Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Otak Sambelpun Bisa Jadi Sarjana

Posted by gunawank pada Januari 21, 2012


Kisah hidupku ini sengaja aku ceriterakan di sini, tapi bukan untuk riya apalagi untuk membanggakan diri, melainkan benar-benar tahaduts bin ni’mah….barangkali bermanfaat dan dapat diambil manfaatnya, khususnya bagi murid-muridku (lebih khusus lagi buat murid-muridku, maaf...yang berasal dari keluarga yang kurang mampu).

Entah karena aku merupakan cucu pertama atau karena alasan lain, sejak kecil aku diasuh dan tinggal bersama kakek-nenekku. Saat itu, kakekku berprofesi sebagai aparat desa, sementara nenekku berjualan kain dan macam-macam pakaian jadi dengan menggendong dagangan berkeliling kampung setiap hari, bahkan tidak jarang sampai ke kampung tetangga. Kegiatan berdagang ini beliau lakukan sampai menjelang wafatnya (Allahummaghfir warhamhumma….Semoga Allah mengampuni dosa-dosa keduanya. Amin).

Karena kesibukannya berdagang pakaian, pagi-pagi buta setelah shalat Shubuh beliau langsung ke dapur menanak nasi. Oleh karena itu, setiap pagi aku terbiasa sarapan (makan) nasi sampai sekarang. Setelah itu, aku pergi ke sekolah dan tidak kemudian nenekkupun pergi berdagang berkeliling kampung. Dan akibat kebiasaan sarapan nasi setiap pagi, aku tidak terbiasa jajan di sekolah. Uang bekal sekolah sebesar Rp. 10 – Rp. 15 setiap hari masuk ke dalam tabunganku berupa palang bambu penahan dinding yang terbuat dari anyaman bambu pula (gedek).

Pulang sekolah, di rumah biasanya tidak ada orang (karena nenekku baru pulang menjelang bahkan saat maghrib tiba). Seringkali (bahkan hampir setiap hari), bukan hanya orang yang tidak ada di rumah tetapi lauk teman nasipun sering tidak kujumpai, yang ada hanya nasi putih (yang tentunya sudah setengah aron) dan kalau beruntung masih ada sisa sambal di cobek.

Kusendok nasi ke dalam piring dan kutumpahkan sambal di atas nasi. lalu agar ada kuahnya, kutuang air termos ke dalam piring lain yang kosong lalu dikasih garam dan vetsin (penyedap masakan) secukupnya, kemudian kuah sayur bohong tersebut dituang ke sambal yang bertengger di atas nasi. Maka jadilah menu “Nasi + kuah sambal”, dan………mak nyus, akupun makan siang dengan lahapnya.

Itu kalau masih ada tersisa sambal di dalam cobek, kalau ternyata tinggal cobeknya alias habis ludes sambalnya, maka aku biasanya pergi ke kebun belakang rumah untuk mencari tanaman cabe rawit yang biasanya tumbuh di sana. Tujuannya….tiada lain ya membuat sambal sendiri (Oleh karena itu dikeluargaku sekarang aku yang paling jago nyambel. Anak, isteri bahkan anggota keluarga yang lain tidak jarang minta dibuatkan sambal olehku. Maaf rahasia pribadi, jangan dibilangin siapa-siapa !).

Tidak sampai disitu penderitaan, eh….kesibukanku. Menjelang jam 3 sore akupun harus menanak nasi (Sunda = nyeupankeun sangu, yaitu menanak nasi aron dengan menggunakan kukusan yang diletakkan di mulut dandang). Bahan bakarnyapun tidak jarang harus aku kumpulkan dari ranting-ranting pohon di belakang rumah. Maka jadilah aku seorang jago masak (khusus untuk konsumsi keluarga, he…he…heee…….!).

Hikmahnya, karena tugas harianku yang cukup padat (selain menghangatkan nasi aku juga terbisa nyuci piring, pakain bahkan menjelang maghrib harus mengisi lampu-lampu minyak tanah dan menyalakannya) pada malam hari sepulang belajar mengaji di masjid, aku terbiasa ngapalkeun pelajaran sekolah setiap malam (tanpa di suruh-suruh orangtua, lho !). Hasilnya….alhamdulillah aku selalu menjadi “Bintang Pelajar” (sebutan bagi peraih ranking 1 pada waktu itu) di SD-ku. Begitupun ketika aku di SMP maupun di SMA, walaupun tidak selalau ranking 1. Dan….. alhamdulillah aku tercatat sebagai orang yang pertama meraih gelar S1 di kampungku. Diantaranya berkat KUAH SAMBAL dan tentunya rajin belajar !

Satu Tanggapan to “Otak Sambelpun Bisa Jadi Sarjana”

  1. […] ini serta tulisan yang berjudul Otak Sambelpun Bisa Jadi Sarjana bukan bermaksud untuk membanggakan diri alias untuk kesombongan (karena tidak ada yang patut […]

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: