Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Aku Bangga Jadi Orang Yang Beda

Posted by gunawank pada Maret 31, 2012


Alhamdulillah, aku patut bersyukur karena dilahirkan dalam keluarga petani kecil, di tengah-tengah masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidupnya hanya dari hasil pertanian padi sawah dengan pengelolaan yang masih tradisional. Di pagi kami harus sudah menggiring kerbau untuk membajak sawah. Menjelang tengah hari hingga sore, aku dan kawan-kawan bersama-sama menggembalakan hewan sahabat petani tersebut.

Kalau ingin makan dengan ikan, kami harus mencarinya di sawah atau di sungai, demikian pula dengan bahan sayuran. Sementara kalau ibu mau masak, aku harus berburu kayu bakar dengan mencari ranting-ranting kering di kebun orang lain yang memang tidak dilarang asalkan tidak merusak pohon. Kesemuanya itu membentuk karakter kepribadian jiwaku menjadi manusia yang kreatif, suka bekerja keras, mandiri dan sederhana.

Di sisi lain, karena tuntutan hidup seperti itu muncullah anggapan dalam masyarakat kami saat itu bahwa untuk bisa hidup maka setiap individu harus mampu dan terampil bekerja di sawah. Tingkat penghargaan masyarakat sangat ditentukan oleh kemampuan seseorang dalam bertani, sementara sekolah hanya dilakukan untuk sekedar bisa membaca dan berhitung. Agar tidak mudah ditipu orang.

Oleh karenanya, bisa lulus dan berhasil memperoleh ijazah sekolah dasar sudah termasuk tinggi dalam menempuh pendidikan, sebab tidak jarang yang harus berhenti sekolah sebelum mencapai kelas enam -terlebih anak perempuan harus rela berhenti sekolah karena akan dinikahkan- apalagi melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Sebab ada anggapan : “Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya macul-macul (baca: mencangkul alias jadi petani) juga.” Bahkan ada semacam kepercayaan bahwa tidak mungkin ada keturunan desa ini yang bisa sekolah tinggi.

Sekali lagi, syukurlah aku ditakdirkan menjadi anak dari ayah dan ibuku yang memiliki pandangan berbeda dengan masyarakat pada umumnya, khususnya soal pendidikan. Aku terus disekolahkan selama aku mau, walaupun karena sikap kemandirian yang tertempa dalam diriku, aku harus mendaftar ke SMP sendiri, begitu pula ketika harus melanjutkan ke SMA bahkan ke perguruan tinggi. Sehingga pada awalnya orangtuaku tidak tahu dimana tempat sekolahku.

Di tengah badai celoteh bahkan tidak jarang mengarah ke cemoohan, dengan tekad ingin menghapus anggapan “tidak mungkin anak kampung ini bisa sekolah tinggi” serta berkat dukungan orangtua dan bimbingan pamanku, alhamdulillah pada tanggal 22 Maret 1988 aku berhasil menyangdang gelar sarjana. Aku bangga menjadi orang yang berbeda dengan umumnya masyarakat kampungku saat itu. Dan akupun bangga bisa menyadarkan mereka bahwa siapapun bisa asal ada kemauan. Dan sekarang, bukan hanya S1 yang lahir dari kampungku, bahkan S2 dan S3 atau mungkin lebih dari itu.

Tulisanku ini serta tulisan yang berjudul Otak Sambelpun Bisa Jadi Sarjana bukan bermaksud untuk membanggakan diri alias untuk kesombongan (karena tidak ada yang patut disombongkan), tetapi justru lewat kedua tulisan tersebut berharap menjadi inspirasi bagi semua putra Indonesia, bahwa dengan kondisi kesederhanaan atau bahkan serba kekurangan tetap ada potensi untuk meraih impian setinggi apapun, jika mau berusaha keras.

2 Tanggapan to “Aku Bangga Jadi Orang Yang Beda”

  1. ayankmira said

    Terima kasih atas inspirasinya yaa… sudah tercatat :)

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: