Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Ruwatan untuk Negeri Sejuta Bencana

Posted by gunawank pada Oktober 7, 2010


Beberapa tahun terakhir ini negeri yang dulu terkenal ayem tentrem gemah ripah lohjinawi, subur makmur dengan kekayaan alam yang melimpah ruah serta masyarakat yang ramah, sopan dan suka bergotong royong telah berubah menjadi negeri yang penuh bencana: gempa bumi beruntun, sunami, banjir bandang, kebakaran, ledakan tabung gas, ledakan bom, tawuran pelajar, mahasiswa, suporter sepak bola, penonton pertunjukan, perang antar kampung, antar etnis ditambah lagi kecelakan transportasi darat, laut maupun udara.

Belum lagi orang yang harus meninggal dunia sia-sia karena terinjak, terhimpit saat berebut pembagian zakat, sedekah, BLT dan sebagainya yang semakin menambah panjang rentetan catatan bencana di negeri ini.

Entah saking pusing dan bingungnya menyaksikan kenyataan ini, samai-sampai AM Fatwa yang jelas-jelas seorang intelektual muslim dan anggota DPR RI itu mengusulkan agar negeri ini “diruwat”. Istilah yang sebenarnya tidak ditemukan dalam kamus ajaran Islam.

“Ya, perlu diruwat negeri ini karena banyak kejadian-kejadian terjadi secara beruntun. Kalau diruwat, mudah-mudahan tidak terjadi lagi,” katanya di Gedung DPD RI, Jakarta, Jumat (1/10/2010) sebagaimana diberitakan Metrotvnews.com (1/10/2010).

Menurut budaya Jawa, ruwatan artinya memberi sesuguh atau sesajen berupa makanan dengan tujuan agar terhindar dari kejahatan Batara Kala, sebagaimana diceriterakan dalam Wikipedia bahasa Indonesia.

Ketika Batara Guru dan istrinya, Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, dalam perjalanannya karena terlena maka Batara Guru bersenggama dengan istrinya di atas kendaraan suci Lembu Andini, sehingga Dewi Uma hamil. Ketika pulang dan sampai di kahyangan Batara Guru kaget dan tersadar atas tindakannya melanggar larangan itu. Seketika itu Batara Guru marah pada dirinya dan Dewi Uma, dia menyumpah-nyumpah bahwa tindakan yang dilakukannya seperti perbuatan “Buto” (bangsa rakshasa). Karena semua perkataannya mandi (bahasa indonesia: cepat menjadi kenyataan) maka seketika itu juga Dewi Uma yang sedang mengandung menjadi raksasa. Batara Guru kemudian mengusirnya dari kahyangan Jonggringsalaka dan menempati kawasan kahyangan baru yang disebut Gondomayit. Hingga pada akhirnya Dewi Uma yang berubah raksasa itu terkenal dengan sebutan Batari Durga. Setelah itu ia melahirkan anaknya, yang ternyata juga berwujud raksasa dan diberi nama Kala. Namun pada perkembangan selanjutnya Batara Kala justru menjadi suami Batari Durga, karena memang di dunia raksasa tidak mengenal norma-norma perkawinan. Batara Kala dan Batari Durga selalu membuat onar marcapada (bumi) karena ingin membalas dendam pada para dewa pimpinan Batara Guru.

Karena Hyang Guru kwatir kalau kayangan rusak maka Batara Guru mengakui kalau Kala adalah anaknya. Maka diberi nama Batara Kala dan Batara Kala minta makanan, maka Batara Guru memberi makanan tetapi ditentukan yaitu :

  1. Orang yang mempunyai anak satu yang disebut ontang-anting
  2. Pandawa lima anak lima laki-laki semua atau anak lima putri semua.
  3. Kedono kedini, anak dua laki-laki perempuan jadi makanan Betara Kala.

Untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala harus diadakan upacara ruwatan. Maka untuk lakon-lakon seperti itu di dalam pedalangan disebut lakon Murwakala atau lakon ruwatan. Di dalam lakon pedalangan Batara Kala selalu memakan para pandawa karena dianggapnya Pandawa adalah orang ontang anting. Tetapi karena Pandawa selalu didekati titisan Wisnu yaitu Batara Kresna. Maka Batara Kala selalu tidak berhasil memakan Pandawa.

Tentunya yang diusulkan oleh AM Fatwa bukan ruwatan dalam bentuk sesajen seperti itu, tetapi bagaimana caranya agar seluruh komponen bangsa khususnya para pejabat negara mau mawas diri, mau mengakui kesalahan dan kekeliruannya kemudian diikuti dengan langkah nyata perbaikan diri yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Jadikan ajaran agama sebagai tuntunan dalam setiap perilaku kehidupan secara totalitas.

Ketika Batara Guru dan istrinya, Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, dalam perjalanannya karena terlena maka Batara Guru bersenggama dengan istrinya di atas kendaraan suci Lembu Andini, sehingga Dewi Uma hamil. Ketika pulang dan sampai di kahyangan Batara Guru kaget dan tersadar atas tindakannya melanggar larangan itu. Seketika itu Batara Guru marah pada dirinya dan Dewi Uma, dia menyumpah-nyumpah bahwa tindakan yang dilakukannya seperti perbuatan “Buto” (bangsa rakshasa). Karena semua perkataannya mandi (bahasa indonesia: cepat menjadi kenyataan) maka seketika itu juga Dewi Uma yang sedang mengandung menjadi raksasa. Batara Guru kemudian mengusirnya dari kahyangan Jonggringsalaka dan menempati kawasan kahyangan baru yang disebut Gondomayit. Hingga pada akhirnya Dewi Uma yang berubah raksasa itu terkenal dengan sebutan Batari Durga. Setelah itu ia melahirkan anaknya, yang ternyata juga berwujud raksasa dan diberi nama Kala. Namun pada perkembangan selanjutnya Batara Kala justru menjadi suami Batari Durga, karena memang di dunia raksasa tidak mengenal norma-norma perkawinan. Batara Kala dan Batari Durga selalu membuat onar marcapada (bumi) karena ingin membalas dendam pada para dewa pimpinan Batara Guru.

Karena Hyang Guru kwatir kalau kayangan rusak maka Batara Guru mengakui kalau Kala adalah anaknya. Maka diberi nama Batara Kala dan Batara Kala minta makanan, maka Batara Guru memberi makanan tetapi ditentukan yaitu :

  1. Orang yang mempunyai anak satu yang disebut ontang-anting
  2. Pandawa lima anak lima laki-laki semua atau anak lima putri semua.
  3. Kedono kedini, anak dua laki-laki perempuan jadi makanan Betara Kala.

Untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala harus diadakan upacara ruwatan. Maka untuk lakon-lakon seperti itu di dalam pedalangan disebut lakon Murwakala atau lakon ruwatan. Di dalam lakon pedalangan Batara Kala selalu memakan para pandawa karena dianggapnya Pandawa adalah orang ontang anting. Tetapi karena Pandawa selalu didekati titisan Wisnu yaitu Batara Kresna. Maka Batara Kala selalu tidak berhasil memakan Pandawa

Iklan

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: