Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Empat Macam Ujian Keimanan

Posted by gunawank pada Januari 25, 2012


Ujian yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah berbeda-beda dan bermacam-macam bentuknya, sesuai dengan kadar keimanannya. Namun, setidak-nya ada empat macam ujian yang telah dialami oleh orang-orang terdahulu:

Pertama: Ujian yang berbentuk perintah untuk dilaksanakan, seperti perintah Allah kepada Nabi Ibrahim As untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Ini adalah satu perintah yang betul-betul berat dan mungkin tidak masuk akal, bagaimana seorang bapak harus menyembelih anaknya yang sangat dicintai, padahal anaknya itu tidak melakukan kesalahan apapun. Namun dengan segala ketabahan dan kesabaran keduanya, perintah yang sangat berat itupun dijalankannya tanpa keraguan sedikitpun. Di sini terlihat bagaimana kualitas keimanan Nabi Ibrahim As dan putranya Nabi Ismail As yang benar-benar sudah tahan uji.

Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan puteranya adalah pelajaran yang sangat berharga dan sangat perlu ditauladani, karena sebagaimana dirasakan dalam kehidupan ini, banyak sekali perintah Allah yang dianggap berat, dan dengan berbagai alasan berusaha untuk tidak melaksanakannya. Padahal apabila dibandingkan dengan ujian yang diterima Nabi Ibrahim As, belumlah seberapa.

Kedua: Ujian yang berbentuk larangan untuk ditinggalkan, seperti halnya yang terjadi pada Nabi Yusuf As, yang diuji dengan seorang perempuan cantik, istri seorang pembesar Mesir yang mengajaknya berzina, dan kesempatan itu sudah sangat terbuka, ketika keduanya sudah tinggal berdua di rumah dan si perempuan itu telah mengunci seluruh pintu rumah. Namun Nabi Yusuf As berhasil meloloskan diri dari godaan perempuan itu, padahal sebagaimana pemuda umumnya ia mempunyai hasrat kepada wanita. Ini artinya ia telah lulus dari ujian atas imannya.

Sikap Nabi Yusuf As ini diteladani, terutama oleh para pemuda Muslim di zaman sekarang, di saat pintu-pintu kemaksiatan terbuka lebar, pelacuran merebak di mana-mana, minuman keras dan obat-obat terlarang sudah merambah ke berbagai lapisan masyarakat, bahkan sampai kepada anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Perzinahan seakan sudah menjadi barang biasa bagi para pemuda, bahkan menurut sebuah penelitian, di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya enam dari sepuluh remaja putri sudah tidak perawan lagi. Akibatnya setiap tahun sekitar dua juta bayi dibunuh dengan cara aborsi, atau dibunuh oleh ibu kandungnya sendiri, beberapa saat setelah si bayi lahir. Naudzubillah tsumma naudzubillah…Keadaan seperti ini diperparah lagi dengan semakin banyaknya media cetak yang berlomba-lomba memamerkan aurat wanita, juga media elektronik dengan acara-acara yang sengaja dirancang untuk membangkitkan gairah seksual para remaja. Pada saat seperti inilah sikap Nabi Yusuf As perlu ditanamkan dalam dada para pemuda Muslim, agar selalu siap siaga menghadapi godaan demi godaan yang akan menjerumuskan dirinya ke jurang kemaksiatan. Rasulullah Saw telah menjanjikan kepada siapa saja yang menolak ajakan untuk berbuat maksiat, ia akan diberi perlindungan di hari Kiamat nanti sebagaimana sabdanya:

“Tujuh (orang yang akan dilindungi Allah dalam lindungan-Nya pada hari yang tidak ada perlindungan selain perlindunganNya, .. dan seorang laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan terhormat dan cantik, lalu ia berkata aku takut kepada Allah…” (HR. Al-Bukhari Muslim, Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari cet. Daar Ar-Rayyan, juz 3 hal. 344 dan Shahih Muslim dengan Syarh An-Nawawi cet. Dar Ar-Rayaan, juz 7 hal. 120-121).

Ketiga: Ujian yang berbentuk musibah seperti terkena penyakit, ditinggalkan orang yang dicintai dan sebagainya, seperti yang dialami Nabi Ayyub As yang diuji oleh Allah dengan penyakit yang sangat buruk, seluruh hartanya habis tidak tersisa sedikitpun, bahkan seluruh kerabat meninggalkannya, selain isterinya yang setia menemaninya dan mencarikan nafkah untuknya. Musibah ini berjalan selama delapan belas tahun, namun beliau terima dengan tabah dan kesabaran, sampai akhirnya pada masa yang sangat sulit beliau berdo’a kepada Allah Swt. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran:

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayuub ketika ia menyeru Tuhan-nya;” Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4 hal. 51).

Atas ketabahan dan kesabarannya itu, Allah memerintahkan Nabi Ayyub As untuk menghantamkan kakinya ke tanah, kemudian keluarlah mata air dan Allah menyuruhnya untuk meminum dari air itu, maka hilanglah seluruh penyakit yang ada di bagian dalam dan luar tubuhnya. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4 hal. 52).

Begitulah ujian Allah kepada Nabi-Nya, untuk membuktikan ketangguhan imannya, tidak sedikitpun ia merasa menderita dan tidak terbetik pada dirinya untuk menanggalkan imannya. Iman seperti ini jelas tidak dimiliki oleh banyak saudara kita yang tega menjual iman dan menukar aqidahnya dengan sekantong beras dan sebungkus sarimi, karena tidak tahan menghadapi kesulitan hidup yang mungkin tidak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang dialami oleh Nabi Ayyub As ini.

Keempat: Ujian lewat tangan orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak menyenangi Islam. Seperti yang dialami oleh Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya terutama ketika masih berada di Mekkah. Di antaranya apa yang dialami oleh Rasulullah Saw di akhir tahun ketujuh kenabiannya, ketika orang-orang Quraisy bersepakat untuk memutuskan hubungan apapun dengan Rasulullah Saw beserta Bani Abdul Muththolib dan Bani Hasyim yang melindunginya, kecuali jika kedua suku itu bersedia menyerahkan Rasulullah Saw untuk dibunuh. Rasulullah Saw bersama orang-orang yang membelanya terkurung selama tiga tahun, mereka mengalami kelaparan dan penderitaan yang hebat. Namun mereka tetap tegar dalam iman mereka.

Juga apa yang dialami oleh para shahabat r.a. tidak kalah beratnya, seperti apa yang dialami oleh Yasir dan istrinya Sumayyah, dua orang pertama yang meninggal di jalan dakwah selama periode Mekkah. Juga Bilal Ibnu Rabah r.a. yang dipaksa memakai baju besi, kemudian dijemur di padang pasir di bawah sengatan matahari, lalu diarak oleh anak-anak kecil mengelilingi kota Mekkah dan Bilal r.a. hanya mengucapkan “Ahad, Ahad” (DR. Akram Dhiya Al-Umari, As-Siroh An-Nabawiyyah Ash-Shahihah, Juz 1 hal. 154-155).

Dan masih banyak lagi kisah-kisah lain yang menunjukkan betapa pengorbanan dan penderitaan mereka dalam perjuangan mempertahankan iman mereka. Namun penderitaan itu tidak sedikit pun mengendorkan kekuatan iman mereka.

Artikel Terkait:

14 Tanggapan to “Empat Macam Ujian Keimanan”

  1. […] Empat Macam Ujian Keimanan […]

  2. saat kita mendapati ujian, itu berarti Allah sedang ingin menaikkan tingkat keimanan kita.. itu yang saya tahu mas.. :)

  3. Subhanallah…
    mantap sekali kawan tulisannya…

  4. Terimakasih atas pencerahannya Kang.
    Salam persahabatan selalu.

    • gunawank said

      Alhamdulillah….
      Ternyata kang Irfan juga aktif dalam kegiatan yang sungguh mulia.
      Sukses selalu. Semoga senantiasa dalam bimbingan dan lindungan Allah SWT. Amin.

  5. Abed Saragih said

    Sungguh luar biasa manfaatnya mas :)

  6. uyayan said

    tulisan yang sangat bemamfaat.. mengajak kita untuk lebih bisa menerima dengan ikhlas segala bentuk ujian yang Tuhan berikan..
    salam dari kota hujan..

  7. […] Empat Macam Ujian Keimanan […]

  8. “sudah terujikah iman kita…..?” siraman rohani yang luar biasa berharga bagi para pembaca.khususnya bagi saya pribadi

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: