Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Hikmah Perigatan Tahun Baru Hijriyah

Posted by gunawank pada Oktober 13, 2015


Tahun Baru 1437 HHari berganti hari, bulan berganti bulan dan pergantian tahun ke tahunpun terus kita lalui. Tanpa terasa, pada malam ini kita telah berada di awal tahun baru hijriyah, 1 Muharram 1437 H. Marilah kita memanjatkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah banyak memberikan nikmatnya kepada kita semua, antara lain ni’mat iman dan Islam, serta ni’mat sehat dan panjang umur sehingga kita masih diberi kesempatan hidup hingga saat ini. Yaitu dengan menggunakan nikmat tersebut ke jalan yang di ridloi-Nya. Karena jika kita bersyukur atas nikmat-Nya, maka Allah pun akan menambah nikmat itu. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Ibrahim ayat 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah), tatkala tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab–Ku sangat pedih.”

Bagi umat Islam, sebagai perwujudan rasa syukur dalam menyambut datangnya tahun baru ini bukan dengan cara berpesta pora, bersuka ria, hura-hura, meniup terompet sehingga memekakan telinga dan berpoya-poya, tetapi justru dijadikan ajang introspeksi diri, muhasabah dan membanyakkan istighfar, memohon ampunan dan keridlaan-Nya. Sebab umur yang panjang tidak menjamin kebaikan seseorang di hadapan Allah Swt. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw dalam haditsnya:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

Seseorang bertanya: Ya Rasulullah siapakah orang yang paling baik? Jawab beliau: Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Orang tersebut bertanya lagi: lalu siapakah orang yang paling buruk? Jawab beliau: Orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya”. (HR. Ahmad, Baihaqi dan Turmudi).

Disamping itu, datangnya Tahun Baru Hijriyah ini bagi umat Islam hendaknya dimanfaatkan untuk menegok sejarah masa silam, masa perjuangan Nabi SAW. dan para shahabat beliau dalam menegakkan agama Allah Swt.

Sebagaimana kita maklumi, bahwa Nabi Muhammad SAW, dan para sahabat tatkala mengembangkan risalah Islam di Mekkah banyak menemui tantangan dan hambatan yang tidak ringan. Orang-orang Quraisy menentangnya. Mereka melakukan penganiayaan terhadap para sahabat dengan tujuan agar Nabi SAW menghentikan dakwahnya.

Semakin hari kekejaman dan penganiayaan semakin keras, namun sungguh suatu keajaiban, semakin keras penindasan dan penganiayaan, justru Islam semakin berkembang. Bagaimanapun kerasnya kekejaman dan penganiayaan yang mereka lakukan, tidak satupun orang yang begitu masuk Islam lalu sudi keluar atau menjadi murtad.

Kekejaman kaum Qurasy mencapai puncaknya, tatkala mereka sepakat untuk menangkap dan membunuh Nabi SAW. Dalam keadaan genting itulah, Rasulullah mendapat perintah hijrah. Maka berhijrahlah beliau bersama para sahabat menuju kota Yatsrib, yang sekarang menjadi kota Madinah.

Peristiwa hijrah ini menjadi tonggak perjuangan umat Islam, sehingga mereka tidak hanya dikagumi oleh kawan tapi juga disegani  oleh lawan. Peristiwa hijrah akan tetap relevan atau cocok dikaitkan dengan konteks ruang dan waktu sekarang ataupun di masa yang akan datang. Nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa hijrah itu akan tetap cocok dijadikan rujukan kehidupan. Banyak sekali hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut. Diantaranya:

Pertama, hijrah merupakan perjalanan mempertahankan keimanan. Karena kekuatan imannya, para sahabat sudi meniggalkan kampung halaman dan harta benda mereka, rela berpisah dengan orang-orang yang dicintainya yang berbeda akidah. Kekuatan iman melahirkan ketenangan dan ketentraman batin, sehingga bagaimanapun pedihnya penderitaan dzahir yang mereka alami tidak akan terasa. Itulah mengapa sebabnya para sahabat mau berjalan di gurun pasir yang panas. Mereka melakukan perjalanan dari Makkah menuju Madinah dengan bekal iman.

Oleh karena ittu, dalam memperingati tahun baru hijriyah ini, marilah kita tanamkan keimanan dalam diri kita  sebagaimana imannya para sahabat. Dan diwujudkan dalam bentuk amal saleh dalam kehidupan ini.

Iman akan membuat hidup seseorang jadi terarah. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diimbangi dengan keimanan akan membuat manusia semakin sadar akan hakikat dirinya, timbul pengakuan sebagaimana tersebut dalam surah Ali imran ayat 191:

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِل

“Ya Tuhan kami tiada sia-sia Engkau menciptakan ini.”

Iman juga berfungsi untuk mengendalikan nafsu. Sedangkan manusia yang mampu menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya  akan memperoleh kemenangan dan meningkat ke derajat yng lebih mulia dari Malaikat. Namun kalau nafsu yang mengendalikan dirinya maka sifat-sifat binatang yang menghiasi perilakunya. Sehingga ia turun derajatnya lebih rendah dari binatang. Firman Allah dalam surh At-Tin ayat 4 dan 5 yang berbunyi:

  لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ. ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ 

Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”

Hikmah kedua adalah bahwasanya hijrah merupakan perjalanan ibadah. Pada waktu hijrah, dorongan sahabat untuk ikut berhijrah tidak sama. Oleh karena itu Rasulullah SAW sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori menyatakan bahwa amal-amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan bagi tiap orang akan dinilai dari apa yang diniatkannya.

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Oleh karena itu, semangat ibadah inilah yang harus menjiwai peringatan hijrah dan langkah memasuki tahun baru hijriah. Tanamkan kuat-kuat niat kita dalam setiap amal apapun yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, senantiasa hanya untuk menghambakan diri kepada Allah SWT, hanya untuk mencari ridla-Nya.

Kemudian hikmah ketiga, bahwa hijrah adalah perjalanan ukhuwah. Kita bisa menyimak bersama bagaimana penduduk Madinah menyambut orang-orang Mekkah sebagai saudara. Kemudian mereka bergaul dalam suasana ukhuwah yang berlandaskan satu keyakinan bahwa semua manusia berasal dari Nabi Adam dan diciptakan dari tanah. Maka bersatulah orang-orang muhajirin dan anshar sebagai saudara yang diikat oleh akidah. Dalam surah Al-Hujarat ayat 10 Allah Swt berfirman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”

Ketika Nabi Saw kehabisan perbekalan dalam perjalanan menuju Madinah, beliau bersama Sahabat Abu Bakar dan dua orang pengawal singgah di sebuah perkemahan, hendak membeli perbekalan. Perkemahan itu dihuni oleh seorang perempuan bernama Umi Ma’bad yang ternyata dalam keadaan serba berkekurangan.

Ada seekor hewan perahan tapi dalam keadaan kurus kerontang. Jangankan susu, air kencing hewan itu pun sudah tidak ada. Namun ketika Nabi Saw mendekati hewan itu dan memeras kantong susunya, dengan izin Allah hewan itu keluar air susunya. Pertama-tama Nabi memberikan gelas berisi susu kepada Abu Bakar, kedua kepada Sahabat yang menuntun onta Nabi, lalu kepada Sahabat yang menuntun onta Abu Bakar, baru kemudian Nabi meminumnya.

Umi Ma’bad yang keheranan lalu bertanya kepada Nabi. “Kenapa Anda tidak minum terlebih dahulu?” Nabi menjawab:

خَادِمُ اْلأُمَمِ آخِرُهُمْ شُرْباً

“Pemimpin umat adalah mereka yang mengakhirkan minumnya”.

Dalam peristiwa ini, Nabi mengajarkan bahwa pelayan umat itu semestinya selalu mendahulukan kepentingan umat dari pada kepentingan pribadi. Inilah hikmah yang keempat yang harus diteladani dari kisah perjalanan hijrah Nabi Saw.

Dari uraian di atas dapatlah diambil kesimpulan, bahwa dalam mensyukuri datangnya tahun baru hjriyah, hendaklah melakukan amal sebagai berikut:

  1. Setelah shalat berjamaah ashar, hendaklah membaca do’a akhir tahun, agar dosa-dosa yang dilakukan pada tahun sebelumnya diampuni oleh Allah Swt.
  2. Membaca do’a awal tahun setelah berjamaah shalat maghrib. Karena dalam perhitungan hijriyah, awal pergantian tanggal terjadi saat matahari terbenam atau saat maghrib tiba. Dengan doa ini semoga terhindar dari gangguan dan godaan syetan la’natullah.
  3. Membanyakkan istighfar, memohon apunan Allah Swt atas kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat pada tahun sebelumnya, dan tekadkan dalam hati untuk lebih banyak beramal shaleh pada tahun ini dan seterusnya.
  4. Mengambil hikmah dari peristiwa hijrah Rasulullah Saw dan para shahabatnya dengan cara:
    • Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.
    • Meningkatkan kualitas ibadah lahir maupun batin
    • Meningkatkan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah basyariyah
    • Tatkala menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang lebih mengutamakan kesejahteraan rakyatnya di atas kepentingan pribadi, keluarga dan golongannya.

Dengan demikian, mudah-mudahan Allah Swt memberikan keberkahan kepada kita dalam menjalani hidup dan kehidupan pada tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang. Amin ya rabbal alamin.

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: