Arsip untuk ‘Pejuang’ Kategori
Posted by gunawank pada Juni 2, 2011
Sebagai upaya mendapatkan dukungan bangsa Indonesia serta membuktikan janjinya bahwa Jepang datang ke Indonesia untuk membantu proses kemerdekaan Indonesia, maka pada tanggal 29 April 1945 bertepatan dengan hari ulang tahun Kaisar Hirohito, pemerintah pendudukan balatentara Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau (Jepang: Dokuritsu Junbi Cosakai atau dilafalkan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai). BPUPKI beranggotakan 63 orang yang diketuai oleh Radjiman Wedyodiningrat dengan wakil ketua Hibangase Yosio (orang Jepang) dan R.P. Soeroso.
Di luar anggota BPUPKI, dibentuk sebuah Badan Tata Usaha (semacam sekretariat) yang beranggotakan 60 orang. Badan Tata Usaha ini dipimpin oleh R.P.Soeroso, dengan wakil Abdoel Gafar Pringgodigdo dan Masuda (orang Jepang). Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Hot Topic, Hotline News, In memoriam, Indonesia, Nahdlatul Ulama, NU, Pahlawan Nasional, Pancasila, Pejuang, Sejarah, Tokoh, Tokoh Bangsa, Tokoh Nasional, Tokoh NU, Topic Hot | Bertanda: BPUPKI, Hari lahir Pancasila, Jakarta charter, Panitia sembilan, Pembukaan UUD 1945, Piagam Jakarta, PPKI, UUD 1945 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Posted by gunawank pada April 10, 2011

BIOGRAFI
Nama
Tempat lahir
Tanggal lahir
Tanggal wafat
Dimakamkan
Tokoh |
: Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy’arie
: Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur
: 10 April 1875 M / 24 Dzulqaidah 1287 H
: 25 Juli 1947
: Tebu Ireng, Jombang
: Pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia |
Keluarga
KH Hasyim Asyari adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Hasyim merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang).
Berikut silsilah lengkapnya: Ainul Yaqin (Sunan Giri), Abdurrohman (Jaka Tingkir), Abdul Halim (Pangeran Benawa), Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda), Abdul Halim, Abdul Wahid, Abu Sarwan, KH. Asy’ari (Jombang), KH. Hasyim Asy’ari (Jombang)
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Artikel Islam, Biodata, Biografi, Guru bangsa, Hot Topic, Hotline News, In memoriam, Jam'iyah, Nahdlatul Ulama, Pahlawan Nasional, Pejuang, Sejarah, Tokoh, Tokoh Bangsa, Tokoh Nasional, Tokoh NU | Bertanda: Biografi, Biografi KHM Hasyim Asy'ari, Pendiri NU, Tanggal 10 April, Tokoh Ulama Pejuang | 4 Komentar »
Posted by gunawank pada April 3, 2011

BIODATA
Muhammad Toha (1927 – 24 Maret 1946)
Tempat kelahiran : Bandung, Hindia Belanda (sekarang Indonesia)
Tempat kematian : Bandung, Indonesia
Pengabdian bagi : Republik Indonesia
Dinas/cabang : Barisan Rakjat Indonesia
Lama berdinas : 1945 – 1946
Pangkat : Komandan
Kesatuan : Milisi Penggempur
Komando : milisi gerilya
Pertempuran/perang : Bandung Lautan Api (Perang Kemerdekaan Indonesia)
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Bandung, Biografi, Buah bibir, Hot Topic, In memoriam, Pahlawan, Pahlawan Nasional, Pejuang, Sejarah, Tokoh, Tokoh Bangsa, Tokoh Sunda | Bertanda: Bandung Lautan Api, Mohammad Toha, Otista, Pahlawan Bandung Selatan, Pahlawan Nasional, Pahlawan Sunda, Pahlawan Toha, Si Jalak Harupat | 16 Komentar »
Posted by gunawank pada Desember 14, 2010


Berbeda dengan tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantoro maupun Raden Ajeng Kartini yang setiap tahun diperingati, hari kelahiran Dewi Sartika yang jatuh pada tanggal 4 Desember lalu tidak ada yang memperingatinya bahkan sekedar membicarakannya. Tidak ada anak sekolah SD, SMP, SMA yang memakai kebaya, sanggul serta lomba-lomba memperingati Dewi Sartika.
Padahal kalau boleh dibanding-bandingkan antara jasa Dewi Sartika dengan kedua tokoh di atas kiprahnya dalam merintis pendidikan maupun memperjuangkan kaum wanita lebih dahulu.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Aneh tapi nyata, Bandung, Berita, Biografi, Buah bibir, Guru, Guru bangsa, Hot Topic, Hotline News, In memoriam, Kota Bandung, Opini, Opinion, Pahlawan, Pejuang, Pendidikan, Sejarah, Sekolah, Serba serbi, Tokoh, Tokoh Bangsa, Tokoh Emansipasi Wanita, Tokoh Nasional, Tokoh Pendidikan, Tokoh Sunda, Topic Hot | Bertanda: Dewi Sartika Nasibmu kini, Dewi Sartika Tokoh Terlupakan, Pejuang Perempuan, Tokoh Nasional dari Pasundan | 4 Komentar »
Posted by gunawank pada Desember 14, 2010
Profil
| Nama lengkap |
: |
Raden Dewi Sartika |
| Tempat lahir |
: |
Bandung |
| Tanggal lahir |
: |
4 Desember 1884 |
| Wafat di |
: |
Tasikmalaya |
| Tanggal wafat |
: |
11 September 1947 |
| Usia |
: |
62 tahun |
| Gelar Pahlawan Nasional |
: |
Tahun 1966 |
| Kategori |
: |
Tokoh Perintis Pendidikan Untuk Kaum Perempuan |
m
Biografi
Dewi Sartika dilahirkan di Bandung, 4 Desember 1884 dari keluarga priyayi Sunda, Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tuanya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika, ke sekolah Belanda pula. Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya (kakak ibunya) yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, beliau mendapatkan didikan mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari berkat didikan seorang nyonya Asisten Residen bangsa Belanda.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Bandung, Berita, Bintang Jasa, Biodata, Biografi, Buah bibir, Dewi Sartika, Guru, Guru bangsa, Hot Topic, Hotline News, In memoriam, Info, Kota Bandung, Pahlawan Nasional, Pejuang, Pendidikan, Potret, Profile, Sejarah, Sekolah, Serba serbi, Tokoh, Tokoh Bangsa, Tokoh Emansipasi Wanita, Tokoh Nasional, Tokoh Pendidikan, Tokoh Sunda, Topic Hot | Bertanda: Biografi Dewi Sartika, Dewi Sartika, Pejuang pendidikan kaum wanita, Sekolah Kautamaan Istri, Tokoh Pasundan | 11 Komentar »
Posted by gunawank pada Desember 12, 2010


PSSI (Persatuan Sepakbola seluruh Indonesia ) yang dibentuk 19 April 1930 di Yogyakarta. Sebagai organisasi olahraga yang dilahirkan di Zaman penjajahan Belanda, Kelahiran PSSI betapapun terkait dengan kegiatan politik menentang penjajahan.
PSSI didirikan oleh Soeratin Sosrosoegondo seorang insinyur sipil lulusan Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman pada tahun 1927 dan kembali ke tanah air pada tahun 1928. Di tanah air Soeratin bekerja pada sebuah perusahaan bangunan Belanda “Sizten en Lausada” yang berpusat di Yogyakarta. Disana ia merupakan satu – satunya orang Indonesia yang duduk dalam jajaran petinggi perusahaan konstruksi yang besar itu. Akan tetapi, didorong oleh jiwa nasionalis yang tinggi Soeratin mundur dari perusahaan tersebut.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Berita, Hot Topic, Hotline News, Olah raga, Pahlawan, Pejuang, Potret, PSSI, Sejarah, Sepakbola, Serba serbi, Suratin Cup, Teladan, Tokoh, Tokoh Bangsa, Tokoh Olahraga, Topic Hot, Uncategorized, World Cup | Bertanda: Pendiri PSSI, Sejarah PSSI, Sejarah sepakbola Indonesia, Tokoh sepakbola Indonesia | 1 Komentar »
Posted by gunawank pada November 10, 2010




Pada tanggal 17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia dikumandangkan di Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Proklamasi kemerdekaan itu disambut gembira oleh seluruh rakyat Indonesia, sekalipun tentara Jepang masih bercokol di setiap kota. Rakyat Indonesia telah meyakini bahwa kemerdekaan itu merupakan jembatan emas untuk menuju kesejahteraan hidup seluruh rakyat.
Akan tetapi bangsa Indonesia masih diberi cobaan, sebab tidak lama kemudian tanggal 29 September 1945 tentara Inggris mendarat di Indonesia dengan diboncengi orang-orang Belanda dengan sebutan NICA (Nederland Indie Civil Administration). Tentara Inggris tidak mau melihat kenyataan Indonesia yang telah merdeka dan sudah berpemerintahan sendiri. Kehadiran tentara Inggris awalnya bermaksud melucuti dan memulangkan tentara Jepang, namun kemudian “ditambah” untuk mengembalikan penjajahan Belanda di Indonesia.
Dalam rangka turut mempertahankan kemerdekaan itulah PBNU kemudin memanggil para konsul seluruh Jawa – Madura pada tanggal 21 Oktober 1945, bertempat di Jalan Bubutan VI/2 Surabaya untuk rapat membicarakan situasi gawat. Akhirnya pada tanggal 22 Oktober 1945 dikeluarkan sebuah resolusi yang dinamakan dengan “Resolusi Jihad” yang isinya sebagai berikut:
- Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tangga117 Agustus 1945 wajib dipertahankan.
- Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintah yang sah, wajib dibela dan diselamatkan.
- Musuh Republik Indonesia, terutama Belanda, tentu akan menggunakan kesempatan politik dan militer untuk kembali menjajah Indonesia.
- Umat Islam terutama warga NU wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawannya yang hendak kembali menjajah Indonesia.
- Kewajiban tersebut adalah suatu jihad yang menjadi kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam atau fardlu ain hukumnya.
Dengan adanya resolusi jihad tersebut, maka semangat membela kemerdekaan berkobar di seluruh Tanah Air. Di antaranya memberi dorongan semangat pada arek-arek Suroboyo dalam menghadapi tentara Inggris-Nica di Surabaya utamanya.
Demikian juga pemuda Islam, tentara, para santri pesantren menggabungkan diri ke dalam barisan “Sabilillah” pimpinan H. Zainal Arifin, orang-orang Islam dari kalangan umum bergabung ke dalam barisan “Hisbullah” dipimpin K.H. Masykur, sedangkan K.H. A. Wahab Hasbullah mengumpulkan para kiai dalam barisan “Mujahidin” untuk mendampingi Hizbullah dan Sabilillah.
Barisan Hizbullah ini secara bergiliran dikirim, ke medan pertempuran berdampingan dengan TKR dan lasykar-lasykar lain. Tidak cukup dengan barisan Hizbullah dan Sabilillah, Nahdlatul Ulama pun berusaha menghimpun para kyai untuk dikirim ke front-front pertempuran untuk mendampingi para pejuang yang sedang bertempur dengan musuh guna memberikan dorongan semangat dan ketenangan jiwa. Para kyai ini tidak diorganisir dalam barisan, tetapi di beberapa tempat didirikan markas.
Menurut Rektor Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi, Jawa Barat, Dr Nandang Najmulmunir, MS yang disampaikan kepada NU Online di Bogor, Selasa (10/11/2009): “Peristiwa bersejarah heroisme arek-arek Surabaya dan santri dari berbagai pesantren di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat pada 10 November 1945 merupakan buah alias dampak dari dikeluarkannya ‘resolusi jihad’ atau seruan perang yang dicetuskan ulama-ulama Nahdlatul Ulama (NU)”.
“Resolusi jihad yang dikeluarkan NU telah menginspirasi segenap anak bangsa untuk berjuang mengangkat senjata guna mengusir penjajah yang hendak masuk kembali ke Indonesia,” tutur dia.
Kontribusi NU terhada peristiwa tersebut bukan hanya sebatas mengeluarkan resolusi jihad yang terbukti berhasil melecut semangat juang bangsa Indonesia, namun para ulama NU terjun secara langsung ke medan perang dengan memimpin perlawanan mengusir penjajah.
Dia menyampaikan, sebelum peristiwa 10 November meletus, Bung Tomo dan para pejuang NU di medan perang, terlebih dahulu meminta fatwa para ulama NU serta menunggu kedatangan mereka ke medan perang. Saat itu, dua ulama besar NU yang ditunggu para pejuang, yakni KH Wahid Hasyim dan KH Abbas, Buntet Cirebon.
“Setelah dua ulama tersebut datang, barulah terjadi perang,” tegas dia.
Sumber:
- Buku Aswaja dan Ke-NU-an
- NU Online
Ditulis dalam Berita, Fisabilillah, Hari Pahlawan, Hizbullah, Hot Topic, Hotline News, Jihad, Mujahidin, Nahdlatul Ulama, NU, Pahlawan, PBNU, Pejuang, Perang, Proklamasi Kemerdekaan, Sejarah, Serba serbi, Teladan, Tokoh, Tokoh Bangsa, Tokoh NU | Bertanda: Hari Pahlawan 10 Nopember, Peran NU pada masa Pra Kemedekaan, Resolusi Jihad NU Inspirasi Perang 10 Nopember 1945, Tokoh panutan, Tokoh patriotik | 1 Komentar »
Posted by gunawank pada Maret 18, 2010
Alih-alih mendapat fasilitas (sebagaimana hebat dan mewahnya fasilitas bagi para pejabat sekarang), dua orang ibu tua yang almarhum suaminya mendapat penghargaan dari negara sebagai pahlawan, malah duduk di kursi pesakitan sidang kasus pidana.
Soertarti Soekarno (78) dan Rusmini (78), dua isteri mantan Tentara Pelajar itu terancam hukuman penjara selama dua tahun. Negara mempidanakan mereka dengan dakwaan penyerobotan lahan atau tanah orang lain serta menempati rumah yang bukan haknya.
Sebenarnya keduanya sejak tahun 1980-1990an telah memperjuangkan kepemilikan rumah tersebut sesuai PP No.40 tahun 1994 bahwa rumah dinas bisa dibeli jika sudah menempati lebih dari 10 tahun. Namun, tak ada respons positif.
Al Ghifari Aqsa dari LBH Jakarta menyesalkan penyelesaian kasus ini. Sebelum membawa ke ranah pidana, Perum Pegadaian seharusnya menunggu keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara atas gugatan dua janda itu. “Seharusnya tidak ada proses pidana, kalaupun ada hendaknya setelah vonis PTUN keluar. Ini semacam bentuk kriminalisasi,” ujarnya.
Dengan kasus ini jelaslah bagaimana pemerintah meperlakukan mereka yang pernah berjasa terhadap negara ini. Kalau pahlawan pejuang saja diperlakukan seperti itu, pantaslah bila ada mantan petinju yang pernah mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional nasibnya hanya menjadi satpam..?!!!
Ditulis dalam Akhlak, Berita, Fenomena, LBH, Mafia hukum, Mati syahid, Olah raga, Pahlawan, Pejuang, Pidana, Serba serbi, Tanda-tanda Kiamat, Tokoh Bangsa | Bertanda: Akhlak, Berita, Hukum, Hukuman, Pahlawan, Pahlawan Nasional, Pejuang, Penghargaan, Pidana, Serba serbi, Tentara, Tokoh nasional | 2 Komentar »