Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Cilaka 12

Posted by gunawank pada Desember 30, 2011


Cialaka dua belas adalah ungkapan yang sangat populer di lingkungan orang sunda (cilaka = celaka) yang biasanya diungkapkan oleh seseorang yang berada dalam kondisi bahya, merugi, salah, kurang/tidak baik dan sejenisnya. Sebagai contoh:

  • Cilaka 12 euy, lagi asik-asik nyontek eh ketahuan sama pak guru !
  • Waduh cilaka 12 ! PR tentang serba 11 saja belum dikerjakan, sudah datang lagi PR serba 12.
  • dan lain-lain….. (jangan banyak-banyak contohnya, nanti ulangan nilainya 100 semua).

Karena termasuk ungkapan yang turun temurun sejak zaman nenek moyang dan merekapun tidak pernah memberikan penjelasan, sehingga sulit dibuat defisi yang benar-benar tepat. Oleh karena itu sah-sah saja jika ada pendapat yang mencoba menjelaskan maknanya, seperti apa yang akan aku kupas dalam tulisan ini.

Jika dikaitkan dengan ajaran Islam (walaupun ungkapan tersebut mungkin sudah ada sejak Islam belum masuk ke tanah sunda), cilaka 12 bisa diartikan celakalah bagi orang-orang yang pada dirinya tidak bersemayam atau kosong dari 12 perkara, yaitu 6 perkara yang ada pada Rukun Iman, 5 perkara yang ada pada Rukun Islam dan satu perkara pada Rukun Ihsan (ahlak beribadah kepada Allah).

  1. Agar sesorang tidak celaka, maka harus tertanam keyakinan pada dirinya bahwa Allah itu ada, Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang berada diantara keduanya, tegasnya segala makhluk selain Allah SWT. Allahlah yang menghidupkan dan mematikan, yang mmaha kuasa atas segala sesuatu.
  2. Agar tidak celaka harus yakin bahwa Allah telah menciptakan makhluk dari nur atau cahaya, yang selalu patuh dan taat serta tidak pernah sekalipun menentang-Nya yang disebut Malaikat. Harus yakin bahwa sekecil apapun amal baik yang dilakukan manusia selalu dicatat oleh Malaikat Rokib dan tidak ada sekecil apapun amal salah yang dilalkukan manusia yang luput dari pencatatan Malaikat Atid dan sebagainya.
  3. Agar tidak celaka harus yakin bahwa Allah telah menurunkan Kitab Suci kepada para Rasul-Nya untuk disampaikan kepada seluruh umatnya untuk dijadikan pedoman hidupnya.
  4. Agar tidak celaka harus yakin bahwa Allah telah mengutus manusia-manusia pilihan-Nya untuk menyampaikan wahyu kepada umat dan membimbing mereka ke jalan yang diridloi-Nya.
  5. Agar tidak celaka harus yakin bahwa setelah kehidupan di dunia yang fana ini ada hari akhir yang kekal abadi sebagai tempat pembalasan segala amal baik maupun buruk yang dilakukan manusia saat di dunia. Dan harus yakin bahwa amal baik akan di balas dengan kenikmatan surga-Nya, sedangkan amal buruk akan dibalas dengan siksa neraka yang amat pedih.
  6. Agar tidak celaka harus yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi pada manusia, baik maupun buruk sudah ditetapkan oleh Allah sebelum terjadi.
  7. Agar tidak celaka harus bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul utusan Allah.
  8. Agar tidak celaka harus dengan tekun, ikhlas dan khusyu mendirikan shalat fardu lima waktu dalam sehari semalam maupun shalat-shalat sunahnya.
  9. Agar tidak celaka harus menunaikan kewajiban zakat bagi yang telah memenuhi syarat-syaratnya (nishab).
  10. Agar tidak celaka harus menjalankan puasa sebulan penuh pada bulan Ramadlan.
  11. Agar tidak celaka harus menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi telah mampu.
  12. Agar tidak celaka dalam segala bentuk pengabdiannya kepada Allah harus seolah-olah melihat Allah dan jika tidak melihat-Nya maka harus yakin bahwa Allah melihat segala apapun yang dilakukannya.

Wallahu a’lam

4 Tanggapan to “Cilaka 12”

  1. Ilham said

    wah ternyata ada filosofi yang Islami ya dibalik ungkapan itu… aku nangkepnya malah cilaka 12 itu dikaitkan dengan hal2 yang dianggap ‘keramat’ pada jam 12 siang dan 12 malam. :oops:

    • gunawank said

      Itulah uniknya dan hebatnya orangtua kita, ungkapa-ungkapannya mengandung berbagai filosofi super tinggi.
      Tinggal bagaimana kita memaknainya….

  2. Hmm…
    Saya merasa ini seperti dimasuk-masukkan saja…
    Semacam metode dakwah pada jaman awam di Indonesia…
    Tapi metode seperti ini terbukti efektif menggantikan kekeramatan (syirik), dan pesan yang terkandung di dalamnya pun bagus.

    • gunawank said

      Ya, seperti kata “Pamali” dalam bahsa sunda sangat efektif untuk mencegah sesuatu yang apabila menggunakan kata “tidak boleh” masih memungkinkan muncul pertanyaan mengapa, apa sebabnya, dll. Tetapi dengan kata pamali, otomatis stop.

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: