13).

Oleh karena itu berusaha dan berdo’a adalah keharusan ketika mendapat ketentuan Allah, atau ketika kita menghendaki agar ketentuan Allah yang baik yang ditetapkan kepada kita. Dalam konteks ini dapatlah dipahami hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa do’a dapat merubah takdir Allah (seperti do’a meminta panjang umur, murah rezeki dan lain-lain). Juga hadits yang menyatakan bahwa banyak silaturahim akan memudahkan rizki dan panjang umur.

Dalam kaitan ini Umar bin Khathab r.a. diriwayatkan pernah berdo’a untuk mengharapkan perubahan-perubahan suratan takdir yang telah ditetapkan padanya. Beliau berdo’a (yang artinya):

“Ya Allah, bila Kau tetapkan aku ini menjadi seorang yang celaka, maka hapuskanlah, dan tulislah aku sebagai orang yang bahagia” (HR. Thabrani).

Wallaahu A’lam…

Ditulis dalam Artikel Islam, Iman, Renungan | Bertanda: , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Tragedi Tugu Tani; Takdirkah Itu…?!

Posted by gunawank pada Januari 31, 2012

Dalam suatu hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khathab r.a. : Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata: ”Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.” Kemudian Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam menjawab: ”Islam yaitu: hendaklah engkau bersaksi tiada sesembahan yang haq disembah kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh. Hendaklah engkau mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Romadhon, dan mengerjakan haji ke rumah Alloh jika engkau mampu mengerjakannya.” Orang itu berkata: ”Engkau benar.” Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya. Orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman”. (Rosululloh) menjawab: ”Hendaklah engkau beriman kepada Alloh, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk.”………………”(HR. Muslim).

Dari penggalan hadits di atas jelaslah bahwa salah yang harus diyakini dan diimani oleh setiap muslim adalah adanya ketentuan dan ketetapan Allah SWT yang disebut takdir.

Beriman kepada takdir artinya meyakini bahwa Allah SWT menetapkan qadha dan qadar-Nya terhadap segala sesuatu, yang baik maupun yang buruk. Meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini telah direncanakan oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

“Yang kepunyaan-Nya meliputi kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan kekuasaan-NYa, dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapih-rapihnya” (QS. Al-Furqan: 2). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Akhlak, Artikel Islam, Iman, Musibah, Opini, Pelajaran, Pidana, Renungan | Bertanda: , , , | 2 Komentar »

Empat Macam Ujian Keimanan

Posted by gunawank pada Januari 25, 2012

Ujian yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah berbeda-beda dan bermacam-macam bentuknya, sesuai dengan kadar keimanannya. Namun, setidak-nya ada empat macam ujian yang telah dialami oleh orang-orang terdahulu:

Pertama: Ujian yang berbentuk perintah untuk dilaksanakan, seperti perintah Allah kepada Nabi Ibrahim As untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Ini adalah satu perintah yang betul-betul berat dan mungkin tidak masuk akal, bagaimana seorang bapak harus menyembelih anaknya yang sangat dicintai, padahal anaknya itu tidak melakukan kesalahan apapun. Namun dengan segala ketabahan dan kesabaran keduanya, perintah yang sangat berat itupun dijalankannya tanpa keraguan sedikitpun. Di sini terlihat bagaimana kualitas keimanan Nabi Ibrahim As dan putranya Nabi Ismail As yang benar-benar sudah tahan uji.

Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan puteranya adalah pelajaran yang sangat berharga dan sangat perlu ditauladani, karena sebagaimana dirasakan dalam kehidupan ini, banyak sekali perintah Allah yang dianggap berat, dan dengan berbagai alasan berusaha untuk tidak melaksanakannya. Padahal apabila dibandingkan dengan ujian yang diterima Nabi Ibrahim As, belumlah seberapa. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Artikel Islam, Iman, Islam, Muslim | Bertanda: , , | 14 Komentar »

Sudah Terujikah Iman Kita…?!

Posted by gunawank pada Januari 25, 2012

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut: 2-3).

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa salah satu konsekuensi pernyataan iman kita, adalah kita harus siap menghadapi ujian yang diberikan Allah Swt kepada kita, untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan iman kita, apakah betul-betul bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, atau sekedar ikut-ikutan serta tidak tahu arah dan tujuan, atau karena didorong oleh kepentingan sesaat, ingin mendapatkan kemenangan dan tidak mau menghadapi kesulitan seperti yang digambarkan Allah Swt dalam surat Al-Ankabut ayat 10:

“Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguh-nya kami adalah besertamu.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia”?

Bila kita sudah menyatakan iman dan kita mengharapkan manisnya buah iman yang kita miliki yaitu Surga, maka marilah kita bersiap-siap untuk menghadapi ujian berat yang akan diberikan Allah kepada kita, dan bersabarlah kala ujian itu datang kepada kita. Allah memberikan sindiran kepada kita, yang ingin masuk Surga tanpa melewati ujian yang berat.

“Apakah kalian mengira akan masuk Surga sedangkan belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama-nya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguh-nya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al-Baqarah 214).

Di samping itu, kita harus yakin bahwa ujian dari Allah itu adalah satu tanda kecintaan Allah kepada kita, sebagaimana sabda Rasulullah Saw :

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ. (رواه الترمذي، وقال هذا حديث حسن غريب من هذا الوجه).
“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan (ujian), Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai satu kaum, Dia akan menguji mereka, maka barangsiapa ridha, baginyalah keridhaan Allah, dan barangsiapa marah, baginyalah kemarahan Allah”. (HR. At-Tirmidzi, juz 4 hal. 519).

Rasulullah Saw mengisahkan betapa beratnya perjuangan orang-orang dulu dalam mempertahankan iman mereka, sebagaimana dituturkannya kepada shahabat Khabbab Ibnul Arats r.a.

“… Sungguh telah terjadi kepada orang-orang sebelum kalian, ada yang di sisir dengan sisir besi (sehingga) terkelupas daging dari tulang-tulangnya, akan tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya, dan ada pula yang diletakkan di atas kepalanya gergaji sampai terbelah dua, namun itu tidak memalingkannya dari agamanya…” (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari, cet. Dar Ar-Royyan, Juz 7 hal. 202).

Artikel Terkait:

Ditulis dalam Artikel Islam, Iman, Islam, Muslim | Bertanda: , | 1 Komentar »

Sejarah Munculnya Thoriqoh

Posted by gunawank pada Januari 19, 2012

Thoriqoh adalah salah satu amaliyah keagamaan dalam Islam yang sebenarnya sudah ada sejak jaman Nabi Muhammad SAW. Bahkan, perilaku kehidupan beliau sehari-hari adalah paktek kehidupan rohani yang dijadikan rujukan utama oleh para pengamal thoriqoh dari generasi ke generasi sampai kita sekarang.

Lihat saja, misalnya hadist yang meriwayatkan bahwa ketika Islam telah berkembang luas dan kaum Muslimin telah memperoleh kemakmuran, sahabat Umar bin Khatthab RA. berkunjung ke rumah Rosulullah SAW. Ketika dia telah masuk didalamnya, dia tertegun melihat isi rumah Beliau, yang ada hanyalah sebuah meja dan alasnya hanya sebuah jalinan daun kurma yang kasar, sementara yang tergantung di dinding hanyalah sebuah geriba (tempat air) yang biasa beliau gunakan untuk  berwudlu’. Keharuan muncul di hati Umar RA. yang kemudian tanpa disadari air matanya berlinang. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Islam, Sejarah, Serba serbi, Tasawuf | Bertanda: , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Oleh-oleh Dari Malang

Posted by gunawank pada Januari 18, 2012

Bukan Buah Apel dari Batu yang akan diceriterakan di sini. Bukan pula Keripik Apel, Keripik Nangka, Keripik Ketela maupun Sari buah Apel. Karena semuanya sudah maklum nama-nama jenis makanan tersebut merupakan oleh-oleh khas Kota Malang.

Sebagaimana rekan-rekan blogger ketahui bahwa selama lebih kurang sepuluh hari terakhir ini aku tidak posting tulisan baru, bahkan belasan komentar yang ada sampai saat ini belum sempat dibalas. Sejak Senin, 8 Januari 2012 sampai 15 Januari 2012 aku ikut mendampingi guru-guruku para Kiai  menghadiri Muktamar XI Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An Nahdliyah di Pondok Pesantren Al-Munawwiriyyah, Jl. Sudimoro No. 9 Bululawang Kabupaten Malang Jawa Timur yang berlangsung pada tanggal 10 – 14 Januari 2012.

Ada beberapa kesan menarik yang (menurutku) dapat aku jadikan oleh-oleh:

Pertama, di bawah naungan organisasi Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An Nahdliyah (selanjutnya disingkat Jatman) para penganut berbagai macam aliran Thariqah yang ada di Nusantara dapat bersatu padu mengembangkan dan memasyarakatkan pemahaman tentang thariqah, meski diantara mereka memeiliki perbedaan-perbedaan.

Kedua, atas keberhasilan Jatman ini para tokoh Sufi dunia (dalam Muktamar ini dihadiri juga oleh Tokoh Sufi dari 16 Negara) mendeklarasikan terbentuknya Perkumpulan Sufi Dunia (Multaqa Sufi Fil Alam) sekaligus mendaulat Rais ‘Am Jatman, Al-Habib Luthfi bin Yahya berkenan menjadi Raisnya.

Ketiga, keberhasilan strategi dakwah para Mubaligh penyebar Islam di Nusantara, khususnya di pulau Jawa yang dikenal sebagai Wali Songo yang berhasil meng-Islamkan masyarakat Jawa dengan penuh kedamaian, tanpa paksaan dengan kekerasan apalagi penggunaaan senjata, banyak dikaji oleh para Ulama dunia. Bahkan mereka mengagumi keberhasilan da’wah Syekh Maulana Malik Ibrahim, misalnya, yang datang ke Jawa Timur dengan hanya mampu berbahasa Arab dan tidak mengerti bahasa Jawa dapat menarik simpati dan berhasil meng-Islamkan masyarakat Jawa yang sama sekali tidak mengerti bahasa Arab. Demikian yang dapat kami tangkap dari ceramah-ceramah/dialog yang mereka lakukan dalam forum Muktamar XI ini.

Keempat, suasa Muktamar yang penuh kedamaian, jauh dari hiruk pikuk persaingan, kubu-kubuan, perebutan kekuasaan untuk memenangkan kursi pucuk pimpinan (sebagaimana yang sering terjadi dalam perhelatan bertarap nasional pada organisasi-organisasi lain). Dalam Muktamar Jatman ini pemilihan pucuk pimpinan (Rois ‘Am dan Mudir ‘Am) benar-benar dilaksanakan secara musyawarah mufakat tanpa menggunakan vooting. Kedua jenis pucuk pimpinan tersebut dipilih oleh Majlis Ifta’ sebagai tim formatur yang duduk di dalamnya para Mursyid Thariqah.

Mobil ESEMKA turut dipamerkan pada Muktamar XI

Kelima, dalam muktamar ini pula terjadi deklarasi pengukuhan terbentuknya MATAN (Mahasiswa Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyah). Hal ini menunjukkan bahwa thariqah yang selama ini terkesan “angker”, “seram”, eksklusif mulai dikenal dan diterima masyarakat umum, termasuk generasi muda.

Dan banyak lagi kesan-kesan yang tak dapat kuungkapkan semuanya melalui bahasa tulisan di sini.

Wallahu A’lam bish Showab.

Ditulis dalam Akhlak, Artikel Islam, Berita, Jam'iyah, Kisahku, Organisasi, Ormas Islam, Pelajaran, Serba serbi, Tasawuf, Teladan | Bertanda: , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya.