Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Seminggu Sekolah…Langsung Jadi Guru

Posted by gunawank pada April 25, 2012


Gambar: Google search

Sebagaimana telah kuceriterakan dalam kisah “Anak Masjid” terdahulu, pendidikan agamaku melalui pendidikan informal di masjid, mulai dari belajar membaca Al-Quran, belajar menulis huruf Arab sampai belajar membaca kitab klasik berbahasa Arab (kitab kuning) pada tingkatan dasar seperti Matann Safinah, Matan Jurumiyah, Matan Bina dan Amtsilatut Tashrifiyah.

Di kampungku saat itu memang hanya ada tempat-tempat mengaji (pendidikan informal) di masjid, mushala atau di rumah-rumah ustadz dan berlangsung malam hari ba’da Maghrib sampai dengan Isya atau sore hari sehabis shalat Ashar sampai menjelang Maghrib.

Ada satu-satunya Sekolah Agama (sekarang MDA/DTA) itupun di kampung tetangga. Aku tidak mau sekolah di sana. Alasanya klasik (anak-anak sekali), takut karena imtihan/kenaikan kelasnya dilakukan malam hari, sebab untuk sampai ke kampung tersebut harus melewati area pekuburan (dasar si penakut !). Jadi hanya sekolah “dapang” (bahasa sunda: ngadapang = posisi tengkurap, tiarap) di masjid yang aku jalani.

Baru ketika aku kelas 4 SD yaitu setelah satu tahu kedatangan pak ustadz Makmun (salah seorang putra kampung yang telah mondok beberapa tahun di beberapa pesantren) dan mukim di kampungku, dirintislah pendirian Sekolah Agama yang pada awalnya dilaksanakan di masjid pula dengan cara “ngadapang” karena tidak menggunakan bangku maupun meja tulis dan untuk papan tulisnya cukup mengecat hitam dinding masjid.

Karena jumlah murid cukup banyak dengan berbagai tingkatan kemampuan, maka pada awal pembukaan sekolah ini murid-murid dikelompokkan ke dalam 3 kelas, yaitu kelas 0 untuk kelompok anak pemula yang baru belajar huruf, kelas 1 dan kelas 2. Aku dan kawan-kawan sepengajianku masuk di kelas 2.

Untuk kelancaran proses belajar mengajar, pak ustadz Makmun dibantu oleh seorang ustad dari kampung lain yang merupakan temannya ketika di pesantren, namanya pak ustadz Oyo (maaf aku sudah lupa nama lengkapnya dan sekarang beliau sudah meninggal, Allahumaghfirlahu warhamhu).

Dari hari ke hari sejak sekolah dinyatakan dibuka, murid terus bertambah dan pak ustadz makmunpun kelihatannya keteter karena harus mengajar dua kelas, kelas 0 dan kelas 2. Maka setelah seminggu berjalan beliaupun memintaku untuk membantunya mengajar kelas 0 dengan tetap mempunyai hak untuk mengikuti pelajaran di kelas 2. Ya jadi guru sekaligus menjadi murid, begitulah kira-kira statusku saat itu.

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: