Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Taubat Tidak Harus Menunggu Berdosa

Posted by gunawank pada Oktober 25, 2015


“Dan (juga mereka adalah) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali Imran: 135).

TaubatMenurut bahasa, taubat artinya kembali. Sedangkan menurut istilah, taubat berarti kembali taat kepada Allah swt dengan meninggalkan dan menghindarkan diri dari perbuatan tercela menurut pandangan agama.

Oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari kata taubat selalu diidentikkan dengan para pembuat dosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang hidupnya selalu bergelimang dalam dunia ‘gelap’ yang penuh dengan kemaksiatan. Sehingga para pelaku dosa itu harus bertaubat yakni harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

Bagi mereka yang hidup dalam kemaksiatan maka taubatnya itu harus dilakukan untuk menghindarkan diri dari kemaksiatan tersebut. Bagi mereka yang kesehariannya selalu mengerjakan dosa-dosa kecil, maka taubatnya adalah menghindarkan diri dari memperbuat dosa-dosa kecil tersebut. Demikian juga bagi mereka yang hiruk-pikuknya dalam kubangan kemakruhan (perkara yang dibenci agama) maka pertaubatannya dilakukan dengan cara menghindar dari kemakruhan tersebut. Singkatnya, setiap pribadi harus selalu bertaubat menurut kapasitas masing-masing.

Imam Abdul Wahhab As-Sya’roni mengelompokkan taubat ke dalam tiga tingkatan. Taubat yang paling dasar adalah taubat yang harus dilakukan untuk kembali dari dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil, kemakruhan dan dari perkara yang tidak diutamakan.

Artinya memohon ampun kepada Allah dan kembali ke jalan yang benar dengan memperbanyak amal soleh serta menjauhkan diri dari sesuatu yang dapat menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa besar maupun kecil, meninggalkan pemakruhan dan perbuatan sia-sia.

Tingkatan kedua adalah bertaubat dari merasa diri sebagai orang baik, merasa dirinya telah dikasihi Allah dan merasa dirinya telah mampu bertaubat kepada Allah swt. Sesungguhnya berbagai macam perasaan ini adalah sebuah kesalahan yang lahir dari penyakit hati manusia yang sangat halus.

Perasaan diri sebagai orang baik akan membawa diri merasa aman dengan kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya, dan pada gilirannya akan menjadi pelaku dosa yang tidak merasa berdosa, melakukan berbagai kemaksiatan tanpa merasa berbuat maksiat.

Cara bertaubatnya adalah memohon ampun kepada Allah atas kesombongan dirinya yang merasa telah memiliki kemampuan-kemampuan tersebut dan menanamkan keyakinan bahwa kesemuanya itu hanyalah pemberian Allah SWT. Allah-lah yang telah menjadikannya orang baik. Allah pulalah yang telah memberinya kemampuan untuk berbuat baik maupun kemampuan untuk bertaubat. Yakinkan bahwa tanpa pertolongan Allah, dirinya tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Tingkatan ketiga atau puncaknya taubat adalah kembali mengingat Allah swt dari kelalaian mengingatnya walaupun sekejap saja. Karena melupakan-Nya adalah sebuah dosa. Bukankah Allah telah memerintahkan manusia untuk selalu ingat kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisa: 103)

Jika masih berada dalam tingkat dasar, hendaklah pertahankan taubat kita sambil berusaha belajar menginjak taubat tingkat kedua. Dan apabila telah berada di tingkat kedua, maka berhati-hatilah sesungguhnya syaitan selalu mengintai kelengahan agar kita kembali terjerembab dalam kubangan dosa. Firman Allah:

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112).

Kemudian berdasarkan tingkatan taubat yang ketiga seyogyanya untuk bertaubat tidaklah harus menunggu perbuatan dosa terlebih dahulu, karena pada dasarnya hidup manusia penuh kesalahan. Baik kesalahan dhahir yang kasat mata maupun kesalahan bathin yang dilakukan hati, seperti lupa hati dalam mengingat Allah dan jenis penyakit hati lainnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Barang siapa bertaubat tetapi tidak meninggalkan kesombongan dan kecongkakannya, berarti dia belum bertaubat”.

Mudah-mudahan kita diberi kemampuan dan kemauan untuk banyak bertaubat kepada Allah tanpa harus melihat apakah kita telah berbuat dosa atau tidak, karena ketika kita lupa bertaubat pada hakekatnya kitapun sudah berdosa. Semoga Allah menerima taubat kita. Amin ya Robbal alamin.

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: