Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Syukur Nikmat

Posted by gunawank pada Maret 23, 2011


Allah SWT telah memberikan kepada kita sekalian umat manusia berbagai macam nikmat, dalam jumlah yang tiada terhingga banyaknya, baik yang terasa maupun yang tidak disadari, baik yang diminta maupun tanpa diminta terlebih dahulu, seperti nikmat penglihatan, pendengaran, kesempurnaan anggota tubuh dan lain-lain. Sehingga apabila seluruh air yang ada di lautan dan daratan dijadikan tinta serta seluruh dedaunan di muka bumi ini dijadikan catatan, maka tidak akan cukup untuk menuliskan seluruh nikmat yang telah Allah berikan kepada kita manusia. Dan bahkan kita sama sekali tidak akan mampu menghitungnya. Firman Allah dalam Al-Quran :

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”. (QS. Ibrahim: 34)

Sedangkan dalam memberikan nikmat ini Allah tidak pandang bulu, apakah manusia itu beriman atau kafir, ahli taat atau ahli maksiat, laki-laki atau perempuan, tua atau muda, kaya atau miskin, diminta maupun tidak diminta, kesemuanya itu diberi nikmat oleh Allah sesuai dengan irodah-Nya.

Lalu apa hikmahnya pemberian nikmat Allah ini bagi manusia ? Justru di sinilah permasalahannya. Dari sisi bagaimana cara manusia menerima nikmat inilah kemudian manusia menjadi terbagi ke dalam dua golongan.

Pertama, golongan manusia yang akan mendapatkan nikmat abadi, yaitu golongan manusia yang hidupnya di dunia ini merasakan nikmatnya terus bertambah-tambah dan ujungnya mereka akan memperoleh kenikmatan abadi di akhirat kelak, kenikmatan mendapatkan surga Allah SWT. Mereka itulah orang-orang yang senantiasa bersyukur dan selalu mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepadanya.

Kedua, golongan manusia celaka, yaitu golongan manusia yang ketika hidup di dunia dicabut kenikmatannya oleh Allah, atau mungkin ditambah  kenikmatannya sebagai bentuk kebencian Allah kepadanya (sebagai istijrodz), namun di akhirat kelak akan mendapat siksa neraka yang amat pedih. Naudzubillah tsuma naudzubillah.

Firman Allah SWT dalam Al-Quran:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (إبراهيم: 7)

“Dan jika kamu sekalian bersyukur atas nikmat yang Aku berikan, maka niscaya akan Aku tambah nikmat-Ku untukmu. Dan jika kamu sekalian kufur atas nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku itu sangat pedih”.

Dan firman-Nya yang lain:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ

“Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku mengingatmu, dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kamu sekalian kufur”. (QS. Al-Baqarah: 152)

وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

“Dan lagi akan Aku balas orang-orang yang bersyukur dengan pahala yang amat besar”. (QS. Ali Imran: 145)

Serta sabda Nabi SAW:

“Diseru pada hari kiyamah golongan Hamadun (orang-orang yang memuji Allah SWT) untuk berdiri, maka berdirilah mereka itu dalam satu himpunan/kelompok, lalu diberikan kepada mereka itu satu panji / bendera, kemudian mereka masuk ke dalam surga. Rasulullah SAW ditanya: Siapakah Hamadun itu ya Rasulallah ? Jawab Rasul SAW: mereka itu adalah orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah SWT dalam setiap hal”.

Lalu apa dan bagaimana bentuk syukur yang dimaksud ? Apakah dengan cara berpesta pora sebagaimana kebiasaan kita bangsa Indonesia menyelenggarakan resepsi dan hura-hura dalam mensyukuri nikmat kemerdekaan setiap tanggal 17 Agustus ?

Imam Jalaluddin Al-Mahali dan Imam Jalaludin As-Suyuthi dalam Tafsir Jalalen menyatakan bahwa manifestasi syukur nikmat adalah dengan jalan meningkatkan tauhid dan thoah kepada Allah SWT, sedangkan kufur nikmat adalah dengan jalan kufur kepada Allah dan melakukan kemaksiatan.

Artinya, jika kita ingin mengetahui apakah kita termasuk golongan manusia yang syukur nikmat atau yang kufur nikmat, tinggal kita hitung-hitungan (muhasabah) apakah kita termasuk ahli thoat atau ahli maksiat dalam seluruh perilaku kehidupan kita.

Dengan kata lain, jika ingin termasuk golongan yang beruntung maka tingkatkan terus keimanan dan ketaatan kita kepada Allah, dengan cara memperbanyak menghadiri majelis-majelis ilmu / pengajian, karena dengan sering hadir dalam majelis ilmu, iman dan semangat ibadah kita akan bertambah. Kemudian berusahalah untuk meningkatkan segala amal ibadah kita, baik ibadah mahdloh (tertentu) maupun yang ghoer mahdloh (umum) sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW sebagaimana yang diperoleh dalam majelis-majelis ilmu tersebut. Sebaliknya berusaha keraslah dengan bersungguh-sungguh (bil jiddi wal ijtihadi) untuk menghindari perbuatan-perbuatan maksiat sekecil apapun.

Dengan demikian, insya Allah kita akan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur sebagaimana dimaksud ayat di atas, yaitu golongan orang-orang yang akan mendapat keridlaan dan kenikmatan surga Allah SWT. Amin ya Robbal alamin.

Hujatul Islam Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Bidayatul Bidayah menyatakan bahwa dalam hakikat syukur itu terhimpun tiga perkara;

Pertama, Ilmu yakni harus engkau ketahui bahwasannya segala nikmat itu datangnya dari Allah SWT bukan dari lainnya. Dan jika engkau lihat datangnya nikmat itu dari yang lain selain dari Allah, maka itu semata-mata hanya sabab saja yang di zhohirkan oleh Allah Ta’ala padanya. Jadi hadirkanlah dalam hatimu keyakinan tersebut pada setiap keadaanmu.

Kedua, Hal (keadaan) yakni engkau terima dan engkau junjung nikmat itu datangnya dari Allah SWT, dan engkau suka kepada yang memberi nikmat itu yaitu Allah SWT, kemudian engkau takdimkan/ engkau agungkan Allah SWT serta engkau rendahkan dirimu di hadapan-Nya.

Ketiga, Amal yakni engkau perlakukan segala nikmat Allah itu untuk segala hal yang disukai oleh-Nya dan engkau jauhkan daripada segala hal yang dibenci oleh Allah SWT. Karena segala anggota badanmu itu nikmat dari Allah SWT, dan segala ibadah itu disukai oleh Allah, sedangkan segala maksiat itu dibenci oleh Allah SWT.

Pergunakanlah matamu itu untuk membaca Al-Quran dan kitab ilmu, untuk melihat langit dan bumi serta sekalian mahluk Allah agar sampai kepada hatimu mengetahui akan Tuhanmu yang menciptakanmu dan sekalian mahluk.

Dan pergunakanlah telingamu untuk mendengarkan dzikir, mendengarkan Al-Quran, dan mendengarkan ilmu yang memberi manfaat kepada akhirat. Janganlah engkau dengarkan segala yang haram, segala yang makruh dan segala yang sia-sia.

Pergunakanlah lidahmu untuk dzikrullah dan membaca Al-Quran serta mengucap syukur dan alhamdulillah (memuji) kepada Allah sebagai bentuk mendohirkan rasa syukur atas nikmat yang datang kepadamu.

Demikian pula pergunakanlah tanganmu, kakimu, dan seluruh anggota badanmu untuk melakukan segala hal yang disukai oleh Allah SWT, serta untuk menjauhi segala hal yang dibenci oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam….

8 Tanggapan to “Syukur Nikmat”

  1. Moch adnan said

    Serasa mendapat siraman rohani… Makasih mas gun.

  2. alhamdulillah,, ane dapet pencerahan hari ini,, makasih mas..

  3. […] Syukur Nikmat […]

  4. […] Syukur Nikmat […]

  5. uyayan said

    terima kasih kang gun…
    postingan yang sangat bermanfaat…

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: