Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Biografi Lengkap Capres 2014 (I); Joko Widodo Alias Jokowi

Posted by gunawank pada Mei 26, 2014


 

 

Nama : H. Joko Widodo (Jokowi)
Nama kecil : Mulyono
Tempat/tanggal lahir : Surakarta, 21 Juni 1961
Agama : Islam
Ayah : Noto Mihardjo
Ibu : Sujiatmi Notomihardjo
Isteri : Iriana

 Anak                               :   

  1. Gibran Rakabuming (25), lulusan Universitas di Australia dan Singapura
  2. Kahiyang Ayu (21), mahasiswi Universitas Negeri Sebelas Maret
  3. Kaesang Pangarep (17), pelajar di Singapura

Pendidikan:

  • SDN 111 Tirtoyoso, Solo
  • SMPN 1 Solo
  • SMAN 6 Solo
  • Fakultas Kehutanan UGM (lulus tahun 1985)

Karir:

  • Pendiri Koperasi Pengembangan Industri Kecil Solo (1990)
  • Ketua Bidang Pertambangan & Energi Kamar Dagang dan Industri Surakarta (1992-1996)
  • Ketua Asosiasi Permebelan dan Industri Kerajinan Indonesia Surakarta (2002-2007)

Penghargaan: :
Penghargaan Personal

  • 10 Tokoh di Tahun 2008 oleh Majalah Tempo
  • Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS) Award
  • Menjadi walikota terbaik tahun 2009
  • Bung Hatta Anticorruption Award (2010)
  • Charta Politica Award (2011)
  • Wali Kota teladan dari Kementerian Dalam Negeri (2011)

Kota Solo di Masa Kepemimpinan Jokowi:

  • Kota dengan Tata Ruang Terbaik ke-2 di Indonesia
  • Penghargaan Unicef untuk Program Perlindungan Anak (2006)
  • 5 kali Anugerah Wahana Tata Nugraha (2006-2011) – Penghargaan Tata Tertib Lalu Lintas dan Angkutan Umum
  • Piala dan Piagam Citra Bhakti Abdi Negara dari Presiden Republik Indonesia (2009), untuk kinerja kota dalam penyediaan sarana Pelayanan Publik, Kebijakan Deregulasi, Penegakan Disiplin dan Pengembangan Manajemen Pelayanan
  • Piala Citra Bidang Pelayanan Prima Tingkat Nasional oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia (2009)
  • Penghargaan dari Departemen Keuangan berupa dana hibah sebesar 19,2 miliar untuk pelaksanaan pengelolaan keuangan yang baik (2009)
  • Indonesia Tourism Award 2009 dalam Kategori Indonesia Best Destination dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RIbekerjasama dengan majalah SWA.
  • Grand Award Layanan Publik Bidang Pendidikan (2009)
  • Penghargaan Manggala Karya Bhakti Husada Arutala dari DepKes (2009)
  • Penghargaan Kota Solo sebagai inkubator bisnis dan teknologi (2010) dari Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI)
  • Kota Terfavorit Wisatawan 2010 dalam Indonesia Tourism Award 2010 yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
  • Penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam bidang Pelopor Inovasi Pelayanan Prima (2010).
  • Penghargaan dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai salah satu kota terbaik penyelenggara program pengembangan mewujudkan Kota Layak Anak (KLA) 2011.
  • Penghargaan Langit Biru 2011 dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk kategori Kota dengan kualitas udara terbersih
  • Pemerintah Kota Solo meraih penghargaan kota/kabupaten pengembang UMKM terbaik versi Universitas Negeri Sebelas Maret alias UNS SME’s Awards 2012
  • Kota Pro-Investasi dari Badan Penanaman Modal Daerah Jawa Tengah
  • Kota Layak Anak dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan
  • Wahana Nugraha dari Departemen Perhubungan
  • Sanitasi dan Penataan Permukiman Kumuh dari Departemen Pekerjaan Umum

Joko Widodo lahir dari pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi Notomiharjo. Sebelum berganti nama, Joko Widodo memiliki nama kecil Mulyono. Pendidikannya diawali dengan masuk SD Negeri 111 Tirtoyoso yang dikenal sebagai sekolah untuk kalangan menengah ke bawah. Di mata guru SD-nya, Sutarti Wardojo, ia telah memiliki jiwa kepemimpinan semenjak SD.

Dengan kesulitan hidup yang dialami, ia terpaksa berdagang, mengojek payung, dan jadi kuli panggul untuk mencari sendiri keperluan sekolah dan uang jajan. Saat anak-anak lain ke sekolah dengan sepeda, ia memilih untuk tetap berjalan kaki.

Mewarisi keahlian bertukang kayu dari ayahnya, ia mulai pekerjaan menggergaji di umur 12 tahun. Penggusuran yang dialaminya sebanyak tiga kali di masa kecil memengaruhi cara berpikirnya dan kepemimpinannya kelak setelah menjadi Wali Kota Surakarta saat harus menertibkan permukiman warga.

Setelah lulus SD, ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Surakarta. Ketika ia lulus SMP, ia sempat ingin masuk ke SMA Negeri 1 Surakarta, namun gagal sehingga pada akhirnya ia masuk ke SMA Negeri 6 Surakarta. Jokowi meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985.

Ketika mencalonkan diri sebagai Walikota Solo, banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini; bahkan hingga saat ia terpilih. Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan olehnya. Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya.

Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui moto “Solo: The Spirit of Java“. Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat.

Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006.

Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran. Berkat prestasi tersebut, Jokowi terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008″ oleh Majalah Tempo.

Dan berkat keberhasilannya itulah Jokowi terpilih menjadi Walikota Solo selama dua periode (2005-2015) dengan meraih kemenangan mutlak pada saat pemilihan wali kota periode kedua.

Nama Jokowi tidak hanya populer karena perannya dan keberaniannya dalam mempromosikan Mobil ESEMKA, tapi kepribadiannya juga disukai masyarakat. Setidaknya, ketika pergi ke pasar-pasar, para pedagang beramai-ramai memanggilnya, atau paling tidak berbisik pada orang sebelahnya, “Eh..itu Pak Joko.”

Pada tahun 2012 Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta dan memenangkan Pilkada DKI Jakarta melalui proses pemilukada yang berlangsung dua putaran. Pada 15 Oktober 2012, Jokowi dilantik sebagai Gunernur DKI Jakarta. Banyak pihak optimis dengan kinerja Jokowi dan wakilnya Ahok untuk memperbaiki kota Jakarta yang semerawut.

Asal Nama Julukan Jokowi

“Jokowi itu pemberian nama dari buyer saya dari Prancis,” begitu kata Wali Kota Solo, Joko Widodo, saat ditanya dari mana muncul nama Jokowi. Kata dia, begitu banyak nama dengan nama depan Joko yang jadi eksportir mebel kayu. Pembeli dari luar bingung untuk membedakan, Joko yang ini apa Joko yang itu. Makanya, dia terus diberi nama khusus, ‘Jokowi’. Panggilan itu kemudian melekat sampai sekarang. Di kartu nama yang dia berikan tertulis, Jokowi, Wali Kota Solo. Belakangan dia mengecek, di Solo yang namanya persis Joko Widodo ada 16 orang.

Bagaimana ceritanya sehingga dia bisa dicintai masyarakat Solo? Kebijakan apa saja yang telah membuat rakyatnya senang? Mengapa pula dia harus menginjak pegawainya? Berikut wawancara wartawan Republika, Ditto Pappilanda, dengan Jokowi dalam kebersamaannya sepanjang setengah hari di seputaran Solo.

Sikap apa yang Anda bawa dalam menjalankan karier sebagai birokrat?

Secara prinsip, saya hanya bekerja untuk rakyat. Hanya itu, simpel. Saya enggak berpikir macam-macam, wong enggak bisa apa-apa. Mau dinilai tidak baik, silakan, mau dinilai baik, ya silakan. Saya kan tugasnya hanya bekerja. Enggak ada kemauan macam-macam. Enggak punya target apa-apa. Bekerja. Begitu saja.

Bener, saya tidak muluk-muluk dan sebenarnya yang kita jalankan pun semua orang bisa ngerjain. Hanya, mau enggak. Punya niat enggak. Itu saja. Enggak usah tinggi-tinggi. Sederhana sekali.

Contoh, lima tahun yang lalu, pelayanan KTP kita di kecamatan semrawut. KTP bisa dua minggu, bisa tiga minggu selesai. Tidak ada waktu yang jelas. Bergantung pada yang meminta, seminggu bisa, dua minggu bisa. Tapi, dengan memperbaiki sistem, apa pun akan bisa berubah. Menyiapkan sistem, kemudian melaksanakan sistem itu, dan kalau ada yang enggak mau melaksanakan sistem, ya, saya injak.

Awalnya reaksi internal bagaimana?

Ya biasa, resistensi setahun di depan, tapi setelah itu, ya, biasa saja. Semuanya kalau sudah biasa, ya semuanya senang. Ya, kita mengerti itu masalah kue, ternyata ya juga bisa dilakukan.

Untuk mengubah sistem proses KTP itu, tiga lurah saya copot, satu camat saya copot. Saat itu, ketika rapat diikuti 51 lurah, ada tiga lurah yang kelihatan tidak niat. Enggak mungkin satu jam, pak, paling tiga hari, kata mereka. Besoknya lurah itu tidak menjabat. Kalau saya, gitu saja. Rapat lima camat lagi, ada satu camat, sulit pak, karena harus entri data. Wah ini sama, lah. Ya, sudah.

Nyatanya, setelah mereka hilang, sistemnya bisa jalan. Seluruh kecamatan sekarang sudah seperti bank. Tidak ada lagi sekat antara masyarakat dan pegawai, terbuka semua. Satu jam juga sudah jadi. Rupiah yang harus dibayar sesuai perda, Rp 5.000.

Anda juga punya pengalaman menarik dalam penanganan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang kemudian banyak menjadi rujukan?

Iya. Sekarang banyak daerah-daerah ke sini, mau mengubah mindset. Oh ternyata penanganan (PKL) bisa tanpa berantem. Memang tidak mudah. Pengalaman kami waktu itu adalah memindahkan PKL di Kecamatan Banjarsari yang sudah dijadikan tempat jualan bahkan juga tempat tinggal selama lebih dari 20 tahun. Kawasan itu sebetulnya kawasan elite, tapi karena menjadi tempat dagang sekaligus tempat tinggal, yang terlihat adalah kekumuhan.

Lima tahun yang lalu, mereka saya undang makan di sini (ruang rapat rumah dinas wali kota). Saya ajak makan siang, saya ajak makan malam. Saya ajak bicara. Sampai 54 kali, saya ajak makan siang, makan malam, seperti ini. Tujuh bulan seperti ini. Akhirnya, mereka mau pindah. Enggak usah di-gebukin.

Mengapa butuh tujuh bulan, mengapa tidak di tiga bulan pertama?

Kita melihat-melihat angin, lah. Kalau Anda lihat, pertama kali mereka saya ajak ke sini, mereka semuanya langsung pasang spanduk. Pokoknya kalau dipindah, akan berjuang sampai titik darah penghabisan, nyiapin bambu runcing. Bahkan, ada yang mengancam membakar balai kota.

Situasi panas itu sampai pertemuan ke berapa?

Masih sampai pertemuan ke-30. Pertemuan 30-50 baru kita berbicara. Mereka butuh apa, mereka ingin apa, mereka khawatir mengenai apa. Dulu, mereka minta sembilan trayek angkot untuk menuju wilayah baru. Kita beri tiga angkutan umum. Jalannya yang sempit, kita perlebar.

Yang sulit itu, mereka meminta jaminan omzet di tempat yang baru sama seperti di tempat yang lama. Wah, bagaimana wali kota disuruh menjamin seperti itu. Jawaban saya, rezeki yang atur di atas, tapi nanti selama empat bulan akan saya iklankan di televisi lokal, di koran lokal, saya pasang spanduk di seluruh penjuru kota. Akhirnya, mereka mau pindah.

Pindahnya mereka saya siapkan 45 truk, saya tunggui dua hari, mereka pindah sendiri-sendiri. Pindahnya mereka dari tempat lama ke tempat baru saya kirab dengan prajurit keraton. Ini yang enggak ada di dunia mana pun. Mereka bawa tumpeng satu per satu sebagai simbol kemakmuran. Artinya, pindahnya senang. Tempat yang lama sudah jadi ruang terbuka hijau kembali.

Omzetnya di tempat yang baru?

Bisa empat kali. Bisa tanya ke sana, jangan tanya saya. Tapi, ya kira-kira ada yang sepuluh kali, ada yang empat kali. Rata-rata empat kali. Ada yang sebulan Rp 300 juta. Itu sudah bukan PKL lagi, geleng-geleng saya.

Bagaimana dengan PKL yang lain?

Setelah yang eks-PKL Banjarsari pindah, tidak sulit meyakinkan yang lain. Cukup pertemuan tiga sampai tujuh kali pertemuan selesai. Sampai saat ini, kita sudah pindahkan 23 titik PKL, tidak ada masalah.

Lha yang repot sekarang ini malah pedagang PKL itu minta direlokasi. Kita yang nggak punya duit. Sampai sekarang ini, masih 38 persen PKL yang belum direlokasi. Jadi, kalau masih melihat PKL di jalan atau trotoar, itu bagian dari 38 persen tadi.

 

Buku Harian Jokowi

Inspirasi Pemimpin Masa depan

Kepemimpinan adalah gabungan unsur-unsur kecerdasan, sifat amanah dapat dipercaya, rasa kemanusiaan, keberanian, serta disiplinHanya ketika seseorang memiliki kelima unsur ini menjadi satu dalam dirinya, masing-masing dalam porsi yang tepat, baru dia layak dan bisa menjadi seorang pemimpin sejati. Kau tidak memimpin dengan cara menindas orang, itu kekerasan namanya, bukan kepemimpinan. Pemimpin harus cukup dekat dengan yang dipimpinnya agar bisa memahami kondisi mereka, tetapi harus cukup jauh juga agar bisa memotivasi mereka.

Jokowi dan Keluarganya Sudah Haji Semua

Posted on Agustus 9, 2012 by Admin

Jokowi naik haji2Ibunda Jokowi, Sujiatmi: saya dan suami saya Muslim dan sudah haji. Begitu pula semua anak2 saya juga sudah haji semua. Kedua orang tua (Kakek Nenek Jokowi) juga Muslim.
Para Ustad yang memfitnah Jokowi dan Keluarganya sebagai Kafir mudah2an sadar. Jika tuduhan tsb tak benar, merekalah yang kafir dan amal mereka sia-sia di akhirat nanti.

Di Vivanews diberitakan Sujiatmi (ibu Jokowi) mengaku jika setiap pagi selalu rutin mengikuti pengajian di masjid dekat rumah.

Jokowi Bukan Anaknya Oei Hong Leong ?

Serangan isu politik terus mendera Jokowi di berbagai media sosial. Salah satunya isu sering mengaitkan capres dari PDIP, Joko Widodo alias Jokowi, dengan nama Oei Hong Leong. Tak jelas dari mana sumber pertama isu ini berasal.  Oei Hong Leong adalah miliuner kelahiran Indonesia yang memiliki kekayaan yang sebagian besar dalam bentuk portofolio obligasi korporasi. Baru-baru ini, Oei meningkatkan investasinya di IPC yang memiliki hotel dan lembaga pendidikan Raffles. Lembaga ini adalah sebuah korporasi yang mengoperasikan sebuah lembaga desain di Singapura dan 33 perguruan tinggi lainnya di Asia Timur dan Asia Tenggara.

Oei Hong Leong sendiri merupakan miliuner kelahiran Indonesia yang memiliki kekayaan yang sebagian besar dalam bentuk portofolio obligasi korporasi. Baru-baru ini, Oei meningkatkan investasinya di IPC yang memiliki hotel dan lembaga pendidikan Raffles. Lembaga ini adalah sebuah korporasi yang mengoperasikan sebuah lembaga desain di Singapura dan 33 perguruan tinggi lainnya di Asia Timur dan Asia Tenggara. Seperti dilansir di Forbes.com, kekayaan Oei Hong saat ini US$745 juta atau Rp8,58 triliun. Dia menjadi orang terkaya ke-32 di Singapura pada tahun lalu. Dia berencana untuk membangun kembali situs tepi laut besar di Vancouver, Kanada. Oei Hong Liong adalah anak dari milioner Indonesia Eka Tjipta Widjaja

Seperti dilansir di Forbes.com, kekayaan Oei Hong saat ini US$745 juta atau Rp8,58 triliun. Dia menjadi orang terkaya ke-32 di Singapura pada tahun lalu. Dia berencana untuk membangun kembali situs tepi laut besar di Vancouver, Kanada. Oei Hong Liong adalah anak dari milioner Indonesia Eka Tjipta Widjaja (pemilik Grup Sinar Mas).

Di jejaring sosial, ramai dibicarakan bahwa capres dari PDIP itu adalah anak dari Oei Hong Leong, termasuk dengan menyebut Jokowi (bin Oei Hong Leong).  Oei yan berkewarganegaraan Singapura kini berusia 66 tahun. Padahal saat ini Jokowi berusia 53 tahun. Jika memang Jokowi adalah anaknya, berarti Oei Hong Leong sudah punya anak sejak umur 13 tahun.  Jokowi umur 53 tahun Oei Hong Leong umur 66 tahun. Jika rumor Jokowi anak Oei Hong Leong benar maka OHL sdh punya anak sejak remaja

Jokowi (paling kiri) dan Tantowi Yahya (paling kanan) (Foto: akun Kompasiana Niken Satyawati)

Jokowi (paling kiri) dan Tantowi Yahya (paling kanan) (Foto: akun Kompasiana Niken Satyawati)

Jokowi tampak berada dalam serombongan orang yang berhaji, termasuk Tantowi Yahya.

JAKARTA, Jaringnews.com – Dugaan dan tuduhan Joko Widodo bukan beragama Islam tampaknya membuat para pendukungnya berusaha keras membuktikan ketidakbenaran itu. Salah satunya dilakukan oleh Niken Satyawati, ibu empat anak yang tinggal di Solo dan kenal sangat dekat dengan Jokowi.

Menurut dia, yang menulis lewat akunnya di Kompasiana dengan judul Akhirnya Foto Jokowi Naik Haji Tahun 2003 Ditemukan, banyak sekali orang awam terpancing dengan isu SARA itu, padahal Niken mengetahui hal itu tidak benar karena ia mengenal mantan Walikota Solo itu dan mengenal beberapa anggota keluarganya.

Akhirnya, ia bertemu dengan dr Rusmawati SpA yang selama ini adalah dokter anak yang dia percayai. Suami Bu Dokter itu, ternyata  punya foto-foto yang disimpan di hard disk, karena kakaknya ikut berangkat ke Mekkah bersama Jokowi. Setelah sempat mengalami kendala karena foto-foto tersebut tidak diketahui keberadaannya, Niken akhirnya mendapat kabar baik.

“Alhamdulillah, saya hari ini mendapat kabar gembira,” tulis Niken lewat akun Kompasiana miliknya hari ini (21/5). Dia mendapat kabar dari Bu Dokter lewat status facebooknya, bahwa Bu Dokter telah menemukan foto-foto Jokowi ketika naik haji (bukan umroh). Keluarga Bu dokter mengobok-obok dokumentasi foto mereka dan akhirnya menemukan foto dimana tampak Jokowi sedang turut dalam rombongan haji. Salah satu diantara rombongan itu adalah Tantowi Yahya (paling kanan dalam foto), anggota DPR dari Partai Golkar. Ada pun Jokowi berada paling kiri sedangkan kakak ipar Bu Dokter kedua dari kanan.

Bagi Niken, penemuan foto ini sangat penting karena sebelumnya ada blogger yang mengunggah foto Jokowi ketika mengikuti umroh tahun 2012 pada postingan tentang naik haji. Foto itu kembali dibully oleh para pegiat dunia maya, karena dianggap berbohong. Foto umrah disamakan dengan foto haji. “Sedih,” tulis Niken.

Dengan ditemukannya foto ini, Niken berharap kontroversi soal agama Jokowi dan gelar H di depan namanya yang selama ini difitnah sebagai Heribertus (nama baptis), dapat berakhir.

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: