Pembantaian Rawagede adalah peristiwa pembantaian penduduk Kampung Rawagede (sekarang terletak di Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, Jawa barat) oleh tentara Belanda pada tanggal 9 Desember 1947 sewaktu melancarkan agresi militer pertama. Sejumlah 431 penduduk menjadi korban pembantaian ini.
Ketika tentara Belanda menyerbu Bekasi, ribuan rakyat mengungsi ke arah Karawang. Pertempuran kemudian berkobar di daerah antara Karawang dan Bekasi, mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa dari kalangan sipil. Pada tanggal 4 Oktober 1948, tentara Belanda melancarkan pembersihan. Dalam peristiwa ini 35 orang penduduk Rawagede dibunuh tanpa alasan jelas. Peristiwa inilah yang menjadi inspirasi dari sajak terkenal Chairil Anwar berjudul Antara Karawang dan Bekasi. Baca entri selengkapnya »
Setelah sekian lama tidak terdengar terjadinya kecelakaan pesawat, tiba-tiba pada hari Sabtu, 7 Mei 2011 kita dihentakkan dengan kabar jatuhnya pesawat jenis MA-60 milik PT Merpati Nusantara Airlines di Perairan Kaimana, Papua Barat, memakan korban jiwa. Dari 25 orang yang ada di dalam pesawat tersebut, 17 diantaranya telah teridentifikasi.
Dari 17 yang teridentifikasi, 13 diantaranya penumpang dewasa, satu anak, satu bayi, dan dua pramugari pesawat. “Kedua pramugari adalah Sumayani dan Indrayani Puspasari,” ujar Sekretaris Perusahaan Merpati Imam Turidi (Tempointeraktif, 8/5/2011).
Tabrakan, tepatnya sepeda motor menabrak bagian belakang mobil yang masing-masing sedang melaju dengan kecepatan tinggi……bruuuuuuk..!!! Peristiwa tragis ini tertangkap oleh kamera pengintai.
Mudaha-mudahan tayangan ini menjadi nasihat bagi para pengendara agar senantiasa berhati-hati……dalam berkendaraan
Kairo, NU Online. Rois Syuriah PCINU Mesir K.H. Mukhlashon Jalaluddin, Lc ditangkap oleh pihak keamanan Mesir malam hari tadi. Pak Lason, begitu ia akrab disapa, bahkan sempat ditahan dan diinterogasi selama kurang lebih 5 jam di kantor kantor polisi Abbas el-Aqqad, Kairo.
“Kami menerima kabar langsung dari Pak Lason, jika beliau dan 3 orang WNI lain tadi malam sempat ditangkap dan ditahan oleh polisi dan militer Mesir,” kata Itho Atoillah, Sekjen PCINU Mesir, Jum’at (4/2), di kediaman Pak Lason di bilangan Rab’ah, Kairo.
Namun, lanjut Itho, Pak Lason dan 3 orang WNI tersebut sudah keluar tadi pagi. “Alhamdulillah beliau sudah keluar tadi pagi dan selamat, tidak ada apa-apa,” lanjut Itho.
Pak Lason ditangkap sepulang mendampingi prosesi evakuasi WNI gelombang kedua yang berangkat tadi malam di bandara Kairo, sekaligus menjemput dua orang dokter relawan dari Depkes RI yang didatangkan ke Mesir untuk membantu masalah kesehatan WNI.
Ketika ditangkap, Pak Lason dan WNI lainnya digiring ke mobil tahanan dengan mata ditutup, lalu dimasukkan ke dalam sebuah ruangan.
“Beliau dan rombongan disangka akan ikut demo. Polisi menggeledah mobil dan semua yang dibawa. Nah, polisi menemukan alat kesehatan yang sebenarnya akan digunakan untuk membantu masalah kesehatan WNI di Mesir, tapi disangka akan digunakan untuk membantu para demonstran,” lanjut Itho.
Kondisi WNI di Mesir sampai saat ini terbilang rawan. Gelombang demontsrasi kian bergejolak. Meski demikian, beberapa kader PCINU Mesir terlibat aktif di posko evakuasi WNI di Kairo. (anas)
Ini hanya sebagian keu…cil saja berita tentang ricuh, tawuran, serang-menyerang, balas dendam, sweeping…….dll antar suporter LSI-nya PSSI.
Sweeping Bonek, Seorang Warga Tewas Ditusuk
Headline News / Hukum & Kriminal / Sabtu, 22 Januari 2011 21:14 WIB
Metrotvnews,com, Lamongan: Seorang warga tewas dan seorang lainnya luka parah akibat tawuran antara warga dan suporter Persebaya alias bondo nekat (bonek) di Lamongan, Jawa
Timur, Sabtu (22/1). Tawuran terjadi di dalam kereta yang mengangkut bonek.
Pembunuhan terjadi seusai sweeping warga terhadap bonek di stasiun. Nahas bagi dua warga tersebut karena tertinggal di Kereta Kertajaya yang mulai jalan. Keduanya kontan dikeroyok para bonek. Sebelumnya, warga memukuli puluhan bonek yang mereka sweeping.
Korban tewas adalah Gilang, warga Deket, Kecamatan Deket, Lamongan. Sementara korban luka bernama Teguh. Menurut Teguh, Gilang tewas ditusuk bonek. Kemudian jasadnya dibuang ke perlintasan rel di Desa Karang Langit, Kecamatan Sukodadi, Lamongan.
Sementara Teguh dibuang di perlintasan rel di Desa Talun, Kecamatan Sukodadi. Teguh mengalami luka tusuk di bagian punggung. Teguh dan jasad GIlang dibawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah, Lamongan.(IKA)
Metrotvnews.com, Bandung: Keributan pecah antara pendukung Persib dan polisi di Jalan Banda, Bandung, Jawa Barat, Ahad (23/1). Sebanyak 12 bobotoh–julukan fans Persib–terluka, tujuh di antaranya perempuan.
Menurut seorang bobotoh, keributan bermula saat mereka hendak pulang usai menyaksikan laga Persib dan Arema Malang pukul 23.00 WIB. Di tengah perjalanan, bobotoh menyanyikan yel-yel yang diduga menyinggung polisi.
Tujuh wanita korban luka dievakuasi dan dibawa pulang menggunakan bus ke tempat asal mereka di Tangerang, Bekasi dan Bogor. Sedangkan yang lainnya masih dirawat di distro milik bobotoh.
Distro di Jalan Banda juga rusak saat terjadi keributan. Tak hanya itu, satu mobil juga rusak akibat keributan tersebut.(RAS)
Metrotvnews.com, Tangerang: Ratusan suporter Persita Tangerang, Persikota Tangerang dan Persebaya 1927, terlibat tawuran dengan warga Buaran, Kota Tangerang, yang dikenal sebagai suporter Persija Jakarta.
Tawuran di belakang Stadion Benteng, Tangerang, Banten, terjadi ketika para suporter Persita, Persikota dan bonek Persebaya 1927 sedang menyaksikan pertandingan antara Persebaya 1927 melawan Tangerang Wolves di laga Liga Primer Indonesia (LPI), Ahad (23/1) petang.i///
Diduga warga Buaran memicu tawuran dengan melemparkan batu ke arah Stadion Benteng. Tidak terima dengan perlakuan warga Buaran, yang juga pendukung Persija tersebut, suporter ketiga tim bersatu untuk membalas menyerang dengan meleparkan batu. Akibatnya lemparan batu para suporter menghancurkan atap rumah-rumah warga.
Aksi tawuran mereda setelah Kepolisian Resor Kota Tangerang, melepaskan tembakan gas air mata ke arah kelompok suporter.(RIZ)
Akhir-akhir ini kita sering terenyuh menyaksikan tayangan berita di media elektronik tentang kasus pembagian daging qurban, zakat dan bentuk bantuan langsung lainnya yang selalu diwarnai kericuhan dan tidak jarang menimbulkan korban cedera bahkan nyawa.
Fenomena ini terjadi setidaknya karena 2 hal:
Betapa banyak warga masyarakat kita yang sangat membutuhkan (kalau tidak boleh disebut miskin) hanya sekedar uang senilai Rp. 100.000,- atau bahkan kurang (setara 0,5 kg daging qurban atau paket sembako).
Panitia yang kurang siap dan tidak mau menggunakan jalur aparat yang ada dimasyarakat (pengurus RT atau RW). Alasannya mungkin karena kurangnya kepercayaan kepada aparat dimaksud atau karena takut tidak diketahui umum.
Apapun alasannya yang jelas itulah kondisi riil yang terjadi pada masyarakat kebanyakan rakyat Indonesia. Padahal pernyatan-pernyataan pemerintah selalu mengklim bahwa berbagai program yang berkaitan dengan usaha pengentasan kemiskinan telah berhasil atau setidaknya selalu mengalami kemajuan.
Dulu umunmnya masyarakat tidak mampu akan merasa malu untuk berkumpul menerima bantuan, tetapi sekarang justru sangat bersemangat untuk mendapatkannya sehingga rela berdesakan dengan resiko terhimpit, terinjak-injak bahkan kehilangan nyawa yang siap mengancam.
Tumapel merupakan salah satu daerah bawahan Kerajaan Kadiri. Yang menjadi akuwu (setara camat zaman sekarang) Tumapel saat itu bernama Tunggul Ametung. Atas bantuan Lohgawe, Ken Arok dapat diterima bekerja sebagai pengawal Tunggul Ametung.
Ken Arok kemudian tertarik pada Ken Dedes istri Tunggul Ametung yang cantik. Apalagi Lohgawe juga meramalkan kalau Ken Dedes akan menurunkan raja-raja tanah Jawa. Hal itu semakin membuat Ken Arok berhasrat untuk merebut Ken Dedes, meskipun tidak direstui Lohgawe.
Ken Arok membutuhkan sebilah keris ampuh untuk membunuh Tunggul Ametung yang terkenal sakti. Bango Samparan pun memperkenalkan Ken Arok pada sahabatnya yang bernama Mpu Gandring dari desa Lulumbang (sekarang Lumbang, Pasuruan), yaitu seorang ahli pembuat pusaka ampuh.
Bandung…..Bandung…. Bandung nelah Kota Kembang Diriung ku gunung…heurin ku tangtung Puseur kota nu mulya Parahiyangan ………….….
Pada tanggal 25 September 1810 Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mengeluarkan surat keputusan tentang pembangunan sarana dan prasarana pada kawasan yang sekarang dikenal sebagai kota Bandung. Penancapan tonggak jalan di tempat yang sekarang bernama jalan Asia Afrika menjadi acuan titik nol Kota Bandung.
Bandung mendapat julukan Kota Kembang karena keasriannya yang dipenuhi berbagai macam ragam dan warna-warni bunga-bunga indah. Udaranya yang sejuk karena dipenuhi pepohonan rindang (heurin ku tangtung), persis seperti yang diungkapkan dalam syair lagu di atas.
Bandung juga dijuluki sebagi Parijs van Java, karena keindahan alamnya tadi disertai keanekaragaman wisata kuliner, mode, budaya serta keramah tamahan penduduknya.
Kini, setelah 200 tahun berlalu dan kota ini sempat berubah julukan dari kota kembang menjadi Kota Lombang serta terkenal dengan kemacetan yang mengular terutama setiap akhir pekan, Kota Bandung di bawah nahkoda Wali Kota Dada Rosada berkeinginan menjadi Kota Dirgantara yang ramah lingkungan lewat pencanangan “Eco Town”.
Oleh karena itulah, salah satu kegiatan memperingati HUT -nya ke 2 abad diselenggarakan pameran dan atraksi Bandung Air Show di Landasan Udara (Lanud) Husein Sastranegara pada 23-26 September 2010 meski sempat diwarnai insiden jatuhnya pesawat Super Decatlon tipe 8 KCAB dengan pilot Ir. Alexander Supeli.
Mudah-mudahan program itu segera terlaksana, sehingga keindahan, kesejukkan, keramah tamahan, ketenangan yang dulu menjadi trade mark Kota Bandung lebih cepat terwujud. Amin……..
Peristiwa tragis jatuhnya pesawat Decatlon 8 KCAB saat atraksi dalam Bandung Air Show (BAS) 2010