Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Dulu Bangsa yang Ramah, Sekarang Bangsa Pemarah

Posted by gunawank pada Oktober 2, 2010


Demonstrasi mahasiswa berakhir rusuh, suporter sepak bola rusuh, penonton konser rusuh, penertiban pedagang  K-5 rusuh….rusuh….rusuh dan….rusuh. Itulah berita-berita yang hampir setiap hari muncul di media masa cetak maupun elektronik. Belum lagi tawuran antar pelajar bahkan antar mahasiswa, perang suku, perang antar kampung, antar desa bahkan antar kelompok dalam satu kampung dan …. yang terkini terjadi perang antar pendukung dalam sidang kasus Blowfish (kasus Ampera, Jakarta Selatan, 29 September 2010).

Penyebabnya kadang hanya masalah sepele: saling senggol antar penonton ketiga berjoget, senggolan sepeda motor, saling ejek,  adu mulut, rebutan pacar dan sebagainya, tetapi dapat menyulut kebrutalan yang berakibat fatal dan menimbulkan jatuhnya korban jiwa dan harta benda. Itulah yang sedang kita saksikan hari-hari ini di seantero negeri.

Kerusuhan di Tarakan, Kalimantan Timur, merenggut tiga nyawa serta melukai puluhan lainnya. Ribuan perempuan dan anak-anak menjadi pengungsi dan mencari tempat berlindung di kantor polisi atau markas tentara serta tempat-tempat ibadah.

Demikian juga yang terjadi di Jakarta Selatan. Kerusuhan Ampera bahkan merenggut nyawa orang yang tidak bersalah, seorang sopir Kopaja yang justru berjasa mengentar mereka yang berseteru. Tak dapat dibayangkan bagaimana sedih dan pilunya keluarga korban yang ditinggalkan.

Padahal sebenarnya bentrokan mestinya dapat dicegah jika aparat negara sigap membaca fenomena dan tangkas melakukan antisipasi, karena tanda-tandanya telah terjadi pekan lalu. Tetapi aparat lalai, alpa, atau tidak peduli. Setelah korban berjatuhan, barulah polisi datang.

Mantan Wakil Presiden Yusuf Kalla mengatakan bahwa kerusuhan-kerusuhan tersebut terjadi karena pembiaran-pembiaran. Orang menenteng bahkan menghunus senjata tajam di jalan raya dibiarkan. Masyarakat beranggapan bahwa kalau tindak kriminal itu dilakukan bersama-sama melibatkan orang banyak tidak akan terkena proses hukum…juga dibiarkan.

Kita gemas melihat preman lebih berkuasa daripada aparat negara. Mereka leluasa menenteng samurai, parang, dan kelewang di jalan-jalan di tengah kota, mencari musuh, tanpa dilucuti polisi. Mereka bahkan memiliki senjata api dan melepaskan tembakan. Saling membunuh dan tidak bersikap toleran adalah budaya paling primitif dari sebuah peradaban. Ternyata bangsa ini belum juga beranjak dari situ.

Kekerasan, kebrutalan, dan kerusuhan adalah tanda paling nyata sebuah masyarakat telah kehilangan kesabaran dan akal sehat. Yang dipamerkan justru emosi dan senjata. Yang diagungkan adalah kehendak menang sendiri bahkan dengan cara membunuh. Mengapa bangsa yang dulu dikenal santun, lemah lembut dan penyabar. Bangsa yang dulu dikenal sebagai bangsa peramah bisa berubah menjadi bangsa pemarah ?!

Ada banyak faktor tentunya yang menjadi penyebabnya, antara lain:

  • Kesenjangan ekonomi antara rakyat jelata dan para penguasa, antara rakyat papa dan orang-orang kaya, antara pekerja dan pengusaha.
  • Ketimpangan dalam kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak. Ada pihak yang dapat dengan mudahnya memperoleh pekerjaan, tetapi sangat banyak yang kesulitan memperolehnya.
  • Kebijakan ekonomi yang terlalu berorientasi pasar ketimbang mengutamakan kepentingan rakyat. Biarlah rakyat bingung karena harga-harga melambung yang penting pengusaha meraup untung.
  • Penanganan masalah yang terasa lamban yang dilakukan pemerintah bahkan terkesan membiarkan, sehingga masyarakat lebih memilih penyelesaian masalah dengan caranya sendiri.
  • Pendidikan budi pekerti yang nyaris lenyap dalam kurikulum yang cenderung lebih mengutamakan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Baca Artikel Terkait:

Iklan

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: