Ayam peliharaan (Gallus gallus domesticus) yang termasuk jenis unggas biasanya memperbanyak keturunan (reproduksi) dengan cara bertelur (omni vivum ex ovo) dan telur tersebut akan menjadi anak setelah dierami selama lebih kurang 21 hari.
Tetapi di Sri Lanka, baru-baru ini digegerkan oleh fenomena aneh bin ajaib, seekor induk betina ayam melahirkan anak, walaupun dikabarkan induk ayam tersebut akhirnya mengalami kematian. Sementara anaknya lahir selamat.
Menurut kepala Dinas Peternakan setempat, setelah melakukan otopsi dan penelitian ternyata induk ayam tersebut bertelur sebagaimana induk-induk ayam lainnya, namun telurnya tertahan dan menetas di dalam sistem reproduksi induknya. Anak ayam yang baru menetas tersebut kemudian keluar dari tubuh induknya yang menyebabkan luka pada tubuh induknya dan menyebabkan kematiannya.
Setelah beberapa waktu lalu media diramaikan dengan pemberitaan serangan ulat bulu, kini masyarakat indonesia, khususnya warga Surabaya digegerkan oleh kasus serangan sejenis serangga bernama Tomcat. Dilaporkan, 13 kecamatan di Kota Surabaya terkena dampak serangan serangga jenis kumbang ini.
Serangga yang memiliki nama ilmiah Paederus fuscipes dan dikenal sebagai Rove Beetle (Kumbang Rove) ini sebenarnya sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia, khususnya di lingkungan petani padi sawah karena serangga ini termasuk salah satu musuh alami hama Wereng Cokelat.
Penasaran membaca salah satu komentar postingan mas bro Abed Saragih (eh,….maaf salah. Maksudnya adalah…) Kang Uyayan alias Udikhangeblog tentang Piramida di Garut, aku coba nge-brows melalui Eyang Google untuk mencari tahu tentang Piramida yang diduga juga ada di Situs Gunung Padang, Cianjur.
Situs Megalitikum Gunung Padang yang terletak di Desa Karyamukti Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur, pertama kali tahun 1914 yang termuat dalam Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD) atau Buletin Dinas Kepurbakalaan pemerintah Hindia Belanda. Seorang sejarawan Belanda ternama yaitu N. J. Krom sempat menguraikannya tetapi belum banyak keterangan lebih lanjut mengenai informasi keberadaannya.
Situs dengan luas bangunan purbakalanya sekitar 900 m² dan areal situsnya sekitar 3 Ha adalah peninggalan megalitik terbesar di Asia Tenggara . Bangunan punden berundaknya berbahan bebatuan vulkanik alami dengan ukuran yang berbeda-beda.
Bentuknya berupa tiang-tiang dengan panjang rata-rata sekitar 1 meter dan berdiameter rata-rata 20 cm, berjenis andesit, basaltik, dan basal. Geometri ujung batu dan pahatan ribuan batu besar dibuat sedemikian rupanya teratur berbentuk pentagonal (lima sudut). Angka 5 juga seakan memberikan identitas pemujaan bilangan ‘5’ oleh masyarakat Sunda dahulu kala.
Simbol ‘5’ tersebut mirip dengan tangga nada musik Sunda pentatonis, yaitu: da mi na ti la. Oleh karena itulah, selain kompleks peribadatan purba, banyak juga menyebut Situs Gunung Padang sebagai teater musikal purba.
Kajian arkeologi, sejarah, dan geologi kemudian dilakukan Puslit Arkenas sejak 1979. Tidak ditemukannya artefak berupa manik-manik atau peralatan perunggu menyulitkan penentuan umur situs ini. Hal itu karena mayoritas artefak megalitik di Indonesia dan Asia Tenggara ditemukan pada masa kebudayaan Dongson (500 SM).
Para arkeologi sepakat bahwa Situs Gunung Padang bukan merupakan sebuah kuburan seperti dinyatakan oleh Krom (1914) tetapi merupakan sebuah tempat pemujaan masyarakat Sunda Kuna. Selain itu, situs ini juga dibangun dengan posisi memperhatikan pertimbangan geomantik dan astromantik.
Berkaitan dengan ramainya pemberitaan yang menyatakan bahwa ada Piramida di Gunung Padang mendapat perhatian para insan Geologi dan Arkeologi.
Badan Geologi Kementerian ESDM bekerjasama dengan Ikatan Ahli Geologi Indonesia Jabar Banten menggelar Geo Seminar Geologi dan Arkeologi Gunung Purba Jabar di Auditorium Badan Geologi di Bandung, Jumat (3/2/2012).
Seminar yang dihadiri oleh insan geologi dan arkeologi dari berbagai kalangan itu mengupas secara khusus atau studi kasus Gunung Padang, Gunung Sadahurip dan Gunung Lalakon yang disebut-sebut sebagai timbunan piramid.
“Silakan saja mereka yang menyatakan pendapat adanya piramid di Gunung Sadahurip dan Gunung Lalakon, kami tunggu keseriusan penelitian mereka. Namun secara keilmuan geologi dan arkeologi tidak bisa memberikan pembenaran alasan yang mereka sampaikan,” kata Peneliti Badan Arkeologi (Balar) Bandung, Luthfy Yondri dalam paparannya.
Menurut Luthfy, berdasarkan disiplin ilmu yang dimilikinya tidak menemukan adanya lintasan budaya piramid di Indonesia.
Yang ditemukan dalam beberapa situs tertua di Indonesia, seperti di Situs Gunung Padang adalah bangunan punden berundak.
“Bangunan tertua di Indonesia berbentuk punden berundak, dan beda dengan struktur piramid,” kata Luthfy. (INILAH.COM, 3/2/2012).
Hari Jum’at lalu (9/12/2011) di mesjid-mesjid maupun di media diumumkan bahwa Sabtu malam atau malam Minggu (10/12/2011) akan terjadi gerhana bulan total di wilayah Indonesia. Umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan Shalat Sunnah Gerhana sebagaimana tuntunan baginda Rasulullah SAW.
Shalat Gerhana atau shalat Kusufain adalah salat yang dilakukan saat terjadi gerhana bulan maupun matahari. Shalat yang dilakukan saat gerhana bulan di dalam ilmu fiqih disebut dengan Shalat Khusuf sedangkan saat gerhana matahari disebut dengan Shalat Kusuf. Keduanya hukumnya sunnah muakadah.
Keduanya (gerhana matahari dan gerhana bulan) merupakan kejadian alam yang sudah menjadi sunatullah sebagai salah satu dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Baca entri selengkapnya »
Sejak pertengahan Maret lalu, serangan jutaan hama ulat bulu tampak “meneror” warga Probolinggo hingga menjalar ke delapan kecamatan di Kabupaten Probolinggo, seperti Leces, Bantaran, Tegal Siwalan, dan Sumber Asih serta dua kecamatan di Kota Probolinggo.
Menurut Aunu Rauf, Guru Besar Ilmu Hama Tanaman IPB yang datang khusus ke Probolinggo untuk meneliti hama yang menghebohkan itu, menjelaskan berdasarkan pemeriksaan sampel sementara, diketahui jenis ulat bulu ini lymantria marginanta, bukan jenis desgiria inclusa. “Untuk kasus Probolinggo, lymantria marginanta tidak pernah dijumpai sebelumnya”, katanya (Okezone, Selasa 5/4/2011).
Heboh pemberitaan tentang kematian masal secara mendadak ratusan ribu ikan di Amerika Serikat serta ribuan burung di Amerka Serikat, Swedia dan Italia pada pergantian tahun 2010 ke 2011 merupakan fenomena alam yang langka terjadi.
Sebagaimana diberitakan Metrotvnews (Selasa, 4/1/20110), pada 30 Desember 2010 ditemukan sekitar 100.000 ekor ikan mati di sepanjang 20 mil Sungai Arkansas di dekat satu bendungan di Ozark, 125 mil di sebelah barat Beebe. Pejabat Komisi Perburuan dan Perikanan Arkansas, Keith Stephens mengatakan: “Penyakit mungkin adalah penyebabnya, sebab semua ikan tersebut berasal dari satu jenis –bottom-feeding drum”.
TEMPO Interaktif, Yogyakarta -Letusan gunung Merapi kali ini benar-benar luar biasa. Menurut Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Miner R Sukhyar letusan Merapi 2010 ini adalah yang terbesar dan terburuk.
“Terbesar setelah Galunggung 1982, penduduk Merapi tidak pernah merasakan letusan semacam ini dalam jangka waktu 100 tahun terakhir,” ujar Sukhyar di Yogyakarta, Jumat (5/11).
Letusan Gunung Merapi kian mengganas. Merapi mencatatkan rekornya dalam meluncurkan awan sejauh 15 kilometer dari Puncak Merapi menuju Cangkringan yang berjarak 15 kilometer dari Puncak Merapi.
Luncuran awan panas sejauh ini tercatat paling besar sejak letusan pertama pada 26 September lalu. Tidak hanya itu, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Sumber Daya Mineral, Surono mencatat jarak luncuran awan panas pada luncuran awan panas letusan Gunung Merapi terbesar yang pernah terjadi.
Pada hari ini, seluruh sekolah di Yogyakarta diliburkan, Bandar Udara Adi Sucipto ditutup, penerbangan dari dan menuju Yogyakarta dialihkan ke Solo dan Semarang.
Entah apa yang terjadi dengan negeri ini, belum juga reda aktifitas Gunung Merapi berikut bencananya, kini telah disusul dengan sederetan gunung api lain yang siap “muntah” dengan status waspada, siaga sampai awas.
Namun pertanyaan berbagai pihak tentang apakah ada kaitannya dengan aktifitas Gunung Merapi…? Menurut Dr Ir R Sukhyar, kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (KESDM) tidak ada kaitannya sama sekali.
“Setiap gunung api itu memiliki dapur masing-masing. Dapur magmanya itu tidak saling berhubungan satu sama lain. Jadi, Merapi punya sendiri, kemudian Papandayan punya sendiri, anak Krakatau punya sendiri, dan tidak punya hubungan. Jadi, kalau satu aktif, itu tidak berhubungan satu sama lain. Gunung-gunung api yang naik kegiatannya sekarang itu kan tahun lalu sebenarnya sudah meningkat aktivitasnya. Jadi, tidak berhubungan dengan Merapi sama sekali”, katanya sebagainama diberitakan Harian Republika (4/11/2010).
Kalaupun saat ini serentetan gunung api tersebut meningkat aktifitasnya, itu hanya karena kebetulan puncak aktifitasnya terjadi dalam kurun waktu yang hampir sama.
Namun pertanyaan yang terus menggelitik adalah mengapa harus kebetulan terjadi pada tahun ini, dimana selama empat tahun terakhir ini di negeri ini dilanda bencara bertubi-tubi: rentetan tsunami, rentetan gempa bumi, banjir dan sebagainya.
Inilah daftar gunung api yang saat ini meningkat aktifitasnya berikut status masing-masing:
A. Status Waspada (Level I):
Seulawah Agam (Aceh)
Sinabung (Sumatra Utara)
Talang (Sumatra Barat)
Kaba (Bengkulu)
Kerinci (Jambi)
Anak Krakatau (Lampung)
Papandayan (Jawa Barat)
Slamet (Jawa Tengah)
Bromo (Jawa Timur)
Semeru (Jawa Timur)
Batur (Bali)
Rinjani (NTB)
Sangenag Api (NTB)
Egon (NTT)
Rokatenda (NTT)
Soputan (Sulawesi Utara)
Lokon (Sulawesi Utara)
Gamalama (Maluku Utara)
Dukono (Maluku Utara)
B. Status Siaga (Level II) :
Karangetang (Sulawesi Utara)
Ibu (Maluku Utara)
C. Status Awas (Level III) :
Merapi (Jawa Tengah/DIY)
Sumber: KESDM; DAFTAR GUNUNG API DENGAN STATUS WASPADA
Pohon Abadi(African baobab) atau penduduk setempat menyebutnya Pohon Tambleg merupakan pohon asal Afrika. Saat ini terdapat lima pohon yang telah berusia 150 tahun yaitu di areal PT Sang Hyang Seri di Sukamandi, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Rencananya kelima pohon berukuran raksasa itu akan dipindahkan ke areal kampus Universitas Indonesia (UI) Depok.
“Pohon ini merupakan pohon masa depan. Pohon yang bisa menjadi harapan bagi bangsa dan negara untuk memenuhi kebutuhan nutrisi di masyarakat,” kata Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri di Subang, Jabar, Selasa (2/11), sebagaimana dilaporkan Liputan6.com, Rabu (3/11/2010).
Pohon abadi bisa bertahan hidup ribuan tahun tanpa terganggu oleh benalu. Bahkan setelah terbakarpun pohon ini masih dapat hidup. Pohon langka ini jika dilihat seperti pohon bonsai raksasa karena pertumbuhan batang yang melebar hingga mampu mencapai diameter enam meter dan mampu hidup hingga ribuan tahun.
Dari hasil riset, pohon african baobab ternyata memiliki kandungan nutrisi dan kalsium yang amat tinggi. Bahkan, buah, daun, dan kulitnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan pangan serta obat obatan. “Buahnya mengandung vitamin C dan nutrisi serta kalsium. Bunganya cantik, daunnya bisa dibuat sayur atau lalapan, dan baik untuk riset,“ lanjut pak Rektor.