Cimplo, begitulah warga kampungku menyebutnya. Sejenis kue apem (kalau ga tahu juga, cari aja di kamus makanan tradisional Indonesia. Itupun kalao ada kamusnya. Nah, lho!) dicetak berukuran keci (sebear ibu jari kaki, maaf) dan dimakan dengan cara dicelupkan dulu pada kinca (itu lho, kuah gula merah dicampur parutan kelapa).
Di kampungku, makanan ini dibuat oleh warga khusus pada bulan Shafar dan dibagikan dengan cara saling berkirim antar warga sekampung atau bahkan sampai ke kampung lain. Katanya sih, sebagai peringatan atau nasihat agar banyak bersedekah di bulan Shafar sebagai penolak bala/bencana, karena ada keterangan bahwa pada bulan ini Allah menurunkan 100 bala (Wallahu a’lam).
Apapun alasannya, lagi-lagi…..kita patut acungi jempol bagaimana hebatnya orangtua kita dulu mengajarkan untuk senantiasa mau saling berbagi, bergotong royong dan tolong menolong antar sesama.
Nah lho, bingung…kan?!!! Silakan baca dulu sampai tuntas ceriteranya, insya Allah ga bakalan bingung lagi…….
Ini bukan dongeng lho, juga bukan ceritera dibuat-buat apalagi fiktif, tetapi benar-benar kisah nyata yang terjadi pada tahun 2009. Masih ingatkan apa yang telah terjadi di tahun 2009…? (Bingung lagi, khan..?).
Sebagaimana rekan-rekan ketahui pada akhir Maret 2009, media nasional baik cetak maupun elektronik ramai memberitakan bencana banjir yang melanda wilayah kabupaten Karawang. Belasan kecamatan, khususnya yang berada di bantaran sungai Citarum terendam banjir selama lebih kurang 10 hari akibat meluapnya sungai Citarum karena tidak dapat menampung debit air yang dikeluarkan bendungan Ir. Juanda, Jatiluhur.
Dalam suasana hiruk pikuk di tenda-tenda pengungsian karena kaum pria harus bolak-balik menyelamatkan barang-barang termasuk sepeda motor maupun kendaraan roda empat, sementara kaum wanitanya harus berebut jatah makan yang disediakan di posko karena sering tidak mencukupi jumlahnya, tiba-tiba digegerkan oleh berita yang diterima via sms; Baca entri selengkapnya »
Setelah sekian lama tidak terdengar terjadinya kecelakaan pesawat, tiba-tiba pada hari Sabtu, 7 Mei 2011 kita dihentakkan dengan kabar jatuhnya pesawat jenis MA-60 milik PT Merpati Nusantara Airlines di Perairan Kaimana, Papua Barat, memakan korban jiwa. Dari 25 orang yang ada di dalam pesawat tersebut, 17 diantaranya telah teridentifikasi.
Dari 17 yang teridentifikasi, 13 diantaranya penumpang dewasa, satu anak, satu bayi, dan dua pramugari pesawat. “Kedua pramugari adalah Sumayani dan Indrayani Puspasari,” ujar Sekretaris Perusahaan Merpati Imam Turidi (Tempointeraktif, 8/5/2011).
Sejak pertengahan Maret lalu, serangan jutaan hama ulat bulu tampak “meneror” warga Probolinggo hingga menjalar ke delapan kecamatan di Kabupaten Probolinggo, seperti Leces, Bantaran, Tegal Siwalan, dan Sumber Asih serta dua kecamatan di Kota Probolinggo.
Menurut Aunu Rauf, Guru Besar Ilmu Hama Tanaman IPB yang datang khusus ke Probolinggo untuk meneliti hama yang menghebohkan itu, menjelaskan berdasarkan pemeriksaan sampel sementara, diketahui jenis ulat bulu ini lymantria marginanta, bukan jenis desgiria inclusa. “Untuk kasus Probolinggo, lymantria marginanta tidak pernah dijumpai sebelumnya”, katanya (Okezone, Selasa 5/4/2011).
Gempa dan tsunami dahsyat yang melanda Jepang pada tanggal 11 Maret 2011 pukul 14.45 waktu setempat meluluh lantakkan beberapa wilayah dan merenggut ribuan nyawa, menimbulkan rasa was-was dan cemas siapapun yang anggota keluarganya berada di Jepang, tak ketinggalan para pengagum artis-artis Jepang yang dengan penuh harap senantiasa mencari informasi tentang kondisi mereka.
Bagi mereka para pengagum artis asal negeri sakura, inilah daftar nama artis Jepang yang selamat dari amukan tsunami:
Ini hanya sebagian keu…cil saja berita tentang ricuh, tawuran, serang-menyerang, balas dendam, sweeping…….dll antar suporter LSI-nya PSSI.
Sweeping Bonek, Seorang Warga Tewas Ditusuk
Headline News / Hukum & Kriminal / Sabtu, 22 Januari 2011 21:14 WIB
Metrotvnews,com, Lamongan: Seorang warga tewas dan seorang lainnya luka parah akibat tawuran antara warga dan suporter Persebaya alias bondo nekat (bonek) di Lamongan, Jawa
Timur, Sabtu (22/1). Tawuran terjadi di dalam kereta yang mengangkut bonek.
Pembunuhan terjadi seusai sweeping warga terhadap bonek di stasiun. Nahas bagi dua warga tersebut karena tertinggal di Kereta Kertajaya yang mulai jalan. Keduanya kontan dikeroyok para bonek. Sebelumnya, warga memukuli puluhan bonek yang mereka sweeping.
Korban tewas adalah Gilang, warga Deket, Kecamatan Deket, Lamongan. Sementara korban luka bernama Teguh. Menurut Teguh, Gilang tewas ditusuk bonek. Kemudian jasadnya dibuang ke perlintasan rel di Desa Karang Langit, Kecamatan Sukodadi, Lamongan.
Sementara Teguh dibuang di perlintasan rel di Desa Talun, Kecamatan Sukodadi. Teguh mengalami luka tusuk di bagian punggung. Teguh dan jasad GIlang dibawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah, Lamongan.(IKA)
Metrotvnews.com, Bandung: Keributan pecah antara pendukung Persib dan polisi di Jalan Banda, Bandung, Jawa Barat, Ahad (23/1). Sebanyak 12 bobotoh–julukan fans Persib–terluka, tujuh di antaranya perempuan.
Menurut seorang bobotoh, keributan bermula saat mereka hendak pulang usai menyaksikan laga Persib dan Arema Malang pukul 23.00 WIB. Di tengah perjalanan, bobotoh menyanyikan yel-yel yang diduga menyinggung polisi.
Tujuh wanita korban luka dievakuasi dan dibawa pulang menggunakan bus ke tempat asal mereka di Tangerang, Bekasi dan Bogor. Sedangkan yang lainnya masih dirawat di distro milik bobotoh.
Distro di Jalan Banda juga rusak saat terjadi keributan. Tak hanya itu, satu mobil juga rusak akibat keributan tersebut.(RAS)
Metrotvnews.com, Tangerang: Ratusan suporter Persita Tangerang, Persikota Tangerang dan Persebaya 1927, terlibat tawuran dengan warga Buaran, Kota Tangerang, yang dikenal sebagai suporter Persija Jakarta.
Tawuran di belakang Stadion Benteng, Tangerang, Banten, terjadi ketika para suporter Persita, Persikota dan bonek Persebaya 1927 sedang menyaksikan pertandingan antara Persebaya 1927 melawan Tangerang Wolves di laga Liga Primer Indonesia (LPI), Ahad (23/1) petang.i///
Diduga warga Buaran memicu tawuran dengan melemparkan batu ke arah Stadion Benteng. Tidak terima dengan perlakuan warga Buaran, yang juga pendukung Persija tersebut, suporter ketiga tim bersatu untuk membalas menyerang dengan meleparkan batu. Akibatnya lemparan batu para suporter menghancurkan atap rumah-rumah warga.
Aksi tawuran mereda setelah Kepolisian Resor Kota Tangerang, melepaskan tembakan gas air mata ke arah kelompok suporter.(RIZ)
Sejak Jum’at malam (5/11/2020) Presiden beserta rombongan berangkat dari Jakarta dengan menggunakan pesawat menuju Bandara Ahmad Yani, Semarang yang kemudian meneruskan perjalanan melalui darat menuju Akademi Militer Magelang, Jawa Tengah, untuk mendengarkan paparan dari Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo. Selanjutnya Presiden akan berkantor di Yogyakarta sampai waktu yang belum ditentukan. Keputusan ini diambilnya agar dapat mempercepat pengambilan keputusan dalam penanggulanagan bencana merapi.
Perlukah tindakan tersebut dilakukan Presiden…? Tidakkah cukup Menteri, Gubernur, Bupati atau badan-badan terkait yang harus bekerja di lapangan?
Ketua Konsorsium Pengurangan Resiko Bencana Dadang Sudardja mengatakan Presiden tak perlu berlebihan seperti itu (TRIBUN-TIMUR.COM, 5/11/2010).
“Tidak perlulah Presiden sampai berkantor di Yogya. Sangat lucu kalau Presiden memutuskan begitu. Biasanya ketika pejabat negara datang, birokrasi kan jadi persoalan baru di lokasi bencana, harus mempersiapkan ini itu,” ungkapnya kepada Kompas.com, Jumat (5/11/2010).
Keputusan Presiden ini, lanjutnya, justru menunjukkan sistem komunikasi dan koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah dan instansi-instansi terkait tidak berlangsung dengan baik.
Dadang mengatakan Presiden sebenarnya cukup berkantor di ibukota untuk memastikan semua langkah penanganan bencana berlangsung dengan baik dan benar.
“Kan sudah ada pemerintah daerah, BNPB, dinas-dinas dan instansi lainnya. Yang penting respon Presiden itu kan untuk mengatakan ini waspada nasional dan memastikan semua instansi melakukan tugasnya dengan baik,” katanya.
Kalau keputusan itu dianggap tepat, bagaimana dengan korban bencana Mentawai…? Lumpur Lapindo…….?!!!
TEMPO Interaktif, Yogyakarta -Letusan gunung Merapi kali ini benar-benar luar biasa. Menurut Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Miner R Sukhyar letusan Merapi 2010 ini adalah yang terbesar dan terburuk.
“Terbesar setelah Galunggung 1982, penduduk Merapi tidak pernah merasakan letusan semacam ini dalam jangka waktu 100 tahun terakhir,” ujar Sukhyar di Yogyakarta, Jumat (5/11).
Letusan Gunung Merapi kian mengganas. Merapi mencatatkan rekornya dalam meluncurkan awan sejauh 15 kilometer dari Puncak Merapi menuju Cangkringan yang berjarak 15 kilometer dari Puncak Merapi.
Luncuran awan panas sejauh ini tercatat paling besar sejak letusan pertama pada 26 September lalu. Tidak hanya itu, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Sumber Daya Mineral, Surono mencatat jarak luncuran awan panas pada luncuran awan panas letusan Gunung Merapi terbesar yang pernah terjadi.
Pada hari ini, seluruh sekolah di Yogyakarta diliburkan, Bandar Udara Adi Sucipto ditutup, penerbangan dari dan menuju Yogyakarta dialihkan ke Solo dan Semarang.