Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Pelajaran Dari Ramadhan

Posted by gunawank pada Agustus 19, 2012


images

Suatu kali  Rasulullah saw melaksanakan shalat idul Fitri  lebih siang dari biasanya,  bukan karena beliau lupa,  apalagi tertidur setelah shalat subuh. Beliau terlambat datang  ke tempat berkumpulnya jama’ah shalat Ied  karena beberapa saat menjelang keberangkatannya,  di perjalanan beliau mendapati seorang anak  yang bermurung durja di tengah teman-temannya yang lagi asyik bermain – dan bersuka cita.

Mendapati situasi seperti itu beliau menghampiri anak tersebut, lalu didekapnya dan dielus-elus kepalanya. Setelah cukup mendapatkan kehangatan,  beliau lalu bertanya:  “Wahai anakku, mengapa kamu bersedih hati di saat teman-temanmu bersuka ria?  Di mana rumahmu? Siapa orangtuamu?”.  Dengan mata nanar  anak kecil itu menjawab: “Ayahku telah lama meninggal dalam suatu peperangan membela agama Islam,  sedang ibuku menikah lagi dengan lelaki lain dan tak lagi menghiraukanku”.

Rasulullah saw mendekap lebih hangat lagi, lalu bertanya:  “Maukah engkau menjadikan aku sebagai ayahmu,  ‘Aisyah sebagai ibumu, – Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husen sebagai saudaramu, serta Fatimah sebagai saudara perempuanmu?”. Beliau lalu membimbing anak itu ke rumahnya, dan meminta agar ‘Aisyah memandikannya, membersihkan kotorannya, dan memberinya pakaian terbaik yang dimilikinya. Sehingga anak kecil yang berpakaian dekil dan berwajah muram itu seketika berubah penampilannya.  Ia kini kelihatan bersih  dengan rambut yang tersisir rapih. Pakainnya bagus dan wajahnya berubah menjadi ceria. Ia keluar dari rumah Rasulullah saw  sambil berteriak-teriak kepada teman-temannya,  “Akulah anak yang hari ini paling bahagia.  Muhammad Saw telah menjadi ayahku,  ‘Aisyah menjadi ibuku,  Ali sebagai pamanku, Hasan dan Husen sebagai saudaraku, serta Fatimah sebagai saudara perempuanku…!“.  Sungguh tak terkira bahagianya anak itu.  Kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Di hari idul fitri seperti ini  seharusnya tak seorangpun bersedih hati. Semua gembira  Semua bahagia.  Terebih-lebih anak kecil,  mestinya mereka semua bersuka cita. Tapi, apa yang kita lihat di pagi yang fitri ini, berapa banyak kita dapati  anak-anak kecil berada di perempatan jalan, di lampu merah,  sedang menadahkan tangan meminta-minta? Sebentar lagi mereka akan datang ke tempat-tempat shalat ied,  bersama ayah dan ibunya, bukan untuk shalat melainkan untuk berebut memungut  koran-koran bekas alas shalat.  Mereka tidak sendiri,  bukan satu atau dua. Mereka itu puluhan, ratusan, ribuan,  bahkan entah berapa jumlahnya.

Kalau satu anak yatim saja  dapat menghentikan langkah Rasulullah saw  menuju tempat shalat idul fitri,  lalu mengapa  puluhan dan ratusan anak  yang mengalami nasib yang sama  tidak mampu menggerakkan hati kita untuk peduli, menyantuni, dan membahagiakan mereka?

Apa yang kita pikirkan  ketika membelikan baju baru untuk anak-ank kita? Apa yang ada dalam pikiran kita  ketika menghadapi aneka makanan lezat tersaji di meja makan kita? Apa yang ada dalam pikiran kita ketika kita bersama-sama keluarga melangkah bahagia menuju tempat shalat ied? Tidakkah terlintas dalam benak kita  sekelebat bayangan fakir miskin  yang hingga hari ini belum berbuka? Berapa banyak saudara-saudara kita  yang terpaksa merayakan idul fitri di tenda-tenda darurat tanpa makanan, setelah rumahnya dihancurkan oleh bencana alam? Mereka adalah orang-orang miskin baru yang jumlahnya puluhan ribu.

Rasulullah Saw bersabda:

”Sesungguhnya kalian mendapat pertolongan dan memperoleh rizki karena adanya orang-orang lemah di antara kalian.” (Al-Hadis)

Itulah pelajaran pertama yang harus kita ambil dari hikmah kita berpuasa di bulan Ramadlan,  yaitu harus memiliki kepedulian sosial. Kepedulian terhadap fakir miskin. Peduli terhadap pendidikan anak-anak yatim  dan anak-anak dari keluarga tidak mampu.

Islam adalah agama atau satu satunya agama yang paling banyak mengingatkan ummatnya  tentang fuqara dan masakin.  Bahkan, orang-orang yang tidak peduli kepada mereka  tegas-tegas disebutnya sebagai orang yang mendustaan agama.  Allah berfirman:

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, (yaitu) Orang-orang yang berbuat riya  dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.” (QS.Al-Maaun: 1-7).

Wallaahu a’lam.

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: