Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Pupuh Kinanti Gubahanku; Sebuah Pengalaman

Posted by gunawank pada Januari 29, 2012


Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, salah satu mata pelajaran pavoritku adalah kesenian, khususnya kesenian daerah Sunda. Mungkin karena aku dilahirkan di daerah Sunda dan leluhur dari kedua orangtuaku asli suku Sunda, sehingga hampir semua kesenian dan lagu-lagu Sunda khususnya yang klasik aku senagi, termasuk pupuh Sunda.

Sampai sekarang aku masih hapal, setidaknya nama-nama 17 macam pupuh dalam budaya Sunda yaitu (maaf kalau ada yang salah tolong dikoreksi, maklum sudah hampir 40 tahun) Dangdanggula, Sinom, Asmarandana, Kinanti, Durma, Pangkur, Mijil, Pucung, Maskumambang, Magatru, Wirangrong, Balakbak, Ladrang, Gambuh, Gurisa, Lambang dan Jurudemung yang untuk menghapalnya aku ringkas menjadi kalimat : DaSi AKi DurPaMiCung MasMaWira BaLaGam GuLaJur.

Suatu kenanagan yang sulit dilupakan adalah ketika di kelas 3 SD ada tugas membuat salah satu pupuh dari ketujuh belas macam pupuh di atas. Pilihanku waktu itu jatuh pada pupuh Kinanti, karena disamping pupuh ini yang pertama kali diajarkan oleh Bapak Guru juga paling aku kuasai aturan-aturan penyusunannya.

Sebagaimana diketahui bahawa pupuh merupakan dangding atau lagu dari Sastra lama alias tradisional yang terikat pada aturan-aturan tertentu yang terdiri dari jumlah padalisan (baris), guru wilangan atau jumlah engang (suku kata) pada setiap padalisan (baris), serta guru lagu atau suara huruf vokal: a-i-u-e-o pada akhir padalisan.

Untuk Pupuh Kinanti dalam satu pada (bait) terdiri dari 6 padalisan (baris) dengan komposisi atau rumus sebagai berikut:

  • Baris 1 : 8 engang dengan guru lagu “u” atau dengan rumus : 8-u
  • Baris 2 : 8 engang dengan guru lagu “i” atau dengan rumus :  8-i
  • Baris 3 : 8 engang dengan guru lagu “a” atau dengan rumus : 8-a
  • Baris 4 : 8 engang dengan guru lagu “i” atau dengan rumus :  8-i
  • Baris 5 : 8 engang dengan guru lagu “a” atau dengan rumus : 8-a
  • Baris 6 : 8 engang dengan guru lagu “i” atau dengan rumus :  8-i

Berdasarkan patokan di atas akupun mencoba membuat pupuh Kinanti. Inilah Pupuh Kinanti yang kubuat saat kelas 3 SD:

Entog, soang, oray kadut
Barisa ngojay di cai
Oray kadut mah ngaliang
kanyahoan budak leutik
tuluy ditimbug ku bata
bari lumpat ni ngabecir

Untuk mengecek kebenaran pupuh di atas apakah sudah sesuai dengan patokannya, inilah perinciannya:

En-tog-so-ang-o-ray-ka-dut ……… (8 suku kata dengan huruf vokal akhir “u” atau 8-u)
Ba-ri-sa-ngo-jay-di-ca-i ……………. (8 suku kata dengan huruf vokal akhir “i” atau 8-i)
O-ray-ka-dut-mah-nga-li-ang …… (8 suku kata dengan huruf vokal akhir “a” atau 8-a)
ka-nya-ho-an-bu-dak-leu-tik ……. (8 suku kata dengan huruf vokal akhir “i” atau 8-i)
tu-luy-di-tim-bug-ku-ba-ta ………. (8 suku kata dengan huruf vokal akhir “a” atau 8-a)
ba-ri-lum-pat-ni-nga-be-cir ……… (8 suku kata dengan huruf vokal akhir “i” atau 8-i)

Bagi yang ingin mendengarkan pupuh Sunda silakan download (Gratis) pada link di bawah ini:

4 Tanggapan to “Pupuh Kinanti Gubahanku; Sebuah Pengalaman”

  1. uyayan said

    salut kang gun..walau sudah 40th tapi masih bisa mengingatnya, sekaligus menghapalnya…kalau saya yang ingat hanya beberapa saja..

    • gunawank said

      Alhamdulillah……….!
      Teknik menghafal seperti itu aku dapatkan dari pelajaran Tajwid dalam menghafal huruf idzhar, idgham, ihfa’.
      Makasih kang silaturahimnya.

  2. sisableng said

    Ijin pake pupuh akang buat tugas, boleh kang?

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: