Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

ISLAM, JIHAD DAN TERORISME

Posted by gunawank pada Maret 17, 2010


Beberapa hari ini kita kembali hampir setiap hari disuguhi berita, tayangan langsung, rekaman video amatir tentang perburuan teroris oleh Densus 88 yang berhasil menangkap maupun menembak mati beberapa orang yang teridentifikasi sebagai teroris, bahkan “gembong” teroris pasca Azhari dan Nurdin M Top yang sangat dicari oleh pemerintah Amerika Serikat, Filipina, Australia dan lain-lain karena keterlibatannya dalam peristiwa BOM BALI tahun 2005, Dulmatin, ditembak mati di salah satu warnet di daerah Pamulang (Selasa, 9/3/20100.

Perbincangan tentang jihad dan terorisme-pun kembali ramai ditayangkan oleh stasiun televisi maupun media cetak. Kesimpulannya hampir sama: jihad tidak sama dengan terorisme.

Islam Bukan Agama Teror

Islam adalah agama yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang diutus oleh Allah SWT untuk seluruh umat manusia, dengan inti ajarannya menanamkan tahuhid laa ilaaha illallaah (Iman), tatacara penghambaan kepada Allah dan hubungan manusia dengan sesama makhluk (Islam, Syariat) serta perilaku akhlaqul karimah baik saat beribadah maupun muasyarah (Ikhsan).

Ketiga sendi agama Islam tersebut harus diamalkan oleh setiap muslim secara menyeluruh dan proporsional, tidak dibenarkan hanya melaksanakan sebagian dengan mengesampingkan yang lainnya. Sehingga tercerminlah dalam perilaku kehidupan setiap muslim itu Islam yang kaffah, yang akan menjadi rahmat bagi seluruh makhluk Allah, sebagaimana tujuan Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW agar menjadi rahmatan lil ‘alamin. Menjadi penyejuk bagi seluruh isi alam, bukan untuk menebarkan rasa takut, kegelisahan dan bencana.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (الأنبياء:107
“Dan tiadalah Kami mengutusmu (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”.

Sementara teror adalah sesuatu yang menimbulkan rasa takut, khawatir, gelisah, tidak aman dan sejenisnya.

Dengan demikian jelas Islam bukanlah agama teror dan oleh karena itu tidak mungkin mengajarkan dan membenarkan perilaku teror kepada umatnya. Dengan kata lain, terorisme bukanlah ajaran Islam.

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ (ن القلم:4
“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”.

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق (البيهقى عن أبى هريرة
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnkan akhlak mulia”.

Makna Jihad

Imam Ar-Raghib Al Isfahani menyebutkan, kata jihad berasal dari kata juhd atau jahd. Juhd bermakna mengerahkan tenaga, usaha, atau kekuatan, dan jahd berarti kesungguhan dalam beramal. Jadi, jihad menurut bahasa bermakna mengerahkan segala usaha, tenaga, kemampuan, dan kesungguhan untuk mewujudkan suatu tujuan tertentu (Al Jihad Walqital Fissiyasah Asy Syar’iyah). Sedangkan menurut syara, jihad bermakna bersungguh-sungguh dalam memerangi kafir, dan dapat dimutlakkan dalam memerangi hawa nafsu, syaiton dan kefasikan (Nailul Authar).

Berdasarkan dalil-dalil Al-Quran dan Hadits dapat disimpulkan pengertian jihad mencakup dua makna, yaitu pengertian khusus dan umum.

Jihad dalam arti khusus adalah perang melawan musuh Islam di medan pertempuran, demi menegakkan kalimah Allah. Dalam pengertian perang ini jihad terbagi dua bagian, jihad ofensif dan defensif.

Jihad ofensif atau jihad dengan cara menyerang musuh Islam dan ini hanya dilakukan apabila mereka menolak dan menghalangi dakwah, serta tidak mau tunduk sebagai ahlu zhimmah. Apabila mereka tidak menolak dan menghalangi dakwah melainkan tunduk sebagai ahlu zhimmah dan mau membayar jizyah, walaupun mereka tidak masuk Islam, tidak dibenarkan melakukan penyerangan, karena tidak ada paksaan dalam agama. Oleh karenanya menurut ijma ulama, jihad ofensif ini hanya dilakukan setelah ada fatwa imam. Inilah jihad sebagaimana yang ditegaskan Allah dalam Al-Qur’an.

“Perangilah oleh kamu sekalian orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, dan tidak beragama dengan agama yang haq (Islam), yaitu dari orang-orang yang diberi Al-kitab kepada mereka, hingga mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah: 29)

“Dari Sulaiman Ibnu Buraidah, dari ayahnya, bahwa ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam jika mengangkat komandan tentara atau angkatan perang, beliau memberikan wasiat khusus agar bertaqwa kepada Allah dan berbuat baik kepada kaum muslimin yang menyertainya. Kemudian beliau bersabda: “Berperanglah atas nama Allah, di jalan Allah, perangilah orang yang kufur kepada Allah. Berperanglah, jangan berkhianat, jangan mengingkari janji, jangan memotong anggota badan, jangan membunuh anak-anak. Jika engkau bertemu musuhmu dari kaum musyrikin, ajaklah mereka kepada tiga hal. Bila mereka menerima salah satu dari ajakanmu itu, terimalah dan jangan apa-apakan mereka, yaitu: ajaklah mereka memeluk agama Islam, jika mereka mau, terimalah keislaman mereka; kemudian ajaklah mereka berpindah dari negeri mereka ke negeri kaum muhajirin, jika mereka menolak, katakanlah pada mereka bahwa mereka seperti orang-orang Arab Badui yang masuk Islam, mereka tidak akan memperoleh apa-apa dari harta rampasan perang dan fai’ (harta rampasan tanpa peperangan), kecuali jika mereka berjihad bersama kaum muslimin. Bila mereka menolak (masuk Islam), mintalah mereka agar membayar upeti. Jika mereka menyetujui, terimalah hal itu dari mereka. Lalu, bila mereka menolak, mintalah perlindungan kepada Allah dan perangilah mereka. Apabila engkau mengepung penduduk yang berada dalam benteng dan mereka mau menyerah jika engkau memberikan kepada mereka tanggungan Allah dan Rasul-Nya, maka jangan engkau lakukan, namun berilah tanggungan kepada mereka. Karena sesungguhnya jika engkau mengurungkan tanggunganmu adalah lebih ringan daripada engkau mengurungkan tanggungan Allah. Apabila mereka menginginkan engkau memberikan keamanan atas mereka berdasarkan hukum Allah, jangan engkau lakukan. Tetapi lakukanlah atas kebijaksanaanmu sendiri, karena engkau tidak tahu, apakah engkau tepat dengan hukum Allah atau tidak dalam menetapkan hukum kepada mereka.” (HR. Muslim).

Kedua, jihad defensif adalah berperang untuk membela dan mempertahankan diri dari serangan atau ancaman musuh kafir. Dengan kata lain, jihad yang dikobarkan ketika kaum muslimin diserang oleh musuh-musuh islam, merampas harta dan mengusir mereka dari kampung halamannya. Dalam keadaan seperti ini, wajib atas setiap muslim yang diserang untuk mengangkat senjata demi membela kehormatan diri, mempertahankan harta, dan jiwa, tanpa harus menunggu fatwa imam Jihad seperti ini wajib dilaksanakan sebagaimana seruan Al-Qur’an.

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (QS. Al-Hajj: 39-40)

“Dan perangilah oleh kamu sekalian di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu. Dan janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidaklah menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS.Al-Baqarah: 190)

“Dan bunuhlan mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusir kamu .” (QS. Al-Baqarah: 191)

Berdasarkan ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa perang itu diperbolehkan (1) Untuk mempertahan diri, kehormatan, harta, dan negara dari tindakan kesewenang- wenangan musuh [defensif]. (2) Untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. (3) Untuk membebaskan orang-orang tertindas.

Perang tidak dibenarkan untuk memaksakan ajaran Islam kepada orang lain sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Al Baqarah 2: 256:

“Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat….”

Juga diharamkan berperang untuk tujuan perbudakan, penjajahan, dan perampasan harta. Dalam peperangan, haram hukumnya membunuh orang-orang yang tidak terlibat, seperti wanita, anak kecil, dan orang-orang udzur.

“Ketika mengutus panglima perang Rasulullah shollallahu alaihi wasallam berwasiat kepadanya dan seluruh pasukan agar bertaqwa dan berbuat baik. Rasulullah bersabda, ‘Berperanglah di jalan Allah dengan nama Allah (ikhlas). Perangilah orang kufur pada Allah. Janganlah kalian berkhiyanat. Janganlah kalian menipu. Janganlah kalian mencincang. Janganlah kalian membunuh anak-anak.” (HR. Tirmidzi).

Etika berperang juga diajarkan oleh Khalifah Abu Bakar Shidiq ra. ketika mendelegasikan Usama bin Zaid ke Syam:

“Janganlah kamu berkhianat, jangan menipu, jangan mencincang, jangan membunuh anak kecil, jangan membunuh orang tua, jangan membunuh perempuan, jangan menebang pohon kurma dan jangan pula membakarnya, jangan menebang pohon yang berbuah, jangan menyembelih kambing, lembu atau unta kecuali untuk dimakan. Jika kamu melewati kaum yang mengabdikan diri di gereja, maka biarkanlah mereka beserta pengabdiannya.” (Tafsir Ayatul Ahkam).

Para ulama mengemukakan, jihad dalam arti khusus (perang) hukumnya fardhu kifayah, artinya kewajiban yang bersifat kolektif, atau dengan kata lain kewajiban kepada semua orang yang dapat berperang, tetapi apabila sudah dilaksanakan sebagian umat Islam, kewajiban itu gugur bagi kaum muslimin lainnya. Allah swt. berfirman,

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan agama dan untuk memberikan peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At-Taubah: 122)

Jihad dalam arti umum adalah jihad yang pengertiannya tidak hanya terbatas pada pertempuran, peperangan, dan ekspedisi militer, tetapi mencakup segala kegiatan dan usaha yang maksimal dalam da’wah, amar ma’ruf nahyi munkar demi li i’laa kalimatullahi hiyal ‘ulya (tegaknya agama Allah di muka bumi).

Dalam konteks ini, jihad tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, artinya kapanpun dan dimanapun kita wajib melaksanakannya secara berkesinambungan, sesuai dengan kadar dan kemampuan masing-masing. Hartawan bisa berjihad dengan hartanya, ilmuwan dapat berjihad dengan ilmunya, ibu rumah tangga berpeluang jihad dengan mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang saleh, dll.

”Rasulullah SAW pernah ditanya, manusia seperti apakah yang paling utama? Beliau menjawab : “Orang mukmin yang berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya.”

“Sayyidatina A’isyah bertanya kepada Nabi, ‘Adakah jihad bagi kaum wanita ? Rasulullah SAW bersabda: ‘Yaitu haji dan umrah.” (HR. Ahmad).

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan jihad di jalan Allah seperti orang yang berpuasa, melakukan qiyamullail dan membaca ayat Allah secara terus-menerus, tidak henti-hentinya shalat dan shaum sampai orang yang berjihad di jalan Allah kembali.”

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata : “(Jihad adalah) mencurahkan kemampuan padanya dan tidak takut karena Allah terhadap celaan orang yang suka mencela.”

Muqatil rahimahullah berkata : “Beramallah kalian karena Allah dengan amalan yang sebenar-benarnya dan beribadahlah kepada-Nya dengan ibadah yang sebenar-benarnya.”

Abdullah ibnul Mubarak rahimahullah berkata : “(Jihad adalah) melawan diri sendiri dan hawa nafsu.” (Zaadul Ma’ad, 3/8).

Ibnul Qoyyim Al Jauzy membagi jihad menjadi mujahadatun nafs (jihad melawan diri sendiri), mujahadatusy syaithan (jihad melawan syaithan), mujahadatul munafikin (jihad melawan kaum munafik), mujahadatul kufar (jihad melawan orang-orang kafir).

Mati Syahid

Orang-orang yang gugur dalam jihad (pertempuran) membela agama Allah diberi gelar syuhada. Dalam riwayat Bukhari disebutkan, para syuhada itu tidak dimandikan, tidak dishalatkan, dan tidak dikafani, langsung dikuburkan dengan pakaiannya yang berlumuran darah. Nabi saw. menyatakan, para syuhada akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan luka dan tetesan darahnya sebagai saksi pada hari penghisaban nanti. Dan Al Qur’an menyatakan, para syuhada itu tetap hidup di sisi Allah swt. dan diberi rizki oleh-Nya.

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka.” (Q.S. Ali-Imran 3:169-170).

Para syuhada yang gugur di medan perang sebagaimana dijelaskan di atas (jihad dalam pengertian khusus) dalam fiqih dikategorikan sebagai Syahid dunia akhirat.

Sementara mereka yang wafat dalam jihad menurut pengertian umum disebut Syahid akhirat, yakni di akhirat mereka akan mendapat balasan sebagai syuhada, tetapi di dunia pengurusan mayatnya diperlakukan seperti mati biasa, wajib dimandikan, dikafani dan dishalatkan.

“Dari Abu Hurairah r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: Orang-orang yang mati syahid itu ada lima macam, yaitu orang yang mati karena penyakit taun – yakni pes, orang yang mati karena penyakit perut, orang yang mati lemas – tenggelam dalam air, orang yang mati karena kerobohan – pohon, rumah dan Iain-Iain – dan orang yang mati syahid dalam peperangan fi-sabilillah.” (Muttafaq ‘alaih)

“Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang terbunuh karena membela harta – yang menjadi miliknya, maka ia adalah syahid.” (Muttafaq ‘alaih).

“Dari Abul-A’war yaitu Said bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail, salah seorang di antara sepuluh orang yang disaksikan akan mem-peroleh syurga – yakni bahwa Nabi s.a.w. telah menjelaskan bahwa mereka itu pasti masuk syurga – radhiallahu anhum, katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang terbunuh karena membela harta – yang dimilikinya, maka ia adalah mati syahid, barangsiapa terbunuh karena membela darahnya – yakni mempertahankan diri karena hendak dibunuh oleh seseorang, maka ia juga mati syahid, barang- siapa yang terbunuh karena mempertahankan agamanya, iapun mati syahid dan barangsiapa yang terbunuh karena mempertahankan keluarganya – kehormatan mereka, maka ia juga mati syahid.” (HR. Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih).

—- Wallahu a’lam —–

2 Tanggapan to “ISLAM, JIHAD DAN TERORISME”

  1. Sadakallahulazim…
    ISLAM : Artinya “Selamat”
    Orang yang menyatakan diri menganut Islam, merekalah golongan orang-orang yg di selamatkan oleh Allah.
    Penganud Islam disebu “MUSLIM”
    MUSLIM : Artinya : “Berserah diri kepada ALLAH”
    Orang yang menyerahkan segala urusanya hanya kepada Allah, merekalah yang disebut Muslim.
    JIHAD : dapat di artikan. “Berusaha dengan Sunggu-sungguh”
    Dari pengertian itu dapat ditarik kesimpulan,bahwa seorang Koruptor/pencuripun sedang berjihad,artinya dia (koruptor)
    “Berusaha dengan sungguh-sungguh” dalam melakukan aksi Korupsi itu. Di sedang berjihad di jalan “Setan”
    (Jihadu fisabi Syaiton) sedangkan untuk para Guru, Mubaliqh.ustaz,para petani dll yang berusaha dengan sungguh-sungguh hanya karna Allah, disebut berjihad dijalan Allah (jihadu fi sabilillah).
    KITAL : Artinya “Perang”
    Orang sering mengartikan kata Jihad dengan perang, itu sungguh-sungguh sangat Menyesatkan. Kalau dikatakan perang di jalan Allah itu “KITAL FI SABILLAH” Bukan
    Jihadu fi sabilillah. Maka berhentila mengartikan kata jihad dengan perang. Jihad artinya : b u k a n “P e r a n g”… ! … !… !
    bahasa arabnya Perang : “K I T A L” bukan jihad… !
    TERORISME : dapat di definisikan sebagi
    ” Faham ekstri yang dianut oleh sekelompok orang”
    Ketika mereka melakukan tidakan yang bertentangan dengan norma Agama dan sosial, dan dilakukan dengan cara-cara yg ekstrim sehingga menimbulkan rasa Takut, was-was,tidak aman sampai menimbulkan korban jiwa dan harta benda, maka mekalah yang di sebut “Teroris”.
    Dan dalam ajaran Agama apapun, itu tidak dapat di benarkan dengan alasan apapun. Bagi pelakunya dapat di jatuhi hukuman “M A T I”. (Dengan melalui proses hukum yg benar)

  2. Sadakallahulazim…
    ISLAM : Artinya “Selamat”
    Orang yang menyatakan diri menganut Islam, merekalah golongan orang-orang yg di selamatkan oleh Allah.
    Penganud Islam disebu “MUSLIM”
    MUSLIM : Artinya : “Berserah diri kepada ALLAH”
    Orang yang menyerahkan segala urusanya hanya kepada Allah, merekalah yang disebut Muslim.
    JIHAD : dapat di artikan. “Berusaha dengan Sunggu-sungguh”
    Dari pengertian itu dapat ditarik kesimpulan,bahwa seorang Koruptor/pencuripun sedang berjihad,artinya dia (koruptor)
    “Berusaha dengan sungguh-sungguh” dalam melakukan aksi Korupsi itu. Di sedang berjihad di jalan “Setan”
    (Jihadu fisabi Syaiton) sedangkan untuk para Guru, Mubaliqh.ustaz,para petani dll yang berusaha dengan sungguh-sungguh hanya karna Allah, disebut berjihad dijalan Allah (jihadu fi sabilillah).
    KITAL : Artinya “Perang”
    Orang sering mengartikan kata Jihad dengan perang, itu sungguh-sungguh sangat Menyesatkan. Kalau dikatakan perang di jalan Allah itu “KITAL FI SABILLAH” Bukan
    Jihadu fi sabilillah. Maka berhentila mengartikan kata jihad dengan perang. Jihad artinya : b u k a n “P e r a n g”… ! … !… !
    bahasa arabnya Perang : “K I T A L” bukan jihad… !
    TERORISME : dapat di definisikan sebagi
    ” Faham ekstrim yang dianut oleh sekelompok orang”
    Ketika mereka melakukan tidakan yang bertentangan dengan norma Agama dan sosial, dan dilakukan dengan cara-cara yg ekstrim sehingga menimbulkan rasa Takut, was-was,tidak aman sampai menimbulkan korban jiwa dan harta benda, maka merekalah yang di sebut “Teroris”.
    Dan dalam ajaran Agama apapun, itu tidak dapat di benarkan dengan alasan apapun. Bagi pelakunya dapat di jatuhi hukuman “M A T I”. (Dengan melalui proses hukum yg benar)

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: