Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Arsip untuk ‘Biografi’ Kategori

11 Mei; Lahirnya Komponis Legendaris, ISMAIL MARZUKI

Posted by gunawank pada Mei 10, 2012

Foto: tokohindonesia.com

Foto: tokohindonesia.com

Ismail Marzuki lahir di Kwitang, Senen, Jakarta Pusat (Batavia) pada tanggal 11 Mei 1914  adalah salah seorang komponis besar Indonesia yang sangat produktif dan pandai melahirkan karya-karya yang mendapatkan apresiasi tinggi dari masyarakat. Lagu ciptaannya yang paling populer adalah Rayuan Pulau Kelapa yang digunakan sebagai lagu penutup akhir siaran oleh stasiun TVRI pada masa pemerintahan Orde Baru

Sejak tahun 1930-an hingga 1950-an, dia menciptakan sekitar 250 lagu dengan berbagai tema dan jenis aliran musik yang memesona. Hingga saat ini, lagu-lagu karyanya yang abadi masih dikenang dan terus berkumandang di masyarakat. Dalam dunia seni musik Indonesia, kehadiran putra Betawi ini mewarnai sejarah dan dinamika pasang surutnya musik Indonesia.

Dalam bermusik, dia mempunyai kebebasan berekspresi, leluasa bergerak dari satu jenis aliran musik ke jenis aliran musik yang lain. Ia juga punya kemampuan menangkap inspirasi lagunya dengan beragam tema. Karya-karyanya sangat kaya, baik soal melodi maupun liriknya. Ia pun mencipta lagu dengan bermacam warna, salah satunya keroncong, di antaranya Bandung Selatan di Waktu Malam dan Selamat Datang Pahlawan Muda.

Keterpesonaan Ismail Marzuki pada sisi-sisi romantisme masa perjuangan melahirkan lagu-lagu bertema cinta dan perjuangan. Meski lagu-lagu karyanya tampak sederhana, syairnya sangat kuat, melodius, dan punya nilai keabadian.

Pada tahun 1931, Ismail Marzuki yang akrab dipanggil Maing, mulai menciptakan lagu berjudul “O Sarinah” yang menggambarkan suatu kondisi kehidupan bangsa yang tertindas. Lagu-lagu ciptaannya antara lain Rayuan Pulau Kelapa yang dicipta tahun 1944, Gugur Bunga (1945), Halo-Halo Bandung (1946), Selendang Sutera (1946), Sepasang Mata Bola (1946), Melati di Tapal Batas (1947), Bandung Selatan di Waktu Malam (1948) dan Selamat Datang Pahlawan Muda (1949).

Pada tahun 1968 Ismail Marzuki mendapat anugerah penghormatan dengan dibukanya Taman Ismail Marzuki, sebuah taman dan pusat kebudayaan di Salemba, Jakarta Pusat.

Komponis pejuang dan maestro musik legendaris ini dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dalam rangkaian Hari Pahlawan 10 November 2004 di Istana Negara. Dia dikenal sebagai pejuang dan tokoh seniman pencipta lagu bernuansa perjuangan yang dapat mendorong semangat membela kemerdekaan.

Lagu-lagunya hingga sekarang masih tetap hidup dan disukai tua dan muda seperti Indonesia Pusaka, Sepasang Mata Bola, Selendang Sutra, Melati di Tapal Batas, Aryati, Jangan Ditanya ke Mana Aku Pergi, Payung Fantasi, Sabda Alam, Juwita Malam, Kopral Jono, dan Sersan Mayorku.

Ismail Marzuki memang telah meninggal di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta, pada tanggal 25 Mei 1958 dalam usia 44 tahun, namun namanya tetap hidup dan karya-karyanya terus melekat di hati masyarakat hingga kini dan masa yang akan datang.

Karya Lagu lainnya :
•    Aryati
•    Gugur Bunga
•    Melati di Tapal Batas (1947)
•    Wanita
•    Rayuan Pulau Kelapa
•    Sepasang Mata Bola (1946)
•    Bandung Selatan di Waktu Malam (1948)
•    O Sarinah (1931)
•    Keroncong Serenata
•    Kasim Baba
•    Bandaneira
•    Lenggang Bandung
•    Sampul Surat
•    Karangan Bunga dari Selatan
•    Selamat Datang Pahlawan Muda (1949)
•    Juwita Malam
•    Sabda Alam
•    Roselani
•    Rindu Lukisan
•    Indonesia Pusaka

*** Dari berbagai sumber

Ditulis dalam Biografi, In memoriam, Pahlawan, Pahlawan Nasional, Sejarah, Seniman, Tokoh, Tokoh Nasional | Bertanda: , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Seminggu Sekolah…Langsung Jadi Guru

Posted by gunawank pada April 25, 2012

Gambar: Google search

Sebagaimana telah kuceriterakan dalam kisah “Anak Masjid” terdahulu, pendidikan agamaku melalui pendidikan informal di masjid, mulai dari belajar membaca Al-Quran, belajar menulis huruf Arab sampai belajar membaca kitab klasik berbahasa Arab (kitab kuning) pada tingkatan dasar seperti Matann Safinah, Matan Jurumiyah, Matan Bina dan Amtsilatut Tashrifiyah.

Di kampungku saat itu memang hanya ada tempat-tempat mengaji (pendidikan informal) di masjid, mushala atau di rumah-rumah ustadz dan berlangsung malam hari ba’da Maghrib sampai dengan Isya atau sore hari sehabis shalat Ashar sampai menjelang Maghrib.

Ada satu-satunya Sekolah Agama (sekarang MDA/DTA) itupun di kampung tetangga. Aku tidak mau sekolah di sana. Alasanya klasik (anak-anak sekali), takut karena imtihan/kenaikan kelasnya dilakukan malam hari, sebab untuk sampai ke kampung tersebut harus melewati area pekuburan (dasar si penakut !). Jadi hanya sekolah “dapang” (bahasa sunda: ngadapang = posisi tengkurap, tiarap) di masjid yang aku jalani.

Baru ketika aku kelas 4 SD yaitu setelah satu tahu kedatangan pak ustadz Makmun (salah seorang putra kampung yang telah mondok beberapa tahun di beberapa pesantren) dan mukim di kampungku, dirintislah pendirian Sekolah Agama yang pada awalnya dilaksanakan di masjid pula dengan cara “ngadapang” karena tidak menggunakan bangku maupun meja tulis dan untuk papan tulisnya cukup mengecat hitam dinding masjid.

Karena jumlah murid cukup banyak dengan berbagai tingkatan kemampuan, maka pada awal pembukaan sekolah ini murid-murid dikelompokkan ke dalam 3 kelas, yaitu kelas 0 untuk kelompok anak pemula yang baru belajar huruf, kelas 1 dan kelas 2. Aku dan kawan-kawan sepengajianku masuk di kelas 2.

Untuk kelancaran proses belajar mengajar, pak ustadz Makmun dibantu oleh seorang ustad dari kampung lain yang merupakan temannya ketika di pesantren, namanya pak ustadz Oyo (maaf aku sudah lupa nama lengkapnya dan sekarang beliau sudah meninggal, Allahumaghfirlahu warhamhu).

Dari hari ke hari sejak sekolah dinyatakan dibuka, murid terus bertambah dan pak ustadz makmunpun kelihatannya keteter karena harus mengajar dua kelas, kelas 0 dan kelas 2. Maka setelah seminggu berjalan beliaupun memintaku untuk membantunya mengajar kelas 0 dengan tetap mempunyai hak untuk mengikuti pelajaran di kelas 2. Ya jadi guru sekaligus menjadi murid, begitulah kira-kira statusku saat itu.

Ditulis dalam Aneh tapi nyata, Biografi, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Pendidikan, Sekolah, Serba serbi | Bertanda: , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Anak Masjid

Posted by gunawank pada April 15, 2012

Masih ceritera seputar masa kecilku, masa yang bagi semua orang pasti penuh dengan kenangan, penuh dengan kisah-kisah atau kejadian, pengalaman dan sejenisnya yang indah untuk dikenang.

Entah itu berupa kenangan yang baik dan menyenangkan maupun kenangan buruk yang penuh penderitaan atau menyedihkan sekalipun. Kesemuanya itu jika terjadi di masa-masa kecil selalu indah untuk dikenang, selalu menarik untuk dikisahkan dan tidak mengenal kata bosan untuk diceriterakan.

Saat itu, di era tahun tujuh puluhan ke sana (maksudnya tahun 1970), khususnya di kampung tempat kelahiranku, masjid merupakan salah satu atau mungkin satu-satunya tempat yang memiliki fungsi ganda atau bahkan multi guna. Disamping sebagai tempat ibadah/shalat (yang merupakan fungsi utama tentunya), masjid juga berfungsi sebagai tempat belajar/mengaji, belajar silat, bermain (di halamannya), berkumpul dan bersenda gurau, bahkan menjadi tempat tidur/menginap anak-anak yang mengaji.

Pendek kata, hampir seluruh aktivitas anak-anak terjadi dan berlangsung di masjid, selain makan dan sekolah atau permaian yang dilarang dilakukan di masjid. Begitulah potret masjid di kampungku saat itu.

Khusus tentang kebiasaan anak-anak tidur di masjid, aku punya kisah tersendiri dan inilah yang menjadi tema (gayanya kaya makalah seminar aja…!) ceritera kali ini.

Anak-anak ini tidak tidur di lantai masjid, karena waktu itu lantainya hanya terbuat dari pasangan batu bata merah tanpa diplester, bukan lantai keramik seperti sekarang. Mereka tidur di loieng masjid yang sebenarnya disediakan untuk tempat mengaji. Tetapi karena kegiatan mengaji dilakukan setelah shalat Isya, sementara kampung gelap gulita di malam hari karena belum ada penerangan listrik, anak-anakpun tidur di loteng itu, sekaligus biar tidak ketinggalan shalat subuh dan ngaji ba’da subuh.

Karena aku adalah anak (kesayangan nenek), selesai mengaji selalu dijemput oleh nenek dan menjelang adzan shubuh aku baru datang lagi (Sunda: ngurunyung) bersama kakekku. Dan karena setiap pagi selalu “ngurunyung” akupun mendapat julukan “Si Kurunyung” dari teman-teman.

Saking malunya mendapat julukan tersebut (karena konotasinya adalah sebuah ledekan, pelecehan) maka akupun mengajukan protes keras (tapi dengan cara demonstrasi seperti sekarang) meminta dizikan untuk tidur di masjid bersama teman-teman. Alhamdulillah, usulan dikabulkan dan sejak saat itupun aku berganti gelar dari si kurunyung menjadi “Anak Masjid”………..(Untuk sementara tamat dulu, yach…!).

Ditulis dalam Biografi, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Serba serbi, Tradisi | Bertanda: , , , , , | 1 Komentar »

Aku Bangga Jadi Orang Yang Beda

Posted by gunawank pada Maret 31, 2012

Alhamdulillah, aku patut bersyukur karena dilahirkan dalam keluarga petani kecil, di tengah-tengah masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidupnya hanya dari hasil pertanian padi sawah dengan pengelolaan yang masih tradisional. Di pagi kami harus sudah menggiring kerbau untuk membajak sawah. Menjelang tengah hari hingga sore, aku dan kawan-kawan bersama-sama menggembalakan hewan sahabat petani tersebut.

Kalau ingin makan dengan ikan, kami harus mencarinya di sawah atau di sungai, demikian pula dengan bahan sayuran. Sementara kalau ibu mau masak, aku harus berburu kayu bakar dengan mencari ranting-ranting kering di kebun orang lain yang memang tidak dilarang asalkan tidak merusak pohon. Kesemuanya itu membentuk karakter kepribadian jiwaku menjadi manusia yang kreatif, suka bekerja keras, mandiri dan sederhana. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Biografi, Kepribadian, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Serba serbi, Tradisi, Uncategorized | Bertanda: , , , , , , | 2 Komentar »

Biografi KH. Abdullah Faqih

Posted by gunawank pada Maret 2, 2012

BIODATA

Tempat dan Tanggal Lahir     :    Tuban, 2 Mei 1932
Tempat dan Tanggal Wafat    :    Tuban, 29 Februari 2012
Nama Ayah                                  :    KH Rofi`i Zahid
Jabatan                                :    Pengasuh Ponpes Langitan (1971-2012)

Kiai Faqih lahir di Dusun Mandungan, Desa Widang, Tuban pada tanggal 2 Mei 1932. Semasa kecil, beliau lebih banyak belajar kepada ayahandanya sendiri, KH Rofi`i Zahid.

Ketika beranjak remaja, beliau “nyantri” kepada Mbah Abdur Rochim di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Kiai Faqih juga pernah tinggal di Mekkah, Arab Saudi, untuk belajar kepada Sayid Alwi bin Abbas Al-Maliki, ayah Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki.

Setelah itu, Kiai Faqih kembali ke Pesantren Langitan yang didirikan pada l852 oleh KH Muhammad Nur, asal Desa Tuyuban, Rembang. Pesantren Langitan yang terletak di tepi Bengawan Solo yang melintasi Desa Widang (dekat Babat Lamongan) itu dikenal sebagai pesantren ilmu alat.

Para Tokoh Nahdlatul Ulama generasi pertama yang pernah belajar di Langitan, di antaranya KH Muhammad Cholil (Bangkalan), KH Hasyim Asy`ari, KH Wahab Hasbullah, KH Syamsul Arifin (ayah KH As`ad Syamsul Arifin), dan KH Shiddiq (ayah KH Ahmad Shiddiq).

Kiai Faqih (generasi kelima) memimpin Pesantren Langitan sejak l971, menggantikan KH Abdul Hadi Zahid yang meninggal dunia karena usia lanjut. Dalam memimpin pesantren ini Kiai Faqih didampingi oleh paman beliau KH Ahmad Marzuki Zahid. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Biodata, Biografi, Idola, In memoriam | Bertanda: , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Pengalaman Sangat Berharga

Posted by gunawank pada Februari 25, 2012

Sebelumnya aku sampaikan permohonan beribu-ribu maaf kepada semua pengunjung, khususnya yang telah menorehkan komentar, saran, masukan maupun bentuk informasi berharga lainnya di blogku, wabil khususil khusus buat rekan-rekan setia blogger, karena hampir dua pekan, tepatnya sejak 13 Februari 2012, aku absen total tidak mengudara.

Sudah sejak awal Februari 2012 sebenarnya ada sedikit gangguan di daerah rongga mulutku, gusi sebelah kiri bawah terasa bengkak. Mulanya dikira sekedar sariawan alias kekurangan vitamin C. Seperti biasanya, maka aku tanggulangi dengan mengkonsumsi buah sumber vitamin C ditambah tablet vitamin C secara rutin.

Hasilnya, alhamdulillah bengkaknya hilang tetapi sakitnya masih tetap terasa. Usut punya usut ternyata ada salah satu gigi geraham kiri bawahku yang bermasalah….ada sedikit lubang. Kalo kata orang-orang mah… sakit gigi, gitu lho !

Aku sendiri ga sadar kalau aku sakit gigi, karena sejak kecil alhamdulillah belum pernah merasakan bagaimana rasanya sakit gigi ! Dan anehnya, kalau kata orang-orang, sakit gigi sangat bermusuhan alias anti minuman yang manis-manis, tapi sakit gigiku tidak terpengaruh walaupun aku minum kopi, teh manis atau susu.

Singkatnya ceritera, karena takut ketelanjuran aku berniat mencabut gigiku yang bermasalah tersebut. Tetapi karena masih sakit aku harus mengundur waktu hingga gusinya tidak sakit. Akupun dengan disiplin penuh minum obat anti biotik dan pereda sakit 3 kali sehari.

Pada hari Senin (13/2/2012), di daerah sendi rahang muncul bejolan yang berangsur-angsur hingga sore hari diikuti pembengkakan. Karena posisi bengkaknya hampir di bawah telinga, aku kira penyakit Gondong. Namun ketika aku datang ke toko obat herbal (Selasa, 14/2/2012), bukan gondong tetapi akibat gusi bengkak. Akupun membeli obat sesuai rekomendasi beliau. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Berita, Biografi, Kesehatan, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Musibah, Pelajaran, Serba serbi, Wabah | Bertanda: , , , , , , , | 6 Komentar »

Pupuh Kinanti Gubahanku; Sebuah Pengalaman

Posted by gunawank pada Januari 29, 2012

Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, salah satu mata pelajaran pavoritku adalah kesenian, khususnya kesenian daerah Sunda. Mungkin karena aku dilahirkan di daerah Sunda dan leluhur dari kedua orangtuaku asli suku Sunda, sehingga hampir semua kesenian dan lagu-lagu Sunda khususnya yang klasik aku senagi, termasuk pupuh Sunda.

Sampai sekarang aku masih hapal, setidaknya nama-nama 17 macam pupuh dalam budaya Sunda yaitu (maaf kalau ada yang salah tolong dikoreksi, maklum sudah hampir 40 tahun) Dangdanggula, Sinom, Asmarandana, Kinanti, Durma, Pangkur, Mijil, Pucung, Maskumambang, Magatru, Wirangrong, Balakbak, Ladrang, Gambuh, Gurisa, Lambang dan Jurudemung yang untuk menghapalnya aku ringkas menjadi kalimat : DaSi AKi DurPaMiCung MasMaWira BaLaGam GuLaJur.

Suatu kenanagan yang sulit dilupakan adalah ketika di kelas 3 SD ada tugas membuat salah satu pupuh dari ketujuh belas macam pupuh di atas. Pilihanku waktu itu jatuh pada pupuh Kinanti, karena disamping pupuh ini yang pertama kali diajarkan oleh Bapak Guru juga paling aku kuasai aturan-aturan penyusunannya.

Sebagaimana diketahui bahawa pupuh merupakan dangding atau lagu dari Sastra lama alias tradisional yang terikat pada aturan-aturan tertentu yang terdiri dari jumlah padalisan (baris), guru wilangan atau jumlah engang (suku kata) pada setiap padalisan (baris), serta guru lagu atau suara huruf vokal: a-i-u-e-o pada akhir padalisan.

Untuk Pupuh Kinanti dalam satu pada (bait) terdiri dari 6 padalisan (baris) dengan komposisi atau rumus sebagai berikut:

  • Baris 1 : 8 engang dengan guru lagu “u” atau dengan rumus : 8-u
  • Baris 2 : 8 engang dengan guru lagu “i” atau dengan rumus :  8-i
  • Baris 3 : 8 engang dengan guru lagu “a” atau dengan rumus : 8-a
  • Baris 4 : 8 engang dengan guru lagu “i” atau dengan rumus :  8-i
  • Baris 5 : 8 engang dengan guru lagu “a” atau dengan rumus : 8-a
  • Baris 6 : 8 engang dengan guru lagu “i” atau dengan rumus :  8-i

Berdasarkan patokan di atas akupun mencoba membuat pupuh Kinanti. Inilah Pupuh Kinanti yang kubuat saat kelas 3 SD:

Entog, soang, oray kadut
Barisa ngojay di cai
Oray kadut mah ngaliang
kanyahoan budak leutik
tuluy ditimbug ku bata
bari lumpat ni ngabecir

Untuk mengecek kebenaran pupuh di atas apakah sudah sesuai dengan patokannya, inilah perinciannya:

En-tog-so-ang-o-ray-ka-dut ……… (8 suku kata dengan huruf vokal akhir “u” atau 8-u)
Ba-ri-sa-ngo-jay-di-ca-i ……………. (8 suku kata dengan huruf vokal akhir “i” atau 8-i)
O-ray-ka-dut-mah-nga-li-ang …… (8 suku kata dengan huruf vokal akhir “a” atau 8-a)
ka-nya-ho-an-bu-dak-leu-tik ……. (8 suku kata dengan huruf vokal akhir “i” atau 8-i)
tu-luy-di-tim-bug-ku-ba-ta ………. (8 suku kata dengan huruf vokal akhir “a” atau 8-a)
ba-ri-lum-pat-ni-nga-be-cir ……… (8 suku kata dengan huruf vokal akhir “i” atau 8-i)

Bagi yang ingin mendengarkan pupuh Sunda silakan download (Gratis) pada link di bawah ini:

Ditulis dalam Biografi, Download, Karawitan, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Lagu Sunda, Seni, Serba serbi, Siswa, Tembang Sunda, Tips | Bertanda: , , , , , , , | 2 Komentar »

Otak Sambelpun Bisa Jadi Sarjana

Posted by gunawank pada Januari 21, 2012

Kisah hidupku ini sengaja aku ceriterakan di sini, tapi bukan untuk riya apalagi untuk membanggakan diri, melainkan benar-benar tahaduts bin ni’mah….barangkali bermanfaat dan dapat diambil manfaatnya, khususnya bagi murid-muridku (lebih khusus lagi buat murid-muridku, maaf...yang berasal dari keluarga yang kurang mampu).

Entah karena aku merupakan cucu pertama atau karena alasan lain, sejak kecil aku diasuh dan tinggal bersama kakek-nenekku. Saat itu, kakekku berprofesi sebagai aparat desa, sementara nenekku berjualan kain dan macam-macam pakaian jadi dengan menggendong dagangan berkeliling kampung setiap hari, bahkan tidak jarang sampai ke kampung tetangga. Kegiatan berdagang ini beliau lakukan sampai menjelang wafatnya (Allahummaghfir warhamhumma….Semoga Allah mengampuni dosa-dosa keduanya. Amin).

Karena kesibukannya berdagang pakaian, pagi-pagi buta setelah shalat Shubuh beliau langsung ke dapur menanak nasi. Oleh karena itu, setiap pagi aku terbiasa sarapan (makan) nasi sampai sekarang. Setelah itu, aku pergi ke sekolah dan tidak kemudian nenekkupun pergi berdagang berkeliling kampung. Dan akibat kebiasaan sarapan nasi setiap pagi, aku tidak terbiasa jajan di sekolah. Uang bekal sekolah sebesar Rp. 10 – Rp. 15 setiap hari masuk ke dalam tabunganku berupa palang bambu penahan dinding yang terbuat dari anyaman bambu pula (gedek). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Biografi, Hikmah, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Serba serbi | Bertanda: , , , | 1 Komentar »

Karena Takut Anjing…..Kambingku Minta Dijual Rp.100,-

Posted by gunawank pada Desember 30, 2011

Ini mungkin kisah hidupku yang paling awal yang dapat kuingat sendiri, bukan dari ceritera orangtuaku. Kejadiannya kira-kira beberapa tahun setelah peritiwa menggemparkan, G 30 S / PKI, yakni sekitar tahun 1967 – 1968.

Pada waktu itu kebiasaan di negeri eh… kampung kelahiranku para orangtua sudah menghitan putranya pada umur 3-5 tahun, atau sebelum masuk SD. Salah satu alasannya biar bisa dibawa-bawa ke mesjid untuk ikut belajar shalat bersama orangtuanya atau bisa ikut mengaji di mesjid.

Alasan lain, mungkin agar saat masuk SD tidak terganggu lagi oleh acara khitanan atau untuk mempermudah pelaksanaan khitanan itu sendiri. Karena saat itu belum ada Dokter sunat, tetapi melalui jasa Dukun Sunat yang di daerahku disebut BENGKONG. Entah dari mana asal muasal istilah tersebut dan apa artinya, khususnya bisa dikaitkan dengan sunat atau khitan.

Tata cara pelaksanaannyapun cukup unik. Kulup (maaf, baca: kulit kepala zakar/penis) ditiup oleh Pak Bengkong lalu untuk menahan agar udara tidak keluar lagi ujung mulut kulup dijepit. Dalam kondisi menggelembung karena berisi udara, kulit kulup langsung diiris dengan sekali irisan menggunakan pisau yang sangat tajam tentunya, dan…….prosesi khitananpun selesai.

Bersamaan dengan ayunan pisau mengiris kulup, tidak jauh disekitar itu dua orang bapa-bapa pemotong ayampun memotong seekor ayam jago (jantan) yang besar sambil berteriak: “Belaaaaaa………!!!”, dan biasanya juga pada waktu bersamaan mereconpun disulut, ” Dar…der….dor…!” begitu kira-kira bunyinya. Oleh karena itu ayam jago ini disebut “Ayam Bela”. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Biografi, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Serba serbi | Bertanda: , , , , , | 18 Komentar »

Cita-citaku Ingin Jadi Guru

Posted by gunawank pada Desember 24, 2011

Setidaknya begitulah isi karangan-karanganku ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Setiap ada pelajaran mengarang dengan tema “Cita-citaku”, pasti judul yang aku tulis “Cita-citaku Ingin Menjadi Guru”.

Entah mengapa sejak kecil, sebelum aku bersekolahpun apabila bermain bersama teman-temanku dan permainannya adalah sekolah-sekolahan, maka pasti aku selalu ingin jadi gurunya, tidak mau jadi muridnya. Dan dengan lantangnya aku selalu berlaga menerangkan pelajaran di depan teman-temanku yang menjadi murid.

Anehnya, ketika aku masuk sekolah Agama (sekarang MDA) hanya berlangsung kurang lebih tiga bulan jadi murid dan itupun langsung di kelas dua tanpa melalui kelas satu dulu. Setelah itu aku diminta oleh pak ustad untuk mengajar di kelas 0 (nol).

Namun cita-citaku untuk menjadi guru ini sempat berubah arah ketika aku duduk di bangku kelas 2 SMP yaitu ingin menjadi ahli pertanian, khususnya ahli hama. Alasanya, tanaman padi di daerahku mengalami “Fuso” (gagal panen total) akibat serangan hama Wereng Cokelat, sehingga tanaman padi mati mengering seperti terbakar. Ditambah lagi dengan pemberitaan media masa (koran) yang menyatakan bahwa Warga Karawang (yang dikenal sebagai lumbung padi Jawa Barat) makan Eceng Gondok karena kelaparan.

Tersulut pemberitaan tersebut batinku berkobar (bahasa kerennya..!) dan lenyaplah seketika cita-cita ingin jadi guru yang sudah sekian lama tertanam di hatiku, berubah menjadi kobaran api semangat untuk menjadi ahli hama tanaman agar peristiwa memalukan ini tidak terulang kembali.

Oleh karenanya, setelah lulus SMA akupun mendaftar ke IPB Bogor walaupun harus berbohong kepada kedua orangtuaku (alhamdulillah mereka sudah memaafkannya, lho…!) karena keduanya mengharapkan aku daftar ke jurusan kedokteran UNPAD. Padahal waktu itu aku dapat tawaran langsung diterima di IKIP Bandung, tapi tidak kuambil karena orangtuaku menginginkan kedokteran.

Singkat cerita, aku diterima di IPB dan selesai tepat waktu pada jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan. Alhamdulillah sesuai harapan. Akupun malang melintang selama kurang lebih 12 tahun bekerja di perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang agrochemical.

Suatu hari, pada tahun 2001 ketika aku masih aktif di perusahaan pupuk organik, ada teman yang memiliki smp suasta memohon dengan sangat (kalau tidak boleh disebut merengek) agar aku mau membantu mengajar di sekolahnya karena sudah tiga bulan muridnya tidak belajar IPA alias tidak ada gurunya. Karena kebetulan aku saat itu, atas permintaanku ke perusahaan aku bertugas sebagai tenaga pemasaran khusus Kabupaten Karawang, akupun terima tawaran teman tersebut.

Itulah awal mula aku mulai terjun di dunia pendidikan dan lama-kelamaan keasyikan (bak pepatah: cinta lama bersemi kembali) sampai akhirnya akhir 2002 aku putuskan berhenti dari perusahaan karena ada rekan yang memintaku mendirikan sekolah di yayasannya yang saat itu telah mengelola pondok pesantren. Pada Juli 2003 resmilah aku buka SMP di pondok pesantren tersebut. Dan sejak 2010 akupun mendirikan SMK di pondok pesantren yang lain masih di daerah yang sama, sampai sekarang…….SEKIAN

Ditulis dalam Biografi, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku | Bertanda: , , | 23 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya.