Arsip untuk ‘Bulan Ramadlan’ Kategori
Posted by gunawank pada Agustus 19, 2011
Salah satu kebiasaan anak-anak di kampung kami saat itu (saat aku masih kecil, lho…!) sehabis shalat Tarawih adalah “ngadu bedug”. Tapi, jangan salah sangka dulu….! Bukan bedugnya yang diadu-aduin, melainkan ngadu suara bedug yang paling nyaring dan paling keras suaranya itulah pemenangnya, atau siapa yang paling kuat menabuh tanpa digantikan, dialah juaranya.
Agar tidak mengganggu penduduk yang sedang istirahat atau sudah tidur, kegiatan ngadu bedug tersebut dilaksanakan di sawah, beberapa ratus meter dari kampung. Kebetulan waktu itu bulan Ramadlan bertepatan dengan masa akhir panen padi.
Sebagai alat penerangannya menggunakan “colen” atau obor yang terbuat dari ruas bambu yang diisi minyak tanah dan kain bekas sebagai sumbunya. Maklum, ketika aku kecil belum masuk listrik ke kampungku. Obor bambu itulah yang menjadi alat penerangan di pinggir-pinggir jalan. Sementara di rumah-rumah menggunakan lentera atau lampu minyak tanah.
Sungguh luar biasa jasa minyak tanah bagi kehidupan di kampung kami saat itu (mungkin juga saat ini masih berlaku untuk masyarakat pedesaan tertentu. Makanya sungguh sangat disayangkan adanya kebijakan pemerintah yang membatasi penggunaan minyak tanah bagi masyarakat kecil. Bahkan, akibat dari kebijakan tersebut, kini minyak tanah selain susah didapat, harganya mahal lagi. Entahlah…..). Disamping sebagai sumber energi penerangan, minyak tanah juga menjadi bahan sarana hiburan anak-anak di bulan Ramadlan, yaitu sebagai bahan pembuatan “beleson” atau meriam bambu, karena merecon waktu itu masih termasuk barang lux alias mahal harganya.
Adalah pamanku, pemuda paling iseng di kampungku, walaupun di sisi lain beliau juga sekaligus sebagai motor penggerak “pemuda masjid”, sehigga cukup disegani teman-teman sebayanya (antara lain tergambar dalam kisahku “Keunikan si Kecil Saat Berpuasa Ramadlan“ dan “Berburu Sisa Padi di Sawah Untuk Sepiker Lebaran”).
Menyaksikan teman-temannya sedang asyik ngadu bedug di sawah, timbul pikiran isengnya, ” Pasti seru kalau mereka ku takut-takuti”, pikirnya. Maka secara diam-diam ia pulang ke rumah untuk meyusun rencananya itu.
Diambilnya kain mukena ibunya (nenekku, maksudnya) lalu dipakinya sehingga nampak seperti hantu pocong yang sering kita saksikan dalam film atau sinetron-sinetron horror Indonesia saat ini.
Untuk menambah keseraman penampilannya, diambilnya bedak putih dan dipoleskanlah ke seluruh wajahnya. Tak ayal lagi, wajahnya seketika berubah menjadi putih, dibalut kain putih mukena yang menutupi seluruh tubuhnya.
Selesai ber-make up serba putih plus menambahkan minyak wangi “Airmata Duyung” yang suka digunakan untuk parfum mayat, iapun menghampiri kaca cermin yang terpasang di pintu lemari pakaian. Maksudnya, tiada lain untuk mengecek apakah penampilannya sudah cukup menyeramkan.
Namun apa yang terjadi saat pandangan beliau menangkap bayangan yang muncul di balik kaca cermin………..”iiiii…yyyyyyy, tolooooooong……..”, pamanku menjerit dan lari ketakutan. Dasarrrrr..……HANTU PENAKUT !!!
Ditulis dalam Biografi, Bulan Ramadlan, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Puasa Ramadlan | Bertanda: Iedul Fitri, Ngadu Bedug, Obor, Shalat, Solat Tarawih, Takbiran | 18 Komentar »
Posted by gunawank pada Agustus 12, 2011

Hamba Perut
Puasa artinya tidak makan dan tidak minum serta menahan diri dari keinginan nafsu sahwat mulai dari terbit pajar hingga terbenam matahari. Tujuannya akhirnya adalah agar menjadi manusia yang bertakwa.
Dalam kitab “Hikmatut Tasyri wafalsafatuh” disebutkan bahwa puasa itu bukan hanya sekedar melaparkan diri di siang hari, melainkan agar tahu dan merasakan bagaimana rasanya jadi orang lapar, merasakan bagaimana sedihnya orang yang menderita kekurangan makanan. Sehingga akhirnya akan timbul rasa kasihan kepada si miskin, mau menolong orang-orang yang berada dalam kemiskinan.
Apabila kita cermati lebih jauh lagi, berkaitan dengan tidak makan dan minum di siang hari, selain hikmah di atas ternyata dalam kewajiban puasa terkandung hikmah yang lebih luhur dan suci, yaitu melatih manusia beriman agar tidak menjadi “budak perut”, tidak menjadi manusia yang diperbudak oleh kemauan perut, dan agar tidak terjerumus ke dalam jurang kehinaan yang diakibatkan dan bersumber pada kebutuhan perut. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Akhlak, Artikel Islam, Bulan Ramadlan, Hikmah, Ibadah, Islam, Lailatul Qadar, Puasa Ramadlan, Renungan, Rukun Islam, Shaum, Tasawuf | Bertanda: Abdul Buthun, Hamba perut, Korpsi, Puasa, Ramadlan | 3 Komentar »
Posted by gunawank pada Agustus 8, 2011

Ani-ani
Terserah penilaian sobat-sobat blogger atau para pembaca sekalian: baik, buruk, norak, jadul, kuno atau apalah…..yang jelas bagiku menulis dan berceritera atau menceriterakan masa kecilku menjadi kesenangan dan kenangan tersendiri yang tak dapat kulupakan begitu saja.
Bahkan, mengenang masa kecil bagiku menjadi alat pemicu semakin bertambah-tambahnya kekagumanku terhadap ke-Maha Agungan dan ke-Maha Kuasaan Allah Rabbul ‘Alamin, Pencipta dan Pemelihara alam semesta, sang Sutradara Maha Ulung, pembuat scenario yang tiada bandingan-Nya. Subhanallah….!
Betapa tidak, karena takdir dan iradah-Nya jualah kisahku ini terjadi dan bukan suatu kebetulan kalau saat itu, beberapa tahun berlangsung, bulan Ramadlan selalu datang dimasa akhir panen padi sawah. Pada situasi dan kondisi inilah kisah ni berceritera. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Biografi, Bulan Ramadlan, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Lebaran | Bertanda: Berburu Biji Padi tuk ramaikan Iedul fitri, Sewa speker dari keringat sendiri | 2 Komentar »
Posted by gunawank pada Agustus 6, 2011
Tanpa terasa, lima hari sudah kita berpuasa dan hari ini adalah hari keenam di bulan Ramadhan 1432 H ini, bulan Allah yang penuh rahmat dan keberkahan. Di bulan Ramadhan inilah waktu yang paling mendukung bagi seluruh umat Islam untuk meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah. Bulan yang paling Indah untuk berpacu dalam kekhusyukan demi menggapai ridho dan ampunan Allah SWT.
Firman Allah SWT :
يَا أيُّهَا اَّلذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلىَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan bagimu berpuasa, sebagaimana diwajibkan bagi umat-umat sebelum kamu agar engkau bertaqwa.” (QS. Al-Baqoroh:183)
Maka marilah kita patuhi perintah puasa ini, sebagai wujud kecintaan kita kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan. Dengan penuh kesadaran untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Agar puasa kita bukan sekedar menahan lapar dan haus. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Artikel Islam, Bulan Ramadlan, Hikmah, Ibadah, Islam, Muslim, Puasa Ramadlan, Rukun Islam, Shaum | Bertanda: Bulan Ampunan, Bulan penuh berkah, Puasa Ramadlan 1432 H, Tamu Allah di bulan Ramadlan | 2 Komentar »
Posted by gunawank pada Agustus 4, 2011
Niat adaah I’tikad tanpa ragu untuk melaksanakan amal. Dalam hal puasa Ramadhan , kapan saja terbersit dalam hati di waktu malam bahwa besok adalah Ramadhan dan akan berpuasa, maka itulah niat (al-Fiqh al-Islami, III, 1670)
Terus bagaimanakah jika terlupakan membaca niat untuk puasa Ramadhan pada malam hari, padahal malam itu juga makan sahur. Apakah secara otomatis sahur dapat dianggap sebagai niat, mengingat sahur sendiri dilakukan karena ingin berpuasa esok hari?
Hal yang demikian ini sering terjadi. Tak jarang menimbulkan keraguan. Imam Syafi’I berpendapat bahwa makan sahur tidak dengan sendirinya dapat menggantikan kedudukan niat, kecuali apabila terbersit (khatara) dalam hatinya maksud untuk berpuasa. (al-Fiqh al-Islami, III, 1678).
Baca selengkapnya……….
Ditulis dalam Artikel Islam, Bulan Ramadlan, Ibadah, Puasa Ramadlan, Rukun Islam, Shaum | Bertanda: Lupa niat, Masail Diniyah, Niat puasa, Rukun Puasa | Tinggalkan sebuah Komentar »
Posted by gunawank pada Juli 28, 2011

Marhaban Ya...Ramadlan
Ini masih seputar pengalamanku sebagaimana kisah-kisahku yang lain. Namun mundur ke belakang (sekali lagi aku tegaskan: mundur ke belakang, bukan ke depan lho..!) mengingat ada relevansinya dengan apa yang insya Allah (bagi umat Islam) akan hadapi beberapa hari ke depan, yakni Puasa Ramadlan.
Alhamdulillah, patut kupanjatkan puji syukur karena aku dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang ”rada” Islami, sehingga sejak kecil aku sudah belajar berpuasa, bahkan sejak usia 5-6 tahun, sebelum masuk SD aku sudah terbiasa puasa sehari penuh dan tamat satu bulan.
Namun, namanya juga anak kecil terkadang ada pikiran nyeleneh (walaupun menurut aku sih lebih tepat disebut pikiran cerdas), kalau sudah siang menjelang zhuhur, saat dimana suhu udara lagi panas-panasnya dan biasanya pada saat seperti ini rasa haus bahkan lapar mulai terasa. Aku (kecil) biasanya suka sengaja menyimpan makanan (maksudnya nasi plus lauk pauknya) di atas meja makan dengan posisi terbuka tanpa tutup saji. Tujuannya tiada lain…….barangkali aku lupa (bahwa saat itu sedang berpuasa) saat melewatinya, sehingga…….nyus….nyus…..nyus…(pinjam istilah pak Bondan yang di TV itu) akupun melahap makanan dengan nikmatnya alias mak nyus…. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Biografi, Bulan Ramadlan, Hot Topic, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Puasa Ramadlan, Serba serbi, Shaum | Bertanda: Kisah lucu, Kisah unik, Kisahku, Masa kecilku, Pengalaman hidup, Pengalamnku | 3 Komentar »
Posted by gunawank pada September 22, 2010
Ini bukan cerita atau dongeng…tetapi benar-benar terjadi menjelang akhir Ramadlan yang baru lalu dan dialami langsung oleh salah seorang saudara penulis yang tinggal di daerah Purwakarta, Jawa Barat, sebut saja Eti (demi menjaga etika mohon maaf penulis tidak bisa menyebutkan nama sebenarnya).
Pada suatu hari Eti yang saat itu sendirian di rumah karena suaminya sedang bekerja, tiba-tiba didatangi seseorang pria dengan menyodorkan map permohonan sumbangan. Entah karena apa…dengan mudahnya Eti mengeluarkan isi dompetnya yang hanya tersimpan uang Rp. 100.000 itu dan diberikan semuanya. Bahkan…bukan hanya itu, uang yang tersipan di dalam dompet suaminyapun sebesar Rp. 700.000 diberikan semuanya.
Ia baru menyadari apa yang dilakukannya itu setelah orang tersebut berlalu dan pergi entah kemana. Eti kebingunan apa yang harus dikatakan kepada suaminya jika ia datang nanti. Perasaan bersalah dan takut dimarahi suami terus menghantui pikirannya.
Untungnya sang suami termasuk orang yang bijaksana. Ketika Eti menuturkan (tentunya dengan perasaan berat) apa yang telah dialaminya itu…suaminya menyadarinya bahwa hal itu bukan kesalahannya semata, “Biarlah yang sudah terjadi….mungkin itu bukan milik kita. Ikhlaskan saja…”, katanya.
Dua hari kemudian, ketika Eti baru saja selesai shalat Shubuh…tiba-tiba dia didatangi lagi seorang laki-laki yang langsung tersungkur seraya mencium kakinya. Etipun terkesima menyaksikan tingkah aneh laki-laki yang baru datang di hadapannya itu.
“Ampun…neng ! bapak mohon maaf sebesar-besarnya telah berbuat jahat pada neng. Bapak telah salah mempergunakan ilmu yang dimiliki untuk perbuatan jahat. Istri bapak baru saja melahirkan dan…bayi kami yang baru lahir tersebut kedua tangannya…buntung. Oleh karena itu bapak sengaja dari Cirebon buru-buru datang ke eneng untuk mengembalikan uang eneng…namun karena telah terpakai..bapak hanya bisa mengembalikan Rp. 500.000 saja. Mohon diterima dan sekali lagi..mohon maaf !”, kata orang itu.
Eti baru sadar kalau ternyata orang yang tersungkur mencium kakinya itu adalah orang yang datang dua hari sebelumnya meng-hipnotis-nya sehingga dia dengan mudah dan tanpa sadar menyerahkan uang Rp. 800.000,-
Mudah-mudahan tulisan ini dibaca oleh mereka yang memiliki ilmu sejenis, terutama bagi yang telah salah mempergunakan ilmu ini dijalan yang salah, sehingga cepat bertobat dan mempergunakan ilmunya itu untuk kemaslahatan. Amin
Baca Artikel Terkait:
“Gratis” >>>Download :
Ditulis dalam Akhlak, Berita, Bulan Ramadlan, Fenomena, Hikmah, Hipnotis, Keajaiban dunia, Musibah, Pelajaran, Serba serbi, Teladan, Tobat | Bertanda: Akhlak, Berita, Fenomena, Hipnotis, Serba serbi, Taubat, Tobat | Tinggalkan sebuah Komentar »
Posted by gunawank pada September 2, 2010
Suatu hari, Khalifah Abu Bakar hendak berangkat berdagang. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Umar bin Khathab. “Mau berangkat ke mana engkau, wahai Abu Bakar?” tanya Umar. “Seperti biasa, aku mau berdagang ke pasar,” jawab sang khalifah.
Umar kaget mendengar jawaban itu, lalu berkata, “Engkau sekarang sudah menjadi khalifah, karena itu berhentilah berdagang dan konsentrasilah mengurus kekhalifahan.” Abu Bakar lalu bertanya, “Jika tak berdagang, bagaimana aku harus menafkahi anak dan istriku?” Lalu Umar mengajak Abu Bakar untuk menemui Abu Ubaidah. Kemudian, ditetapkanlah oleh Abu Ubaidah gaji untuk khalifah Abu Bakar yang diambil dari baitul mal.
Pada suatu hari, istri Abu Bakar meminta uang untuk membeli manisan. “Wahai istriku, aku tak punya uang,” kata Abu Bakar. Istrinya lalu mengusulkan untuk menyisihkan uang gaji dari baitul mal untuk membeli manisan. Abu Bakar pun menyetujuinya.
Setelah beberapa lama, uang untuk membeli manisan pun terkumpul. “Wahai Abu Bakar belikan manisan dan ini uangnya,” ungkap sang istri memohon. Betapa kagetnya Abu Bakar melihat uang yang disisihkan istrinya untuk membeli manisan. “Wahai istriku, uang ini ternyata cukup banyak. Aku akan serahkan uang ini ke baitul mal, dan mulai besok kita usulkan agar gaji khalifah supaya dikurangi sebesar jumlah uang manisan yang dikumpulkan setiap hari, karena kita telah menerima gaji melebihi kecukupan sehari-hari,” tutur Abu Bakar.
Sebelum wafat, Abu Bakar berwasiat kepada putrinya Aisyah. “Kembalikanlah barang-barang keperluanku yang telah diterima dari baitul mal kepada khalifah penggantiku. Sebenarnya aku tidak mau menerima gaji dari baitul mal, tetapi karena Umar memaksa aku supaya berhenti berdagang dan berkonsentrasi mengurus kekhalifahan,” ujarnya berwasiat.
Abu Bakar juga meminta agar kebun yang dimilikinya diserahkan kepada khalifah penggantinya. “Itu sebagai pengganti uang yang telah aku terima dari baitul mal,” kata Abu Bakar. Setelah ayahnya wafat, Aisyah menyuruh orang untuk menyampaikan wasiat ayahnya kepada Umar. Umar pun berkata, “Semoga Allah SWT merahmati ayahmu.”
Kisah yang tertulis kitab fadhailul ‘amal itu sarat akan makna dan pesan. Di bulan Ramadhan ini, kita dapat mengambil pelajaran dari sikap dan keteladanan Abu Bakar yang tidak rakus terhadap harta kekayaan. Meski ia adalah seorang khalifah, namun tetap memilih hidup sederhana demi menjaga amanah.
Inilah sikap keteladanan dari seorang pemimpin sejati yang perlu ditiru oleh para pemimpin bangsa kita. Perilaku pemimpin, memiliki pengaruh yang besar bagi kehidupan masyarakat. Terlebih, bangsa Indonesia memiliki karakteristik masyarakat yang paternalistik yang rakyatnya berorientasi ke atas.
Apa yang dilakukan pemimpin akan ditiru oleh rakyatnya, baik perilaku yang baik maupun yang buruk. Dengan spirit Ramadhan, maka hendaknya para pemimpin memberi teladan untuk hidup secara wajar agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Wallahu ‘alam.
***Dikutif dari “Puasa dan Keteladanan Pemimpin” oleh Prof. Nanat Fatah Natsir (Republika, 1/9/2010)
Ditulis dalam Akhlak, Bulan Ramadlan, Hikmah, Iman, KisahSufi, Pelajaran, Pemimpin, Pendidikan, Puasa Ramadlan, Serba serbi, Shaum, Teladan, Wakil rakyat | Bertanda: Akhlak, Fenomena, Hikmah, Keteladan Seorang Pemimpin, Keteladanan, Khalifah, Khulafaur Rasyidin, Pemimpin, Ramadlan, Serba serbi, Teladan | 3 Komentar »
Posted by gunawank pada September 2, 2010
Guna membantu mengurangi kepadatan jalan raya yang diperkirakan tahun ini mencapai 3,6 juta pemudik dengan menggunakan sepeda motor, PT. Kereta Api Indonesia menyediakan tiga rangkaian Kereta Api Komunitas Motor untuk mengangkut sepeda motor beserta pemudiknya.
Setiap rangkaian kereta terdiri dari tujuh gerbong pengangkut sepeda motor dengan kapasitas 350 unit sepeda motor dan tiga gerbong penumpang untuk 320-450 orang pemudiknya.
Kereta Api Komunitas Motor ini akan diberangkatkan dari Stasiun Kampung Bandan Jakarta menuju Surabaya melalui jalur utara: Jakarta-Semarang-Cepu-Bojonegoro-St.Pasar Turi Surabaya dengan harga tiket Rp. 200.000,-per motor dan Rp. 43.500 per penumpang, dan melalui jalur selatan: Jakarta-St.Lempuyang Yogyakarta-St.Jebres Solo-Madiun-St.Gubeng Surabaya dengan harga tiket Rp. 33.500,- per penumpang dan Rp. 200.000,- per motor. Kereta tersebut mulai diberangkatkan pada hari Selasa, 31 Agustus 2010 (H-10) pukul 21.30 WIB dan 21.40 WIB.
Harga tiket ini tentunya jauh lebih murah apabila dibandingkan pengeluaran biaya spare part, oli mesin, bensin (berkaitan dengan perjalanan jauh) serta biaya tak terduga (makan, minum, jajan di perjalanan) jika mudik dengan mengendarai sepeda motor, belum lagi menyangkut faktor keamanan. Pokoknya mudik langsung dengan mengendarai sepeda motor untuk jarak jauh lebih menguras dana, tenaga, waktu dan keselamatan.
Namun sayang, kereta khusus untuk motor pemudik ini hanya beroperasi selama 6 hari dari tanggal 31-8-2010 sampai 4-9-2010 (arus mudik) dan 19-9-2010 (arus balik).
PT. Pelni Tak Mau Ketinggalan Sediakan Kapal Khusus Motor Mudik
Tidak mau ketinggalan langkah oleh “saudara sepupunya”, PT. Pelayaran Nasional Indonesia juga menyediakan kapal khusus pemudik bermotor. Kapal yang dilengkapi fasilitas makan sahur dan berbuka ini akan diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta menuju Semarang dan Surabaya pada tanggal 7 September 2010.
Harga tiket untuk satu motor dengan dua penumpang (pengemudi dan pembonceng) sebesar Rp. 300.000,- untuk jurusan Jakarta – Semarang dan Rp. 400.000,- untuk jurusan Jakarta – Surabaya.
Walhasil untuk saudara-saudaraku yang akan mudik dan berencana membawa sepeda motor ke kampung halaman, daripada cape-cape dan berisiko di jalan, tinggal pilih mau naik kereta api atau kapal laut.
Selamat Mudik Lebaran 2010, Semoga selamat sampai tujuan. Amin
Baca Artikel Terkait:
“Gratis” >>>Download :
Ditulis dalam Arus Balik, Arus Mudik, Berita, Bulan Ramadlan, Fenomena, Iedul Fitri, Kereta Api, Mudik, Serba serbi | Bertanda: Arus Balik, Arus Mudik, Berita, Fenomena, Iedul Fitri, Kapal Api, Kapal Laut, Kapal Motor, Kereta Api, Lebaran, Mudik lebaran, Pemudik, PT. KAI, PT. Pelni, Sepeda Motor, Serba serbi | 1 Komentar »
Posted by gunawank pada Agustus 30, 2010
Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits Rasulullah Saw. yang bertutur tentang kemulyaan Bulan Ramadlan yang artinya sebagai berikut:
“Sungguh telah datang kepada kamu sekalian bulan Ramadlan, bulan penuh keberkahan. Allah telah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu pintu-pintu syurga dibuka lebar-lebar, pintu-pintu neraka jahanam ditutup rapat, syetan-syetan dibelenggu. Pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu malam”.
Dalam hadits di atas terdapat lima point penting yang dapat dijadikan i’tibar dalam mengisi bulan Ramadlan ini.
Pertama, Allah telah memberkahi bulan Ramadlan bagi umat Islam di atas bulan lain dengan menetapkan beberapa ibadah yang khusus hanya disyariatkan pada bulan Ramadlan, seperti puasa wajib, shalat tarawih, zakat fitrah, lailatul qadar dan sebagainya.
Kedua, pada bulan Ramadlan pintu-pintu surga ditutup dapat diartikan dan benar-benar kita rasakan bahwa melaksanakan ibadah baik yang sunnah apalagi yang wajib terasa lebih ringan dan lebih bersemangat. Pada bulan-bulan yang lain untuk pergi berjamaah Isya di masjid rasanya berat sekali dan banyak alasannya, tetapi di bulan Ramadlan dapat melaksanakan shalat berjamaah Isya secara disiplin selama sebulan penuh, bahkan biasanya baru berangkat ke mesjid setelah mendengar iqamah dikumandangkan, tetapi di bulan Ramadlan sebelum masuk waktu Isya sudah siap (i’tikaf) di masjid.
Setelah shalat isya dan sunah ba’diyahnya masih mampu melaksanakan shalat sunah sebanyak 11 bahkan sampai 23 rakaat yakni Tarawih dan Witir, yang biasanya pada bulan yang lain setelah shalat berjamaah fardlu isya biasanya langsung pulang, bahkan sunah ba’diyahnyapun sering ditinggal.
Demikian pula dengan bangun malam, tadarus Al-Quran, i’tikaf, shadaqah dan lain-lain terasa lebih ringan dilaksanakan dalam bulan Ramadlan. Inilah makna aqliyahnya dari sabda Nabi Saw di atas: “pintu-pintu surga dibuka” , artinya jalan menuju pintu dan masuk surga Allah Swt terasa lebih terbuka di bulan Ramadlan.
Ketiga, jalan-jalan menuju pintu neraka lebih terjaga pada bulan Ramadlan, sebagai contoh ghibah (menggunjing, gosip), berdusta , marah dan sejenisnya yang pada bulan lain sulit dikendalikan, bahkan kadang kalau sudah mulai ada rasa tanggung kalau tidak diteruskan meskipun dalam hati sadar bahwa itu amal yang dilarang. Tapi di bulan Ramadlan, ketika akan berbohong…spontan terucap: “ah saya sedang puasa”, mau marah..”ah saya sedang puasa”, mau ini…mau itu, spontan tercegah karena kesadaran… “ah saya sedang puasa”.
Keempat, amal-amal yang merupakan ajakan dan godaan syetan untuk melakukan kemaksiatan lebih terjaga dan terpelihara di bulan Ramadlan, sebagaimana contoh pada poin tiga di atas.
Kelima, di masa-masa akhir bulan Ramadlan dimana kecenderungan semangat ibadah sudah mulai kendur dibandingkan awal-awal Ramadlan, Allah menyuntiknya dengan Lailatul Qadar, sehingga terpeliharalah kestabilan ibadah sampai akhir Ramadlan.
—- Wallahu A’lam—-
Baca Artikel Terkait:
“Gratis” >>>Download :
Ditulis dalam Akhlak, Arus Balik, Arus Mudik, Berita, Bulan Ramadlan, Download, Hikmah, Ibadah, Islam, Jin, Lailatul Qadar, Mudik, Puasa Ramadlan, Serba serbi, Shaum, Tasawuf | Bertanda: Akhlak, Berita, Bulan penuh keberkahan, Iedul Fitri, Islam, Lailatul Qadar, Mudik lebaran, Ramadlan, Serba serbi | Tinggalkan sebuah Komentar »