Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Assalaamu’alaikum Wr.Wb.

Posted by gunawank pada Maret 18, 2009

Ahlan wa sahlan wa marhaban, selamat bergabung di situs saya. Semoga antum mendapatkan banyak manfaat di dalamnya!

Saran, kritik dan masukan sangat saya harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan isi blog ini, sehingga akan lebih banyak lagi manfaat yang kita peroleh.

 

Posted in Uncategorized | 36 Comments »

Pemimpin Cerminan Rakyat

Posted by gunawank pada Juni 26, 2018

Diriwayatkan dari Hudzaifah bin Yaman, Rasulullah SAW bersabda:

يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak berpedoman dengan petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul (pula) ditengah-tengah kalian orang-orang (di kalangan penguasa) yang hatinya adalah hati syaithan dalam wujud manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya: Apa yang harus saya perbuat jika aku mendapatinya? Beliau bersabda: (Hendaknya) kalian mendengar dan taat kepada amir, meskipun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu.” (HR Muslim)

Catatan :

Setiap orang menginginkan pemimpin yang adil dan ideal. Jika seorang pemimpin berlaku baik dalam pandangan mereka maka mereka memujinya dan sebaliknya jika seorang pemimpin tidak sesuai dengan harapan maka mereka berbalik menghujatnya. Kebanyakan orang hanya bisa menuntut pemimpin untuk berlaku adil dan ideal, namun mereka lupa bahkan tidak tahu bagaimana mewujudkan impian mereka. Mereka hanya menghujat para pemimpin dan bermimpi menggantinya dengan pemimpin yang adil dan ideal.

Perilaku ini tidak hanya terjadi masa sekarang, bahkan di zaman sayyidina Ali telah terjadi hal yang sama. Abu Bakar At-Tharthusy mengisahkan bahwa suatu saat ubaidah as-salmany (masuk islam sebelum wafat Nabi namun belum sempat bertemu Nabi SAW) berkata kepada sayyidina Ali : “Wahai amirul mukminin, Kenapa rakyat tunduk pada khalifah Abu bakar dan umar sewaktu keduanya menjabat, sementara mereka tidak tunduk padamu dan khalifah ustman?”. Maka sayyidina Ali menjawab :

لأن رعية أبي بكر وعمر كانوا مثلي ومثل عثمان، ورعيتي أنا اليوم مثلك وشبهك

 

“Hal ini terjadi karena rakyat abu bakar dan umar seperti aku dan utsman sementara rakyatku sekarang adalah kamu dan orang-orang sepertimu!” (Kitab: Sirajul Muluk)

Begitu pula terjadi pada masa dinasti Bani Umayyah yaitu abdul malik bin marwan. Rakyatnya saat itu banyak menggunjing keburukannya rakyatnya sehingga sang khalifah mengundang dan mengumpulkan para tokoh dan orang-orang yang berpengaruh dari rakyatnya. Dalam pertemuan itu khalifah berkata, “Wahai rakyatku! apakah kalian semua ingin aku menjadi seperti khalifah seperti Abu Bakar dan Umar?. Mereka pun menjawab, “ya”. Kemudian khalifah berkata lagi,

إذا كنتم تريدون ذلك فكونوا لنا مثل رجال أبي بكر وعمر

“Jika kalian menginginkan hal itu, maka jadilah kalian seperti rakyatnya Abu bakar dan Umar!” (Syarh Riyadh Al-Shalihin)

Inilah kiranya yang sering dilupakan dan diabaikan, bahwa kalau rakyat menginginkan pemimpin yang ideal maka mulailah dengan menjadi rakyat yang ideal. Bukankah Allah swt berfirman :

وَكَذَلِكَ نُوَليِّ بَعْضَ الظالِمِيْنَ بَعْضًا بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang zalim pemimpin atas sebagian lainnya disebabkan apa yang mereka perbuat.” (QS. Al-An’aam ayat 129).

Ketahuilah bahwa keberadaan pemimpin yang zhalim adalah hukuman dunia bagi rakyatnya yang juga melakukan kezaliman dengan berbagai maksiat. Maka dari itu Ka’b al-Akhbar mengatakan:

إِنَّ لِكُلِّ زَمَانٍ مَلِكًا يَبْعَثُهُ اللهُ عَلَى نَحْوِ قُلُوبِ أَهْلِهِ، فَإِذَا أَرَادَ صَلَاحَهُمْ بَعَثَ عَلَيْهِمْ مُصْلِحًا، وَإِذَا أَرَادَ هَلَكَتَهُمْ بَعَثَ فِيهِمْ مُتْرَفِيهِمْ

“Sesungguhnya di setiap zaman ada pemimpin yang Allah tunjuk sesuai dengan keadaan hati masyarakatnya. Jika Allah hendak memperbaiki masyarakat ini maka Allah tunjuk pemimpin yang baik. Dan jika Allah hendak membinasakan mereka, Allah tunjuk pemimpin yang zalim.” (Syuabul Iman)

Dan semakna dengan atsar tersebut, dikatakan :

كما تكونون يولى عليكم عمالكم أعمالكم

“Sebagaimana (perilaku) kalian, maka seperti itulah (perilaku) pemimpin yang akan mengatur kalian. (baik-buruknya) Pemimpin kalian itu sesuai dengan amal kalian.” (al-Maqasid al-Hasanah Fimasytahara alal alsinah)

Maka pada hakikatnya pemimpin itu adalah rakyat itu sendiri. Suatu ketika Al-Hasan al-Bashri (21 H – 110 H) mendengar seseorang yang mendoakan celaka kepada pemimpinnya yang dzalim yaitu Hajjaj bin Yusuf As-Tsaqafy (40 H –95 H) yang keji, suka menumpahkan darah. Maka Al-Hasan berkata kepadanya :

لا تفعل إنكم من أنفسكم أتيتم ، إنا نخاف إن عزل الحجاج أو مات أن يستولي عليكم القردة والخنازير

“Jangan kau lakukan hal itu, karena kalian ada diberi (pemimpin) sesuai dengan keadaan diri kalian. Aku khawatir jika Hajjaj lengser atau mati maka yang memimpin kalian berikutnya adalah kera dan babi.” (al-Maqasid al-Hasanah)

Islam tidak memberi ruang untuk kudeta dan makar, bahkan sekedar mendoakan kejelekan kepada seorang pemimpin. Imam al-Hasan bin Ali al-Barbahari mengatakan:

وإذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى وإذا سمعت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله

“Jika Anda melihat ada orang yang mendoakan keburukan untuk pemimpin, ketahuilah bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu (aqidahnya menyimpang). Dan jika Anda melihat ada orang yang mendoakan kebaikan untuk pemimpin, ketahuilah bahwa dia Ahlus Sunah, insya Allah.” [Syarh as-Sunnah]

Tiada jalan keluar melainkan bersabar atas perilaku buruk penguasa sebagaimana hadits utama di atas dan berdoa kebaikan. Fudhail bin Iyadh mengatakan :

لو كان لي دعوة مستجابة ما جعلتها الا في السلطان

“Andaikan saya memiliki satu doa yang pasti terkabulkan, tidak akan aku ucapkan kecuali untuk mendoakan kebaikan pemimpin.”

إذا جعلتها في نفسي لم تعدني وإذا جعلتها في السلطان صلح فصلح بصلاحه العباد والبلاد فأمرنا أن ندعو لهم بالصلاح ولم نؤمر أن ندعو عليهم وإن جاروا وظلموا لأن جورهم وظلمهم على أنفسهم وصلاحهم لأنفسهم وللمسلمين

“Jika doa itu hanya untuk diriku, tidak akan kembali kepadaku. Namun jika aku panjatkan untuk kebaikan pemimpin, kemudian dia jadi baik, maka masyarakat dan negara akan menjadi baik. Kita diperintahkan untuk mendoakan kebaikan untuk mereka, dan kita tidak diperintahkan untuk mendoakan keburukan bagi mereka, meskipun mereka zalim. Karena kezaliman mereka akan ditanggung mereka sendiri, sementara kebaikan mereka akan kembali untuk mereka dan kaum muslimin.” (Fiqhud Da’wah Fi Shahih Imam Bukhari)

Wallahu A’lam_.

Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk bersabar dan berprilaku baik serta senantiasa mendoakan kebaikan untuk para penguasa. Aamiin

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Pemilu, Pemimpin, Politik | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Bahaya Memutuskan Silaturahmi

Posted by gunawank pada Juni 18, 2018

Abdurrahman bin ‘Auf RA mendengar Rasulullah SAW bersabda :

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنا الرَّحْمنُ، وَأَنا خَلَقْتُ الرَّحِمَ، وَاشْتَقَقْتُ لَهَا مِنِ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بتَتُّهُ

“Allah ’azza wa jalla berfirman: Aku adalah Ar-Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga haknya. Dan siapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus dirinya.” [HR. Ahmad]

Catatan :

Allah SWT maha pengasih lagi maha penyayang memerintahkan manusia untuk menebar kasih sayang diantara mereka terlebih khusus lagi kepada sanak saudara. Sebaliknya Allah melarang permusuhan dan saling membenci sesama mereka terlebih kepada sanak saudara
seperti kakak atau adik, bibi, keponakan, dan yang lainnya dari antara kerabat hingga dalam hadits qudsy di atas Allah berfirman : “Dan siapa yang memutusnya (tali silaturrahmi), niscaya Aku akan memutus (hubungan dengan) dirinya.

Imam Nawawi menukil perkataan Qadli Iyadh bahwa menyambung tali silaturrahmi itu hukumnya wajib dan memutuskannya adalah dosa besar. Adapun bentuk silaturrahmi berbeda-beda derajatnya mulai yang terendah yaitu saling menyapa meskipun cuman dengan saling mengucapkan salam dengan kerabat. Ulama berbeda pendapat mengenai kerabat yang dimaksud di sini. Ada pendapat yang mengatakan saudara mahram, sekiranya dilarang menikah diantara keduanya jika berupa laki dan perempuan dan ada pula yang mengatakan saudara dzawil arham, orang-orang yang mendapatkan bagian warisan baik mahram atau bukan.[Syarah Muslim]

Abu Awfa RA, seorang sahabat Rasul meriwayatkan : Ketika itu kami berkumpul dengan Rasulullah SAW. Tiba-tiba beliau bersabda,

لا يحل لرجل أمسى قاطع رحم إلا قام عنا

“Jangan duduk bersamaku orang yang sore ini memutuskan tali silaturahim”.

Setelah itu ada seorang pemuda berdiri dan meninggalkan majelis dan beberapa saat kemudian ia datang lagi dan duduk di tempatnya. Rasul menanyakan penyebabnya maka ia menjelaskan bahwa ia memendam permusuhan dengan bibinya. Ia segera meminta maaf kepada bibinya tersebut, dan bibinya pun memaafkannya. Ia pun kembali ke majelis dengan hati yang lapang. Lalu Rasulpun berkata kepadanya:

اجلس ، فقد أحسنت ، ألا إنها لا تنزل الرحمة على قوم فيهم قاطع رحم

“Duduklah, kau telah berbuat kebaikan, ingat sesungguhnya tidaklah turun rahmat Allah kepada kaum yang didalamnya terdapat orang yang memutuskan tali silaturrahim.” [HR Baihaqi]

Dalam Kitab Al-Kaba’ir karya Sejarawan dan ahli hadits al-Hafidz Muhammad ad-Dzahabi al-dimasyqi, disebutkan bahwa seorang laki-laki yang kaya menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Sesampainya di Mekkah ia menitipkan uangnya sebanyak 1000 dinar kepada seseorang yang penampilannya dapat dipercaya dan shalih untuk dimabil kembali seusai wuquf di Arafah. Ketika ia telah menyelesaikan wuqufnya ia kembali ke Mekah dan mendapati orang yang dititipinya telah meninggal. Ia menanyakan perihal uangnya kepada keluarganya. Ternyata tidak seorang pun dari anggota keluarganya yang mengetahuinya. Orang itupun mengadukan masalahnya kepada para Ulama Mekah. Mereka berkata:

إذا كان نصف الليل فأت زمزم وانظر فيها وناد يا فلان باسمه فإن كان من أهل الجنة فسيجيبك بأول مرة

“Apabila separuh malam telah berlalu, mendekatlah ke sumur Zamzam, lihatlah, dan panggil namanya. Jika ia termasuk penghuni surga niscaya ia akan menjawab panggilanmu pada kali pertama.”

Maka orang itu mengikuti nasehat mereka mendatangi sumur Zamzam dan memanggilnya. Namun tidak ada jawaban. Karenanya ia kembali kepada mereka, menceritakannya. Mereka berkata,

إنا لله وإنا إليه راجعون نخشى أن يكون صاحبك من أهل النار اذهب إلى أرض اليمن ففيها بئر يسمى برهوت يقال أنه على فم جهنم فانظر فيه بالليل وناد يا فلان فإن كان من أهل النار فسيجيبك منها

“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Kami khawatir jangan-jangan temanmu itu termasuk penghuni neraka. Pergilah ke tanah Yaman, disana ada sebuah sumur yang diberi nama sumur Barahaut. Katanya sumur itu berada di tepi jahannam. Lihatlah di waktu malam, dan panggilah nama temanmu. Jika ia termasuk penghuni neraka, niscaya ia akan menjawab panggilanmu dari sana.”

Syeikh Abdur Rauf al-Munawi menjelaskan lembah Barahaut :

أَي مَاء بِئْر بوادي برهوت بِفَتْح الْمُوَحدَة وَالرَّاء بِئْر عميقة بحضرموت لَا يُمكن نزُول قعرها

“Air sumur yang paling jelak adalah air sumur yang ada di lembah bernama Barahaut dibaca dengan fathah pada huruf ba’ dan Ra’nya. Ia adalah sumur yang sangat dalam yang berada di hadramaut yang tidak mungkin untuk dicapai dasarnya.” [At-Taysir Bisyarhil Jami’ As-Shagir].

Namun dengan kecanggihan peralatan dan teknologi saat ini kedalamannya sudah dapat diukur dan menurut keterangan hadhramaut dot info Kedalamannya Kurang lebih 182,88 M. Syeikh Abdur Razzaq meriwayatkan hadits :

وَشَرُّ بِئْرٍ فِي النَّاسِ بَلَهَوْتُ، وَهِيَ بِئْرٌ فِي بَرَهَوْتَ تَجْتَمِعُ فِيهِ أَرْوَاحُ الْكُفَّارِ

“Sumur yang paling buruk di bumi dikalangan manusia ialah Sumur Balahaut, ia adalah sumur yang terdapat pada lembah Barahaut, disitulah berkumpul Arwah para Kafir” [Mushannaf Abdur Razzaq].

Kembali ke kisah di atas, “Maka orang itu pun berangkat ke Yaman dan bertanya-tanya tentang sumur itu. Seseorang menunjukkannya dan ia pun mendatanginya di malam hari. Ia melihat ke dalamnya dan berseru, “Hai Fulan!” Ada jawaban. Ia bertanya, “Dimana uang emasku?” Ia menjawab : “Aku tanam di tempat tertentu dalam rumahku. Aku memang belum memberitahukannya kepada anakku. Galilah tempat itu pasti kamu mendapatkannya.” Orang kaya bertanya lagi :”Apa yang menyebabkanmu berada disini padahal menurut prasangka kami, kamu adalah seorang yang baik.” Ia menjawab : “Aku punya seorang saudara perempuan yang fakir. Aku menjauhinya dan tidak menaruh belas kasihan kepadanya. Maka Allah menghukumku dan merendahkan kedudukanku seperti ini.” Maka benarlah sabda Nabi saw dalam hadits yang shahih, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus ikatan rahim.” [HR Bukhari]

_Wallahu A’lam_.

Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk menyadari pentingnya menjaga dan menyambung silaturrahmi dan menyingkirkan ego, gengsi dan keangkuhan yang sering menjangkiti hati kita.amin ya Robbal alamin.

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Uswatun Hasanah | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Jangan Menghina, Mengejek atau Mengolok-olok

Posted by gunawank pada April 6, 2018

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Hujurat: 11)

لا تسخر من المبتلى في بيته بأن تقول عنه “ضعيف شخصية ” ف ( نوح عليه السلام ) كانت زوجته عاصية لكنه كان عند الله صفيا

• Jangan mengejek seorang yang tertimpa musibah dalam rumah tangganya dengan menyebutnya sebagai seorang yang berkepribadian lemah. Nabi Nuh as di sisi Allah adalah seorang pilihan, padahal istrinya adalah seorang wanita pendosa.

لا تسخر من المنبوذ من قومه بأن تقول عنه ” عديم قيمة ” ف ( إبراهيم عليه السلام ) كان منبوذا في قومه  لكنه كان عند الله خليلا

• Jangan mencela seorang yang terusir dari komunitasnya dengan menyebutnya sebagai seorang yang tak berharga. Nabi Ibrahim as juga seorang yang terusir dari komunitasnya, tapi di sisi Allah adalah seorang kekasih-Nya.

لا تسخر من السجين بأن تقول عنه ” ظالم مجرم ” ف ( يوسف عليه السلام ) كان سجيناً لكنه كان عند الله صديقاً

• Jangan (langsung) mencaci seorang narapidana dengan menyebutnya bahwa dia seorang yang zalim dan durjana. Nabi Yusuf as juga pernah dipenjara, tapi di sisi Allah dia adalah seorang yang sangat jujur.

لا تسخر من المفلس بعد غِناه بأن تقول عنه “سفيه فاشل ” ف ( أيوب عليه السلام ) أفلس بعد غِناه  لكنه كان عند الله نبياً

• Jangan mengolok seorang yg bangkrut dengan menyebutnya bahwa dia seorang yg bodoh dan gagal. Nabi Ayyub as juga pernah mengalami bangkrut, tapi di sisi Allah dia adalah seorang Nabi.

لا تسخر من وضيع المهنة بأن تقول عنه ” قليل شأن ” ف ( لقمان ) كان نجارا أو خياطا أو راعيا لكنه كان عند الله حكيما

• Jangan mencaci seorang yang berprofesi rendah dengan menyebutnya sebagai seorang yang rendah martabatnya. Sayyidina Luqman adalah seorang tukang kayu, penjahit dan penggembala, tapi di sisi Allah adalah seorang yang bijak.

 ولا تسخر من الذي يذكره الناس بسوء بأن تقول عنه ” موضع شبهة ” ف ( سيدنا وحبيبنا وشافيعنا ومولانا محمد صلي الله عليه وسلم ) قيل عنه ساحر ومجنون ؛ لكنه كان عند الله حبيبا

• Jangan mencela seorang yg di jelekkan oleh masyarakat dengan menyebutnya sebagai seorang yg buruk. Baginda Sayyiduna wa Habibuna wa Syafi’una wa Maulana Nabi Muhammad saw di sebut sebagai penyihir dan gila, tapi di sisi Allah adalah seorang kekasih Allah yang sejati.

فلا تسخر أبداً أو تُنقِص من قدر أحد واجعل طبعك حُسن الظن في الآخرين

• Jangan pernah mencaci, mencela, mengolok ataupun merendahkan harga diri siapapun, dan jadilah pribadi yang berbaik sangka pada orang lain.

ودع الخلق للخالق وقد قيل ‏ما أبحر إنسانٌ في نوايا‏ الناس إلا غَرِق

• Biarkan makhluk menjadi urusan Penciptanya. Ada yang mengatakan: “Tak ada seorangpun yang mendalami perihal orang lain, kecuali dia pasti tenggelam.”

تأملوها فانها حقيقة

• Renungkanlah, karena itu semua adalah kenyataan.

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Islam | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Orang Baik vs Penyeru Kebaikan

Posted by gunawank pada Februari 1, 2018

Orang baik itu banyak teman, tapi penyeru kebaikan itu banyak musuh. Benarkah?

Ibnu Qudamah pernah ditanya, “Apa bedanya Orang Baik (Shalih) dan Penyeru Kebaikan (Mushlih)?”

Beliau menjawab:

‎ الصالح خيره لنفسه والمصلح خيره لنفسه ولغيره.

Orang baik melakukan kebaikan untuk dirinya, sedangkan penyeru kebaikan mengerjakan kebaikan untuk dirinya dan untuk orang lain.

‎الصالح تحبُه الناس. والمصلح تعاديه الناس .

Orang baik dicintai manusia, penyeru kebaikan dimusuhi manusia.

Beliau ditanya lagi oleh muridnya, “Kenapa demikian?”

Jawabnya:

‎الحبيب المصطفى(صلى الله عليه وسلم) قبل البعثة أحبه قومه لأنه صالح .

Rasulullah sebelum diutus sebagai Rasul, beliau dicintai oleh kaumnya karena beliau adalah orang baik.

‎ولكن لما بعثه الله تعالى صار مصلحًا فعادوه وقالوا ساحر كذاب مجنون.

Namun ketika Allah ta’ala mengutusnya sebagai Penyeru Kebaikan, kaumnya langsung memusuhinya dengan menggelarinya sebagai Tukang sihir, Pendusta, Gila, dll.

Ibnu Qudamah kemudian menambahkan:
‎ لأن المصلح يصطدم بصخرة
‎أهواء من يريد أن يصلح من فسادهم .

Karena Penyeru Kebaikan ‘menyikat’ batu besar nafsu angkara dan memperbaikinya dari kerusakan.

Itulah sebabnya kenapa Luqman al Hakim menasihati anaknya agar BERSABAR ketika melakukan perbaikan, karena dia pasti akan menghadapi permusuhan.

Disebutkan dalam Al Qur’an surat Luqman ayat 17:

‎يا بني أقم الصلاة وأمر بالمعروف وانهَ عن المنكر واصبر على ما أصابك.

“Lukman berkata: Hai anakku tegakkan shalat, perintahkan kebaikan, laranglah kemungkaran, dan bersabar lah atas apa yang menimpamu.”

Berkata Ahlul Ilmi:

‎مصلحٌ واحدٌ أحب إلى الله من آلاف الصالحين.

“Satu penyeru kebaikan lebih dicintai Allah daripada ribuan orang baik (yang tidak menyerukan kebaikan).”

Sesungguhnya melalui penyeru kebaikan itulah, Allah menjaga umat ini. Sedang orang baik hanya cukup menjaga dirinya sendiri.

Maka marilah kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadi penyeru kebaikan.

Dan semoga Allah memberi kita kesabaran dalam perjuangan berat ini. Aamiin… 🤲

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Islam, Sabar, Shabar | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Subhanallah…..

Posted by gunawank pada November 27, 2017

Tanpa teknologi IT atau Big Data, tapi Imam Syafi’i dalam kitab Majmu al-Ulum wa Mathli’u an Nujum, dan dikutip oleh Imam ibn ‘Arabi dalam mukaddimah al-Futuhuat al-Ilahiyah,

sudah menghitung jumlah huruf dalam Al Qur’an diurut sesuai dengan banyaknya:

o Alif : 48740 huruf,
o Lam : 33922 huruf,
o Mim : 28922 huruf,
o Ha ’ : 26925 huruf,
o Ya’ : 25717 huruf,
o Wawu : 25506 huruf,
o Nun : 17000 huruf,
o Lam alif : 14707 huruf,
o Ba ’ : 11420 huruf,
o Tsa’ : 10480 huruf,
o Fa’ : 9813 huruf,
o ‘Ain : 9470 huruf,
o Qaf : 8099 huruf,
o Kaf : 8022 huruf,
o Dal : 5998 huruf,
o Sin : 5799 huruf,
o Dzal : 4934 huruf,
o Ha : 4138 huruf,
o Jim : 3322 huruf,
o Shad : 2780 huruf,
o Ra ’ : 2206 huruf,
o Syin : 2115 huruf,
o Dhadl : 1822 huruf,
o Zai : 1680 huruf,
o Kha ’ : 1503 huruf,
o Ta’ : 1404 huruf,
o Ghain : 1229 huruf,
o Tha’ : 1204 huruf dan terakhir
o Dza’ : 842 huruf.

Jumlah total semua huruf dalam al-Qur ’an sebanyak 1.027.000
(satu juta dua puluh tujuh ribu)

Setiap kali kita hatam, kita telah membaca 1 juta lebih huruf.
Jika 1 huruf = 1 kebaikan dan 1 kebaikan = 10 pahala, maka kira-kira 10 juta pahala kita dapatkan.

Mudah-mudahan ini semua bisa menjadi motivasi kita untuk terus
membaca al-Qur’an dan mengamalkan isinya….

SUMBER :
_Kitab Majmu al-Ulum wa Mathli’u an Nujum

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Kiyai, Tentara dan Hari Pahlawan

Posted by gunawank pada November 13, 2017

Ketika Indonesia pertama kali merdeka gak punya tentara, tidak ada tentara… Baru dua bulan kemudian diadakan tentara. Agustus, September, Oktober… 5 Oktober dibentuk tentara keamanan rakyat (TKR). Ini dokumen Negara. Silakan dibaca di sekretariat Negara, di arsip nasional ini semua ada. Nah, dengan dibentuknya ini Negara Indonesia sudah punya tentara. Tanggal 10 Oktober diumumkanlah jumlah tentara keamanan rakyat di Jawa saja. Belum Sumatra dll… Itu ternyata TKR di Jawa jumlahnya 10 divisi. 1 divisi isinya 10.000 prajurit. Terdiri dari 3 resimen, terdiri dari 15 batalyon. 1 divisi… Jadi 10 divisi artinya TKR jumlahnya 100.000 pasukan. Itu TKR pertama. Yang nanti menjadi TNI.

Dari pernyataan data TKR yang dikeluarkan pemerintah tanggal 10 Oktober 1945 kita tahu, bahwa komandan divisi pertama TKR itu adalah Kolonel KH. Sam’un. Kiyai… pengasuh pesantren di Banten. Komandan divisi ketiga adalah kolonel KH. Arwiji Kartawinata. Ini di Tasikmalaya. Pangkatnya kolonel… kiyai haji… Sampai tingkat resimen sama… Resimen 17 dipimpin Letnan Kolonel KH. Iskandar Idris. Resimen 8 dipimpin Letnan Kolonel KH. Yunus Anis. Sampek komandan batalyon… Komandan batalyon TKR Malang dipimpin Mayor KH. Iskandar Sulaiman. Siapa kiyai Iskandar Sulaiman ini? Beliau saat itu jabatannya Rois Suriyah NU Kabupaten Malang. Poro kiyai… Ini dokumen Negara… Gak ngarang… Silakan dibaca di arsip nasional, kemudian di sekretariat Negara masih tersimpan. Di pusat sejarah TNI ada semua… Bahkan untuk selanjutnya kita lihat komandan divisi pertama TKR Kolonel KH. Sam’un beliau ternyata pensiun Brigadir Jendral. Jadi banyak kiyai2 yang pensiun Brigadir Jendral. Ini sejarah yang selama ini ditutupi. Termasuk KH. Hasyim Asy’ari dalam pemerintahan Presiden Soekarno beliau sudah ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Tapi silakan dibaca itu buku2 sejarah anak2 SD, SMP, SMA… Ada gak KH. Hasyim Asy’ari masuk di buku pelajaran itu?. Gak ada… Seoalah2 gak pernah ada jasanya dan bukan pahlawan nasional… Jadi memang yang dari pesantren itu disingkirkan betul dari Negara ini.

Nah, dari situ kita bisa tahu kenapa TKR waktu itu banyak dipimpin poro kiyai, karena hanya poro kiyai dari pesantren dengan santri2 yang menjadi tentara itu adalah golongan dari elemen bangsa ini yg mau berjuang sebagai militer tanpa bayaran. Tentara saat itu gak dibayar. Dibayar dari mana… Baru merdeka, duit aja gak punya. Jadi, tentara itu baru menerima bayaran tahun 1950. Selama tahun 45 sampai perjuangan 50 itu gak ada bayaran. Dan yang mau melakukan itu hanya poro kiyai, dengan tentara2 Hizbulloh… Laskar2 itu gak ada bayaran… Sampai sekarang… NU itu punya tentara swasta namanya Banser, yo gak dibayar… (hahaha… riuh hadirin tertawa). Itu fakta… Jadi nanti kita akan tahu bagaimana sampek terjadinya pertempuran 10 Nopember. Baca entri selengkapnya »

Posted in Berita, Hari Pahlawan, Hizbullah, Indonesia, Nahdlatul Ulama, NU, Pahlawan, Pahlawan Nasional, Pejuang, Sejarah, Ulama | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Dakwah; Mengajak Bukan Mengejek

Posted by gunawank pada Oktober 16, 2017

Alhamdulillah segala puji milik Allah yang telah memilih kalian untuk memikul amanah yang agung ini. Semoga Allah menolong kalian agar bisa menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Wahai Allah rekatkanlah hati dan sanubari-sanubari kami ini dengan hati dan sanubari orang-orang yang dekat dan Engkau cintai dengan sanad yang kuat yang tersambung kepada mereka.

Hakikat keistimewaan dalam Islam adalah dengan memerdekakan nafsu kita dan juga memerdekakan orang lain dari jajahan nafsu-nafsu mereka sendiri. Allah telah menyebutkan kepada kita tentang perkara dakwah di jalan Allah dengan cara/metode dakwah yang diterima oleh Allah Swt. yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pertama, memenuhi hati dengan pengagungan kepada Allah hingga ia takut dan berharap hanya kepada Allah Swt. Sesungguhnya Allah Swt. mengatur slogan ini di lidahnya para rasul seperti tercantum dalam al-Quran:

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan aku sekali-kali tidak meminta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.” (QS. asy-Syu’ara ayat 109, 127, 145, 164 dan 180). Baca entri selengkapnya »

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Islam, Mubaligh, Muslim, Renungan, Uswatun Hasanah | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Gaya Hidup Semut

Posted by gunawank pada Oktober 12, 2017

“Dan untuk Sulaiman dikumpulkan bala tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka berbaris dengan tertib. Hingga ketika mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, “Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan balatentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari” (QS. An-Naml: 17,18).

semut-rangrang-khoirul-umamPenelitian menunjukkan bahwa binatang atau serangga yang memiliki gaya hidup (manajemen berkelompok) yang paling mirip dengan manusia adalah semut. Hal ini dapat dilihat dari temuan berikut :

  • Semut mengubur rekannya yang mati seperti manusia.
  • Dalam hal manajemen tenaga kerja, semut memiliki sistem yang canggih di mana mereka juga memiliki manajer, supervisor, mandor, pekerja, dan lain-lain.
  • Sesekali ketika bertemu, mereka akan melakukan obrolan.
  • Mereka memiliki metode komunikasi khusus antar semut.
  • Mereka mempunyai pasar untuk saling bertukar barang.
  • Para semut menyimpan biji-bijian untuk waktu yang lama pada musim dingin. Jika mulai tumbuh tunas, mereka akan memotong akarnya. Jika biji-bijian mereka basah karena hujan, para semut akan membawanya keluar untuk dijemur dan dikeringkan dibawah sinar matahari. Setelah kering, mereka akan membawanya kembali ke dalam, seolah-olah memahami bahwa kelembaban menyebabkan pembusukan.

Subhanallah……

Posted in Akhlak, Aneh tapi nyata, Anugrah, Fenomena, Fenomena alam, Hikmah, Serba serbi, Uncategorized | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Syawwal, Bulan Peningkatan Amal

Posted by gunawank pada Juni 30, 2017

Alhamdulillah, tanpa terasa kini kita telah berada di bulan Syawal. Bulan kesepuluh dalam penanggalan bulan qamariyah, bulan yang di dalamnya terdapat hari raya iedul fitri, hari raya berbuka bagi umat Islam setelah sebulan penuh menjalankan ibadah shaum ramadlan.

Menurut bahasa, syawal berarti naik. Ini mengandung maksud bahwa bagi setiap muslim harus terjadi peningkatan kualitas maupun kuantitas amal mulai bulan syawal dan seterusnya, setelah di bulan Ramadlan dilatih untuk memperbanyak amal.

Sebagaimana kita ketahui bahwa selama bulan Ramadlan kita diwajibkan oleh Allah SWT untuk berpuasa penuh dengan satu tujuan agar setelah melewati bulan Ramadlan setiap muslim meningkat derajatnya, yakni mencapai derajat muttaqin, pangkat yang paling mulia di sisi Allah SWT. Sebagaimana firman-nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu sekalian termasuk orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al-Baqarah: 183).

Untuk mewujudkan fungsi puasa ramadlan sebagai sarana mencapai derajat muttaqin, Allah SWT menyertakan berbagai fasilitas untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas ibadah di bulan Ramadlan, antara lain dijadikannya bulan Ramadlan sebagai bulan yang penuh berkah dan rahmat Allah. Sehingga dalam bulan ramadlan kecenderungan ada peningkatan ibadah kita, seperti lebih rajin membaca Al-Quran, lebih banyak bershadaqah bahkan mungkin hampir setiap hari kita mampu dan mau mengisi kotak infak setiap pelaksanaan shalat tarawih, rajin berjamaah shalat fardu, kuat serta istiqamah melaksanakan shalat tarawih yang jumlah rakaatnya jauh lebih banyak dari shalat pada hari-hari lain di luar bulan Ramadlan, mampu istiqamah shalat witir setiap malam, dan lain-lain.

Pada bulan Ramadlan pula, dengan kehawatiran akan merusak ibadah puasa, kitapun mampu menjaga lisan dari gibah, berdusta, mengadu-ngadu, bersaksi palsu dan lain-lain. Kita juga mampu menahan pandangan, pendengaran, pikiran, hati, perut, tangan dan kaki dari perbuatan maksiat.

Memperbanyak amal sebagai sarana menuju surga Allah SWT dan menahan diri dari perbuatan yang dapat menjurumuskan ke dalam neraka sebagaimana diuraikan di atas, disadari atau tidak, diakui ataupun tidak, sejujurnya sulit dan sangat berat dapat kita lakukan pada hari-hari lain di luar bulan Ramadlan. Maka pantaslah apabila Allah SWT memberikan predikat muttaqin kepada mereka yang “lulus” menjalankan puasa Ramadlan, dan memasukkannya ke dalam golongan  manusia yang kembali kepada fitrah kesucian dan memperoleh kemenangan, minal a’idina wal faizin.

Kini Ramadlan telah berlalu. Lalu bagaimana kita menyikapi hari demi hari kita, setelah kita kembali pada fitrah kesucian jiwa……? Setelah kita dinobatkan sebagai insan yang memperoleh kemenangan…?

Para ulama salaafunassholih memberikan nasihat kepada kita dalam rangka mempertahankan predikat tersebut:

Pertama, pertahankan amal yang telah mampu secara rutin kita lakukan di bulan Ramadlan.

أ لا وانّ علامةَ قبولِ الحسنةِ عَمِلَ الحسنةَ بعد هاعلى التّوال وانّ علامة ردّ ِها ان تتبع بِقِـبْـيال

“Ingatlah bahwa tanda diterimanya amal kebaikan adalah melakukan amalan sholeh setelahnya secara berkesinambungan. Adapun tanda ditolaknya amal ibadah adalah mengiringi amalan kebajikan itu dengan prilaku keji dan mungkar”.

Sebagai tanda diterimanya ibadah puasa dan amal-amal lain yang dilakukan pada bulan Ramadlan adalah terjadinya peningkatan kuantitas maupun kualitas ibadah setelah berlalunya bulan Ramadlan tersebut. Dengan kata lain, mafhum mukhalafhnya adalah jika pada bulan Syawal ini mulai malas berjamaah, meninggalkan shalat witir, malas-malasan tadarus Al-Qur’an, berat untuk bershadaqah, mulai suka menggunjing, bermusuhan, berdusta, menipu, korupsi dan lain-lain kemaksiatan, itu tandanya ibadah kita tidak diterma Allah SWT. Naudzu billah.

Kedua, pada bulan Syawal ini, selain kita harus mampu mempertahankan segala amal yang kita raih di bulan Ramadlan, apalagi dapat meningkatkannya baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya, kita juga harus berusaha keras untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan, agar pahala amal kita tidak habis dirusak oleh kemaksiatan tersebut.

ولا تبطُلْ ماأسلفتــم فى شهررمــضان مِن صــالح ا لأ عــمال

“Janganlah kalian porak porandakan segala pahala kebaikan yang telah terkumpulkan di bulan Ramadhan dari beberapa amalan sholih”.

واعلموا أنّ الحسناتَ يُذهِبْنَ السّيّـئآت. فكذالك السّيّـئآتَ يُبطِلْنَ صالح َالأعمال

“Ketahuilah bahwa segala kebaikan (pahala) dapat menghanguskan segala keburukan (dosa), demikian juga (sebaliknya), segala kejelakanpun dapat menghancurkan amal-amal kebajikan”.

Semoga atas rahmat dan pertolongan Allah SWT, kita diberi kekuatan, kemampuan dan kemauan untuk senantiasa meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita pada bulan Syawal dan hari-hari selanjutnya. Dan semoga pula, kita mampu menahan diri dan menghindari kemaksiatan yang dapat merusak dan menghanguskan pahala amal kita.  Amin ya Robbal ‘alamin.

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Bulan Ramadlan, Hikmah, Ibadah, Iedul Fitri, Renungan | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Islam Bukan Agama Pencaci-maki

Posted by gunawank pada Mei 26, 2017

Setelah kemenangan perang Hunain, yang dipimpin Khalid bin Walid, atas titah bagin da Rasulullah SAW. Pasukan kafir akhirnya kocar kocir. Banyak diantara mereka tertangkap dan di bawa ke Basecamp Muslim.

Pada saat itu ada salah satu  Muslim yang ikut berperang meneriakkan yel yel kebencian sewaktu tawanan mereka akan dibawa menghadap baginda Rasulullah SAW.

“Sungguh mulia ummat islam..sungguh merugi ummat Nasoro. Sungguh hina ummat penyembah selain Allah”.

Mendengar teriakan tersebut. Rasulullah langsung keluar dengan wajah yang sangat marah. Beliau menatap kerumunan orang orang yang berjumlah sangat banyak lalu masuk kembali. Melihat Rasulullah SAW tidak seperti biasanya. Abu Bakar r.a. dan Umar r.a, saling pandang dan berseru dengan ucapan sangat keras!

“Diamlah kalian! Rasulullah akan berkata kepada kita semua!”

Lalu sorak sorai kemenangan bagi kaum Muslim, mendadak sunyi. Semua orang menatap ke arah pintu perkemahan yang didalamnya terdapat baginda Rasulullah. Keluarlah sosok sempurna dengan mata berkaca kaca menahan amarah.

“Ketahuilah wahai sahabat-sahabatku. Islam agama paling mulia. Islam agama paling diridloi. Islam agama kebaikan bagi seluruh alam. Namun Islam bukan agama pencaci maki apalagi sampai menyakiti ummat lainnya. Ingat hatiku terasa panas sewaktu kalian berani mencaci maki agama orang lain. Aku takut azab Allah. Aku takut nikmat Islamku tercabut. Aku takut kalian tidak bersamaku kelak. Aku takut hanya karena ulah kalian ummatku menjadi pembakaran api neraka. Dan yang aku takutkan atas ucapan kalian, mereka jadi berani menghina Allah dan Rasul-Nya. Mereka jadi berani menghina Islam dan agama kita semua. Bila mereka sudah seperti itu, maka kalianlah yang menjadi pertanggung jawabannya di akherat kelak dan bukan golonganku.”

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Idola, Islam, Muslim, Renungan, Sejarah, Teladan, Uswatun Hasanah | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »