Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Beriman Kepada Takdir

Posted by gunawank pada Januari 31, 2012


Beriman kepada Takdir atau Qadha dan Qadar artinya meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini yang baik maupun yang buru telah ditentukan oleh Allah SWT sebelum terjadi.

Akan tetapi manusia wajib berikhtiar dan berusaha, jangan hanya menyerah dan bersandar kepada takdir, sehingga manusia tidak memiliki kemampuan berkehendak dan kemauan berbuat sesuatu.

Misal, ketika ditakdirkan untuk sakit manusia harus berikhtiar mencari kesembuhan dengan cara berobat ke dokter dan berdo’a memohon kesembuhan kepada Allah. Jangan menyerah begitu saja, apalagi berputus asa. Karena pada hakikatnya kita tidak mengetahui apakah sakit kita akan sembuh atau tidak. Oleh karena itu untuk menjawabnya lakukanlah ikhtiar.

Tetapi juga jangan berlebihan dalam menilai kekuatan kehendak manusia sehingga melupakan kuasa dan takdir Allah. Berusahalah sekuat tenaga dan kemampuan, tetapi serahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA dalam bukunya “Riyadhul Mu’min, Lima Puluh Hadits Shahih Membahas Akidah, Syariah dan Akhlak” membagi Qadar atau takdir Allah menjadi empat macam tingkatan, yaitu:

  1. Takdir dalam ilmu Allah, misalnya bahwa manusia diciptakan dengan memiliki dua potensi untuk mengikuti petunjuk atau potensi untuk mengingkari petunjuk Tuhan. Potensi untuk beriman dan potensi untuk bersifat kafir.
  2. Takdir di Lauh al-Mahfudz, yaitu rancangan Tuhan yang sudah disiapkan untuk diterapkan dan diberlakukan kepada makhluk, yang dihimpun dalam Lauh al-Mahfudz.
  3. Takdir dalam rahim, yaitu ketika embrio masih berada dalam kandungan ibunya, Malaikat diutus oleh Allah SWT untuk mengagendakan rancangan dari ketentuan rizki, amal, dan ajal bagi bayi tersebut.
  4. Penetapak takdir pada waktunya. Allah SWT berkuasa merancang ketentuan baik dan buruk, bahagia dan celaka bagi seseorang dalam alam qidam-Nya. Kemudian rancangan ketentuan itu akan diterapkan pada makhluk pada waktunya yang telah ditentukan menurut sunnatullah.

Semua ketentuan Allah bersifat tetap, tidak berubah kecuali bila Alah sendiri menghendaki perubahan. Bukankah pada hakikatnya kehendak Allah untuk merubah apa yang telah ditetapkan-Nya juga merupakan ketetapan atau takdir-Nya juga?

Allah Maha Berkuasa untuk memastikan atau merubah takdir-Nya, karena Dia-lah yang Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Pencipta, Maha Berkehendak dan Maha Pengatur bagi semua makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauhul Mahfuzh)” (QS. Ar-Ra’d: 13).

Oleh karena itu berusaha dan berdo’a adalah keharusan ketika mendapat ketentuan Allah, atau ketika kita menghendaki agar ketentuan Allah yang baik yang ditetapkan kepada kita. Dalam konteks ini dapatlah dipahami hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa do’a dapat merubah takdir Allah (seperti do’a meminta panjang umur, murah rezeki dan lain-lain). Juga hadits yang menyatakan bahwa banyak silaturahim akan memudahkan rizki dan panjang umur.

Dalam kaitan ini Umar bin Khathab r.a. diriwayatkan pernah berdo’a untuk mengharapkan perubahan-perubahan suratan takdir yang telah ditetapkan padanya. Beliau berdo’a (yang artinya):

“Ya Allah, bila Kau tetapkan aku ini menjadi seorang yang celaka, maka hapuskanlah, dan tulislah aku sebagai orang yang bahagia” (HR. Thabrani).

Wallaahu A’lam…

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: