Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Archive for Oktober, 2015

Sumpah Pemuda; Kesadaran Pentingnya Persatuan

Posted by gunawank pada Oktober 28, 2015

Nusantara adalah negeri kepulauan yang serba kaya. Kaya budaya, kaya bahasa, kaya suku bangsa, plus kekayaan alam yang melimpah ruah, luas lautnya dengan berbagai macam ikan hidup di dalamnya, subur tanahnya serta berbagai barang tambang terkandung di dalamnya, luas hutannya dengan berbagai macam flora dan fauna, dan sebagainya, dan sebagainya.

Namun untaian mutiara khatulistiwa nan cantik jelita ini, saat itu sedang berada dalam genggaman sang angkara. Kaum penjajah dengan segala kekuatan dan keserakahannya membuat rakyatnya sengsara, penduduknya menderita.

Usaha-usaha perlawanan dan pemberontakan muncul di mana-mana, peperangan terjadi diberbagai daerah. Namun bukan membuat enyah bangsa penjajah, justeru semakin memperkuat dan memperluas wilayah penjajahan.

Semangat juang yang tinggi ternyata tidak cukup untuk mengusir penjajah, karena hanya dilakukan secara terpisah di masing-masing daerah.

Menyadari akan hal ini, Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) menggagas diadakannya Kongres Pemuda kedua yang berhasil dilaksanakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng).

Kongres ini diharapkan dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda, demikian dikatakan ketua PPPI, Sugondo Djojopuspito dalam sambutannya pada hari Sabtu, 27 Oktober 1928.

Hasil rumusan dari tiga kali rapat dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 sebagai sumpah setia yang berbunyi :

Kami poetera dan poeteri Indonesia,
mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kami poetera dan poeteri Indonesia,
mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Kami poetera dan poeteri Indonesia,
mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Ikrar para pemuda dari berbagai daerah ini dikenal sebagai SUMPAH PEMUDA.

Dari apa yang dirumuskan, dibahas dan diikrarkan pada Kongres Pemuda Kedua ini tercermin semangat nasionalisme dan kebangsaan yang teramat sangat tinggi meski mereka berangkat dari organisasi-organisasi kepemudaan dari suku yang berbeda-beda tetapi mampu mempersatukan diri dalam satu wadah besar bernama INDONESIA.

Posted in Akhlak, Hikmah, Ibu Pertiwi, Idola, In memoriam, Indonesia, Opini, Opinion, Organisasi, Pahlawan, Sejarah | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Taubat Tidak Harus Menunggu Berdosa

Posted by gunawank pada Oktober 25, 2015

“Dan (juga mereka adalah) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali Imran: 135).

TaubatMenurut bahasa, taubat artinya kembali. Sedangkan menurut istilah, taubat berarti kembali taat kepada Allah swt dengan meninggalkan dan menghindarkan diri dari perbuatan tercela menurut pandangan agama.

Oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari kata taubat selalu diidentikkan dengan para pembuat dosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang hidupnya selalu bergelimang dalam dunia ‘gelap’ yang penuh dengan kemaksiatan. Sehingga para pelaku dosa itu harus bertaubat yakni harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

Bagi mereka yang hidup dalam kemaksiatan maka taubatnya itu harus dilakukan untuk menghindarkan diri dari kemaksiatan tersebut. Bagi mereka yang kesehariannya selalu mengerjakan dosa-dosa kecil, maka taubatnya adalah menghindarkan diri dari memperbuat dosa-dosa kecil tersebut. Demikian juga bagi mereka yang hiruk-pikuknya dalam kubangan kemakruhan (perkara yang dibenci agama) maka pertaubatannya dilakukan dengan cara menghindar dari kemakruhan tersebut. Singkatnya, setiap pribadi harus selalu bertaubat menurut kapasitas masing-masing.

Imam Abdul Wahhab As-Sya’roni mengelompokkan taubat ke dalam tiga tingkatan. Taubat yang paling dasar adalah taubat yang harus dilakukan untuk kembali dari dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil, kemakruhan dan dari perkara yang tidak diutamakan.

Artinya memohon ampun kepada Allah dan kembali ke jalan yang benar dengan memperbanyak amal soleh serta menjauhkan diri dari sesuatu yang dapat menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa besar maupun kecil, meninggalkan pemakruhan dan perbuatan sia-sia.

Tingkatan kedua adalah bertaubat dari merasa diri sebagai orang baik, merasa dirinya telah dikasihi Allah dan merasa dirinya telah mampu bertaubat kepada Allah swt. Sesungguhnya berbagai macam perasaan ini adalah sebuah kesalahan yang lahir dari penyakit hati manusia yang sangat halus.

Perasaan diri sebagai orang baik akan membawa diri merasa aman dengan kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya, dan pada gilirannya akan menjadi pelaku dosa yang tidak merasa berdosa, melakukan berbagai kemaksiatan tanpa merasa berbuat maksiat.

Cara bertaubatnya adalah memohon ampun kepada Allah atas kesombongan dirinya yang merasa telah memiliki kemampuan-kemampuan tersebut dan menanamkan keyakinan bahwa kesemuanya itu hanyalah pemberian Allah SWT. Allah-lah yang telah menjadikannya orang baik. Allah pulalah yang telah memberinya kemampuan untuk berbuat baik maupun kemampuan untuk bertaubat. Yakinkan bahwa tanpa pertolongan Allah, dirinya tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Tingkatan ketiga atau puncaknya taubat adalah kembali mengingat Allah swt dari kelalaian mengingatnya walaupun sekejap saja. Karena melupakan-Nya adalah sebuah dosa. Bukankah Allah telah memerintahkan manusia untuk selalu ingat kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisa: 103)

Jika masih berada dalam tingkat dasar, hendaklah pertahankan taubat kita sambil berusaha belajar menginjak taubat tingkat kedua. Dan apabila telah berada di tingkat kedua, maka berhati-hatilah sesungguhnya syaitan selalu mengintai kelengahan agar kita kembali terjerembab dalam kubangan dosa. Firman Allah:

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112).

Kemudian berdasarkan tingkatan taubat yang ketiga seyogyanya untuk bertaubat tidaklah harus menunggu perbuatan dosa terlebih dahulu, karena pada dasarnya hidup manusia penuh kesalahan. Baik kesalahan dhahir yang kasat mata maupun kesalahan bathin yang dilakukan hati, seperti lupa hati dalam mengingat Allah dan jenis penyakit hati lainnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Barang siapa bertaubat tetapi tidak meninggalkan kesombongan dan kecongkakannya, berarti dia belum bertaubat”.

Mudah-mudahan kita diberi kemampuan dan kemauan untuk banyak bertaubat kepada Allah tanpa harus melihat apakah kita telah berbuat dosa atau tidak, karena ketika kita lupa bertaubat pada hakekatnya kitapun sudah berdosa. Semoga Allah menerima taubat kita. Amin ya Robbal alamin.

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Renungan, Tasawuf, Tobat | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Pondok Pesantren; Sejarah, Kriteria dan Ciri-cirinya

Posted by gunawank pada Oktober 25, 2015

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan dan pusat penyiaran agama Islam tertua dan asli Indonesia. Artinya, sebagai lembaga pendidikan pondok pesantren telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka bahkan telah berhasil mencetak kaum terdidik (para ulama) yang kemudian mendirikan pondok pesantren-pondok pesantren baru jauh sebelum bangsa penjajah mendirikan lembaga pendidikan di Nusantara.

Disebut asli Indonesia karena pondok pesantren pada waktu itu hanya ada di Imdonesia, tidak ditemukan di negara-negara lain selain Indonesia.

Orang atau tokoh yang dianggap sebagai pendiri pondok pesantren pertama kali adalah Syekh Maulana Malik Ibrahim, walaupun pada saat itu bentuknya masih sangat sederhana dengan kegiatan yang hanya dilakukan di dalam masjid serta beberapa orang santri.

Awalnya, pada setiap menjelang atau selesai shalat berjamaah yang hanya beberapa orang itu, ulama memberikan pengajian yang isinya sekitar soal rukun iman, rukun Islam dan akhlaq. Berkat keikhlasan serta prilaku sehari-harinya yang sesuai dengan isi pengajiannya, lama kelamaan jamaahnya bertambah banyak. Sebagian mereka mulai menitipkan anak-anaknya pada ulama itu untuk mendapatkan ilmu keagamaan. Mereka datang dan mengaji dengan kehendak orang tuanya dengan tujuan menjadi anak yang shalih, memperoleh ilmu yang bermanfaat dan ridlo dari Allah SWT.

Untuk menampung anak didiknya, kiai/ulama mendirikan tempat belajar dan pemondokan. Kemudian, dengan tanpa merasa terpaksa masyarakat sekitarnya ikut berpartisipasi dalam mendirikan pemondokan tersebut. Maka berdirilah pondok pesantren yang dilakukan secara gotong-royong.

Sunan Ampel atau Raden Rahmatullah yang datang ke pulau Jawa untuk bersilaturrahmi dan melanjutkan usaha dakwah yang dilakukan oleh sepupu beliau, Syekh Maulana Malik Ibrahim, pertama kali mendirikan pondok pesantren di Kembang Kuning Surabaya dengan hanya memiliki tiga orang santri. Akan tetapi dengan adanya tiga orang santri ini misi Sunan Ampel menyiarkan agama Islam ke seluruh Jawa Timur mencapai sukses.

Kemudian Sunan Ampel memindahkan pesantrennya ke Ampel Denta, dan makin lama makin berpengaruh. Para santri yang mondok di Ampel Denta setelah kembali ke daerahnya merekapun mendirikan pesantren baru.

Murid pertama Raden Rahmat adalah Raden Paku (Sunan Giri) yang kemudian setelah lama menimba ilmu mendirikan pondok pesantren di desa Sidomukti Kebomas Gresik. Pondok ini dikenal dengan nama Giri Kedaton.

Pertumbuhan Pondok Giri Kedaton ini sangat pesat. Banyak santri yang berdatangan dari berbagai daerah untuk menuntut ilmu. Mereka berasal dari luar Jawa, Madura, Lombok, Sulawesi, Sumbawa, dan Ternate. Setelah kembali ke daerahnya, mereka mendirikan pondok pesantren dan pusat-pusat pengajian yang baru.

Kriteria Pondok Pesantren

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang pada umumnya menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran non klasikal, dimana seorang kiyai mengajar para santrinya menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab karya ulama besar.

Tujuan pendidikan pesantren bukan untuk mengejar kepentingan duniawi, tetapi menanamkan bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Allah SWT.

Tujuan utama berdirinya, tidak lepas dari cita-cita da’wah Islam di Indonesia, yang sekaligus merupakan pembinaan kader ulama. Dengan demikian pondok pesantren merupakan benteng pertahanan yang dapat menjamin keberlangsungan syiar da’wah Islamiyah di Indonesia.

Sebagai lembaga pendidikan Islam, setiap pesantren sedikitnya memiliki 5 hal:

  1. Ada Ulama atau Kiai
  2. Ada Santri
  3. Ada pondokan atau asrama
  4. Ada masjid atau musholla
  5. Ada pengajaran kitab kuning atau kitab Islam berbahasa Arab klasik.

Ciri-ciri Pondok Pesantren

Dalam perjalanan sejarahnya, pondok pesantren tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga berperan sebagai lembaga kemasyarakatan dan pusat da’wah Islamiyah. Dengan perannya ini, pondok pesantren memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam membentuk dan memelihara kehidupan sosial, kultural, politik dan keagamaan masyarakat.

Dalam perkembangan selanjutnya pesantren merupakan sub kultur sendiri di tengah-tengah kultur bangsa Indonesia yang mempunyai ciri-ciri pengajarannya:

  1. Mandiri dan sederhana .
  2. Anti kebudayaan Belanda yang dianggap kafir, dengan mengumandangkan semboyan :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya: Barangsiapa yang menyerupai atau meniru-niru suatu kaum, maka ia tergolong sebagian dari mereka.

3. Menjadi pusat penyiaran Islam yang kokoh dengan memegang tegak faham Aswaja dan Madzahibil Arba’ah.

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Pendidikan, Serba serbi | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Santri, Siswa dan Pelajar

Posted by gunawank pada Oktober 23, 2015

Menurut bahasa, kata santri dan pelajar/siswa memiliki arti yang sama yaitu orang yang sedang menuntut ilmu. Namun dalam kehidupan sehari-hari, beberapa kata yang memiliki arti sama dari sisi bahasa (arti menurut kamus) menjadi berbeda pengertiannya ketika digunakan untuk istilah yang berbeda.

Sebagai contoh, sunnah menurut bahasa artinya jalan, peraturan, ketetapan, sikap dalam bertindak dan bentuk kehidupan. Sedangkan menurut istilah Ulama Muhaditsin, sunnah artinya segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah saw baik berupa ucapan (qauliyyah), perbuatan (fi’liyyah) maupun penetapan (taqririyyah).

Menurut istilah Ulama Fiqih, sunnah artinya hukum suatu amal yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jika tidak dikerjakan tidak berdosa.

Demikian pula berdasarkan istilah yang terjadi di masyarakat, kata santri digunakan untuk orang-orang yang sedang menimba ilmu agama di pondok pesantren atau lembaga pendidikan agama lainnya. Sedangkan kata pelajar atau siswa digunakan untuk mereka yang sedang menimba ilmu di sekolah.

Perbedaan penggunaan istilah ini juga berkaitan dengan sistem pengajaran. Dalam pondok pesantren santri akan mendapatkan pengajaran yang bersifat keilmuan sekaligus pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari dan pembiasaan-pembiasaan yang khas hanya didapatkan di sistem pendidikan pondok pesantren.

Pembiasaan dalam bidang keilmuan:

  1. Santri terbiasa muthola’ah atau mengulang pelajaran di asrama/pondokan setelah mendapatkan pelajaran dari kiai atau ustadz.
  2. Jika belum menguasai atau memahami pelajaran yang didapatkan dari kiai, santri terbiasa meminta penjelasan (sorogan) kepada seniornya.
  3. Untuk memperdalam pemahaman atau menambah wawasan suatu masalah, santri terbiasa berdiskusi (mudzakarah) dengan teman satu kamar atau teman dari kamar yang berbeda.
  4. Santri terbiasa menghafal seluruh isi kitab terutama kitab-kitab kaidah yang berbentuk nazhom (syair), seperti Kitab Alfiyah (kaidah tatabahasa Arab) yang berisi 1.000 bait, Imriti (500 bait), Asbah wan nazhir (qaidah fiqiyah), Waroqot (qaidah ushul fiqih) dan lain-lain.
  5. Setiap santri pasti memiliki kitab semua pelajaran yang diajarkan di pesantrennya.

Serta kebiasaan-kebiasaan lain yang berjalan secara alamiyah tanpa harus di suruh oleh gurunya. Sesuatu yang sulit ditemukan pada lembaga pendidikan selain pondok pesantren.

Pembiasaan dalam bidang kepribadian dan kehidupan sosial:

  1. Santri dididik untuk hidup mandiri, mencuci pakaian sendiri, masak sendiri bahkan tidak sedikit yang mencari biaya hidup sendiri.
  2. Santri dididik untuk hidup sederhana, jauh dari kemewahan.
  3. Santri dididik untuk hidup dalam kebersamaan, saling membantu. Siapapun yang mendapat kiriman makanan dan apapun makanannya, misalnya, akan selalu dimakan bersama-sama dengan teman-temannya.
  4. Santri dididik untuk menjadi pribadi yang anti terhadap kebudayaan barat yang bertentangan dengan morma-norma syariat Islam.
  5. Akhlak, disiplin, hormat kepada guru, kepada orang yang lebih tua, kepada sesama dan selalu mengucap salam apabila bertemu merupakan pembiasaan yang harus dilakukan santri sehari-hari.
  6. Santri akan mentaati apapun yang difatwakan oleh kiainya selama tidak menyimpang dan bertentangan dengan syariat Islam.

Singkat kata, pembiasaan-pembiasaan seperti ini sulit ditemukan pada para pelajar di luar pondok pesantren. Dengan kata lain sulit dipersamakan (berdasarkan istilah) antara santri dan pelajar.

Posted in Opini, Opinion, Pengetahuan, Serba serbi | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Hari Santri Nasional; Antara Pro dan Kontra

Posted by gunawank pada Oktober 22, 2015

Memenuhi salah satu janji kampanyenya, pada hari Kamis (15/10/2015) Presiden Joko Widodo telah menandatangani Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Sebagaimana telah diketahui bersama. saat kampanye Pemilu Presiden 2014, Jokowi menyampaikan janjinya untuk menetapkan satu hari sebagai Hari Santri Nasional. Walaupun ketika itu, Jokowi mengusulkan tanggal 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional.

Menurut Sekretaris Kabinet, Pramono Anung, ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri merupakan usulan dari internal kabinet dan pihak eksternal yang terkait.

Pramono menegaskan, meski tanggal 22 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional, namun pada tanggal tersebut tidak menjadi hari libur . “Dengan keputusan ini, 22 Oktober menjadi Hari Santri dan bukan hari libur nasional,” ucapnya.

Keputusan Presiden Jokowi ini tak ayal menuai pro dan kontra. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyatakan Muhammadiyah keberatan dengan penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Muhammadiyah menilai penetapan Hari Santri Nasional dapat mengganggu ukhuwah umat Islam lewat polarisasi santri-nonsantri yang selama ini mulai mencair.

“Muhammadiyah secara resmi berkeberatan dengan Hari Santri,” kata Haedar Nashir kepada Republika, Sabtu (17/10).

Menurut Haedar, Muhammadiyah tidak ingin umat Islam makin terpolarisasi dalam kategorisasi santri dan nonsantri. Hari Santri akan menguatkan kesan eksklusif di tubuh umat dan bangsa. Padahal, selama ini santri-nonsantri makin mencair dan mengarah konvergensi. “Untuk apa membuat seremonial umat yang justru membuat kita terbelah,” ujarnya, sebagaimana diberitakan harian Republika, Sabtu (17/10).

Lain Muhammadiyah lain pula Nahdlatul Ulama. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siradj bahkan menegaskan bahwa dengan atau tanpa persetujuan pemerintah, PBNU akan tetap merayakan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. PBNU telah merencanakan sejumlah acara dalam rangka perayaan Hari Santri tersebut(Kompas com, Kamis, 15/10/2015).

Menurutnya, tanggal 22 Oktober 1945 merupakan tanggal ketika Kiai Hasyim Asy’ari mengumumkan fatwanya yang disebut sebagai Resolusi Jihad.

Resolusi Jihad yang lahir melalui musyawarah ratusan kiai dari berbagai daerah tersebut merespons pendaratan armada pasukan Inggris yang ‘diboncengi’ pasukan Belanda (NICA) di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Resolusi itu memuat seruan bahwa setiap Muslim wajib memerangi penjajah. Para pejuang yang gugur dalam peperangan melawan penjajah pun dianggap mati syahid. Sementara itu, mereka yang membela penjajah dianggap patut dihukum mati. (Baca tulisan: “Hari Pahlawan; Resolusi Jihad NU Menginspirasi Terjadinya Perang 10 Nopember 1945”).

Posted in Berita, Fatwa, Hot Topic, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, NU, Pahlawan, Presiden, Sejarah, Topic Hot, Ulama | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Persib Bandung Juarai Kompetisi Perdana Piala Presiden 2015

Posted by gunawank pada Oktober 18, 2015

Kemenangan PersibPersib Bandung kembali menorehkan sejarah sebagai ‘spesialis’ Juara Pertama pada kompetisi perdana setelah mengalahkan Sriwijaya FC 2-0 pada kompetisi Piala Presiden I yang digelar hari ini (Minggu, 18/10/2015) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta.

Prestasi ini mengulang keberhasilan Persib Bandung yang tampil sebagai Juara pada kompetisi Liga Indonesia I tahun 1994/1995 setelah mengalahkan Petrokimia Putra 1-0 melalui gol Sutiono Lamso pada menit 76 di Stadion Utama Senayan Jakarta (30/7/1995).

Menurut pelatih Persib, Djadjang Nurdjaman,  menyadari bahwa Sriwijaya bukan lawan mudah dan identik dengan permainan serta beban berat yang harus dikul dengan melakoni format kandang tandang sejak babak 16-besar, maka beliau meminta tim untuk bermain sabar dan lebih rilex. Itulah yang menjadi kunci kemenangan Persib.

Permainan yang lebih rileks dan cenderung menurun dibandingkan laga-laga sebelumnya justeru membuahkan hasil dengan terciptanya gol perdana pada menit keenam lewat Ahmad Jufriyanto. Keunggulan bertambah lewat gol bunuh diri Dian Agus Prasetyo pada menit ke-45.

Gol pada menit-menit awal inilah yang menurut Sang kapten, Atep justeru menjadi salah satu faktor kemenangan. “Kami diuntungkan oleh gol cepat,” tuturnya saat mendampingi Sang pelatih, Djadjang pada sesi konferensi pers.

Selamat buat Persib ….! Selamat untuk para Bobotoh …! Selamat untuk persepak bolaan nasional, semoga semakin maju dan berprestasi di kancah internasional …!!!

Posted in Bandung, Berita, Bintang, Hotline News, Idola, Indonesia, Info, Kompetisi, Kota Bandung, Kota Kembang, Olah raga, PSSI, Serba serbi | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Asal Mula Penetapan Tahun Hijriyah

Posted by gunawank pada Oktober 17, 2015

Adalah shahabat Abu Musa Al-Asy-‘Ari r.a. yang menjabat sebagai gubernur Basrah kala itu, mengeluh karena sering mendapat surat yang tidak bertanggal dari Khalifah Umar bin Khatab r.a. Keluhan tersebut beliau sampaikan kepada khalifah melalui sepucuk surat yang bertutur:

إنه يأتينا منك كتب ليس لها تاريخ

“Telah sampai kepada kami surat-surat dari Anda, tanpa tanggal.”

Riwayat lain menyebutkan isi surat beliau:

إنَّه يأتينا مِن أمير المؤمنين كُتبٌ، فلا نَدري على أيٍّ نعمَل، وقد قرأْنا كتابًا محلُّه شعبان، فلا ندري أهو الذي نحن فيه أم الماضي

“Telah sampai kepada kami surat-surat dari Amirul Mukminin, namun kami tidak tau apa yang harus kami perbuat terhadap surat-surat itu. Kami telah membaca salah satu surat yang dikirim di bulan Sya’ban. Kami tidak tahu apakah Sya’ban tahun ini ataukah tahun kemarin.”

Atas kejadian ini kemudian Khalifah Umar bin Khatab mengajak para shahabat untuk bermusyawarah; menentukan kalender yang nantinya menjadi acuan penanggalan bagi kaum muslimin.

Sebagaimana diketahui bahwa pada zaman dahulu masyarakat Arab menjadikan peristiwa-peristiwa besar sebagai acuan penamaan tahun. Ada “Tahun Renovasi Ka’bah” misalnya, karena pada tahun tersebut Ka’bah direnovasi ulang akibat banjir. “Tahun Fijar”, karena saat itu terjadi perang fijar. Tahun kelahiran Rasulullah Saw disebut “Tahun Fiil” (gajah), karena saat itu terjadi penyerbuan Ka’bah oleh pasukan bergajah. Terkadang mereka juga menggunakan tahun kematian seorang tokoh sebagai patokan, misal 7 tahun sepeninggal Ka’ab bin Luai.”

Sementara, untuk acuan bulan mereka menggunakan sistem bulan qomariyah (penetapan awal bulan berdasarkan fase-fase bulan). Sistem penanggalan seperti ini berlanjut sampai ke masa Rasulullah Saw dan khalifah Abu Bakar Ash-Sidiq r.a. Barulah di masa khalifah Umar bin Khatab r.a. diadakan musyawarah shahabat untuk menetapkan penamaan tahun bagi umat Islam.

Dalam musyawarah tersebut muncul beberapa usulan mengenai patokan awal tahun. Ada yang mengusulkan penanggalan dimulai dari tahun diutus Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Sebagian lagi mengusulkan agar penanggalan dibuat sesuai dengan kalender Romawi, yang mana mereka memulai hitungan penanggalan dari masa raja Iskandar (Alexander). Yang lain mengusulkan, dimulai dari tahun hijrahnya Nabi Saw ke kota Madinah. Usulan ini disampaikan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib r.a. Hati Umar bin Khatab r.a. ternyata condong kepada usulan ke dua ini.

الهجرة فرقت بين الحق والباطل فأرخوا بها

Peristiwa Hijrah menjadi pemisah antara yang benar dan yang batil. Jadikanlah ia sebagai patokan penanggalan.” Kata Umar bin Khatab r.a. mengutarakan alasan.

Akhirnya para sahabatpun sepakat untuk menjadikan peristiwa hijrah sebagai acuan tahun. Landasan mereka adalah firman Allah ta’ala,

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيه َ

Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. (QS. At-Taubah:108)

Para sahabat memahami makna “sejak hari pertama” dalam ayat, adalah hari pertama kedatangan hijrahnya Nabi. Sehingga moment tersebut pantas dijadikan acuan awal tahun kalender hijriyah.

Posted in Artikel Islam, Islam, Sejarah | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Hikmah Perigatan Tahun Baru Hijriyah

Posted by gunawank pada Oktober 13, 2015

Tahun Baru 1437 HHari berganti hari, bulan berganti bulan dan pergantian tahun ke tahunpun terus kita lalui. Tanpa terasa, pada malam ini kita telah berada di awal tahun baru hijriyah, 1 Muharram 1437 H. Marilah kita memanjatkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah banyak memberikan nikmatnya kepada kita semua, antara lain ni’mat iman dan Islam, serta ni’mat sehat dan panjang umur sehingga kita masih diberi kesempatan hidup hingga saat ini. Yaitu dengan menggunakan nikmat tersebut ke jalan yang di ridloi-Nya. Karena jika kita bersyukur atas nikmat-Nya, maka Allah pun akan menambah nikmat itu. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Ibrahim ayat 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah), tatkala tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab–Ku sangat pedih.”

Bagi umat Islam, sebagai perwujudan rasa syukur dalam menyambut datangnya tahun baru ini bukan dengan cara berpesta pora, bersuka ria, hura-hura, meniup terompet sehingga memekakan telinga dan berpoya-poya, tetapi justru dijadikan ajang introspeksi diri, muhasabah dan membanyakkan istighfar, memohon ampunan dan keridlaan-Nya. Sebab umur yang panjang tidak menjamin kebaikan seseorang di hadapan Allah Swt. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw dalam haditsnya: Baca entri selengkapnya »

Posted in Artikel Islam, Hikmah, Islam, Renungan | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Menikahkan Anak; Puncak Kewajiban Orangtua

Posted by gunawank pada Oktober 2, 2015

“Berkata Anas r.a. telah bersabda Rasulullah Saw: “Seorang anak disembelihkan aqiqah, diberi nama dan dibersihkan dari (kotoran) yang membahayakan pada usia tujuh hari. Apabila telah sampai usia enam tahun didiklah. Jika telah sampai usia sembilan tahun pisahkan tempat tidurnya. Apabila telah sampai usia tiga belas tahun telah melaksanakan shalat dan apabila telah sampai umur enam belas tahun nikahkanlah, lalu pegang tangannya dan katakan:  Sungguh telah aku didik engkau dan telah kuberi ilmu dan telah aku nikahkan engkau maka aku berlindung kepada Allah dari fitnahmu di dunia dan adzabmu di akhirat” (Ihya)

“Sebagian dari kewajiban orangtua terhadap anaknya adalah mengajarkan menulis (mendidik), memberi nama yang baik dan menikahkannya apabila sudah baligh” (HR. Ibnu Hibban)

Berdasarkan hadits di atas, diantara kewajiban orangtua terhadap anaknya adalah memberi nama yang baik, memberi nafkah, mendidik dan menikahkannya setelah sampai waktunya untuk menikah (baligh).

Nama menjadi identitas manusia di dunia dan dengan nama itulah setiap manusia akan dipanggil di akhirat kelak. Oleh karena itu pemberian nama yang baik menjadi sangat penting. Sabda Rasulullah Saw:

“Kalian akan dipanggil di hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak kalian. Maka berilah nama kalian yang baik” (HR. Abu Dawud).

Anak merupakan titipan atau amanah dari Allah Swt. Karenanya, memelihara dan memberinya nafkah yang halal menjadi kewajiban orangtua sebagai pemegang amanah tersebut.

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan kewajiban (orang tua) ayah memberi makan dan pakaian kepada anak dan ibu-ibunya dengan cara yang makruf (baik dan wajar). (QS Al-Baqarah : 233).

Dari ‘Aisyah bahwa Hindun binti ‘uthbah pernah bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sofyan adalah orang yang kikir. Ia tidak mau memberi nafkah kepadaku dan anakku, sehingga aku mesti mengambil dari padanya tanpa sepengetahuannya”.  Maka Rasulullah bersabda: “Ambillah apa yang mencukupi bagimu dan anakmu dengan cara yang baik” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengajari anak sopan santun (akhlak yang baik), membaca dan memahami al-Qur’an, membaca dan menulis (ilmu pengetahuan) serta tatacara shalat yang benar adalah kewajiban orangtua selanjutnya.

Kemudian setelah anaknya sampai usia baligh dan meminta dinikahkan, maka wajib bagi orangtua untuk segera menikahkannya.

وَأَنْكِحُوا الأيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS. An-Nuur : 32].

Itulah puncak kewajiban orangtua terhadap anaknya, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari sayidina Anas bin Malik r.a. di atas.

Alhamdulillah, tahduts bin ni’mah penulis sebagai orangtua telah melaksanakan rentetan tugas dan kewajiban sebagaimana diuraikan di atas. Pada hari Senin tanggal 14 Dzul Hijjah 1436 H bertepatan tanggal 28 Oktober 2015 telah dilaksanakan prosesi aqad nikah. Semoga mereka diberkahi Allah menjadi keluarga sakinah, mawadah warrohmah, keluarga yang ‘runtut raut’, ‘ayem tentrem’, penuh cinta kasih dan saling menyayangi serta dikaruniai keturunan yang sholih dan sholihah. Amin yaa Rabbal ‘alamin…!

Do'a nikah

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Kisahku | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »