Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Archive for the ‘Iman’ Category

Subhanallah, Ilmuwan Masuk Islam Karena Teorinya: “Matahari Akan Terbit Dari Barat”

Posted by gunawank pada Februari 2, 2016

“Tidak akan terjadi kiamat sehingga matahari terbit dari tempat terbenamnya, apabila ia telah terbit dari barat dan semua manusia melihat hal itu maka semua mereka akan beriman, dan itulah waktu yang tidak ada gunanya iman seseorang yang belum pernah beriman sebelum itu.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra)

Adalah Demitri Bolykov, sorang ahli fisika yang sangat menggandrungi kajian serta riset-riset ilmiah. Dia tergabung dalam sebuah penelitian ilmiah yang dipimpin oleh Prof. Nicolai Kosinikov, salah seorang pakar dalam bidang fisika. (kabarmakkah.com, 8/7/2015)

Mereka sedang dalam penelitian terhadap sebuah sempel yang diuji di laboratorium untuk mempelajari sebuah teori moderen yang menjelaskan tentang perputaran bumi dan porosnya. Mereka berhasil menetapkan teori tersebut. Akan tetapi Dimetri mengetahui bahwasanya diriwayatkan dalam sebuah hadis dari nabi saw yang diketahui umat Islam, bahkan termasuk inti akidah mereka yang menguatkan keharusan teori tersebut ada, sesuai dengan hasil yang dicapainya. Demitri merasa yakin bahwa pengetahuan seperti ini, yang umurnya lebih dari 1.400 tahun yang lalu sebagai satu-satunya yang mungkin hanyalah pencipta alam semesta ini.

Teori yang dikemukan oleh Prof. Kosinov merupakan teori yang paling baru dan paling berani dalam menfsirakan fenomena perputaran bumi pada porosnya. Kelompok peneliti ini merancang sebuah sempel berupa bola yang diisi penuh dengan papan tipis dari logam yang dilelehkan , ditempatkan pada badan bermagnit yang terbentuk dari elektroda yang saling berlawanan arus.

Ketika arus listrik berjalan pada dua elektroda tersebut maka menimbulkan gaya magnet dan bola yang dipenuhi papan tipis dari logam tersebut mulai berputar pada porosnya fenomena ini dinamakan “Gerak Integral Elektro Magno-Dinamika”. Gerak ini pada substansinya menjadi aktivitas perputaran bumi pada porosnya.

Pada tingkat realita di alam ini, daya matahari merupakan “kekuatan penggerak” yang bisa melahirkan area magnet yang bisa mendorong bumi untuk berputar pada porosnya. Kemudian gerak perputaran bumi ini dalam hal cepat atau lambatnya seiring dengan daya insensitas daya matahari. Atas dasar ini pula posisi dan arah kutub utara bergantung.

Telah diadakan penelitian bahwa kutub magnet bumi hingga tahun 1970 bergerak dengan kecepatan tidak lebih dari 10 km dalam setahun, akan tetapi pada tahun-tahun terakhir ini kecepatan tersebut bertambah hingga 40 km dalam setahun. Bahkan pada tahun 2001 kutub magnet bumi bergeser dari tempatnya hingga mencapai jarak 200 km dalam sekali gerak. Ini berarti bumi dengan pengaruh daya magnet tersebut mengakibatkan dua kutub magnet bergantian tempat. Artinya bahwa “gerak” perputaran bumi akan mengarah pada arah yang berlawanan. Ketika itulah matahari akan terbit (keluar) dari Barat.

Ilmu pengetahuan dan informasi seperti ini tidak didapati Demitri dalam buku-buku atau didengar dari manapun, akan tetapi ia memperoleh kesimpulan tersebut dari hasil riset dan percobaan serta penelitian. Ketika ia menelaah kitab-kitab samawi lintas agama, ia tidak mendapatkan satupun petunjuk kepada informasi tersebut selain dari Islam. Ia mendapati informasi tersebut dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah Barat, maka Allah akan menerima Taubatnya”

Matahari Akan Terbit Dari Barat

Artikel ini tidak meramalkan kapan terjadinya kiamat, tetapi membenarkan bahwa matahari akan terbit dari arah barat seperti yang pernah disabdakan oleh Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi Wa Sallam

Sumber: http://www.kabarmakkah.com/2015/07/nasa-membenarkan-matahari-akan-terbit.html

 

Iklan

Posted in Aneh tapi nyata, Artikel Islam, Astronomi, Berita, Fisika, Iman, Kiamat, Kisah Nyata, Teknologi | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Shalat Istisqa’; Istighfar & Do’a Minta Hujan

Posted by gunawank pada November 9, 2015

Kemarau panjang yang ditandai ketiadaan turun hujan sejak Agustus 2015 ini menyebabkan kekeringan yang cukup parah di beberapa daerah di Nusantara.

Dampak lain dari musim kemarau yang panjang ini selain kesulitan mendapatkan air adalah terjadinya kebakaran hutan di semua daerah yang memiliki wilayah hutan. Kabut asap yang ditimbulkannya telah mengakibatkan bencana sampingan gangguan pernafasan, bahkan di beberapa daerah menyebabkan kematian.

Tak ayal lagi, sesuai tuntunan ajaran Islam marak dilaksanakan shalat istisqa hampir di seluruh pelosok negeri. Namun hujan tak kunjung datang, sehingga di beberapa tempat ada yang menyelenggarakannya berulang-ulang.

Rasulullah saw melakukan shalat istisqa ketika memohon diturunkannya hujan, sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah Radhiallahu’anha:

شكا الناس إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم قحوط المطر فأمر بمنبر فوضع له في المصلى ووعد الناس يوما يخرجون فيه قالت عائشة فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم حين بدا حاجب الشمس فقعد على المنبر فكبر صلى الله عليه وسلم وحمد الله عز وجل ثم قال إنكم شكوتم جدب دياركم واستئخار المطر عن إبان زمانه عنكم وقد أمركم الله عز وجل أن تدعوه ووعدكم أن يستجيب لكم ثم قال ( الحمد لله رب العالمين الرحمن الرحيم ملك يوم الدين) لا إله إلا الله يفعل ما يريد اللهم أنت الله لا إله إلا أنت الغني ونحن الفقراء أنزل علينا الغيث واجعل ما أنزلت لنا قوة وبلاغا إلى حين ثم رفع يديه فلم يزل في الرفع حتى بدا بياض إبطيه ثم حول إلى الناس ظهره وقلب أو حول رداءه وهو رافع يديه ثم أقبل على الناس ونزل فصلى ركعتين فأنشأ الله سحابة فرعدت وبرقت ثم أمطرت بإذن الله فلم يأت مسجده حتى سالت السيول فلما رأى سرعتهم إلى الكن ضحك صلى الله عليه وسلم حتى بدت نواجذه فقال أشهد أن الله على كل شيء قدير وأني عبد الله ورسوله

Orang-orang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang musim kemarau yang panjang. Lalu beliau memerintahkan untuk meletakkan mimbar di tempat tanah lapang, lalu beliau membuat kesepakatan dengan orang-orang untuk berkumpul pada suatu hari yang telah ditentukan”. Aisyah lalu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar ketika matahari mulai terlihat, lalu beliau duduk di mimbar. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir dan memuji Allah Azza wa Jalla, lalu bersabda, “Sesungguhnya kalian mengadu kepadaku tentang kegersangan negeri kalian dan hujan yang tidak kunjung turun, padahal Allah Azza Wa Jalla telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan Ia berjanji akan mengabulkan doa kalian” Kemudian beliau mengucapkan: “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Dia melakukan apa saja yang dikehendaki. Ya Allah, Engkau adalah Allah, tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha kaya sementara kami yang membutuhkan. Maka turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang telah Engkau turunkan sebagai kekuatan bagi kami dan sebagai bekal di hari yang di tetapkan).” Kemudian beliau terus mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putihnya ketiak beliau. Kemudian beliau membalikkan punggungnya, membelakangi orang-orang dan membalik posisi selendangnya, ketika itu beliau masih mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau menghadap ke orang-orang, lalu beliau turun dari mimbar dan shalat dua raka’at. Lalu Allah mendatangkan awan yang disertai guruh dan petir. Turunlah hujan dengan izin Allah. Beliau tidak kembali menuju masjid sampai air bah mengalir di sekitarnya. Ketika beliau melihat orang-orang berdesak-desakan mencari tempat berteduh, beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya, lalu bersabda: “Aku bersaksi bahwa Allah adalah Maha kuasa atas segala sesuatu dan aku adalah hamba dan Rasul-Nya” (HR. Abu Daud no.1173)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anahu:

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا يَسْتَسْقِي فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ بِلَا أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ ثُمَّ خَطَبَنَا وَدَعَا اللَّهَ وَحَوَّلَ وَجْهَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ رَافِعًا يَدَيْهِ ثُمَّ قَلَبَ رِدَاءَهُ فَجَعَلَ الْأَيْمَنَ عَلَى الْأَيْسَرِ وَالْأَيْسَرَ عَلَى الْأَيْمَنِ

Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam keluar untuk melakukan istisqa’. Beliau shalat 2 raka’at mengimami kami tanpa azan dan iqamah. Lalu beliau berkhutbah di hadapan kami dan berdoa kepada Allah. Beliau mengarahkan wajahnya ke arah kiblat seraya mengangkat kedua tangannya. Setelah itu beliau membalik selendangnya, menjadikan bagian kanan pada bagian kiri dan bagian kiri pada bagian kanan” (HR. Ahmad 16/142).

Dari kedua hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan shalat istisqa ada tiga amaliah, yaitu shalat sunnah dua rakaat, khutbah dan berdo’a memohon turun hujan.

Posted in Akhlak, Artikel Islam, bencana, Bencana Alam, Buah bibir, Fenomena, Fenomena alam, Hikmah, Ibadah, Iman, Islam, Renungan, Tobat | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

Beriman Kepada Takdir

Posted by gunawank pada Januari 31, 2012

Beriman kepada Takdir atau Qadha dan Qadar artinya meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini yang baik maupun yang buru telah ditentukan oleh Allah SWT sebelum terjadi.

Akan tetapi manusia wajib berikhtiar dan berusaha, jangan hanya menyerah dan bersandar kepada takdir, sehingga manusia tidak memiliki kemampuan berkehendak dan kemauan berbuat sesuatu.

Misal, ketika ditakdirkan untuk sakit manusia harus berikhtiar mencari kesembuhan dengan cara berobat ke dokter dan berdo’a memohon kesembuhan kepada Allah. Jangan menyerah begitu saja, apalagi berputus asa. Karena pada hakikatnya kita tidak mengetahui apakah sakit kita akan sembuh atau tidak. Oleh karena itu untuk menjawabnya lakukanlah ikhtiar.

Tetapi juga jangan berlebihan dalam menilai kekuatan kehendak manusia sehingga melupakan kuasa dan takdir Allah. Berusahalah sekuat tenaga dan kemampuan, tetapi serahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA dalam bukunya “Riyadhul Mu’min, Lima Puluh Hadits Shahih Membahas Akidah, Syariah dan Akhlak” membagi Qadar atau takdir Allah menjadi empat macam tingkatan, yaitu:

  1. Takdir dalam ilmu Allah, misalnya bahwa manusia diciptakan dengan memiliki dua potensi untuk mengikuti petunjuk atau potensi untuk mengingkari petunjuk Tuhan. Potensi untuk beriman dan potensi untuk bersifat kafir.
  2. Takdir di Lauh al-Mahfudz, yaitu rancangan Tuhan yang sudah disiapkan untuk diterapkan dan diberlakukan kepada makhluk, yang dihimpun dalam Lauh al-Mahfudz.
  3. Takdir dalam rahim, yaitu ketika embrio masih berada dalam kandungan ibunya, Malaikat diutus oleh Allah SWT untuk mengagendakan rancangan dari ketentuan rizki, amal, dan ajal bagi bayi tersebut.
  4. Penetapak takdir pada waktunya. Allah SWT berkuasa merancang ketentuan baik dan buruk, bahagia dan celaka bagi seseorang dalam alam qidam-Nya. Kemudian rancangan ketentuan itu akan diterapkan pada makhluk pada waktunya yang telah ditentukan menurut sunnatullah.

Semua ketentuan Allah bersifat tetap, tidak berubah kecuali bila Alah sendiri menghendaki perubahan. Bukankah pada hakikatnya kehendak Allah untuk merubah apa yang telah ditetapkan-Nya juga merupakan ketetapan atau takdir-Nya juga?

Allah Maha Berkuasa untuk memastikan atau merubah takdir-Nya, karena Dia-lah yang Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Pencipta, Maha Berkehendak dan Maha Pengatur bagi semua makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauhul Mahfuzh)” (QS. Ar-Ra’d: 13).

Oleh karena itu berusaha dan berdo’a adalah keharusan ketika mendapat ketentuan Allah, atau ketika kita menghendaki agar ketentuan Allah yang baik yang ditetapkan kepada kita. Dalam konteks ini dapatlah dipahami hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa do’a dapat merubah takdir Allah (seperti do’a meminta panjang umur, murah rezeki dan lain-lain). Juga hadits yang menyatakan bahwa banyak silaturahim akan memudahkan rizki dan panjang umur.

Dalam kaitan ini Umar bin Khathab r.a. diriwayatkan pernah berdo’a untuk mengharapkan perubahan-perubahan suratan takdir yang telah ditetapkan padanya. Beliau berdo’a (yang artinya):

“Ya Allah, bila Kau tetapkan aku ini menjadi seorang yang celaka, maka hapuskanlah, dan tulislah aku sebagai orang yang bahagia” (HR. Thabrani).

Wallaahu A’lam…

Posted in Artikel Islam, Iman, Renungan | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Tragedi Tugu Tani; Takdirkah Itu…?!

Posted by gunawank pada Januari 31, 2012

Dalam suatu hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khathab r.a. : Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata: ”Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.” Kemudian Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam menjawab: ”Islam yaitu: hendaklah engkau bersaksi tiada sesembahan yang haq disembah kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh. Hendaklah engkau mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Romadhon, dan mengerjakan haji ke rumah Alloh jika engkau mampu mengerjakannya.” Orang itu berkata: ”Engkau benar.” Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya. Orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman”. (Rosululloh) menjawab: ”Hendaklah engkau beriman kepada Alloh, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk.”………………”(HR. Muslim).

Dari penggalan hadits di atas jelaslah bahwa salah yang harus diyakini dan diimani oleh setiap muslim adalah adanya ketentuan dan ketetapan Allah SWT yang disebut takdir.

Beriman kepada takdir artinya meyakini bahwa Allah SWT menetapkan qadha dan qadar-Nya terhadap segala sesuatu, yang baik maupun yang buruk. Meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini telah direncanakan oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

“Yang kepunyaan-Nya meliputi kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan kekuasaan-NYa, dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapih-rapihnya” (QS. Al-Furqan: 2). Baca entri selengkapnya »

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Iman, Musibah, Opini, Pelajaran, Pidana, Renungan | Dengan kaitkata: , , , | 2 Comments »

Empat Macam Ujian Keimanan

Posted by gunawank pada Januari 25, 2012

Ujian yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah berbeda-beda dan bermacam-macam bentuknya, sesuai dengan kadar keimanannya. Namun, setidak-nya ada empat macam ujian yang telah dialami oleh orang-orang terdahulu:

Pertama: Ujian yang berbentuk perintah untuk dilaksanakan, seperti perintah Allah kepada Nabi Ibrahim As untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Ini adalah satu perintah yang betul-betul berat dan mungkin tidak masuk akal, bagaimana seorang bapak harus menyembelih anaknya yang sangat dicintai, padahal anaknya itu tidak melakukan kesalahan apapun. Namun dengan segala ketabahan dan kesabaran keduanya, perintah yang sangat berat itupun dijalankannya tanpa keraguan sedikitpun. Di sini terlihat bagaimana kualitas keimanan Nabi Ibrahim As dan putranya Nabi Ismail As yang benar-benar sudah tahan uji.

Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan puteranya adalah pelajaran yang sangat berharga dan sangat perlu ditauladani, karena sebagaimana dirasakan dalam kehidupan ini, banyak sekali perintah Allah yang dianggap berat, dan dengan berbagai alasan berusaha untuk tidak melaksanakannya. Padahal apabila dibandingkan dengan ujian yang diterima Nabi Ibrahim As, belumlah seberapa. Baca entri selengkapnya »

Posted in Artikel Islam, Iman, Islam, Muslim | Dengan kaitkata: , , | 14 Comments »

Sudah Terujikah Iman Kita…?!

Posted by gunawank pada Januari 25, 2012

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut: 2-3).

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa salah satu konsekuensi pernyataan iman kita, adalah kita harus siap menghadapi ujian yang diberikan Allah Swt kepada kita, untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan iman kita, apakah betul-betul bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, atau sekedar ikut-ikutan serta tidak tahu arah dan tujuan, atau karena didorong oleh kepentingan sesaat, ingin mendapatkan kemenangan dan tidak mau menghadapi kesulitan seperti yang digambarkan Allah Swt dalam surat Al-Ankabut ayat 10:

“Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguh-nya kami adalah besertamu.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia”?

Bila kita sudah menyatakan iman dan kita mengharapkan manisnya buah iman yang kita miliki yaitu Surga, maka marilah kita bersiap-siap untuk menghadapi ujian berat yang akan diberikan Allah kepada kita, dan bersabarlah kala ujian itu datang kepada kita. Allah memberikan sindiran kepada kita, yang ingin masuk Surga tanpa melewati ujian yang berat.

“Apakah kalian mengira akan masuk Surga sedangkan belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama-nya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguh-nya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al-Baqarah 214).

Di samping itu, kita harus yakin bahwa ujian dari Allah itu adalah satu tanda kecintaan Allah kepada kita, sebagaimana sabda Rasulullah Saw :

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ. (رواه الترمذي، وقال هذا حديث حسن غريب من هذا الوجه).
“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan (ujian), Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai satu kaum, Dia akan menguji mereka, maka barangsiapa ridha, baginyalah keridhaan Allah, dan barangsiapa marah, baginyalah kemarahan Allah”. (HR. At-Tirmidzi, juz 4 hal. 519).

Rasulullah Saw mengisahkan betapa beratnya perjuangan orang-orang dulu dalam mempertahankan iman mereka, sebagaimana dituturkannya kepada shahabat Khabbab Ibnul Arats r.a.

“… Sungguh telah terjadi kepada orang-orang sebelum kalian, ada yang di sisir dengan sisir besi (sehingga) terkelupas daging dari tulang-tulangnya, akan tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya, dan ada pula yang diletakkan di atas kepalanya gergaji sampai terbelah dua, namun itu tidak memalingkannya dari agamanya…” (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari, cet. Dar Ar-Royyan, Juz 7 hal. 202).

Artikel Terkait:

Posted in Artikel Islam, Iman, Islam, Muslim | Dengan kaitkata: , | 1 Comment »

Cilaka 12

Posted by gunawank pada Desember 30, 2011

Cialaka dua belas adalah ungkapan yang sangat populer di lingkungan orang sunda (cilaka = celaka) yang biasanya diungkapkan oleh seseorang yang berada dalam kondisi bahya, merugi, salah, kurang/tidak baik dan sejenisnya. Sebagai contoh:

  • Cilaka 12 euy, lagi asik-asik nyontek eh ketahuan sama pak guru !
  • Waduh cilaka 12 ! PR tentang serba 11 saja belum dikerjakan, sudah datang lagi PR serba 12.
  • dan lain-lain….. (jangan banyak-banyak contohnya, nanti ulangan nilainya 100 semua).

Karena termasuk ungkapan yang turun temurun sejak zaman nenek moyang dan merekapun tidak pernah memberikan penjelasan, sehingga sulit dibuat defisi yang benar-benar tepat. Oleh karena itu sah-sah saja jika ada pendapat yang mencoba menjelaskan maknanya, seperti apa yang akan aku kupas dalam tulisan ini. Baca entri selengkapnya »

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Ibadah, Iman, Islam, Kiamat, Muslim, Renungan, Serba serbi, Tasawuf, Tips | Dengan kaitkata: , , , , | 4 Comments »

MAUT, Senantiasa Siap Menjemput……

Posted by gunawank pada Oktober 16, 2011

Suatu saat Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali bertanya kepada murid-muridnya, “Apakah yang paling dekat kepada kita ?”. Murid-muridnyapun menjawab dengan jawaban yang berbeda-beda.Adayang menjawab ibu, ayah, isteri, teman karib dan lain-lain sesuai dengan pengalaman masing-masing tentunya.

Kata Imam Al-Ghazali: “ Jawaban kalian tidak ada yang salah. Semuanya betul, setidaknya sesuai dengan yang kalian rasakan. Tapi ada yang paling betul yakni kematian. Kematianlah yang paling dekat kepada kita.” Baca entri selengkapnya »

Posted in Artikel Islam, Hikmah, Hot Topic, Iman, Islam, Renungan, Serba serbi, Tasawuf, Topic Hot | Dengan kaitkata: , , , , | 11 Comments »

Iman dan Amal Soleh, Kunci Kebahagiaan Hidup di Dunia dan Akhirat

Posted by gunawank pada Oktober 1, 2011

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan pergantian tahun ke tahunpun terus kita lalui.  Tanpa terasa hitungan umur kitapun terus bertambah yang pada hakekatnya sebenarnya dengan pergantian tahun itu, berarti jatah usia kita semakin berkurang. Atau dengan kata lain, kesempatan kita untuk mengabdi dan berbakti, menghambakan diri kita kepada al-Kholik, Allah SWT semakin berkurang.

Firman allah dalam Al-Quran Suart Al-Ashr ayat 1-3:

والعصر * ان الانسان لفى خسر * الا الذين امنوا وعملواالصلحات وتواصوا بالحقّ وتواصوا بالصبر *

”Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi. Kecuali bagi mereka yang beriman dan beramal soleh, dan orang-orang yang senantiasa saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran”. Baca entri selengkapnya »

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Ibadah, Iman, Islam, Muslim, Shabar | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Kejujuran Sumber Segala Kebajikan

Posted by gunawank pada Juli 8, 2011

Sejalan dengan usaha untuk selalu memelihara iman yang ada dalam dada kita serta memperhebat rasa taqwa kita kepada Allah SWT, baik dalam keadaan lapang maupun dalam kesempitan hidup, hendaklah kitapun harus selalu memelihara norma-norma kesopanan, kesusilaan maupun keagamaan, menjunjung tinggi perintah-perintah Agama serta mengamalkannya dengan penuh kesungguhan dan kesabaran. Sabda Rasulullah SAW :

 اتقِ الله حيثما كنتَ وأَتْبِعِ السيئةَ الحسنةَ تَمْحُها وخَالِقِ الناسَ بخُلُقٍ حَسَنٍ (أحمد  والحاكم والبيهقى والترمذى والطبرانى)

 “Bertaqwallah kepada Allah SWT di manapun kamu berada. Iringilah perbuatan salahmu dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baikmu menghapuskan perbuatan jelekmu. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”.

Diantara budi pekerti yang luhur, akhlak mulia yang diajarkan Islam yang harus dimiliki dan diamalkan oleh setiap muslim adalah berlaku jujur, lurus, dapat dipercaya, tidak suka berbohong, baik terhadap diri sendiri, masyarakat terlebih-lebih terhadap Allah SWT. Baca entri selengkapnya »

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Iman, Islam, Kepribadian, Muslim, Tasawuf, Teladan, Tips | 4 Comments »