Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Arsip untuk ‘Iman’ Kategori

Beriman Kepada Takdir

Posted by gunawank pada Januari 31, 2012

Beriman kepada Takdir atau Qadha dan Qadar artinya meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini yang baik maupun yang buru telah ditentukan oleh Allah SWT sebelum terjadi.

Akan tetapi manusia wajib berikhtiar dan berusaha, jangan hanya menyerah dan bersandar kepada takdir, sehingga manusia tidak memiliki kemampuan berkehendak dan kemauan berbuat sesuatu.

Misal, ketika ditakdirkan untuk sakit manusia harus berikhtiar mencari kesembuhan dengan cara berobat ke dokter dan berdo’a memohon kesembuhan kepada Allah. Jangan menyerah begitu saja, apalagi berputus asa. Karena pada hakikatnya kita tidak mengetahui apakah sakit kita akan sembuh atau tidak. Oleh karena itu untuk menjawabnya lakukanlah ikhtiar.

Tetapi juga jangan berlebihan dalam menilai kekuatan kehendak manusia sehingga melupakan kuasa dan takdir Allah. Berusahalah sekuat tenaga dan kemampuan, tetapi serahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA dalam bukunya “Riyadhul Mu’min, Lima Puluh Hadits Shahih Membahas Akidah, Syariah dan Akhlak” membagi Qadar atau takdir Allah menjadi empat macam tingkatan, yaitu:

  1. Takdir dalam ilmu Allah, misalnya bahwa manusia diciptakan dengan memiliki dua potensi untuk mengikuti petunjuk atau potensi untuk mengingkari petunjuk Tuhan. Potensi untuk beriman dan potensi untuk bersifat kafir.
  2. Takdir di Lauh al-Mahfudz, yaitu rancangan Tuhan yang sudah disiapkan untuk diterapkan dan diberlakukan kepada makhluk, yang dihimpun dalam Lauh al-Mahfudz.
  3. Takdir dalam rahim, yaitu ketika embrio masih berada dalam kandungan ibunya, Malaikat diutus oleh Allah SWT untuk mengagendakan rancangan dari ketentuan rizki, amal, dan ajal bagi bayi tersebut.
  4. Penetapak takdir pada waktunya. Allah SWT berkuasa merancang ketentuan baik dan buruk, bahagia dan celaka bagi seseorang dalam alam qidam-Nya. Kemudian rancangan ketentuan itu akan diterapkan pada makhluk pada waktunya yang telah ditentukan menurut sunnatullah.

Semua ketentuan Allah bersifat tetap, tidak berubah kecuali bila Alah sendiri menghendaki perubahan. Bukankah pada hakikatnya kehendak Allah untuk merubah apa yang telah ditetapkan-Nya juga merupakan ketetapan atau takdir-Nya juga?

Allah Maha Berkuasa untuk memastikan atau merubah takdir-Nya, karena Dia-lah yang Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Pencipta, Maha Berkehendak dan Maha Pengatur bagi semua makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauhul Mahfuzh)” (QS. Ar-Ra’d: 13).

Oleh karena itu berusaha dan berdo’a adalah keharusan ketika mendapat ketentuan Allah, atau ketika kita menghendaki agar ketentuan Allah yang baik yang ditetapkan kepada kita. Dalam konteks ini dapatlah dipahami hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa do’a dapat merubah takdir Allah (seperti do’a meminta panjang umur, murah rezeki dan lain-lain). Juga hadits yang menyatakan bahwa banyak silaturahim akan memudahkan rizki dan panjang umur.

Dalam kaitan ini Umar bin Khathab r.a. diriwayatkan pernah berdo’a untuk mengharapkan perubahan-perubahan suratan takdir yang telah ditetapkan padanya. Beliau berdo’a (yang artinya):

“Ya Allah, bila Kau tetapkan aku ini menjadi seorang yang celaka, maka hapuskanlah, dan tulislah aku sebagai orang yang bahagia” (HR. Thabrani).

Wallaahu A’lam…

Ditulis dalam Artikel Islam, Iman, Renungan | Bertanda: , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Tragedi Tugu Tani; Takdirkah Itu…?!

Posted by gunawank pada Januari 31, 2012

Dalam suatu hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khathab r.a. : Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata: ”Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.” Kemudian Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam menjawab: ”Islam yaitu: hendaklah engkau bersaksi tiada sesembahan yang haq disembah kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh. Hendaklah engkau mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Romadhon, dan mengerjakan haji ke rumah Alloh jika engkau mampu mengerjakannya.” Orang itu berkata: ”Engkau benar.” Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya. Orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman”. (Rosululloh) menjawab: ”Hendaklah engkau beriman kepada Alloh, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk.”………………”(HR. Muslim).

Dari penggalan hadits di atas jelaslah bahwa salah yang harus diyakini dan diimani oleh setiap muslim adalah adanya ketentuan dan ketetapan Allah SWT yang disebut takdir.

Beriman kepada takdir artinya meyakini bahwa Allah SWT menetapkan qadha dan qadar-Nya terhadap segala sesuatu, yang baik maupun yang buruk. Meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini telah direncanakan oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

“Yang kepunyaan-Nya meliputi kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan kekuasaan-NYa, dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapih-rapihnya” (QS. Al-Furqan: 2). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Akhlak, Artikel Islam, Iman, Musibah, Opini, Pelajaran, Pidana, Renungan | Bertanda: , , , | 2 Komentar »

Empat Macam Ujian Keimanan

Posted by gunawank pada Januari 25, 2012

Ujian yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah berbeda-beda dan bermacam-macam bentuknya, sesuai dengan kadar keimanannya. Namun, setidak-nya ada empat macam ujian yang telah dialami oleh orang-orang terdahulu:

Pertama: Ujian yang berbentuk perintah untuk dilaksanakan, seperti perintah Allah kepada Nabi Ibrahim As untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Ini adalah satu perintah yang betul-betul berat dan mungkin tidak masuk akal, bagaimana seorang bapak harus menyembelih anaknya yang sangat dicintai, padahal anaknya itu tidak melakukan kesalahan apapun. Namun dengan segala ketabahan dan kesabaran keduanya, perintah yang sangat berat itupun dijalankannya tanpa keraguan sedikitpun. Di sini terlihat bagaimana kualitas keimanan Nabi Ibrahim As dan putranya Nabi Ismail As yang benar-benar sudah tahan uji.

Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan puteranya adalah pelajaran yang sangat berharga dan sangat perlu ditauladani, karena sebagaimana dirasakan dalam kehidupan ini, banyak sekali perintah Allah yang dianggap berat, dan dengan berbagai alasan berusaha untuk tidak melaksanakannya. Padahal apabila dibandingkan dengan ujian yang diterima Nabi Ibrahim As, belumlah seberapa. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Artikel Islam, Iman, Islam, Muslim | Bertanda: , , | 14 Komentar »

Sudah Terujikah Iman Kita…?!

Posted by gunawank pada Januari 25, 2012

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut: 2-3).

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa salah satu konsekuensi pernyataan iman kita, adalah kita harus siap menghadapi ujian yang diberikan Allah Swt kepada kita, untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan iman kita, apakah betul-betul bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, atau sekedar ikut-ikutan serta tidak tahu arah dan tujuan, atau karena didorong oleh kepentingan sesaat, ingin mendapatkan kemenangan dan tidak mau menghadapi kesulitan seperti yang digambarkan Allah Swt dalam surat Al-Ankabut ayat 10:

“Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguh-nya kami adalah besertamu.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia”?

Bila kita sudah menyatakan iman dan kita mengharapkan manisnya buah iman yang kita miliki yaitu Surga, maka marilah kita bersiap-siap untuk menghadapi ujian berat yang akan diberikan Allah kepada kita, dan bersabarlah kala ujian itu datang kepada kita. Allah memberikan sindiran kepada kita, yang ingin masuk Surga tanpa melewati ujian yang berat.

“Apakah kalian mengira akan masuk Surga sedangkan belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama-nya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguh-nya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al-Baqarah 214).

Di samping itu, kita harus yakin bahwa ujian dari Allah itu adalah satu tanda kecintaan Allah kepada kita, sebagaimana sabda Rasulullah Saw :

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ. (رواه الترمذي، وقال هذا حديث حسن غريب من هذا الوجه).
“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan (ujian), Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai satu kaum, Dia akan menguji mereka, maka barangsiapa ridha, baginyalah keridhaan Allah, dan barangsiapa marah, baginyalah kemarahan Allah”. (HR. At-Tirmidzi, juz 4 hal. 519).

Rasulullah Saw mengisahkan betapa beratnya perjuangan orang-orang dulu dalam mempertahankan iman mereka, sebagaimana dituturkannya kepada shahabat Khabbab Ibnul Arats r.a.

“… Sungguh telah terjadi kepada orang-orang sebelum kalian, ada yang di sisir dengan sisir besi (sehingga) terkelupas daging dari tulang-tulangnya, akan tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya, dan ada pula yang diletakkan di atas kepalanya gergaji sampai terbelah dua, namun itu tidak memalingkannya dari agamanya…” (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari, cet. Dar Ar-Royyan, Juz 7 hal. 202).

Artikel Terkait:

Ditulis dalam Artikel Islam, Iman, Islam, Muslim | Bertanda: , | 1 Komentar »

Cilaka 12

Posted by gunawank pada Desember 30, 2011

Cialaka dua belas adalah ungkapan yang sangat populer di lingkungan orang sunda (cilaka = celaka) yang biasanya diungkapkan oleh seseorang yang berada dalam kondisi bahya, merugi, salah, kurang/tidak baik dan sejenisnya. Sebagai contoh:

  • Cilaka 12 euy, lagi asik-asik nyontek eh ketahuan sama pak guru !
  • Waduh cilaka 12 ! PR tentang serba 11 saja belum dikerjakan, sudah datang lagi PR serba 12.
  • dan lain-lain….. (jangan banyak-banyak contohnya, nanti ulangan nilainya 100 semua).

Karena termasuk ungkapan yang turun temurun sejak zaman nenek moyang dan merekapun tidak pernah memberikan penjelasan, sehingga sulit dibuat defisi yang benar-benar tepat. Oleh karena itu sah-sah saja jika ada pendapat yang mencoba menjelaskan maknanya, seperti apa yang akan aku kupas dalam tulisan ini. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Ibadah, Iman, Islam, Kiamat, Muslim, Renungan, Serba serbi, Tasawuf, Tips | Bertanda: , , , , | 4 Komentar »

MAUT, Senantiasa Siap Menjemput……

Posted by gunawank pada Oktober 16, 2011

Suatu saat Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali bertanya kepada murid-muridnya, “Apakah yang paling dekat kepada kita ?”. Murid-muridnyapun menjawab dengan jawaban yang berbeda-beda.Adayang menjawab ibu, ayah, isteri, teman karib dan lain-lain sesuai dengan pengalaman masing-masing tentunya.

Kata Imam Al-Ghazali: “ Jawaban kalian tidak ada yang salah. Semuanya betul, setidaknya sesuai dengan yang kalian rasakan. Tapi ada yang paling betul yakni kematian. Kematianlah yang paling dekat kepada kita.” Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Artikel Islam, Hikmah, Hot Topic, Iman, Islam, Renungan, Serba serbi, Tasawuf, Topic Hot | Bertanda: , , , , | 11 Komentar »

Iman dan Amal Soleh, Kunci Kebahagiaan Hidup di Dunia dan Akhirat

Posted by gunawank pada Oktober 1, 2011

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan pergantian tahun ke tahunpun terus kita lalui.  Tanpa terasa hitungan umur kitapun terus bertambah yang pada hakekatnya sebenarnya dengan pergantian tahun itu, berarti jatah usia kita semakin berkurang. Atau dengan kata lain, kesempatan kita untuk mengabdi dan berbakti, menghambakan diri kita kepada al-Kholik, Allah SWT semakin berkurang.

Firman allah dalam Al-Quran Suart Al-Ashr ayat 1-3:

والعصر * ان الانسان لفى خسر * الا الذين امنوا وعملواالصلحات وتواصوا بالحقّ وتواصوا بالصبر *

”Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi. Kecuali bagi mereka yang beriman dan beramal soleh, dan orang-orang yang senantiasa saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran”. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Akhlak, Artikel Islam, Ibadah, Iman, Islam, Muslim, Shabar | Bertanda: , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Kejujuran Sumber Segala Kebajikan

Posted by gunawank pada Juli 8, 2011

Sejalan dengan usaha untuk selalu memelihara iman yang ada dalam dada kita serta memperhebat rasa taqwa kita kepada Allah SWT, baik dalam keadaan lapang maupun dalam kesempitan hidup, hendaklah kitapun harus selalu memelihara norma-norma kesopanan, kesusilaan maupun keagamaan, menjunjung tinggi perintah-perintah Agama serta mengamalkannya dengan penuh kesungguhan dan kesabaran. Sabda Rasulullah SAW :

 اتقِ الله حيثما كنتَ وأَتْبِعِ السيئةَ الحسنةَ تَمْحُها وخَالِقِ الناسَ بخُلُقٍ حَسَنٍ (أحمد  والحاكم والبيهقى والترمذى والطبرانى)

 “Bertaqwallah kepada Allah SWT di manapun kamu berada. Iringilah perbuatan salahmu dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baikmu menghapuskan perbuatan jelekmu. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”.

Diantara budi pekerti yang luhur, akhlak mulia yang diajarkan Islam yang harus dimiliki dan diamalkan oleh setiap muslim adalah berlaku jujur, lurus, dapat dipercaya, tidak suka berbohong, baik terhadap diri sendiri, masyarakat terlebih-lebih terhadap Allah SWT. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Iman, Islam, Kepribadian, Muslim, Tasawuf, Teladan, Tips | 4 Komentar »

Tips: Cara Menghadapi Musibah

Posted by gunawank pada November 1, 2010

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.
Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.
(QS.Al-Baqarah: 155)

Musibah atau bencana yang menimpa manusia berdasarkan tujuannya dapat diklasifisikasikan menjadi 3 macam, yaitu apabila ditimpakan kepada orang-orang yang beriman dikategorikan sebagi bala atau ujian. Yakni melalui musibah tersebut Allah ingin meningkatkan derajat keimanan hambanya. Sudah barang tentu bagi lulus dalam menghadapi ujian tersebut.

Apabila musibah itu ditimpakan kepada orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang rusak imannya karena banyak berbuat maksiat, melanggar larangan Allah, maka musibah tersebut termasuk kategori teguran. Melalui musibah itu Allah ingin menegur manusia agar menyadari kesalahannya dan kemudian memperbaikinya.

Sedangkan apabila ditimpakan kepada manusia-manusia yang ingkar, orang-orang kafir termasuk azab atau siksa atas kekufurannya dan sebagai gambaran bahwa mereka akan mendapat siksa yang jauh lebih dahsyat di akhirat kelak.

Untuk kategori pertama dan kedua, salah satu kuncinya adalah sabar . Jika merka sabar dalam menerima musibah tersebut maka termasuk orang-orang yang lulus dalam ujian dan akan meningkat derajat keimanannya. Mereka inilah yang akan mendapat kabar gembira dari Allah SWT atas prestasinya itu. Tetapi bila tidak, maka mereka termasuk manusia yang merugi.

Lalu bagaimana bentuk sabar yang dimaksud…?

Dalam ayat berikutnya Allah menjelaskan arti orang-orang yang bersabar sebagaimana firman-Nya yang artinya: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (QS. Al-Baqarah: 156)

Berdasarkan ayat di atas dapat disimpulkan bahwa sabar dalam menghadapi musibah adalah menerima dan berkeyakinan bahwa musibah tersebut terjadi atas kehendak Allah dan apapun yang terjadi semuanya datang dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Dengan kata lain agar kita selamat dalam menghadapi musibah, dalam arti selamat jiwa, raga dan yang terpenting selamat aqidah adalah lisan mengucapkan kalimah “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”, sementara hati membenarkannya dengan keyakinan bahwa semuanya datang dari Allah dan semuanya pula akan kembali kepada-Nya. Artinya ketika dalam musibah tersebut terjadi kehilangan harta, yakinkan bahwa asalnya juga kita tidak punya sesuatu apapun karena semuanya yang kita miliki itu hanya pemberian Allah dan sekarang melalui musibah tersebut kita kembali tidak punya harta, yakin itu karena diambil kembali oleh Sang Pemilik, Allah SWT.

Dengan demikian jiwa kita akan selamat dari goncangan jiwa akibat hilangnya harta, orangtua, anak, faimili dan segala sesuatu yang kita cintai. Raga kitapun akan selamat karena tidak akan memaksakan diri untuk tetap bertahan dirumah atau kembali ke rumah setelah berada di lokasi pengungsian hanya karena untuk menyelamatkan harta. Aqidah juga akan selamat sehingga tidak akan menyalahkan siapapun termasuk diri sendiri terkait musibah tersebut, justru sebaliknya akan meningkatkan keimanan dan kualitas ibadah kepada-Nya.

Wallahu A’lam

Ditulis dalam Akhlak, bencana, Cara mengatasi masalah, Hot Topic, Hotline News, Ibadah, Iman, Musibah, Sabar, Serba serbi, Shabar, Solusi, Tips, Topic Hot, Uncategorized | Bertanda: , , | 4 Komentar »

Hikmah Ramadlan: Keteladanan Pemimpin

Posted by gunawank pada September 2, 2010

Suatu hari, Khalifah Abu Bakar hendak berangkat berdagang. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Umar bin Khathab. “Mau berangkat ke mana engkau, wahai Abu Bakar?” tanya Umar. “Seperti biasa, aku mau berdagang ke pasar,” jawab sang khalifah.

Umar kaget mendengar jawaban itu, lalu berkata, “Engkau sekarang sudah menjadi khalifah, karena itu berhentilah berdagang dan konsentrasilah mengurus kekhalifahan.” Abu Bakar lalu bertanya, “Jika tak berdagang, bagaimana aku harus menafkahi anak dan istriku?” Lalu Umar mengajak Abu Bakar untuk menemui Abu Ubaidah. Kemudian, ditetapkanlah oleh Abu Ubaidah gaji untuk khalifah Abu Bakar yang diambil dari baitul mal.

Pada suatu hari, istri Abu Bakar meminta uang untuk membeli manisan. “Wahai istriku, aku tak punya uang,” kata Abu Bakar. Istrinya lalu mengusulkan untuk menyisihkan uang gaji dari baitul mal untuk membeli manisan. Abu Bakar pun menyetujuinya.

Setelah beberapa lama, uang untuk membeli manisan pun terkumpul. “Wahai Abu Bakar belikan manisan dan ini uangnya,” ungkap sang istri memohon. Betapa kagetnya Abu Bakar melihat uang yang disisihkan istrinya untuk membeli manisan. “Wahai istriku, uang ini ternyata cukup banyak. Aku akan serahkan uang ini ke baitul mal, dan mulai besok kita usulkan agar gaji khalifah supaya dikurangi sebesar jumlah uang manisan yang dikumpulkan setiap hari, karena kita telah menerima gaji melebihi kecukupan sehari-hari,” tutur Abu Bakar.

Sebelum wafat, Abu Bakar berwasiat kepada putrinya Aisyah. “Kembalikanlah barang-barang keperluanku yang telah diterima dari baitul mal kepada khalifah penggantiku. Sebenarnya aku tidak mau menerima gaji dari baitul mal, tetapi karena Umar memaksa aku supaya berhenti berdagang dan berkonsentrasi mengurus kekhalifahan,” ujarnya berwasiat.

Abu Bakar juga meminta agar kebun yang dimilikinya diserahkan kepada khalifah penggantinya. “Itu sebagai pengganti uang yang telah aku terima dari baitul mal,” kata Abu Bakar. Setelah ayahnya wafat, Aisyah menyuruh orang untuk menyampaikan wasiat ayahnya kepada Umar. Umar pun berkata, “Semoga Allah SWT merahmati ayahmu.”

Kisah yang tertulis kitab fadhailul ‘amal itu sarat akan makna dan pesan. Di bulan Ramadhan ini, kita dapat mengambil pelajaran dari sikap dan keteladanan Abu Bakar yang tidak rakus terhadap harta kekayaan. Meski ia adalah seorang khalifah, namun tetap memilih hidup sederhana demi menjaga amanah.

Inilah sikap keteladanan dari seorang pemimpin sejati yang perlu ditiru oleh para pemimpin bangsa kita. Perilaku pemimpin, memiliki pengaruh yang besar bagi kehidupan masyarakat. Terlebih, bangsa Indonesia memiliki karakteristik masyarakat yang paternalistik yang rakyatnya berorientasi ke atas.

Apa yang dilakukan pemimpin akan ditiru oleh rakyatnya, baik perilaku yang baik maupun yang buruk. Dengan spirit Ramadhan, maka hendaknya para pemimpin memberi teladan untuk hidup secara wajar agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Wallahu ‘alam.

***Dikutif dari “Puasa dan Keteladanan Pemimpin” oleh Prof. Nanat Fatah Natsir (Republika, 1/9/2010)

Ditulis dalam Akhlak, Bulan Ramadlan, Hikmah, Iman, KisahSufi, Pelajaran, Pemimpin, Pendidikan, Puasa Ramadlan, Serba serbi, Shaum, Teladan, Wakil rakyat | Bertanda: , , , , , , , , , , | 3 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya.