Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Islam Bukan Agama Pencaci-maki

Posted by gunawank pada Mei 26, 2017

Setelah kemenangan perang Hunain, yang dipimpin Khalid bin Walid, atas titah bagin da Rasulullah SAW. Pasukan kafir akhirnya kocar kocir. Banyak diantara mereka tertangkap dan di bawa ke Basecamp Muslim.

Pada saat itu ada salah satu  Muslim yang ikut berperang meneriakkan yel yel kebencian sewaktu tawanan mereka akan dibawa menghadap baginda Rasulullah SAW.

“Sungguh mulia ummat islam..sungguh merugi ummat Nasoro. Sungguh hina ummat penyembah selain Allah”.

Mendengar teriakan tersebut. Rasulullah langsung keluar dengan wajah yang sangat marah. Beliau menatap kerumunan orang orang yang berjumlah sangat banyak lalu masuk kembali. Melihat Rasulullah SAW tidak seperti biasanya. Abu Bakar r.a. dan Umar r.a, saling pandang dan berseru dengan ucapan sangat keras!

“Diamlah kalian! Rasulullah akan berkata kepada kita semua!”

Lalu sorak sorai kemenangan bagi kaum Muslim, mendadak sunyi. Semua orang menatap ke arah pintu perkemahan yang didalamnya terdapat baginda Rasulullah. Keluarlah sosok sempurna dengan mata berkaca kaca menahan amarah.

“Ketahuilah wahai sahabat-sahabatku. Islam agama paling mulia. Islam agama paling diridloi. Islam agama kebaikan bagi seluruh alam. Namun Islam bukan agama pencaci maki apalagi sampai menyakiti ummat lainnya. Ingat hatiku terasa panas sewaktu kalian berani mencaci maki agama orang lain. Aku takut azab Allah. Aku takut nikmat Islamku tercabut. Aku takut kalian tidak bersamaku kelak. Aku takut hanya karena ulah kalian ummatku menjadi pembakaran api neraka. Dan yang aku takutkan atas ucapan kalian, mereka jadi berani menghina Allah dan Rasul-Nya. Mereka jadi berani menghina Islam dan agama kita semua. Bila mereka sudah seperti itu, maka kalianlah yang menjadi pertanggung jawabannya di akherat kelak dan bukan golonganku.”

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Idola, Islam, Muslim, Renungan, Sejarah, Teladan, Uswatun Hasanah | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Sebutir Kurma Penghalang Do’a

Posted by gunawank pada April 2, 2017

Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram.

Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa.

Empat bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan di bawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali.

Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

“Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,” kata malaikat yang satu.

“Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi.

Ibrahim bin Adham terkejut sekali, ia terhenyak. Jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT, gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.

“Astaghfirullahal adzhim” Ibrahim beristighfar. Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.

Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu, melainkan seorang anak muda.

“4 bulan yang lalu saya membeli kurma di sini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang?” tanya ibrahim.

“Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma,” jawab anak muda itu.

“Innalillahi wa inna’ilaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan?”

Kemudian Ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya. Anak muda itu mendengarkan penuh minat.

“Nah, begitulah,” kata Ibrahim setelah bercerita.

“Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur kumakan tanpa izinnya?”

“Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatasnamakan mereka, karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.”

“Dimana alamat saudara-saudaramu? Biar saya temui mereka satu persatu,” lanjut Ibrahim.

Setelah menerima alamat, Ibrahim bin Adham pergi hendak menemui mereka.

Meskipun rumahnya berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh Ibrahim.

Empat bulan kemudian, Ibrahim bin Adham sudah berada di bawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap-cakap.

“Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara-gara makan sebutir kurma milik orang lain.”

“O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi,” kata malaikat satunya.
“Ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.”

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Do'a, Hikmah, KisahSufi, Renungan, Tasawuf, Teladan, Tobat, Uswatun Hasanah | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Sakinah, Mawaddah dan Rahmah

Posted by gunawank pada November 17, 2015

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ketiga kata tersebut sering kita dengar pada acara-acara pernikahan atau kita baca pada ucapan selamat kepada pasangan pengantin baru:

“Selamat menempuh hidup baru. Semoga menjadi keluarga yang “sakinah”, “mawaddah” wa Rahmah”.

Lalu, apa makna sesungguhnya dari ketiga kata itu, dan mengapa selalu terangkai dalam ucapan pernikahan?

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Ibadah, Islam, Muslim, Renungan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Shalat Istisqa’; Istighfar & Do’a Minta Hujan

Posted by gunawank pada November 9, 2015

Kemarau panjang yang ditandai ketiadaan turun hujan sejak Agustus 2015 ini menyebabkan kekeringan yang cukup parah di beberapa daerah di Nusantara.

Dampak lain dari musim kemarau yang panjang ini selain kesulitan mendapatkan air adalah terjadinya kebakaran hutan di semua daerah yang memiliki wilayah hutan. Kabut asap yang ditimbulkannya telah mengakibatkan bencana sampingan gangguan pernafasan, bahkan di beberapa daerah menyebabkan kematian.

Tak ayal lagi, sesuai tuntunan ajaran Islam marak dilaksanakan shalat istisqa hampir di seluruh pelosok negeri. Namun hujan tak kunjung datang, sehingga di beberapa tempat ada yang menyelenggarakannya berulang-ulang.

Rasulullah saw melakukan shalat istisqa ketika memohon diturunkannya hujan, sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah Radhiallahu’anha:

شكا الناس إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم قحوط المطر فأمر بمنبر فوضع له في المصلى ووعد الناس يوما يخرجون فيه قالت عائشة فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم حين بدا حاجب الشمس فقعد على المنبر فكبر صلى الله عليه وسلم وحمد الله عز وجل ثم قال إنكم شكوتم جدب دياركم واستئخار المطر عن إبان زمانه عنكم وقد أمركم الله عز وجل أن تدعوه ووعدكم أن يستجيب لكم ثم قال ( الحمد لله رب العالمين الرحمن الرحيم ملك يوم الدين) لا إله إلا الله يفعل ما يريد اللهم أنت الله لا إله إلا أنت الغني ونحن الفقراء أنزل علينا الغيث واجعل ما أنزلت لنا قوة وبلاغا إلى حين ثم رفع يديه فلم يزل في الرفع حتى بدا بياض إبطيه ثم حول إلى الناس ظهره وقلب أو حول رداءه وهو رافع يديه ثم أقبل على الناس ونزل فصلى ركعتين فأنشأ الله سحابة فرعدت وبرقت ثم أمطرت بإذن الله فلم يأت مسجده حتى سالت السيول فلما رأى سرعتهم إلى الكن ضحك صلى الله عليه وسلم حتى بدت نواجذه فقال أشهد أن الله على كل شيء قدير وأني عبد الله ورسوله

Orang-orang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang musim kemarau yang panjang. Lalu beliau memerintahkan untuk meletakkan mimbar di tempat tanah lapang, lalu beliau membuat kesepakatan dengan orang-orang untuk berkumpul pada suatu hari yang telah ditentukan”. Aisyah lalu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar ketika matahari mulai terlihat, lalu beliau duduk di mimbar. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir dan memuji Allah Azza wa Jalla, lalu bersabda, “Sesungguhnya kalian mengadu kepadaku tentang kegersangan negeri kalian dan hujan yang tidak kunjung turun, padahal Allah Azza Wa Jalla telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan Ia berjanji akan mengabulkan doa kalian” Kemudian beliau mengucapkan: “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Dia melakukan apa saja yang dikehendaki. Ya Allah, Engkau adalah Allah, tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha kaya sementara kami yang membutuhkan. Maka turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang telah Engkau turunkan sebagai kekuatan bagi kami dan sebagai bekal di hari yang di tetapkan).” Kemudian beliau terus mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putihnya ketiak beliau. Kemudian beliau membalikkan punggungnya, membelakangi orang-orang dan membalik posisi selendangnya, ketika itu beliau masih mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau menghadap ke orang-orang, lalu beliau turun dari mimbar dan shalat dua raka’at. Lalu Allah mendatangkan awan yang disertai guruh dan petir. Turunlah hujan dengan izin Allah. Beliau tidak kembali menuju masjid sampai air bah mengalir di sekitarnya. Ketika beliau melihat orang-orang berdesak-desakan mencari tempat berteduh, beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya, lalu bersabda: “Aku bersaksi bahwa Allah adalah Maha kuasa atas segala sesuatu dan aku adalah hamba dan Rasul-Nya” (HR. Abu Daud no.1173)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anahu:

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا يَسْتَسْقِي فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ بِلَا أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ ثُمَّ خَطَبَنَا وَدَعَا اللَّهَ وَحَوَّلَ وَجْهَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ رَافِعًا يَدَيْهِ ثُمَّ قَلَبَ رِدَاءَهُ فَجَعَلَ الْأَيْمَنَ عَلَى الْأَيْسَرِ وَالْأَيْسَرَ عَلَى الْأَيْمَنِ

Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam keluar untuk melakukan istisqa’. Beliau shalat 2 raka’at mengimami kami tanpa azan dan iqamah. Lalu beliau berkhutbah di hadapan kami dan berdoa kepada Allah. Beliau mengarahkan wajahnya ke arah kiblat seraya mengangkat kedua tangannya. Setelah itu beliau membalik selendangnya, menjadikan bagian kanan pada bagian kiri dan bagian kiri pada bagian kanan” (HR. Ahmad 16/142).

Dari kedua hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan shalat istisqa ada tiga amaliah, yaitu shalat sunnah dua rakaat, khutbah dan berdo’a memohon turun hujan.

Posted in Akhlak, Artikel Islam, bencana, Bencana Alam, Buah bibir, Fenomena, Fenomena alam, Hikmah, Ibadah, Iman, Islam, Renungan, Tobat | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

Sumpah Pemuda; Kesadaran Pentingnya Persatuan

Posted by gunawank pada Oktober 28, 2015

Nusantara adalah negeri kepulauan yang serba kaya. Kaya budaya, kaya bahasa, kaya suku bangsa, plus kekayaan alam yang melimpah ruah, luas lautnya dengan berbagai macam ikan hidup di dalamnya, subur tanahnya serta berbagai barang tambang terkandung di dalamnya, luas hutannya dengan berbagai macam flora dan fauna, dan sebagainya, dan sebagainya.

Namun untaian mutiara khatulistiwa nan cantik jelita ini, saat itu sedang berada dalam genggaman sang angkara. Kaum penjajah dengan segala kekuatan dan keserakahannya membuat rakyatnya sengsara, penduduknya menderita.

Usaha-usaha perlawanan dan pemberontakan muncul di mana-mana, peperangan terjadi diberbagai daerah. Namun bukan membuat enyah bangsa penjajah, justeru semakin memperkuat dan memperluas wilayah penjajahan.

Semangat juang yang tinggi ternyata tidak cukup untuk mengusir penjajah, karena hanya dilakukan secara terpisah di masing-masing daerah.

Menyadari akan hal ini, Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) menggagas diadakannya Kongres Pemuda kedua yang berhasil dilaksanakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng).

Kongres ini diharapkan dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda, demikian dikatakan ketua PPPI, Sugondo Djojopuspito dalam sambutannya pada hari Sabtu, 27 Oktober 1928.

Hasil rumusan dari tiga kali rapat dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 sebagai sumpah setia yang berbunyi :

Kami poetera dan poeteri Indonesia,
mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kami poetera dan poeteri Indonesia,
mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Kami poetera dan poeteri Indonesia,
mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Ikrar para pemuda dari berbagai daerah ini dikenal sebagai SUMPAH PEMUDA.

Dari apa yang dirumuskan, dibahas dan diikrarkan pada Kongres Pemuda Kedua ini tercermin semangat nasionalisme dan kebangsaan yang teramat sangat tinggi meski mereka berangkat dari organisasi-organisasi kepemudaan dari suku yang berbeda-beda tetapi mampu mempersatukan diri dalam satu wadah besar bernama INDONESIA.

Posted in Akhlak, Hikmah, Ibu Pertiwi, Idola, In memoriam, Indonesia, Opini, Opinion, Organisasi, Pahlawan, Sejarah | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Taubat Tidak Harus Menunggu Berdosa

Posted by gunawank pada Oktober 25, 2015

“Dan (juga mereka adalah) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali Imran: 135).

TaubatMenurut bahasa, taubat artinya kembali. Sedangkan menurut istilah, taubat berarti kembali taat kepada Allah swt dengan meninggalkan dan menghindarkan diri dari perbuatan tercela menurut pandangan agama.

Oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari kata taubat selalu diidentikkan dengan para pembuat dosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang hidupnya selalu bergelimang dalam dunia ‘gelap’ yang penuh dengan kemaksiatan. Sehingga para pelaku dosa itu harus bertaubat yakni harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

Bagi mereka yang hidup dalam kemaksiatan maka taubatnya itu harus dilakukan untuk menghindarkan diri dari kemaksiatan tersebut. Bagi mereka yang kesehariannya selalu mengerjakan dosa-dosa kecil, maka taubatnya adalah menghindarkan diri dari memperbuat dosa-dosa kecil tersebut. Demikian juga bagi mereka yang hiruk-pikuknya dalam kubangan kemakruhan (perkara yang dibenci agama) maka pertaubatannya dilakukan dengan cara menghindar dari kemakruhan tersebut. Singkatnya, setiap pribadi harus selalu bertaubat menurut kapasitas masing-masing.

Imam Abdul Wahhab As-Sya’roni mengelompokkan taubat ke dalam tiga tingkatan. Taubat yang paling dasar adalah taubat yang harus dilakukan untuk kembali dari dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil, kemakruhan dan dari perkara yang tidak diutamakan.

Artinya memohon ampun kepada Allah dan kembali ke jalan yang benar dengan memperbanyak amal soleh serta menjauhkan diri dari sesuatu yang dapat menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa besar maupun kecil, meninggalkan pemakruhan dan perbuatan sia-sia.

Tingkatan kedua adalah bertaubat dari merasa diri sebagai orang baik, merasa dirinya telah dikasihi Allah dan merasa dirinya telah mampu bertaubat kepada Allah swt. Sesungguhnya berbagai macam perasaan ini adalah sebuah kesalahan yang lahir dari penyakit hati manusia yang sangat halus.

Perasaan diri sebagai orang baik akan membawa diri merasa aman dengan kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya, dan pada gilirannya akan menjadi pelaku dosa yang tidak merasa berdosa, melakukan berbagai kemaksiatan tanpa merasa berbuat maksiat.

Cara bertaubatnya adalah memohon ampun kepada Allah atas kesombongan dirinya yang merasa telah memiliki kemampuan-kemampuan tersebut dan menanamkan keyakinan bahwa kesemuanya itu hanyalah pemberian Allah SWT. Allah-lah yang telah menjadikannya orang baik. Allah pulalah yang telah memberinya kemampuan untuk berbuat baik maupun kemampuan untuk bertaubat. Yakinkan bahwa tanpa pertolongan Allah, dirinya tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Tingkatan ketiga atau puncaknya taubat adalah kembali mengingat Allah swt dari kelalaian mengingatnya walaupun sekejap saja. Karena melupakan-Nya adalah sebuah dosa. Bukankah Allah telah memerintahkan manusia untuk selalu ingat kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisa: 103)

Jika masih berada dalam tingkat dasar, hendaklah pertahankan taubat kita sambil berusaha belajar menginjak taubat tingkat kedua. Dan apabila telah berada di tingkat kedua, maka berhati-hatilah sesungguhnya syaitan selalu mengintai kelengahan agar kita kembali terjerembab dalam kubangan dosa. Firman Allah:

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112).

Kemudian berdasarkan tingkatan taubat yang ketiga seyogyanya untuk bertaubat tidaklah harus menunggu perbuatan dosa terlebih dahulu, karena pada dasarnya hidup manusia penuh kesalahan. Baik kesalahan dhahir yang kasat mata maupun kesalahan bathin yang dilakukan hati, seperti lupa hati dalam mengingat Allah dan jenis penyakit hati lainnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Barang siapa bertaubat tetapi tidak meninggalkan kesombongan dan kecongkakannya, berarti dia belum bertaubat”.

Mudah-mudahan kita diberi kemampuan dan kemauan untuk banyak bertaubat kepada Allah tanpa harus melihat apakah kita telah berbuat dosa atau tidak, karena ketika kita lupa bertaubat pada hakekatnya kitapun sudah berdosa. Semoga Allah menerima taubat kita. Amin ya Robbal alamin.

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Renungan, Tasawuf, Tobat | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Hikmah Perigatan Tahun Baru Hijriyah

Posted by gunawank pada Oktober 13, 2015

Tahun Baru 1437 HHari berganti hari, bulan berganti bulan dan pergantian tahun ke tahunpun terus kita lalui. Tanpa terasa, pada malam ini kita telah berada di awal tahun baru hijriyah, 1 Muharram 1437 H. Marilah kita memanjatkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah banyak memberikan nikmatnya kepada kita semua, antara lain ni’mat iman dan Islam, serta ni’mat sehat dan panjang umur sehingga kita masih diberi kesempatan hidup hingga saat ini. Yaitu dengan menggunakan nikmat tersebut ke jalan yang di ridloi-Nya. Karena jika kita bersyukur atas nikmat-Nya, maka Allah pun akan menambah nikmat itu. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Ibrahim ayat 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah), tatkala tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab–Ku sangat pedih.”

Bagi umat Islam, sebagai perwujudan rasa syukur dalam menyambut datangnya tahun baru ini bukan dengan cara berpesta pora, bersuka ria, hura-hura, meniup terompet sehingga memekakan telinga dan berpoya-poya, tetapi justru dijadikan ajang introspeksi diri, muhasabah dan membanyakkan istighfar, memohon ampunan dan keridlaan-Nya. Sebab umur yang panjang tidak menjamin kebaikan seseorang di hadapan Allah Swt. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw dalam haditsnya: Baca entri selengkapnya »

Posted in Artikel Islam, Hikmah, Islam, Renungan | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Akhirnya……. Pak Polisi Itu Jatuh !

Posted by gunawank pada Maret 6, 2014

Sore tadi sekitar pukul 20.00 WIB, ketika aku dan istriku baru pulang menjenguk saudara kami yang terkena musibah jatuh dari sepeda motor, dan kami sedang berada di bundaran Masjid Raya Puri Telukjambe ke arah jalan Johar-Telukjambe dan posisi kami berada di belakang truk karena di samping harus menikung mengitari bundaran setelah itu harus mebelok ke kiri menuju jalan ke arah simpang tiga Johar-Telukjambe-Puri Telukjambe (Simpang Al-Mushlih) yang hanya satu jalur (jalur kanan karena jalur kirinya rusak) tetapi digunakan dua arah, tiba-tiba ada sepeda motor mendahului truk dari sebelah kiri truk tepat saat truk belok kiri. “Nekad benar itu orang..!”, pikirku.

Setelah aku berhasil mendahului truk yang berjalan lambat karena berat penuh muatan, pandanganku tertuju pada sepeda motor yang berjalan kencang dan beberapa kali mendahului beberapa sepeda motor lain secara zigzag kiri-kanan. Aku sebenarnya tidak terlalu peduli dengan ulah pengendara tersebut karena berada di depanku karena akhirnya motor tersebut tertahan di belakang sebuah mobil dan tidak dapat mendahuluinya karena kendaraan dari arah berlawanan sedang ramai, sehingga aku dapat menyusulnya tepat berada di samping sepeda motor tersebut.

Karena akan menghadiri pengajian di Ponpes Al-Mushlih tempat aku mengajar, ketika ada kesempatan mendahului mobil di depanku kendaraan dari arah berlawanan kosong aku naikan kecepatan sepeda motorku untuk mendahului mobil tersebut. Namun, ketika aku ambil kanan tiba-tiba sepeda motor tersebut mendahuluiku dari sebelah kiriku. Tentu saja aku terkejut namun alhamdulillah masih dapat mengendalikan kemudi motorku sampai berhasil mendahului mobil itu.

Terdorong rasa penasaran siapa pengendara sepeda motor tersebut dan bermaksud menegurnya, maka aku kejar dia karena aku yakin dapat mendahului dia karena aku paham betul kondisi jalan tepat di samping Ponpes Al-Mushlih rusak berlubang, dan benar saja aku berhasil mendahuluinya. Lalu aku giring dia untuk menepi, tetapi dia berhasil untuk lolos walaupun akhirnya aku berhasil memaksa dia menepi.

Ketika kubuka helm diapun membuka helemnya sambil mendahului membentakku,”Ada apa…..? Mau urusan..?”, katanya dengan nada tinggi. Aku tidak menjawabnya, hanya kutatap terus mukanya. “Memang apa salahku…? Mau urusan….? Ayo urusan di kantorku!”, bentaknya lagi.

Kata terakhir itulah yang memancing emosiku. Kelihatannya sombong sekali ini orang. Akupun mulai buka suara, “Anda seorang polisi, ya..?”, tanyaku dengan suara balas membentak. Karena pikirku, orang angkuh dan sombong, apalagi seorang aparat negara harus disombongi lagi. Dalam kaidah fiqihnya Imam Syafi’i menyatakan: “Ketakaburan tidak boleh dilawan dengan ketakaburan lagi”, tetapi dalam kondisi tertentu (untuk memberi pelajaran, misalnya) kaidah mustasnayat-nya (kaidah pengecualiannya) menyatakan: “Orang sombong harus dilawan dengan kesombongan lagi”.

“Ya, saya polisi. Kenapa ? Mau urusan di kantorku ? Memang apa kesalahanku ?”, jawabnya menantang.

“Oh…, pantas ! Kalau anda seorang polisi sedangkan saya cuma ustadz yang tidak tahu peraturan lalulintas. Anda seorang polisi yang sangat ahli dalam aturan dan bertanya tentang kesalahan, berarti saya yang gila karena berani menegur pak polisi yang jagonya peraturan”, dengan nada yang sangat keras. “Kalau anda menawarkan urusan di kantor anda, maka saya yang gila ini menawarkan kita selesaikan urusan ini di kantorku !”, lanjutku sambil menunjuk ke arah Ponpes Al-Mushlih yang memang tepat di seberang jalan tempat kami berada.

“Ya, sudahlah……… ! malu dilihatin orang (dan memang pengunjung rumah makan mulai mengarahkan panfangannya ke kami yang berada di sampingnya)…!’, katanya sambil berusaha ‘kabur’. Akupun semakin terpancing, karena maksudku untuk menyadarkannya belum sampai. Maka iteriku kusruruh turun yang sejak tadi masih berada di atas sepeda motor, lalu ku kejar dia yang telah cukup jauh karena kendaraanya dipancu cukup kencang.

Dan………., buk ! Mungkin karena terburu-buru, saat belok kiri ke arah Johar berusaha mendahului kendaraan lain dari sebelah kiri, tidak sadar atau mungkin tidak tahu bahwa ada lubang cukup dalam, dan diapun terjatuh tertindih sepeda motornya yang terguling…………………………

Melalui tulisan ini aku ingin meyampaikan permohonan maaf (karena aku tidak mengetahui alamat tinggal maupun kantor pa polisi itu). Aku bentak-bentak beliau bukan karena benci polisi, tetapi ingin memberi kesadaran (karena aku merasa usiaku jauh lebih tua dari pa polisi tersebut) kepada oknum-oknum yang secara tidak sadar atas tindakannya itu dapat merusak citra polisi, aparat yang mengemban tugas mulia. Wallahu a’lam.

Posted in Akhlak, Hikmah, Insiden, Karawang, Kepribadian, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Musibah, Polisi, Sepeda Motor, Serba serbi | Dengan kaitkata: , , | 1 Comment »

Senang Datangnya Ramadlan, Haram Jasadnya Tersentuh Neraka

Posted by gunawank pada Juli 10, 2013

من فرِح بدخول رمضان حرم الله جسده على النيران

“Siapa saja merasa senang dengan masuknya bulan Ramadlan,

maka Allah mengharamkan jasadnya dari api Neraka”.

Begitulah bunyi redaksi haditsnya dan kita sebagai umat Islam wajib percaya kepada sabda baginda Rasulillah SAW. Lalu muncul pertanyaan, “Apakah betul itu perkataan beliau SAW ?”.  Selama para Ulama Ahli Hadits menyatakan bukan hadits maudlu/palsu, harus kita yakini itu adalah hadits Rasulillah SAW. Tetapi jika dilihat dari redaksinya yang mengundang munculnya pertanyaan-pertanyaan, pasti ini bukan termasuk Hadits Shahih fil matn.

“Betulkah jika kita merasa senang, gembira dengan datangnya bulan Ramadlan Allah akan mengharamkan jasad kita tersentuh api neraka?”, inilah pertanyaan berikutnya yang muncul. Jawabnya, ya…pasti. Karena begitulah janji Allah yang disampaikan melalui lisan Rasul-Nya.

Pertanyaan selanjutnya, “Gampang amat untuk tidak masuk neraka ?”. Jawabnya, pasti bagi Allah apapun sangat mudah. Namun, tentunya tidak semudah itu dipandang dari sisi manusia, karena pasti ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhinya.

Sebuah produk dalam iklannya menawarkan hadiah mobil bagi pembeli produknya. Artinya, bagi siapapun yang membeli produknya akan berpeluang mendapatkan hadiah mobil tersebut. Sebaliknya, tidak akan pernah mendapatkan hadiah mobil tersebut bagi orang yang tidak pernah membeli produknya. Bahkan, bagi pembeli produkpun meski memiliki peluang untuk mendapat hadiah mobil tetapi pasti tidak akan semua mendapatkannya. Hanya pembeli yang memenuhi persyaratan-persyaratan saja yang akan benar-benar menerima hadiah mobil tersebut.

Bisa dianalogkan dengan kasus di atas adalah pernyataan Rasulullah SAW yang akan memberi hadiah  TIDAK TERSENTUH API NERAKA bagi orang yang MERASA SENANG DATANGNYA BULAN RAMADLAN. Sehingga dapat ditarik kesimpulan :

  1. Bagi setiap orang yang tidak merasa senang dengan datangnya bulan Ramadlan, sama sekali tidak akan mendapatkan hadiah terbebas dari api neraka.
  2. Bagi setiap orang yang merasa senang dengan kedatangan bulan Ramadlan, semuanya berpeluang untuk mendapatkan hadiah terbebas dari api neraka.
  3. Bagi mereka yang berpeluang mendapatkan “hadiah” tersebut tidak akan semuanya mendapatkannya, hanya mereka yang memenuhi persyaratan saja yang akan mendapatkannya.

Berbagai alasan tentunya orang merasa senang dengan datangnya bulan Ramadlan. Anak-anak senang dengan datangnya bulan Ramadlan karena akan mendapatkan baju baru, dibelikan petasan, kembang api dan lain-lain. Pedagang petasan senang dengan datangnya bulan Ramadlan karena dagangannya akan lebih banyak terjual. Demikian pula pedagang pakaian, makanan, mainan dan lain-lain, bahkan tidak ketinggalan para penjual jasa. Semuanya akan merasa senang dengan datangnya bulan Ramadlan.

Tetapi bukan itu tentunya yang dimaksud dengan kata “senang” dalam hadits di atas, melainkan senang dalamkategori sebagai berikut:

Pertama, merasa senang karena telah dipanjangkan umur dan dipertemukan dengan bulan Ramadlan ini, sehingga perasaan senagnya ini akan diwujudkan dalam bentuk bersyukur atas ni’mat yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Bersyukur karena Allah telah memberinya dua ni’mat yang sangat diharapkannya, yakni ni’mat panjang umur dan ni’mat dipertemukannya dengan bulan Ramadlan yang penuh berkah dan ampunan Allah SAW.

Seorang pemulung akan sangat berterima kasih ketika diberi satu dus berisi cangkang aqua gelas, karena dia sangat membutuhkan cangkang aqua gelas itu untuk mendapatkan uang, sebagai sumber penghasilannya sehari-hari. Sementara yang lain tidak akan berterima kasih sebagaimana halnya pemulung tadi, tatkala diberi satu dus berisi cangkang aqua gelas karena tidak mengharapkannya.

Kedua, merasa senang karena dipertemukannya dengan bulan Ramadlan yang sangat ditunggu-tunggu dan dinantikan kedatangannya karena keyakinan bahwa Ramadlan adalah bulan yang dilebihkan oleh Allah dibandingkan bulan-bulan yang lain, dimana nilai ibadah pada bulan Ramadlan jauh lebih baik dari bulan-bulan yang lain.

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (رواه احمد)

Sesungguhnya telah datang Bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, dimana Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa, pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan”. (HR. Ahmad).

Dalam Hadits lain dijelaskan bahwa:

“Siapa saja yang melakukan amalan sunnah akan dilipatgandakan pahalanya, bagaikan melakukan kewajiban, yang melakukan amalan wajib pahalanya dilipatgandakan 70 (tujuh puluh) kali jika dibanding dengan amalan di luar Bulan Ramadhan, bahkan diamnya orang yang berpuasa pun, mendapatkan suatu pahala, sedang berdzikir dan beribadah akan lebih besar lagi pahalanya”.

.لو تعلم امتى ما فى رمضان لتمنوا أن تكون السنة كلها رمضان

”Jika ummatku mengetahui nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, pasti mereka berkeinginan supaya semua bulan dalam setahun terdiri dari Bulan Ramadhan seluruhnya”.

Karena senangnya mendapatkan barang yang dia cari-cari, pemulung itu akan menjaganya dari kerusakan dan kehilangan dengan cara memasukannya ke dalam karung atau gerobak dorongnya, kemudian dicucinya jika kotor, dibersihkan, ditata dan sebagainya lalu dijualnya sehingga menghasilkan uang yang merupakan tujuan akhir dari pencariannya itu. Dan ini tidak akan dilakukan oleh orang yang tidak merasa senang dengan pemberian cangkang aqua gelas tersebut.

Demikian pula halnya, rasa senang yang timbul karena dipertemukan dengan Ramadlan yang penuh berkah ini harus diwujudkan dalam bentuk mempersiapkan segala ilmu yang berkaitan dengan puasa, zakat fitrah dan amal lain di bulan Ramadlan. Baik ilmu fiqih (sehingga bisa mengetahui sah dan batalnya amal yang dilakukan atau mengetahui apakah wajib, sunah, haram, makruh atau mubah hukum dari amal yang dilakukan), ilmu aqidah (untuk meluruskan i’tiqad dan tujuan ibadah kita) maupun ilmu tashawuf atau akhlak (agar mengetahui mana yang sebaiknya dilakukan dan mana yang sebaiknya tidak dilakukan untuk kesempurnaan amal yang dilakukan).

Ketiga, rasa senangnya itu harus diwujudkan dengan cara memanfaatkan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin segala fasilitas yang Allah sediakan di bulan Ramadlan ini sehingga tujuan akhir dari semuanya itu, yakni agar menjadi orang-orang yang bertakwa dapat dipoerolehnya.

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Bulan Ramadlan, Hikmah, Ibadah, Puasa Ramadlan, Renungan, Rukun Islam, Shaum | Dengan kaitkata: , , , | 1 Comment »

Gara-gara Motor Hilang, Mendadak Jadi Orang Pintar

Posted by gunawank pada Mei 16, 2013

Kejadian unik ini benar-benar terjadi pada salah seorang teman. Jadi, bukan pengalaman pribadi, tetapi insya Allah beritanya shoheh alias terjadi sungguhan dialami oleh teman penulis yang menjadi ketua salah satu Yayasan Pendidikan Islam di kotaku.

Seperti biasanya, guru-guru di yayasan tersebut yang umumnya menggunakan sepeda motor ketika pergi mengajar, memarkir sepeda motornya di area parkir yang letaknya si sebelah depan kanan gedung sekolah, sehingga pandangan dari kantor guru ke area parkir terhalang oleh ruang kelas.

Kondisi  seperti itu sudah berjalan bertahun-tahun dan alhamdulillah tidak ada masalah. Aman-aman saja, sampai suatu hari di lingkungan yayasan geger karena ada salah satu motor guru yang raib, tidak ada di tempat parkir, hilang entah ke mana.

Sudah ditanya ke semua guru barangkali ada yang pinjam. Tidak ada yang merasa meinjamnya. Dicoba dicek ke rumah barangkali lupa tidak bawa sepeda motor, juga tidak ada di rumah. Pendek kata, sepeda motor guru tersebut hilang diambil orang.

Ketua yayasan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali melaporkan kejadian tersebut kepada polsek setempat dan menasihati guru yang bersangkutan untuk bersabar dan bertawakal kepada Allah SWT serta menerima dengan ikhlas sebagai takdir Allah yang pasti merupakan pilihan Allah yang terbaik untuknya.

“Jika kita betaqwa kepada Allah niscaya Allah akan memberikan jalan keluar dari segala urusan…”, katanya seraya mebacakan firman Allah dalam Al-Quran:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (الطلاق: 2)

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar”. (QS. Ath-Thalaq: 2).

Hari-hari berlalu setelah kejadian tersebut, bahkan guru tersebut sudah melupakan musibah yang menimpanya itu. Sampai pada suatu pagi suasana di lingkungan sekolah kembali digegerkan dengan kehadiran sepeda motor yang beberapa hari lalu dinyatakan hilang itu di tempat parkir. “Sepeda motorku balik lagi…!!!”, katanya setengah berteriak girang.

Berita “kembalinya” sepeda motor yang telah hilang inipun cepat menyebar ke masyarakat sekitar melalui berita dari mulut ke mulut, maklum di lingkungan yayasan setiap hari hadir pula bapak/ibu wali murid TK, TPA, dan TQA. Dan mungkin (seperti biasanya) ketika berita ini menyebar di masyarakat ditambah dengan “bumbu-bumbu penyedap rasa” yang beraneka ragam tentunya sesuai dengan selera “koki” penyebar berita tersebut.

Akibatnya, sejak kejadian “Kembalinya” sepeda motor guru itu Ketua Yayasan menjadi kebingungan karena banyak didatangi orang-orang yang kehilangan harta bendanya, meminta bantuan kepada beliau (yang dianggap oleh mereka sebagai “orang pintar”) agar barangnya yang hilang bisa kembali.

Ada-ada saja orang sekarang, Orang lagi kebingunan malah dianggap orang pintar, he…he…heee…..! .

Posted in Akhlak, Aneh tapi nyata, Hikmah, Kisah Nyata, Kisahku, Pelajaran, Renungan, Sepeda Motor | Dengan kaitkata: , , | 4 Comments »