Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Arsip untuk ‘Puasa Ramadlan’ Kategori

Kisahku: DASAR…..HANTU PENAKUT..!

Posted by gunawank pada Agustus 19, 2011

Salah satu kebiasaan anak-anak di kampung kami saat itu (saat aku masih kecil, lho…!) sehabis shalat Tarawih adalah “ngadu bedug”. Tapi, jangan salah sangka dulu….! Bukan bedugnya yang diadu-aduin, melainkan ngadu suara bedug yang paling nyaring dan paling keras suaranya itulah pemenangnya, atau siapa yang paling kuat menabuh tanpa digantikan, dialah juaranya.

Agar tidak mengganggu penduduk yang sedang istirahat atau sudah tidur, kegiatan ngadu bedug tersebut dilaksanakan di sawah, beberapa ratus meter dari kampung. Kebetulan waktu itu bulan Ramadlan bertepatan dengan masa akhir panen padi.

Sebagai alat penerangannya menggunakan “colen” atau obor yang terbuat dari ruas bambu yang diisi minyak tanah dan kain bekas sebagai sumbunya. Maklum, ketika aku kecil belum masuk listrik ke kampungku. Obor bambu itulah yang menjadi alat penerangan di pinggir-pinggir jalan. Sementara di rumah-rumah menggunakan lentera atau lampu minyak tanah.

Sungguh luar biasa jasa minyak tanah bagi kehidupan di kampung kami saat itu (mungkin juga saat ini masih berlaku untuk masyarakat pedesaan tertentu. Makanya sungguh sangat disayangkan adanya kebijakan pemerintah yang membatasi penggunaan minyak tanah bagi masyarakat kecil. Bahkan, akibat dari kebijakan tersebut, kini minyak tanah selain susah didapat, harganya mahal lagi. Entahlah…..). Disamping sebagai sumber energi penerangan, minyak tanah juga menjadi bahan sarana hiburan anak-anak di bulan Ramadlan, yaitu sebagai bahan pembuatan “beleson” atau meriam bambu, karena merecon waktu itu masih termasuk barang lux alias mahal harganya.

Adalah pamanku, pemuda paling iseng di kampungku, walaupun di sisi lain beliau juga sekaligus sebagai motor penggerak “pemuda masjid”, sehigga cukup disegani teman-teman sebayanya (antara lain tergambar dalam kisahku “Keunikan si Kecil Saat Berpuasa Ramadlan dan “Berburu Sisa Padi di Sawah Untuk Sepiker Lebaran”).

Menyaksikan teman-temannya sedang asyik ngadu bedug di sawah, timbul pikiran isengnya, ” Pasti seru kalau mereka ku takut-takuti”, pikirnya. Maka secara diam-diam ia pulang ke rumah untuk meyusun rencananya itu.

Diambilnya kain mukena ibunya (nenekku, maksudnya) lalu dipakinya sehingga nampak seperti hantu pocong yang sering kita saksikan dalam film atau sinetron-sinetron horror Indonesia saat ini.

Untuk menambah keseraman penampilannya, diambilnya bedak putih dan dipoleskanlah ke seluruh wajahnya. Tak ayal lagi, wajahnya seketika berubah menjadi putih, dibalut kain putih mukena yang menutupi seluruh tubuhnya.

Selesai ber-make up serba putih plus menambahkan minyak wangi “Airmata Duyung” yang suka digunakan untuk parfum mayat, iapun menghampiri kaca cermin yang terpasang di pintu lemari pakaian. Maksudnya, tiada lain untuk mengecek apakah penampilannya sudah cukup menyeramkan.

Namun apa yang terjadi saat pandangan beliau menangkap bayangan yang muncul di balik kaca cermin………..”iiiii…yyyyyyy, tolooooooong……..”, pamanku menjerit dan lari ketakutan. Dasarrrrr..……HANTU PENAKUT !!!

Ditulis dalam Biografi, Bulan Ramadlan, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Puasa Ramadlan | Bertanda: , , , , , | 18 Komentar »

SHAUM RAMADLAN MENCEGAH ABDUL BUTHUN

Posted by gunawank pada Agustus 12, 2011

Hamba Perut

Puasa artinya tidak makan dan tidak minum serta menahan diri dari keinginan nafsu sahwat mulai dari terbit pajar hingga terbenam matahari. Tujuannya akhirnya adalah agar menjadi manusia yang bertakwa.

Dalam kitab “Hikmatut Tasyri wafalsafatuh” disebutkan bahwa puasa itu bukan hanya sekedar melaparkan diri di siang hari, melainkan agar tahu dan merasakan bagaimana rasanya jadi orang lapar, merasakan bagaimana sedihnya orang yang menderita kekurangan makanan. Sehingga akhirnya akan timbul rasa kasihan kepada si miskin, mau menolong orang-orang yang berada dalam kemiskinan.

Apabila kita cermati lebih jauh lagi, berkaitan dengan tidak makan dan minum di siang hari, selain hikmah di atas ternyata dalam kewajiban puasa terkandung hikmah yang lebih luhur dan suci, yaitu melatih manusia beriman agar tidak menjadi “budak perut”, tidak menjadi manusia yang diperbudak oleh kemauan perut, dan agar tidak terjerumus ke dalam jurang kehinaan yang diakibatkan dan bersumber pada kebutuhan perut. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Akhlak, Artikel Islam, Bulan Ramadlan, Hikmah, Ibadah, Islam, Lailatul Qadar, Puasa Ramadlan, Renungan, Rukun Islam, Shaum, Tasawuf | Bertanda: , , , , | 3 Komentar »

Umat Islam, Tamu Allah di Bulan Ramadlan

Posted by gunawank pada Agustus 6, 2011

Tanpa terasa, lima hari sudah kita berpuasa dan hari ini adalah hari keenam di bulan Ramadhan 1432 H ini, bulan Allah yang penuh rahmat dan keberkahan. Di bulan Ramadhan inilah waktu yang paling mendukung bagi seluruh umat Islam untuk meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah. Bulan yang paling Indah untuk berpacu dalam kekhusyukan demi menggapai ridho dan ampunan Allah SWT.

Firman Allah SWT :

يَا أيُّهَا اَّلذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلىَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan bagimu berpuasa, sebagaimana diwajibkan bagi umat-umat sebelum kamu agar engkau bertaqwa.” (QS. Al-Baqoroh:183)

Maka marilah kita patuhi perintah puasa ini, sebagai wujud kecintaan kita kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan. Dengan penuh kesadaran untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Agar puasa kita bukan sekedar menahan lapar dan haus. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Artikel Islam, Bulan Ramadlan, Hikmah, Ibadah, Islam, Muslim, Puasa Ramadlan, Rukun Islam, Shaum | Bertanda: , , , | 2 Komentar »

Lupa Niat Puasa

Posted by gunawank pada Agustus 4, 2011

Niat adaah I’tikad tanpa ragu untuk melaksanakan amal. Dalam hal puasa Ramadhan , kapan saja terbersit dalam hati di waktu malam bahwa besok adalah Ramadhan dan akan berpuasa, maka itulah niat (al-Fiqh al-Islami, III, 1670)

Terus bagaimanakah jika terlupakan membaca niat untuk puasa Ramadhan pada malam hari, padahal malam itu juga makan sahur. Apakah secara otomatis sahur dapat dianggap sebagai niat, mengingat sahur sendiri dilakukan karena ingin berpuasa esok hari?

Hal yang demikian ini sering terjadi. Tak jarang menimbulkan keraguan. Imam Syafi’I berpendapat bahwa makan sahur tidak dengan sendirinya dapat menggantikan kedudukan niat, kecuali apabila terbersit (khatara) dalam hatinya maksud untuk berpuasa. (al-Fiqh al-Islami, III, 1678).

Baca selengkapnya……….

Ditulis dalam Artikel Islam, Bulan Ramadlan, Ibadah, Puasa Ramadlan, Rukun Islam, Shaum | Bertanda: , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Keunikan Si Kecil Saat Berpuasa Ramadlan

Posted by gunawank pada Juli 28, 2011

Marhaban Ya...Ramadlan

Ini masih seputar pengalamanku sebagaimana kisah-kisahku yang lain. Namun mundur ke belakang (sekali lagi aku tegaskan: mundur ke belakang, bukan ke depan lho..!) mengingat ada relevansinya dengan apa yang insya Allah (bagi umat Islam) akan hadapi beberapa hari ke depan, yakni Puasa Ramadlan.

Alhamdulillah, patut kupanjatkan puji syukur karena aku dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang ”rada” Islami, sehingga sejak kecil aku sudah belajar berpuasa, bahkan sejak usia 5-6 tahun, sebelum masuk SD aku sudah terbiasa puasa sehari penuh dan tamat satu bulan.

Namun, namanya juga anak kecil terkadang ada pikiran nyeleneh (walaupun menurut aku sih lebih tepat disebut pikiran cerdas), kalau sudah siang menjelang zhuhur, saat dimana suhu udara lagi panas-panasnya dan biasanya pada saat seperti ini rasa haus bahkan lapar mulai terasa. Aku (kecil) biasanya suka sengaja menyimpan makanan (maksudnya nasi plus lauk pauknya) di atas meja makan dengan posisi terbuka tanpa tutup saji. Tujuannya tiada lain…….barangkali aku lupa (bahwa saat itu sedang berpuasa) saat melewatinya, sehingga…….nyus….nyus…..nyus…(pinjam istilah pak Bondan yang di TV itu) akupun melahap makanan dengan nikmatnya alias mak nyus…. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Biografi, Bulan Ramadlan, Hot Topic, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Puasa Ramadlan, Serba serbi, Shaum | Bertanda: , , , , , | 3 Komentar »

Hikmah Ramadlan: Keteladanan Pemimpin

Posted by gunawank pada September 2, 2010

Suatu hari, Khalifah Abu Bakar hendak berangkat berdagang. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Umar bin Khathab. “Mau berangkat ke mana engkau, wahai Abu Bakar?” tanya Umar. “Seperti biasa, aku mau berdagang ke pasar,” jawab sang khalifah.

Umar kaget mendengar jawaban itu, lalu berkata, “Engkau sekarang sudah menjadi khalifah, karena itu berhentilah berdagang dan konsentrasilah mengurus kekhalifahan.” Abu Bakar lalu bertanya, “Jika tak berdagang, bagaimana aku harus menafkahi anak dan istriku?” Lalu Umar mengajak Abu Bakar untuk menemui Abu Ubaidah. Kemudian, ditetapkanlah oleh Abu Ubaidah gaji untuk khalifah Abu Bakar yang diambil dari baitul mal.

Pada suatu hari, istri Abu Bakar meminta uang untuk membeli manisan. “Wahai istriku, aku tak punya uang,” kata Abu Bakar. Istrinya lalu mengusulkan untuk menyisihkan uang gaji dari baitul mal untuk membeli manisan. Abu Bakar pun menyetujuinya.

Setelah beberapa lama, uang untuk membeli manisan pun terkumpul. “Wahai Abu Bakar belikan manisan dan ini uangnya,” ungkap sang istri memohon. Betapa kagetnya Abu Bakar melihat uang yang disisihkan istrinya untuk membeli manisan. “Wahai istriku, uang ini ternyata cukup banyak. Aku akan serahkan uang ini ke baitul mal, dan mulai besok kita usulkan agar gaji khalifah supaya dikurangi sebesar jumlah uang manisan yang dikumpulkan setiap hari, karena kita telah menerima gaji melebihi kecukupan sehari-hari,” tutur Abu Bakar.

Sebelum wafat, Abu Bakar berwasiat kepada putrinya Aisyah. “Kembalikanlah barang-barang keperluanku yang telah diterima dari baitul mal kepada khalifah penggantiku. Sebenarnya aku tidak mau menerima gaji dari baitul mal, tetapi karena Umar memaksa aku supaya berhenti berdagang dan berkonsentrasi mengurus kekhalifahan,” ujarnya berwasiat.

Abu Bakar juga meminta agar kebun yang dimilikinya diserahkan kepada khalifah penggantinya. “Itu sebagai pengganti uang yang telah aku terima dari baitul mal,” kata Abu Bakar. Setelah ayahnya wafat, Aisyah menyuruh orang untuk menyampaikan wasiat ayahnya kepada Umar. Umar pun berkata, “Semoga Allah SWT merahmati ayahmu.”

Kisah yang tertulis kitab fadhailul ‘amal itu sarat akan makna dan pesan. Di bulan Ramadhan ini, kita dapat mengambil pelajaran dari sikap dan keteladanan Abu Bakar yang tidak rakus terhadap harta kekayaan. Meski ia adalah seorang khalifah, namun tetap memilih hidup sederhana demi menjaga amanah.

Inilah sikap keteladanan dari seorang pemimpin sejati yang perlu ditiru oleh para pemimpin bangsa kita. Perilaku pemimpin, memiliki pengaruh yang besar bagi kehidupan masyarakat. Terlebih, bangsa Indonesia memiliki karakteristik masyarakat yang paternalistik yang rakyatnya berorientasi ke atas.

Apa yang dilakukan pemimpin akan ditiru oleh rakyatnya, baik perilaku yang baik maupun yang buruk. Dengan spirit Ramadhan, maka hendaknya para pemimpin memberi teladan untuk hidup secara wajar agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Wallahu ‘alam.

***Dikutif dari “Puasa dan Keteladanan Pemimpin” oleh Prof. Nanat Fatah Natsir (Republika, 1/9/2010)

Ditulis dalam Akhlak, Bulan Ramadlan, Hikmah, Iman, KisahSufi, Pelajaran, Pemimpin, Pendidikan, Puasa Ramadlan, Serba serbi, Shaum, Teladan, Wakil rakyat | Bertanda: , , , , , , , , , , | 3 Komentar »

Setan-setan Dibelenggu di Bulan Ramadlan

Posted by gunawank pada Agustus 30, 2010

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits Rasulullah Saw. yang bertutur tentang kemulyaan Bulan Ramadlan yang artinya sebagai berikut:

Sungguh telah datang kepada kamu sekalian bulan Ramadlan, bulan penuh keberkahan. Allah telah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu pintu-pintu syurga dibuka lebar-lebar, pintu-pintu neraka jahanam ditutup rapat, syetan-syetan dibelenggu. Pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu malam”.

Dalam hadits di atas terdapat lima point penting yang dapat dijadikan i’tibar dalam mengisi bulan Ramadlan ini.

Pertama, Allah telah memberkahi bulan Ramadlan bagi umat Islam di atas bulan lain dengan menetapkan beberapa ibadah yang khusus hanya disyariatkan pada bulan Ramadlan, seperti puasa wajib, shalat tarawih, zakat fitrah, lailatul qadar dan sebagainya.

Kedua, pada bulan Ramadlan pintu-pintu surga ditutup dapat diartikan dan benar-benar kita rasakan bahwa melaksanakan  ibadah baik yang sunnah apalagi yang wajib terasa lebih ringan dan lebih bersemangat. Pada bulan-bulan yang lain untuk pergi berjamaah Isya di masjid rasanya berat sekali dan banyak alasannya, tetapi di bulan Ramadlan dapat melaksanakan shalat berjamaah Isya secara disiplin selama sebulan penuh, bahkan biasanya baru berangkat ke mesjid setelah mendengar iqamah dikumandangkan, tetapi di bulan Ramadlan sebelum masuk waktu Isya sudah siap (i’tikaf) di masjid.

Setelah shalat isya dan sunah ba’diyahnya masih mampu melaksanakan shalat sunah sebanyak 11 bahkan sampai 23 rakaat yakni Tarawih dan Witir, yang biasanya pada bulan yang lain setelah shalat berjamaah fardlu isya biasanya langsung pulang, bahkan sunah ba’diyahnyapun sering ditinggal.

Demikian pula dengan bangun malam, tadarus Al-Quran, i’tikaf, shadaqah dan lain-lain terasa lebih ringan dilaksanakan dalam bulan Ramadlan. Inilah makna aqliyahnya dari sabda Nabi Saw di atas: “pintu-pintu surga dibuka” , artinya jalan menuju pintu dan masuk surga Allah Swt terasa lebih terbuka di bulan Ramadlan.

Ketiga, jalan-jalan menuju pintu neraka lebih terjaga pada bulan Ramadlan, sebagai contoh ghibah (menggunjing, gosip), berdusta , marah dan sejenisnya yang pada bulan lain sulit dikendalikan, bahkan kadang kalau sudah mulai ada rasa tanggung kalau tidak diteruskan meskipun dalam hati sadar bahwa itu amal yang dilarang. Tapi di bulan Ramadlan, ketika akan berbohong…spontan terucap: “ah saya sedang puasa”, mau marah..”ah saya sedang puasa”, mau ini…mau itu, spontan tercegah karena kesadaranah saya sedang puasa”.

Keempat, amal-amal yang merupakan ajakan dan godaan syetan untuk melakukan kemaksiatan lebih terjaga dan terpelihara di bulan Ramadlan, sebagaimana contoh pada poin tiga di atas.

Kelima, di masa-masa akhir bulan Ramadlan dimana kecenderungan semangat ibadah sudah mulai kendur dibandingkan awal-awal Ramadlan, Allah menyuntiknya dengan Lailatul Qadar, sehingga terpeliharalah kestabilan ibadah sampai akhir Ramadlan.

—- Wallahu A’lam—-

Baca Artikel Terkait:

“Gratis” >>>Download :

Ditulis dalam Akhlak, Arus Balik, Arus Mudik, Berita, Bulan Ramadlan, Download, Hikmah, Ibadah, Islam, Jin, Lailatul Qadar, Mudik, Puasa Ramadlan, Serba serbi, Shaum, Tasawuf | Bertanda: , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Tips Menghindari Hipnotis Saat Mudik Lebaran

Posted by gunawank pada Agustus 27, 2010

Menjelang Iedul Fitri yang tinggal beberapa hari lagi, biasanya sebagian umat Islam Indonesia khususnya yang merantau sudah mulai sibuk dengan persiapan mudik, mulai dari transportasi, pakaian lebaran, oleh-oleh sampai gepokan rupiah, dengan tujuan dapat bersilaturahmi dengan keluarga di kampung halaman, sekaligus berbagi kebahagiaan.

Namun khusus bagi mereka yang mudik menggunakan kendaraan umum harus menambah satu bekal lagi agar tujuan mudik dapat tercapai yaitu cara menghindari kejahatan hipnotis.

Hipnotis sebenarnya istilah buat pelaku yang mempergunakan kemampuan hipnosis. Ini persepsi yang harus kita buang dulu. Hipnosis sendiri adalah ilmu pengetahuan yang layak dipelajari oleh siapapun, jadi tidak ada kaitannya dengan ilmu hitam (Magic). Dia seperti pisau, bisa dipakai untuk memotong bawang  atau malah membunuh. Tergantung pemakainya.

Sebagaimana diketahui bahwa tindakan kita itu digerakkan oleh pikiran (alam) sadar dan pikiran bawah sadar kita. Ketika pikiran bawah sadar kita bekerja, tentu pikiran sadar kita tidak berfungsi. Sehingga kita tidak bisa berpikir logis atau kritis. Di antara alam sadar dan alam bawah sadar, terdapat critical area yang membatasi. Hipnosis adalah tindakan untuk mengurangi peran area kritis tersebut hingga akhirnya pikiran bawah sadar kita terbuka. Saat hipnotis berhasil memasuki alam bawah sadar kita, tentu kita tidak menjadi kritis dan sangat mudah menerima sugesti. Mentransfer uang, menyerahkan kendaraan, atau lainnya, adalah hasil dari sugesti hipnotis tadi.

Cara untuk mengurangi peran area kritis ini biasanya disebut induksi. Tekniknya macam-macam. Di antaranya dengan pembingungan (misalnya dengan mengajukan pertanyaan yang membuat kita bingung), intimidasi (membuat kita terpana karena takut atau kagum), pengalihan mendadak, sugesti perlahan, atau yang lain. Kebanyakan hipnotis menggunakan kombinasi dari berbagai teknik tersebut.

Calon korban yang banyak diincar adalah wanita, remaja, orang yang terlihat kurang percaya diri, dan orang yang sendirian. Wanita diincar karena sering menggunakan perasaan sehingga critical areanya mudah terbuka. Remaja banyak diincar karena critical areanya masih tipis. Orang yang kurang percaya diri itu sugesti dirinya rendah sehingga mudah disugesti orang lain. Dan mereka yang sendirian, minimal mudah melamun atau bengong, sehingga peluang dihipnosis besar.

Dari uraian singkat tentang sekelumit pengetahuan hypnosis ini dapat diusahakan langkah-langkah untuk menghindarinya, antara lain:

  1. Senantiasa dzikrullah, selalu ingat kepada Allah melalui doa, kalimah-kalimah thayibah dan sebagainya.
  2. Kita mesti memiliki sugesti diri yang baik, sehingga tidak mudah disugesti oleh orang lain tanpa seizin kita. Sugesti diri ini bertetangga dekat dengan spiritualitas.
  3. Cara paling mudah untuk meningkatkan spiritualitas adalah dengan mensyukuri hidup kita saat ini. Bersyukur dalam hati, lisan, dan perbuatan.
  4. Hindari pikiran kosong, melamun dan sejenisnya.
  5. Kalau ada yang menepuk tiba-tiba dan orang tersebut tidak dikenal,segera balas tepukannya.
  6. Hindari tatapan seseorang yang tidak dikenal.
  7. Hindari tindakan, perilaku dan kebiasaan yang dapat memancing penjahat.

>>> Wallahu A’lam<<<<

Sumber: http://sipetualang.com/?p=118

“Gratis” >>>Download :

Ditulis dalam Akhlak, bencana, Berita, Bulan Ramadlan, Download, Fenomena, Puasa Ramadlan, Serba serbi, Tips | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , | 7 Komentar »

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Posted by gunawank pada Agustus 11, 2010

Pada hari pertama Ramadlan 1431 H ini (Rabu, 11 Agustus 2010) Gunawank’s Blog mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadlan 1431 H serta mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan yang telah dilakukan. Semoga kita puasa kita serta ibadah-ibadah lain di Bulan Ramadlan ini diterima dan mendapat Ridla Allah SWT. Amin….

Ditulis dalam Berita, Bulan Ramadlan, Ibadah, Islam, Lailatul Qadar, Puasa Ramadlan, Serba serbi, Shaum | Bertanda: , , , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Menyambut Ramadlan 1431 H.

Posted by gunawank pada Agustus 10, 2010

Tidak terasa kita telah berada di penghujung bulan Sya’ban, yang berarti kita akan segera memasuki bulan suci Ramadlan, bulan yang penuh rahmat dan keberkahan, bulan yang di dalamnya dilipat gandakan pahala amal manusia. Sabda Nabi SAW:

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (رواه احمد

Sesungguhnya telah datang Bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, dimana Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa, pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan”. (HR. Ahmad).

Dalam Hadits lain dijelaskan bahwa:

“Siapa saja yang melakukan amalan sunnah akan dilipatgandakan pahalanya, bagaikan melakukan kewajiban, yang melakukan amalan wajib pahalanya dilipatgandakan 70 (tujuh puluh) kali jika dibanding dengan amalan di luar Bulan Ramadhan, bahkan diamnya orang yang berpuasa pun, mendapatkan suatu pahala, sedang berdzikir dan beribadah akan lebih besar lagi pahalanya”.

Karena kemuliannya inilah Rasulullah SAW pernah bersabda:

.لو تعلم امتى ما فى رمضان لتمنوا أن تكون السنة كلها رمضان

”Jika ummatku mengetahui nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, pasti mereka berkeinginan supaya semua bulan dalam setahun terdiri dari Bulan Ramadhan seluruhnya”.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Akhlak, Astronomi, Berita, Bulan Ramadlan, Ibadah, Islam, Lailatul Qadar, Muhammadiyah, Muktamar NU, Nahdlatul Ulama, NU, Puasa Ramadlan, Serba serbi, Shaum | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya.