Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Anak Masjid

Posted by gunawank pada April 15, 2012


Masih ceritera seputar masa kecilku, masa yang bagi semua orang pasti penuh dengan kenangan, penuh dengan kisah-kisah atau kejadian, pengalaman dan sejenisnya yang indah untuk dikenang.

Entah itu berupa kenangan yang baik dan menyenangkan maupun kenangan buruk yang penuh penderitaan atau menyedihkan sekalipun. Kesemuanya itu jika terjadi di masa-masa kecil selalu indah untuk dikenang, selalu menarik untuk dikisahkan dan tidak mengenal kata bosan untuk diceriterakan.

Saat itu, di era tahun tujuh puluhan ke sana (maksudnya tahun 1970), khususnya di kampung tempat kelahiranku, masjid merupakan salah satu atau mungkin satu-satunya tempat yang memiliki fungsi ganda atau bahkan multi guna. Disamping sebagai tempat ibadah/shalat (yang merupakan fungsi utama tentunya), masjid juga berfungsi sebagai tempat belajar/mengaji, belajar silat, bermain (di halamannya), berkumpul dan bersenda gurau, bahkan menjadi tempat tidur/menginap anak-anak yang mengaji.

Pendek kata, hampir seluruh aktivitas anak-anak terjadi dan berlangsung di masjid, selain makan dan sekolah atau permaian yang dilarang dilakukan di masjid. Begitulah potret masjid di kampungku saat itu.

Khusus tentang kebiasaan anak-anak tidur di masjid, aku punya kisah tersendiri dan inilah yang menjadi tema (gayanya kaya makalah seminar aja…!) ceritera kali ini.

Anak-anak ini tidak tidur di lantai masjid, karena waktu itu lantainya hanya terbuat dari pasangan batu bata merah tanpa diplester, bukan lantai keramik seperti sekarang. Mereka tidur di loieng masjid yang sebenarnya disediakan untuk tempat mengaji. Tetapi karena kegiatan mengaji dilakukan setelah shalat Isya, sementara kampung gelap gulita di malam hari karena belum ada penerangan listrik, anak-anakpun tidur di loteng itu, sekaligus biar tidak ketinggalan shalat subuh dan ngaji ba’da subuh.

Karena aku adalah anak (kesayangan nenek), selesai mengaji selalu dijemput oleh nenek dan menjelang adzan shubuh aku baru datang lagi (Sunda: ngurunyung) bersama kakekku. Dan karena setiap pagi selalu “ngurunyung” akupun mendapat julukan “Si Kurunyung” dari teman-teman.

Saking malunya mendapat julukan tersebut (karena konotasinya adalah sebuah ledekan, pelecehan) maka akupun mengajukan protes keras (tapi dengan cara demonstrasi seperti sekarang) meminta dizikan untuk tidur di masjid bersama teman-teman. Alhamdulillah, usulan dikabulkan dan sejak saat itupun aku berganti gelar dari si kurunyung menjadi “Anak Masjid”………..(Untuk sementara tamat dulu, yach…!).

Satu Tanggapan to “Anak Masjid”

  1. […] Anak Masjid […]

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: