Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Pondok Pesantren; Sejarah, Kriteria dan Ciri-cirinya

Posted by gunawank pada Oktober 25, 2015


Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan dan pusat penyiaran agama Islam tertua dan asli Indonesia. Artinya, sebagai lembaga pendidikan pondok pesantren telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka bahkan telah berhasil mencetak kaum terdidik (para ulama) yang kemudian mendirikan pondok pesantren-pondok pesantren baru jauh sebelum bangsa penjajah mendirikan lembaga pendidikan di Nusantara.

Disebut asli Indonesia karena pondok pesantren pada waktu itu hanya ada di Imdonesia, tidak ditemukan di negara-negara lain selain Indonesia.

Orang atau tokoh yang dianggap sebagai pendiri pondok pesantren pertama kali adalah Syekh Maulana Malik Ibrahim, walaupun pada saat itu bentuknya masih sangat sederhana dengan kegiatan yang hanya dilakukan di dalam masjid serta beberapa orang santri.

Awalnya, pada setiap menjelang atau selesai shalat berjamaah yang hanya beberapa orang itu, ulama memberikan pengajian yang isinya sekitar soal rukun iman, rukun Islam dan akhlaq. Berkat keikhlasan serta prilaku sehari-harinya yang sesuai dengan isi pengajiannya, lama kelamaan jamaahnya bertambah banyak. Sebagian mereka mulai menitipkan anak-anaknya pada ulama itu untuk mendapatkan ilmu keagamaan. Mereka datang dan mengaji dengan kehendak orang tuanya dengan tujuan menjadi anak yang shalih, memperoleh ilmu yang bermanfaat dan ridlo dari Allah SWT.

Untuk menampung anak didiknya, kiai/ulama mendirikan tempat belajar dan pemondokan. Kemudian, dengan tanpa merasa terpaksa masyarakat sekitarnya ikut berpartisipasi dalam mendirikan pemondokan tersebut. Maka berdirilah pondok pesantren yang dilakukan secara gotong-royong.

Sunan Ampel atau Raden Rahmatullah yang datang ke pulau Jawa untuk bersilaturrahmi dan melanjutkan usaha dakwah yang dilakukan oleh sepupu beliau, Syekh Maulana Malik Ibrahim, pertama kali mendirikan pondok pesantren di Kembang Kuning Surabaya dengan hanya memiliki tiga orang santri. Akan tetapi dengan adanya tiga orang santri ini misi Sunan Ampel menyiarkan agama Islam ke seluruh Jawa Timur mencapai sukses.

Kemudian Sunan Ampel memindahkan pesantrennya ke Ampel Denta, dan makin lama makin berpengaruh. Para santri yang mondok di Ampel Denta setelah kembali ke daerahnya merekapun mendirikan pesantren baru.

Murid pertama Raden Rahmat adalah Raden Paku (Sunan Giri) yang kemudian setelah lama menimba ilmu mendirikan pondok pesantren di desa Sidomukti Kebomas Gresik. Pondok ini dikenal dengan nama Giri Kedaton.

Pertumbuhan Pondok Giri Kedaton ini sangat pesat. Banyak santri yang berdatangan dari berbagai daerah untuk menuntut ilmu. Mereka berasal dari luar Jawa, Madura, Lombok, Sulawesi, Sumbawa, dan Ternate. Setelah kembali ke daerahnya, mereka mendirikan pondok pesantren dan pusat-pusat pengajian yang baru.

Kriteria Pondok Pesantren

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang pada umumnya menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran non klasikal, dimana seorang kiyai mengajar para santrinya menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab karya ulama besar.

Tujuan pendidikan pesantren bukan untuk mengejar kepentingan duniawi, tetapi menanamkan bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Allah SWT.

Tujuan utama berdirinya, tidak lepas dari cita-cita da’wah Islam di Indonesia, yang sekaligus merupakan pembinaan kader ulama. Dengan demikian pondok pesantren merupakan benteng pertahanan yang dapat menjamin keberlangsungan syiar da’wah Islamiyah di Indonesia.

Sebagai lembaga pendidikan Islam, setiap pesantren sedikitnya memiliki 5 hal:

  1. Ada Ulama atau Kiai
  2. Ada Santri
  3. Ada pondokan atau asrama
  4. Ada masjid atau musholla
  5. Ada pengajaran kitab kuning atau kitab Islam berbahasa Arab klasik.

Ciri-ciri Pondok Pesantren

Dalam perjalanan sejarahnya, pondok pesantren tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga berperan sebagai lembaga kemasyarakatan dan pusat da’wah Islamiyah. Dengan perannya ini, pondok pesantren memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam membentuk dan memelihara kehidupan sosial, kultural, politik dan keagamaan masyarakat.

Dalam perkembangan selanjutnya pesantren merupakan sub kultur sendiri di tengah-tengah kultur bangsa Indonesia yang mempunyai ciri-ciri pengajarannya:

  1. Mandiri dan sederhana .
  2. Anti kebudayaan Belanda yang dianggap kafir, dengan mengumandangkan semboyan :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya: Barangsiapa yang menyerupai atau meniru-niru suatu kaum, maka ia tergolong sebagian dari mereka.

3. Menjadi pusat penyiaran Islam yang kokoh dengan memegang tegak faham Aswaja dan Madzahibil Arba’ah.

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: