Kami mengucapkan selamat bagi para siswa-siswi peserta yang diterima. Bagi para Calon Mahasiswa agar melaksanakan Daftar Ulang pada tanggal 27 Juli s/d 3 Agustus 2011 (jam kerja), dengan membawa kelengkapan sebagai berikut : Baca entri selengkapnya »
Muhammad Toha (1927 – 24 Maret 1946) Tempat kelahiran : Bandung, Hindia Belanda (sekarang Indonesia) Tempat kematian : Bandung, Indonesia Pengabdian bagi : Republik Indonesia Dinas/cabang : Barisan Rakjat Indonesia Lama berdinas : 1945 – 1946 Pangkat : Komandan Kesatuan : Milisi Penggempur Komando : milisi gerilya Pertempuran/perang : Bandung Lautan Api (Perang Kemerdekaan Indonesia)
Pada tanggal 24 Maret 1946, tepat 65 tahun yang lalu terjadi peristiwa besar nan bersejarah yang dikenal dengan Peristiwa Bandung Lautan Api. Peristiwa yang merupakan kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung, provinsi Jawa Barat, Indonesia. Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.
Berbeda dengan tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantoro maupun Raden Ajeng Kartini yang setiap tahun diperingati, hari kelahiran Dewi Sartika yang jatuh pada tanggal 4 Desember lalu tidak ada yang memperingatinya bahkan sekedar membicarakannya. Tidak ada anak sekolah SD, SMP, SMA yang memakai kebaya, sanggul serta lomba-lomba memperingati Dewi Sartika.
Padahal kalau boleh dibanding-bandingkan antara jasa Dewi Sartika dengan kedua tokoh di atas kiprahnya dalam merintis pendidikan maupun memperjuangkan kaum wanita lebih dahulu.
Dewi Sartika dilahirkan di Bandung, 4 Desember 1884 dari keluarga priyayi Sunda, Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tuanya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika, ke sekolah Belanda pula. Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya (kakak ibunya) yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, beliau mendapatkan didikan mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari berkat didikan seorang nyonya Asisten Residen bangsa Belanda.
Bandung…..Bandung…. Bandung nelah Kota Kembang Diriung ku gunung…heurin ku tangtung Puseur kota nu mulya Parahiyangan ………….….
Pada tanggal 25 September 1810 Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mengeluarkan surat keputusan tentang pembangunan sarana dan prasarana pada kawasan yang sekarang dikenal sebagai kota Bandung. Penancapan tonggak jalan di tempat yang sekarang bernama jalan Asia Afrika menjadi acuan titik nol Kota Bandung.
Bandung mendapat julukan Kota Kembang karena keasriannya yang dipenuhi berbagai macam ragam dan warna-warni bunga-bunga indah. Udaranya yang sejuk karena dipenuhi pepohonan rindang (heurin ku tangtung), persis seperti yang diungkapkan dalam syair lagu di atas.
Bandung juga dijuluki sebagi Parijs van Java, karena keindahan alamnya tadi disertai keanekaragaman wisata kuliner, mode, budaya serta keramah tamahan penduduknya.
Kini, setelah 200 tahun berlalu dan kota ini sempat berubah julukan dari kota kembang menjadi Kota Lombang serta terkenal dengan kemacetan yang mengular terutama setiap akhir pekan, Kota Bandung di bawah nahkoda Wali Kota Dada Rosada berkeinginan menjadi Kota Dirgantara yang ramah lingkungan lewat pencanangan “Eco Town”.
Oleh karena itulah, salah satu kegiatan memperingati HUT -nya ke 2 abad diselenggarakan pameran dan atraksi Bandung Air Show di Landasan Udara (Lanud) Husein Sastranegara pada 23-26 September 2010 meski sempat diwarnai insiden jatuhnya pesawat Super Decatlon tipe 8 KCAB dengan pilot Ir. Alexander Supeli.
Mudah-mudahan program itu segera terlaksana, sehingga keindahan, kesejukkan, keramah tamahan, ketenangan yang dulu menjadi trade mark Kota Bandung lebih cepat terwujud. Amin……..
Peristiwa tragis jatuhnya pesawat Decatlon 8 KCAB saat atraksi dalam Bandung Air Show (BAS) 2010