Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Karena Takut Anjing…..Kambingku Minta Dijual Rp.100,-

Posted by gunawank pada Desember 30, 2011


Ini mungkin kisah hidupku yang paling awal yang dapat kuingat sendiri, bukan dari ceritera orangtuaku. Kejadiannya kira-kira beberapa tahun setelah peritiwa menggemparkan, G 30 S / PKI, yakni sekitar tahun 1967 – 1968.

Pada waktu itu kebiasaan di negeri eh… kampung kelahiranku para orangtua sudah menghitan putranya pada umur 3-5 tahun, atau sebelum masuk SD. Salah satu alasannya biar bisa dibawa-bawa ke mesjid untuk ikut belajar shalat bersama orangtuanya atau bisa ikut mengaji di mesjid.

Alasan lain, mungkin agar saat masuk SD tidak terganggu lagi oleh acara khitanan atau untuk mempermudah pelaksanaan khitanan itu sendiri. Karena saat itu belum ada Dokter sunat, tetapi melalui jasa Dukun Sunat yang di daerahku disebut BENGKONG. Entah dari mana asal muasal istilah tersebut dan apa artinya, khususnya bisa dikaitkan dengan sunat atau khitan.

Tata cara pelaksanaannyapun cukup unik. Kulup (maaf, baca: kulit kepala zakar/penis) ditiup oleh Pak Bengkong lalu untuk menahan agar udara tidak keluar lagi ujung mulut kulup dijepit. Dalam kondisi menggelembung karena berisi udara, kulit kulup langsung diiris dengan sekali irisan menggunakan pisau yang sangat tajam tentunya, dan…….prosesi khitananpun selesai.

Bersamaan dengan ayunan pisau mengiris kulup, tidak jauh disekitar itu dua orang bapa-bapa pemotong ayampun memotong seekor ayam jago (jantan) yang besar sambil berteriak: “Belaaaaaa………!!!”, dan biasanya juga pada waktu bersamaan mereconpun disulut, ” Dar…der….dor…!” begitu kira-kira bunyinya. Oleh karena itu ayam jago ini disebut “Ayam Bela”.

Ayam bela dan merecon itu funsinya sebagai penghibur anak yang dikhitan dari rasa sakit, karena satu-satunya obat khitan pada waktu itu hanyalah Penicilin. Oleh karena itu pelaksanaan khitanannya dilakukan pada dini hari sekitar pukul 04.00 pagi sesaat setelah hiburan (biasanya wayang Golek) yang digelar selesai/berhenti (Tutup lawang si Gotaka).

Untuk meredam rasa sakit, anak yang mau dikhitan sudah dibangunkan sekitar pukul 01.00 atau pukul 02.00 pagi. Pada bagian perutnya dililitkan kain yang berisi ramuan dari sejenis jahe dkk, lalu anak diceburkan untuk berendam di kolam. Tujuannya supaya baal (mati rasa). Begitulah teknik bius tradisional saat itu. (Kalau nyeritain prosesi ini hiy…ngeri banget, jadi ngaak mau disunat untuk kedua kalinya, he…he…heee…!!!).

Ibarat pepatah, “Sakit-sakit dahulu, senang-senang kemudian…” setelah itu berdatangan handai tolan untuk menghibur sambil……(ini yang ditunggu-tunggu)…nyecep alias ngasih uang. Singkat ceritera, akupun jadi memiliki banyak uang (alhamdu……lillaah…..!!!).

Waktu itu, ada dua orang teman sebaya dan sepermainanku yang disunat bersamaan. Dan, kami bertigapun sepakat manggunakan uang hasil orang nyecep itu dibelikan kambing. Kami betigapun akhirnya punya jabatan baru sebagai penggembala kambing (milik kami sendiri, tentunya!).

Sauatu ketika, dekat lokasi penggembalaan kambing kami ada orang hajatan nanggap wayang golek dengan dalang terkenal saat itu, Dalang Cecep Supriyadi dari Karawang. Kamipun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan larut dalam ceritera dan lawakan-lawakannya sampai pergelaran selesai sekitar pukul 16.00 petang.

Namun apa yang terjadi ketika kami pergi ke tempat penggembalaan….? Kambing-kambing kami sudah tidak ada satupun di sana. Kamipun dalam kondisi panik berusaha mencarinya. Ternyata…..kambing-kambing kami berada di samping rumah pemilik anjing. Asal pembaca tahu, aku sejak kecil (sampai sekarang, he..he..heeee…) paling takut sama binatang yang namanya anjing.

Beberapa hari setelah kejadian tersebut, ketika aku bertandang ke rumah temanku (sesama penggembala kambing) menyaksikan orangtua temanku itu sedang melakukan transaksi penjualan kambing. Akupun bertanya kepada temanku untuk memastikan. Ternyata benar-benar menjual seluruh kambingnya, dan ternyata pula hal yang sama terjadi pada temanku yang satu lagi.

Dengan bayang-bayang rasa takut bagaimana kalau aku menggembalakan kambing sendirian lalu kambing-kambingku pergi ke rumah pemilik anjimg tadi, akupun segera pulang ke rumah menemui orangtuaku dan sambil menangis aku meminta agar menjual kambingku.

“Dengan harga berpa kamong-kambing itu mau kau jual ?” tanya orangtuaku.

“Seratus…..”,  jawabku sambil terus menangis.

18 Tanggapan to “Karena Takut Anjing…..Kambingku Minta Dijual Rp.100,-”

  1. Seratus jaman itu mahal gak Mas? Seharga berapaan ya kira-kira sekarang ini?

  2. hahahahha.. serem yaa mas acara sunatnya.. :D

    unik juga sih, sunat jam 4 pagi.. habis itu pake acara disuruh berendam dulu, dan yang paling aneh pas proses utama sunatnya pake acara ditiup2 gitu.. sekarang masih kayak gitu juga gk sunat di daerah sampean??

    • gunawank said

      Sekarang sudah ke dokter, diantaranya sudah menggunakan teknik laser.
      lagi pula pak Benkongnya sekarang sudah tidak ada penerusnya. Kalaupun ada, mungkin kagak laku, soalnya siapa yang mau disunat dengan cara serem begitu, bahkan orangtuanyapun pasti mikir-mikir untuk nyunat anak seperti itu…..
      Makasih kunjungannya.

  3. yisha said

    aku juga takut anjung
    dan banyak binatang lainnyaaaa

  4. teeyara said

    wahh , itu nangisnya karena ga rela atau gimana mas :D ?
    gara2 takut ma gukguk .

  5. kalo sekarang berapa harga kambing..?

    • gunawank said

      Macam-macam mas bro. Waktu qurban kemarin paling murah satu jutaan.
      Gimana, mau jualan kambing, he…he…heee………… :)

  6. Ilham said

    wakaka. terus jadinya ngasih apa buat temennya yang khitanan?

  7. Datang hanya ingin mengucapkan.
    Selamat Tahun Baru 2012.
    Semoga Tahun 2012 lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Amin.
    Salam persahabatan selalu.

  8. uyayan said

    kalau boleh berkomentar dari cerita diatas..tentang “nyecep”
    catatan kecil saya itu satu tradisi yang memotipasi ci anak untuk mau di sunat dan itu efektif, setidaknya itu yang terjadi pada anak saya..minta di beliin ps 2 dan sepeda, saya bilang kalau mau ps 2 dan sepeda harus di sunat dulu nanti kan banyak yang ngasih duit, nah duit itu tinggal di beliin… c anak meng-iyakan..
    .terus ini faktanya karena di keluarga besar saya tradisi” nyecep” masih berjalan maka terkumpulah beberpa juta rupiah..alhamdulillah…satu sarat untuk jadi seorang muslimpun sudah terpenuhi dan untuk beli yang anak saya inginkanpun cukup dari hasil “nyecep” malah masih ada sisanya..

    kalau boleh di simpulkan nyecep itu bentuk gotong royong untuk saling membantu, karena biasanya kalau anak mau di sunat suka ada saja permintaanya dan tidak semua orang tua bisa memberikanya…

    nb : kalau salah silakan di ralat..

    • gunawank said

      Betul sekali…….
      Banyak sekali tradisi-tradisi yang diajarkan leluhur kita yang secara sadar maupun tidak kita sadari mendidik kita untuk senantiasa bergotong royong, tolong menolong, saling berbagi dan sebagainya. Namun sayang, kebanyakan tradisi-tradisi itu sudah lenyap dimakan kemodernan zaman.
      Makasih kunjungan awalnya. Aku langsung meluncur……

  9. ubay said

    numpang blog walking mas, salam kenal dari saya… salam persahabatan

    • gunawank said

      Salam persahabatan kembali.
      Semoga menjadi awal terjalinnya tali silaturahmi yang berkelanjutan. Amin…………..

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: