Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Archive for the ‘Iedul Fitri’ Category

Syawwal, Bulan Peningkatan Amal

Posted by gunawank pada Juni 30, 2017

Alhamdulillah, tanpa terasa kini kita telah berada di bulan Syawal. Bulan kesepuluh dalam penanggalan bulan qamariyah, bulan yang di dalamnya terdapat hari raya iedul fitri, hari raya berbuka bagi umat Islam setelah sebulan penuh menjalankan ibadah shaum ramadlan.

Menurut bahasa, syawal berarti naik. Ini mengandung maksud bahwa bagi setiap muslim harus terjadi peningkatan kualitas maupun kuantitas amal mulai bulan syawal dan seterusnya, setelah di bulan Ramadlan dilatih untuk memperbanyak amal.

Sebagaimana kita ketahui bahwa selama bulan Ramadlan kita diwajibkan oleh Allah SWT untuk berpuasa penuh dengan satu tujuan agar setelah melewati bulan Ramadlan setiap muslim meningkat derajatnya, yakni mencapai derajat muttaqin, pangkat yang paling mulia di sisi Allah SWT. Sebagaimana firman-nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu sekalian termasuk orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al-Baqarah: 183).

Untuk mewujudkan fungsi puasa ramadlan sebagai sarana mencapai derajat muttaqin, Allah SWT menyertakan berbagai fasilitas untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas ibadah di bulan Ramadlan, antara lain dijadikannya bulan Ramadlan sebagai bulan yang penuh berkah dan rahmat Allah. Sehingga dalam bulan ramadlan kecenderungan ada peningkatan ibadah kita, seperti lebih rajin membaca Al-Quran, lebih banyak bershadaqah bahkan mungkin hampir setiap hari kita mampu dan mau mengisi kotak infak setiap pelaksanaan shalat tarawih, rajin berjamaah shalat fardu, kuat serta istiqamah melaksanakan shalat tarawih yang jumlah rakaatnya jauh lebih banyak dari shalat pada hari-hari lain di luar bulan Ramadlan, mampu istiqamah shalat witir setiap malam, dan lain-lain.

Pada bulan Ramadlan pula, dengan kehawatiran akan merusak ibadah puasa, kitapun mampu menjaga lisan dari gibah, berdusta, mengadu-ngadu, bersaksi palsu dan lain-lain. Kita juga mampu menahan pandangan, pendengaran, pikiran, hati, perut, tangan dan kaki dari perbuatan maksiat.

Memperbanyak amal sebagai sarana menuju surga Allah SWT dan menahan diri dari perbuatan yang dapat menjurumuskan ke dalam neraka sebagaimana diuraikan di atas, disadari atau tidak, diakui ataupun tidak, sejujurnya sulit dan sangat berat dapat kita lakukan pada hari-hari lain di luar bulan Ramadlan. Maka pantaslah apabila Allah SWT memberikan predikat muttaqin kepada mereka yang “lulus” menjalankan puasa Ramadlan, dan memasukkannya ke dalam golongan  manusia yang kembali kepada fitrah kesucian dan memperoleh kemenangan, minal a’idina wal faizin.

Kini Ramadlan telah berlalu. Lalu bagaimana kita menyikapi hari demi hari kita, setelah kita kembali pada fitrah kesucian jiwa……? Setelah kita dinobatkan sebagai insan yang memperoleh kemenangan…?

Para ulama salaafunassholih memberikan nasihat kepada kita dalam rangka mempertahankan predikat tersebut:

Pertama, pertahankan amal yang telah mampu secara rutin kita lakukan di bulan Ramadlan.

أ لا وانّ علامةَ قبولِ الحسنةِ عَمِلَ الحسنةَ بعد هاعلى التّوال وانّ علامة ردّ ِها ان تتبع بِقِـبْـيال

“Ingatlah bahwa tanda diterimanya amal kebaikan adalah melakukan amalan sholeh setelahnya secara berkesinambungan. Adapun tanda ditolaknya amal ibadah adalah mengiringi amalan kebajikan itu dengan prilaku keji dan mungkar”.

Sebagai tanda diterimanya ibadah puasa dan amal-amal lain yang dilakukan pada bulan Ramadlan adalah terjadinya peningkatan kuantitas maupun kualitas ibadah setelah berlalunya bulan Ramadlan tersebut. Dengan kata lain, mafhum mukhalafhnya adalah jika pada bulan Syawal ini mulai malas berjamaah, meninggalkan shalat witir, malas-malasan tadarus Al-Qur’an, berat untuk bershadaqah, mulai suka menggunjing, bermusuhan, berdusta, menipu, korupsi dan lain-lain kemaksiatan, itu tandanya ibadah kita tidak diterma Allah SWT. Naudzu billah.

Kedua, pada bulan Syawal ini, selain kita harus mampu mempertahankan segala amal yang kita raih di bulan Ramadlan, apalagi dapat meningkatkannya baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya, kita juga harus berusaha keras untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan, agar pahala amal kita tidak habis dirusak oleh kemaksiatan tersebut.

ولا تبطُلْ ماأسلفتــم فى شهررمــضان مِن صــالح ا لأ عــمال

“Janganlah kalian porak porandakan segala pahala kebaikan yang telah terkumpulkan di bulan Ramadhan dari beberapa amalan sholih”.

واعلموا أنّ الحسناتَ يُذهِبْنَ السّيّـئآت. فكذالك السّيّـئآتَ يُبطِلْنَ صالح َالأعمال

“Ketahuilah bahwa segala kebaikan (pahala) dapat menghanguskan segala keburukan (dosa), demikian juga (sebaliknya), segala kejelakanpun dapat menghancurkan amal-amal kebajikan”.

Semoga atas rahmat dan pertolongan Allah SWT, kita diberi kekuatan, kemampuan dan kemauan untuk senantiasa meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita pada bulan Syawal dan hari-hari selanjutnya. Dan semoga pula, kita mampu menahan diri dan menghindari kemaksiatan yang dapat merusak dan menghanguskan pahala amal kita.  Amin ya Robbal ‘alamin.

Iklan

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Bulan Ramadlan, Hikmah, Ibadah, Iedul Fitri, Renungan | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Pelajaran Dari Ramadhan

Posted by gunawank pada Agustus 19, 2012

images

Suatu kali  Rasulullah saw melaksanakan shalat idul Fitri  lebih siang dari biasanya,  bukan karena beliau lupa,  apalagi tertidur setelah shalat subuh. Beliau terlambat datang  ke tempat berkumpulnya jama’ah shalat Ied  karena beberapa saat menjelang keberangkatannya,  di perjalanan beliau mendapati seorang anak  yang bermurung durja di tengah teman-temannya yang lagi asyik bermain – dan bersuka cita.

Mendapati situasi seperti itu beliau menghampiri anak tersebut, lalu didekapnya dan dielus-elus kepalanya. Setelah cukup mendapatkan kehangatan,  beliau lalu bertanya:  “Wahai anakku, mengapa kamu bersedih hati di saat teman-temanmu bersuka ria?  Di mana rumahmu? Siapa orangtuamu?”.  Dengan mata nanar  anak kecil itu menjawab: “Ayahku telah lama meninggal dalam suatu peperangan membela agama Islam,  sedang ibuku menikah lagi dengan lelaki lain dan tak lagi menghiraukanku”.

Rasulullah saw mendekap lebih hangat lagi, lalu bertanya:  “Maukah engkau menjadikan aku sebagai ayahmu,  ‘Aisyah sebagai ibumu, – Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husen sebagai saudaramu, serta Fatimah sebagai saudara perempuanmu?”. Beliau lalu membimbing anak itu ke rumahnya, dan meminta agar ‘Aisyah memandikannya, membersihkan kotorannya, dan memberinya pakaian terbaik yang dimilikinya. Sehingga anak kecil yang berpakaian dekil dan berwajah muram itu seketika berubah penampilannya.  Ia kini kelihatan bersih  dengan rambut yang tersisir rapih. Pakainnya bagus dan wajahnya berubah menjadi ceria. Ia keluar dari rumah Rasulullah saw  sambil berteriak-teriak kepada teman-temannya,  “Akulah anak yang hari ini paling bahagia.  Muhammad Saw telah menjadi ayahku,  ‘Aisyah menjadi ibuku,  Ali sebagai pamanku, Hasan dan Husen sebagai saudaraku, serta Fatimah sebagai saudara perempuanku…!“.  Sungguh tak terkira bahagianya anak itu.  Kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Di hari idul fitri seperti ini  seharusnya tak seorangpun bersedih hati. Semua gembira  Semua bahagia.  Terebih-lebih anak kecil,  mestinya mereka semua bersuka cita. Tapi, apa yang kita lihat di pagi yang fitri ini, berapa banyak kita dapati  anak-anak kecil berada di perempatan jalan, di lampu merah,  sedang menadahkan tangan meminta-minta? Sebentar lagi mereka akan datang ke tempat-tempat shalat ied,  bersama ayah dan ibunya, bukan untuk shalat melainkan untuk berebut memungut  koran-koran bekas alas shalat.  Mereka tidak sendiri,  bukan satu atau dua. Mereka itu puluhan, ratusan, ribuan,  bahkan entah berapa jumlahnya.

Kalau satu anak yatim saja  dapat menghentikan langkah Rasulullah saw  menuju tempat shalat idul fitri,  lalu mengapa  puluhan dan ratusan anak  yang mengalami nasib yang sama  tidak mampu menggerakkan hati kita untuk peduli, menyantuni, dan membahagiakan mereka?

Apa yang kita pikirkan  ketika membelikan baju baru untuk anak-ank kita? Apa yang ada dalam pikiran kita  ketika menghadapi aneka makanan lezat tersaji di meja makan kita? Apa yang ada dalam pikiran kita ketika kita bersama-sama keluarga melangkah bahagia menuju tempat shalat ied? Tidakkah terlintas dalam benak kita  sekelebat bayangan fakir miskin  yang hingga hari ini belum berbuka? Berapa banyak saudara-saudara kita  yang terpaksa merayakan idul fitri di tenda-tenda darurat tanpa makanan, setelah rumahnya dihancurkan oleh bencana alam? Mereka adalah orang-orang miskin baru yang jumlahnya puluhan ribu.

Rasulullah Saw bersabda:

”Sesungguhnya kalian mendapat pertolongan dan memperoleh rizki karena adanya orang-orang lemah di antara kalian.” (Al-Hadis)

Itulah pelajaran pertama yang harus kita ambil dari hikmah kita berpuasa di bulan Ramadlan,  yaitu harus memiliki kepedulian sosial. Kepedulian terhadap fakir miskin. Peduli terhadap pendidikan anak-anak yatim  dan anak-anak dari keluarga tidak mampu.

Islam adalah agama atau satu satunya agama yang paling banyak mengingatkan ummatnya  tentang fuqara dan masakin.  Bahkan, orang-orang yang tidak peduli kepada mereka  tegas-tegas disebutnya sebagai orang yang mendustaan agama.  Allah berfirman:

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, (yaitu) Orang-orang yang berbuat riya  dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.” (QS.Al-Maaun: 1-7).

Wallaahu a’lam.

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Bulan Ramadlan, Hikmah, Iedul Fitri, Islam, Lebaran, Puasa Ramadlan, Renungan, Shaum | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Posted by gunawank pada September 3, 2011

Sobat semua……
Jika terkandung khilaf dalam posting-ku,
Tergores luka karena candaku,
Tersinggung rasa karena comment-ku,
Terbelit pilu dalam tingkahku.
Hari kemenangan telah tiba,
Semoga diampuni salah dan dosa.
Mari bersama bersihkan diri,
Sucikan hati di hari Fitri.

Taqabalallahu minnaa wa minkum wa shiyamanaa wa shiyamakum wa ja’alanaallaahu minal a’idina walfaizin. Amin……

Kepada seluruh rekan bloger dan siapa saja yang pernah mengunjungi blogku, dalam kesempatan yang fitri ini saya mohon dibukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya.

Posted in Iedul Fitri | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Selamat Iedul Fitri 1431 H

Posted by gunawank pada September 18, 2010


Kepada segenap saudaraku muslimin di manapun berada, kami mengucapkan…
Selamat Iedul Fitri 1431 H / 10 September 2010 M….
Taqabbalallah minnaa wa minkum shiyaamanaa wa shiyaamakum
wa ja’alanallah minal ‘aidina wal faizin wa shalihal a’mal.
Mohon maaf lahir dan batin.
Amin.

Posted in Akhlak, Iedul Fitri, Lebaran, Serba serbi | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

PT. KAI Siapkan Gerbong Motor Mudik Lebaran

Posted by gunawank pada September 2, 2010

Guna membantu mengurangi kepadatan jalan raya yang diperkirakan tahun ini mencapai 3,6 juta pemudik dengan menggunakan sepeda motor, PT. Kereta Api Indonesia menyediakan tiga rangkaian Kereta Api Komunitas Motor untuk mengangkut sepeda motor beserta pemudiknya.

Setiap rangkaian kereta terdiri dari tujuh gerbong pengangkut sepeda motor dengan kapasitas 350 unit sepeda motor dan tiga gerbong penumpang untuk 320-450 orang pemudiknya.

Kereta Api Komunitas Motor ini akan diberangkatkan dari Stasiun Kampung Bandan Jakarta menuju Surabaya melalui jalur utara: Jakarta-Semarang-Cepu-Bojonegoro-St.Pasar Turi Surabaya dengan harga tiket Rp. 200.000,-per motor dan Rp. 43.500 per penumpang, dan melalui jalur selatan: Jakarta-St.Lempuyang Yogyakarta-St.Jebres Solo-Madiun-St.Gubeng Surabaya dengan harga tiket Rp. 33.500,- per penumpang dan Rp. 200.000,- per motor. Kereta tersebut mulai diberangkatkan pada hari Selasa, 31 Agustus 2010 (H-10) pukul 21.30 WIB dan 21.40 WIB.

Harga tiket ini tentunya jauh lebih murah apabila dibandingkan pengeluaran biaya spare part, oli mesin, bensin (berkaitan dengan perjalanan jauh) serta biaya tak terduga (makan, minum, jajan di perjalanan) jika mudik dengan mengendarai sepeda motor, belum lagi menyangkut faktor keamanan. Pokoknya mudik langsung dengan mengendarai sepeda motor untuk jarak jauh lebih menguras dana, tenaga, waktu dan keselamatan.

Namun sayang, kereta khusus untuk motor pemudik ini hanya beroperasi selama 6 hari dari tanggal 31-8-2010 sampai 4-9-2010 (arus mudik) dan 19-9-2010 (arus balik).

PT. Pelni  Tak Mau Ketinggalan Sediakan Kapal Khusus Motor Mudik

Tidak mau ketinggalan langkah oleh “saudara sepupunya”, PT. Pelayaran Nasional Indonesia juga menyediakan kapal khusus pemudik bermotor. Kapal yang  dilengkapi fasilitas makan sahur dan berbuka ini akan diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta menuju Semarang dan Surabaya pada tanggal 7  September 2010.

Harga tiket untuk satu motor dengan dua penumpang (pengemudi dan pembonceng) sebesar Rp. 300.000,- untuk jurusan Jakarta – Semarang dan Rp. 400.000,- untuk jurusan Jakarta – Surabaya.

Walhasil untuk saudara-saudaraku yang akan mudik dan berencana membawa sepeda motor ke kampung halaman, daripada cape-cape dan berisiko di jalan, tinggal pilih mau naik kereta api atau kapal laut.

Selamat Mudik Lebaran 2010, Semoga selamat sampai tujuan. Amin

Baca Artikel Terkait:

“Gratis” >>>Download :

Posted in Arus Balik, Arus Mudik, Berita, Bulan Ramadlan, Fenomena, Iedul Fitri, Kereta Api, Mudik, Serba serbi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment »