Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Archive for the ‘Kisah’ Category

Aneh Tapi Nyata : Hadiahku… Berubah Jadi Kulit Pisang ?!!!

Posted by gunawank pada November 12, 2016

Seperti biasanya, pagi itu sepeda ontelku kusimpan dengan rapi di samping deretan sepeda siswa-siswa yang lain di halaman rumah penduduk sekitar Sekolahku. Maklum waktu itu di sekolahku belum tersedia tempat parkir khusus. Tapi walaupun di halaman penduduk tidak ada biaya sewa parkir, alias gratis. Bahkan mereka merasa senang karena bisa membantu anak sekolah. Beda dengan sekarang yang serba harus bayar.

“Yan . . . ! “, tiba-tiba terdengar suara memanggilku.

“Tolong bapak belikan pisang !”, lanjutnya yang ternyata wali kelasku, pak Suryaman , wali kelas 2D sekaligus guru matematika kami.

“Ya, pak !”, jawabku. Akupun pergi membeli sesisir pisang Ambon. Kupilih yang paling baik.

Hari itu adalah hari pembagian raport, hari yang ditunggu-tunggu dan membahagiakan bagi kami, khususnya saya pribadi karena . . .alhamdulillah saat itu mendapat predikat rangking pertama.

“Sebagai penghargaan dari bapak atas prestasimu, yan… tolong ambilkan yang tadi kamu beli di ruang guru !”, kata wali kelasku.

Ternyata pisang yang tadi aku beli itu. . .. Itulah hadiah rangking ku. Akupun dengan tetap bangga walaupun hanya diberi hadiah sesisir pisang dan bergegas pergi ke ruang guru.

Bukan bendanya yang membuatku senang tetapi perhatian dan penghargaannya yang aku banggakan. Dengan keterbatasan kemampuannya beliau tetap berusaha untuk menghargai prestasi anak didiknya.

Namun apa yang terjadi ? Kulihat di atas meja di ruang guru hanya ada tumpukan kulit pisang . . . ? ? ? ? ! ! !

Posted in Aneh tapi nyata, Biografi, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Uncategorized, Wakil rakyat | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Akhirnya……. Pak Polisi Itu Jatuh !

Posted by gunawank pada Maret 6, 2014

Sore tadi sekitar pukul 20.00 WIB, ketika aku dan istriku baru pulang menjenguk saudara kami yang terkena musibah jatuh dari sepeda motor, dan kami sedang berada di bundaran Masjid Raya Puri Telukjambe ke arah jalan Johar-Telukjambe dan posisi kami berada di belakang truk karena di samping harus menikung mengitari bundaran setelah itu harus mebelok ke kiri menuju jalan ke arah simpang tiga Johar-Telukjambe-Puri Telukjambe (Simpang Al-Mushlih) yang hanya satu jalur (jalur kanan karena jalur kirinya rusak) tetapi digunakan dua arah, tiba-tiba ada sepeda motor mendahului truk dari sebelah kiri truk tepat saat truk belok kiri. “Nekad benar itu orang..!”, pikirku.

Setelah aku berhasil mendahului truk yang berjalan lambat karena berat penuh muatan, pandanganku tertuju pada sepeda motor yang berjalan kencang dan beberapa kali mendahului beberapa sepeda motor lain secara zigzag kiri-kanan. Aku sebenarnya tidak terlalu peduli dengan ulah pengendara tersebut karena berada di depanku karena akhirnya motor tersebut tertahan di belakang sebuah mobil dan tidak dapat mendahuluinya karena kendaraan dari arah berlawanan sedang ramai, sehingga aku dapat menyusulnya tepat berada di samping sepeda motor tersebut.

Karena akan menghadiri pengajian di Ponpes Al-Mushlih tempat aku mengajar, ketika ada kesempatan mendahului mobil di depanku kendaraan dari arah berlawanan kosong aku naikan kecepatan sepeda motorku untuk mendahului mobil tersebut. Namun, ketika aku ambil kanan tiba-tiba sepeda motor tersebut mendahuluiku dari sebelah kiriku. Tentu saja aku terkejut namun alhamdulillah masih dapat mengendalikan kemudi motorku sampai berhasil mendahului mobil itu.

Terdorong rasa penasaran siapa pengendara sepeda motor tersebut dan bermaksud menegurnya, maka aku kejar dia karena aku yakin dapat mendahului dia karena aku paham betul kondisi jalan tepat di samping Ponpes Al-Mushlih rusak berlubang, dan benar saja aku berhasil mendahuluinya. Lalu aku giring dia untuk menepi, tetapi dia berhasil untuk lolos walaupun akhirnya aku berhasil memaksa dia menepi.

Ketika kubuka helm diapun membuka helemnya sambil mendahului membentakku,”Ada apa…..? Mau urusan..?”, katanya dengan nada tinggi. Aku tidak menjawabnya, hanya kutatap terus mukanya. “Memang apa salahku…? Mau urusan….? Ayo urusan di kantorku!”, bentaknya lagi.

Kata terakhir itulah yang memancing emosiku. Kelihatannya sombong sekali ini orang. Akupun mulai buka suara, “Anda seorang polisi, ya..?”, tanyaku dengan suara balas membentak. Karena pikirku, orang angkuh dan sombong, apalagi seorang aparat negara harus disombongi lagi. Dalam kaidah fiqihnya Imam Syafi’i menyatakan: “Ketakaburan tidak boleh dilawan dengan ketakaburan lagi”, tetapi dalam kondisi tertentu (untuk memberi pelajaran, misalnya) kaidah mustasnayat-nya (kaidah pengecualiannya) menyatakan: “Orang sombong harus dilawan dengan kesombongan lagi”.

“Ya, saya polisi. Kenapa ? Mau urusan di kantorku ? Memang apa kesalahanku ?”, jawabnya menantang.

“Oh…, pantas ! Kalau anda seorang polisi sedangkan saya cuma ustadz yang tidak tahu peraturan lalulintas. Anda seorang polisi yang sangat ahli dalam aturan dan bertanya tentang kesalahan, berarti saya yang gila karena berani menegur pak polisi yang jagonya peraturan”, dengan nada yang sangat keras. “Kalau anda menawarkan urusan di kantor anda, maka saya yang gila ini menawarkan kita selesaikan urusan ini di kantorku !”, lanjutku sambil menunjuk ke arah Ponpes Al-Mushlih yang memang tepat di seberang jalan tempat kami berada.

“Ya, sudahlah……… ! malu dilihatin orang (dan memang pengunjung rumah makan mulai mengarahkan panfangannya ke kami yang berada di sampingnya)…!’, katanya sambil berusaha ‘kabur’. Akupun semakin terpancing, karena maksudku untuk menyadarkannya belum sampai. Maka iteriku kusruruh turun yang sejak tadi masih berada di atas sepeda motor, lalu ku kejar dia yang telah cukup jauh karena kendaraanya dipancu cukup kencang.

Dan………., buk ! Mungkin karena terburu-buru, saat belok kiri ke arah Johar berusaha mendahului kendaraan lain dari sebelah kiri, tidak sadar atau mungkin tidak tahu bahwa ada lubang cukup dalam, dan diapun terjatuh tertindih sepeda motornya yang terguling…………………………

Melalui tulisan ini aku ingin meyampaikan permohonan maaf (karena aku tidak mengetahui alamat tinggal maupun kantor pa polisi itu). Aku bentak-bentak beliau bukan karena benci polisi, tetapi ingin memberi kesadaran (karena aku merasa usiaku jauh lebih tua dari pa polisi tersebut) kepada oknum-oknum yang secara tidak sadar atas tindakannya itu dapat merusak citra polisi, aparat yang mengemban tugas mulia. Wallahu a’lam.

Posted in Akhlak, Hikmah, Insiden, Karawang, Kepribadian, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Musibah, Polisi, Sepeda Motor, Serba serbi | Dengan kaitkata: , , | 1 Comment »

Sapi Tidak Jadi Hilang, Uang Tetangga Melayang

Posted by gunawank pada Juli 12, 2013

sapi_naik motor

Kisah ini terjadi sekitar dua tahun yang lalu. Bukan penulis pribadi sih yang mengalaminya, melainkan terjadi pada seorang teman yang berprofesi sebagai Cowboy alias penggembala sapi. Tapi milik lho… sapinya, bukan kuli menggembala.

Memang temenku ini termasuk manusia langka. Bayangkan……, di era globalisasi dimana teknologi telah merambah ke seluruh segi kehidupan manusia, termasuk di bidang pertanian yang pada zaman baheula masih menggunakan tenaga hewan dalam pengolahan lahan, tapi kiwari sudah menggunakan mesin, bahkan mungkin ke depan hanya menggunakan mesin robot pertanian, tapi…temanku ini masih juga memanfaatkan tenaga hewan dalam pengolahan sawahnya.

sapi bajak“Disamping bebas dari polusi tanah karena tidah mempergunakan solar dan oli sebagai sumber penggeraknya, menggunakan tenaga hewan juga ada manfaat sampingannya antara lain kotorannya menjadi pupuk hijau (pupuk kandang) dan empat kakinya saat menarik bajak bisa membantu menggemburkan tanah”, katanya membeberkan alasannya.

Oleh karena itu, dia memelihara sapi dan cukup banyak sapinya karena bukan hanya untuk keperluan pertanian/sawah tetapi juga bisa dijual sebagai sapi pedaging, terutama saat musim hajatan, iedul fitri maupun iedul adha banyak order sapi ini. Dan oleh karena manfatnya yang amat sangat banyak itu dan karena sudah sejak kecil menjadi penggembala sapi, meski sekarang usianya sudah tidak muda lagi (umurnya sudah kepala 5) dan sudah menyandang predikat pak haji, tetapi temanku ini sangat telaten dan sangat dekat dengan sapi-sapinya itu.

Hingga suatu saat, temanku terlihat murung dan sedih, tidak seperti hari-hari biasanya yang selalu ceria. Ada apa gerangan….? Dan ketika kutanya, ternyata……………salah satu sapinya raib di kandang, dicuri orang. Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun……….!!! Akupun turut berduka cita dibuatnya.

“Sudahlah jangan terlalu difikirkan, tidak usah bersedih seperti itu. Relakan kepergiannya (Kaya ditinggal pacar aja ??!!!) dan bersabarlah atas takdir Allah. Jika Allah menghendaki, biasa saja dalam sekejap semuanya hilang. Dan jika Dia menghendaki, bisa saja yang hilang tiba-tiba kembali, atau mungkin akan diganti dengan yang lebih baik dan lebih banyak. Oleh karena itu, tawakallah kepada Allah atas segala takdir dan ketetapan-Nya”, kataku berusaha menyadarkan.

Dua hari berlalu……….., aku berjumpa lagi dengan temanku sang “Koboi” itu. Tetapi aneh sekali, dua hari yang lalu mukanya kusut kaya sendal butut, sementara sekarang terlihat cerah dan berbunga-bunga……Ada apa gerangan ? kembali aku bertanya.

“Alhamdulillah………. sapiku yang tempo hari hilang itu, kemarin sore ada di kandang…….ikut pulang bersama (temannya) sapi-sapiku yang lain…”, jawabnya. “…..Dan, subhanalaah………..atas kekuasaan Allah, sapiku yang hilang itu ternyata telah dicuri seseorang, lalu dia jual (seperti biasanya) kepada penadah. Entah dari tangan ke berapa, sapi tersebut dijual kepada seorang temanku (yang sama-sama senang perilahara sapi) yang tinggal di kampung sebelah. Karena tempat penggembalaannya di lokasi yang sama, akhirnya sapiku (yang hilang) bergabung dengan teman-teman sepekandangan. Otomatis ketika sore hari ikut pulang bersama-sama..”, tambahnya, menjelaskan panjang lebar.

Subhanallah…………. Allah telah menunjukkan ke-Maha Kuasaan-Nya dan mebuktikan janji-Nya, bahwa bagi orang yang bertakwa Allah akan memberikan anugerah dari jalan yang tiada diduga.

Bagi teman yang telah membeli sapi (yang hilang) tersebut, tentunya dia tidak salah karena tidak mengetahui kalau sapi itu milik temannya yang dicuri orang. Mudah-mudahan merupakan ujian dari Allah untuk meningkatkan derajat keimannya, karena beliaupun seorang kaya yang bertakwa dan dermawan. Semoga Allah mengganti uangnya yang “melayang” dengan balasan yang berlipat ganda. Amin……

Wallahu a’lam.

Posted in Kisah, Kisah Nyata, Renungan, Serba serbi, Teladan, Tradisi | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Pelajaran Berharga Pada Banjir 2013

Posted by gunawank pada Januari 27, 2013

”Dan barangsiapa bertaqwa kepada Alloh, niscaya Dia akan jadikan baginya jalan keluar dan memberi rizqi dari arah yang tiada ia sangka-sangka, dan barangsiapa bertawakal kepada Alloh, maka Dia itu cukup baginya.” (Ath Tholaq: 2-3)

Saat mendengar bahwa tanggul yang berjarak kurang dari 50 meter dari rumahku telah bobol dan semua wanita dan anak-anak sudah dilarang berada di lokasi, dalam perjalanan kembali ke rumah setelah mengamankan sepeda motor aku segera telpon istriku yang masih berada di rumah agar segera ke luar meninggalkan rumah. Mungkin karena panik, anting-antingnya terkait dan lepas, kemudian ditaruhnya di atas meja. Kejadian ini baru disampaikannya kepadaku pagi hari setelah malamnya aku keruk lumpur dalam rumahku karena air sudah surut.

Aku tersentak kaget, karena meja dimaksud yang terbuat dari bahan “olympic” telah hancur berantakan karena tersenggol anak-anak saat mengevakuasi barang-barang. Oleh karena bisa dipastikan anting-anting itu jatuh ke air saat mejanya hancur yang saat itu air di dalam rumah sudah sebatas lututku. Dan, karena air terus bergerak akibat hilir mudiknya kami di dalam rumah, anting itupun mungkin melayang-layang di dalam air dan hanyut ke luar entah ke mana.

“Nanti saat membersihkan sisa-sisa lumpur, tolong di cari ya…. barangkali saja ketemu”, pintanya. Akupun mencoba melaksanakan permintaan walau dengan harapan kecil bisa ditemukan. Dan… betul juga, setelah aku raba-raba secara merata dalam sisa-sisa lumpur yang masih tertinggal di seluruh ruangan tempat meja itu berada bahkan sampai ruang depan, benda dimaksud tidak juga ditemukan. Akhirnya akupun dengan berat hati menyampaikan usahaku yang tidak berhasil menemukan apa yang dicari.

“Usaha sudah dilakukan dan rasanya sudah sangat maksimal. Agar berbuah pahala, sekarang kita tinggal bertawakal saja kepada Allah. Jika Allah menghendaki, pasti nanti akan ditemukan. Kalaupun tidak ketemu, pasti kita akan bisa menggantinya jika Allah memang menghendaki”, kataku. Alhamdulillah, istriku dapat menerima kata-kataku, dan iapun berusaha melupakannya.

Rabu malam (20/1/2013) saat kami merapikan dan menata kembali barang-barang ke tempatnya semula, dan ketika istriku membuka sebuah kaleng bekas kemasan biskuit yang di dalamnya berisi botol-botol parfum dan benda-benda kecil lainnya, “Subhanallah……alhamdulillah……..”, terucap keluar dari bibir kami saat istriku memegang sebuah benda kecil dari dalam kaleng tersebut yang tiada lain adalah……anting-anting yang dicari-cari itu.

Posted in Aneh tapi nyata, Banjir, Berita, Biografi, Hikmah, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Renungan | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Banjir lagi ……………..!

Posted by gunawank pada Januari 27, 2013

Banjir Karawang Mulai Surut

Sejumlah warga menyelamatkan harta bendanya saat banjir melanda Perumahan Bintang Alam, Karawang, Banjir terjadi akibat luapan Sungai Citarum dan menyebakan sekitar 8000 rumah terendam. TEMPO/Arie Basuki

Malam Jum’at (17/1/2013) sekitar pukul 20.00 WIB ketika aku sedang berada di Kota Bandung, tiba-tiba masuk dari istriku: “Masih di Bandung atau dalam perjalanan pulang ? Di sini sudah ramai siap-siap mengungsi, katanya mau banjir”, demikian bunyi sms-nya. Karena saat aku pergi tidak terlihat tanda-tanda mau banjir, maka aku jawab enteng sms tersebut, “Tenang aja, ga usah ikut-ikutan panik. Kalaupun ya, mungkin di RW 12”.

Perumahan tempat kami tinggal terdiri dari dua RW (Rukun Warga), RW 11 dan 12. Kami masuk dalam wilayah RW 11 dan tempatnya lebih tinggi dibandingkan wilayah RW 12, sehingga hampir setiap musin hujan di RW 12 terkena banjir. Dan karena alasan itulah aku jawab sms seperti itu, agar istriku tenang. Walaupun sebenarnya dalam hati aku juga agak was-was mendengar berita itu, mengingat menurut berita di TV daerah Bale Endah, Bandung yang merupakan hulu sungai Citarum sudah 3 hari terendam banjir.

Tak lama berselang, anakku yang berada di asrama Akbid Poltekkes Karawang sms juga, “Pah di asrama sudah siaga satu, karena warga perumahan di belakang asrama sudah mengungsi karena banjir”. Meski aku mulai bertambah was-was, aku jawab sms-nya seperti tadi dengan maksud agar tenang dan tidak panik.

Sekitar jam 01.00 akupun sampai di perumahan dan kulihat sungai pembuangan ke sungai Citarum ketinggian airnya normal. Artinya di RW 12 pun tidak terjadi banjir. Akupun tenang dibuatnya.

Pagi-pagi (Jum’at, 18/1/2013) sekitar jam 07.00 ketika istriku pergi ke warung yang kebetulan berada di pinggir tanggul sungai Citarum, aku suruh sekalian melihat kondisi air sungai Citarum, dan laporannya air Citarum masih relatif normal, masih sekitar 3 meter di bawah permukaan tanggul. Akupun dengan tenang melahap sarapan pagiku dan bersiap-siap ke sekolah.

Pada suapan terakhir sarapanku, di luar terdengar orang-orang, khususnya ibu-ibu teriak-teriak: “Got penuh…..got penuh…!”. Akupun tersentak kaget dan dengan rasa penasaran akupun bergegas keluar rumah memeriksa got di depan rumahku. Ternyata benar air got sudah lebih dari setengahnya. Maka akupun pergi mencari kantong kresek ke dapur untuk menutup lubang pipa pembuangan dari dapur. Terlihat dalam bak kontro di dapur sudah berisi air yang masuk dari got depan. Maka aku percepat langkahku untuk menutup lubang di got. Dan, …….belum juga aku berhasil mengikat kantong kresek penutup lubang, air got dengan cepat sudah memenuhi got.

Tanpa pikir panjang lagi, tidak aku teruskan usaha menutup lubang tersebut dan aku segera hidupkan sepeda motor lalu jalan ke gerbang perumahan. Ternyata benar dugaanku, jalan di depan danau sudah sebatas lutut orang dewasa. Maka aku matkan mesin sepeda motor, kututup kenalpot dan kudorong sepeda mtotor melewati jalan yang banjir yang sudah penuh dengan mobil, motor dan pejalan kaki yang mengungsi. Sesampai di pos gerbang yang datarannya cukup tinggi aku parkir sepeda motorku beserta ratusan sepeda motor lainnya yang sudah terlebih dahulu. Akupun kembali ke rumah dengan berjalan kaki.

Di perjalanan aku bertemu rombongan ibu-ibu dari gangku. “Ibu di mana pak?” tanya mereka. “Masih di rumah”, jawabku. “Cepat-cepat disuruh keluar pak. Di dalam sudah ga boleh ada ibu-ibu, karena tanggung sudah bobol”, sambungnya memberi tahu. Akupun mempercepat langkahku sambil terus menelpon guru-guru di sekolahku serta santri tempatku mengajar agar segera membantu evakuasi barang-barangku. Sesampainya di rumah, ternyata benar…..air sudah sampai lantai depan.

“Subhanallah………., cepat sekali air ini naiknya”, gumamku. Naiknya air pada banjir kali ini memang cepat sekali dibandingkan banjir pada tahun 2010 yang lalu. Waktu itu, air baru naik ke halaman rumahku setelah 4 hari air menggenangi wilayah RW 12. Untunglah atas bantuan guru SMP, siswa-siswa SMK dan para santri barang-barangku berhasil di naikkan ke lantai atas. Terima kasih teman-temanku…., terima kasih murid-muridku.

Posted in Banjir, bencana, Bencana Alam, Berita, Biografi, Fenomena alam, Karawang, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Musibah, Serba serbi | Dengan kaitkata: , , , , | 2 Comments »

Mati Mendadak Membuat Orang Marah Jadi Tertawa

Posted by gunawank pada November 21, 2012

Mati atau Kematian adalah sebuah kata yang umumnya membuat orang sedih , apalagi mati mendadak bukan saja menyebabkan keluarga atau orang-orang terdekat bersedih hati tetapi juga rasa kehilangan yang terlalu cepat, bahkan tidak jarang memunculkan rasa penyesalan yang mendalam.

Hanya orang-orang aneh alias kurang waras atau mungkin musuhnya (termasuk mereka yang mengharapkan kematiannya karena alasan akan mendapat warisan) yang tertawa alias bangga bin sukacita mendengar berita kematian.

Tetapi dalam kisah ini (dan ini benar-benar kisah nyata yang dialami sahabat dan sekaligus guru penulis), yang dimaksud “orang yang sedang marah menjadi tertawa” bukan orang yang termasuk dalam kategori di atas apalagi tidak waras, karena beliau adalah seorang kiyai pengasuh salah satu pondok pesantren yang cukup besar.

Begini kisahnya………(ngopi dulu ah, biar mantappppp…!!!). Suatu hari setelah shalat maghrib, pak kiyai kaget melihat ruang tempat pengajian gelap gulita, padahal sebentar lagi para jamaah pengajian yang kebanyakan para asatidz akan segera berdatangan.

Tentu saja pak kiyai merasa keki alias marah melihat kondisi majelis seperti itu (seperti judul sebuah sinetron “Kiyai juga manusia…”). Maka dipanggilah santri yang biasanya bertugas menyiapkan ruang tempatkan pengajian tersebut.

“Mengapa ruang ta’lim itu masih gelap begitu ?”, tegur kiyai dengan nada tinggi.

“Maaf pak Yai, ……… lampunya mati !”, jawab santri dengan nada ketakutan karena pak kiyai kelihatan agak marah.

“Ya, tahu mati…., kenapa tidak segera diganti ?!!”, lanjut pak kiyai.

“Anu……, pak Yai. Soalnya lampunya……MATI MENDADAK. Jadi belum ada persiapan sebelumnya….”, jawab santri menjelaskan.

“Ha…ha..haaa…….., dasar kamu. Mana ada lampu mau mati bilang-bilang dulu…..!!!”, pak kiyai tak kuasa menahan tawa karena geli mendengar jawaban santrinya itu.

Santri: “…????!!!”.

Posted in Aneh tapi nyata, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Serba serbi | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Serba-serbi Konfercab; “Mendorong Mobil ……… Pakai Sarung ?!”

Posted by gunawank pada Mei 9, 2012

Stop press……!!!

Sebelumnya, mohon maaf kepada rekan-rekan blogger atau para pengunjung nasional karena dalam beberapa tulisan aku lebih berceritera dalam skala lokal, Kabupaten Karawang Jawa barat. Tapi bukan berarti asshabiyah (melebihkan kedaerahan daripada nasionalisme), hanya kebetulan aku termasuk yang terlibat dalam kejadian-kejadian yang kuceriterakan di sini.

————————————————————————————————————-

Konferensi Cabang XIX Nahdlatul Ulama kabupaten Karawang baru saja usai. Hiruk pikuk yang mewarnai pesta lima tahunan warga Nahdliyyin kabupaten Karawang telah berakhir. Para panitia yang selama lebih kurang tiga bulan berjibaku tak kenal lelah ke sana ke mari, memeras pikiran dan tenaga demi suksesnya penyelenggaraan konfercab kali ini, kini sudah bisa beristirahat. Bayangkan…. tidak tanggung-tanggung panitia menganggarkan biaya sebesar lebih dari 250 juta rupiah untuk seluruh rangkaian kegiatan mulai dari kegiatan-kegiatan pendukung (pra konferensi) sampai kegiatan utama konfersensi itu sendiri. Suatu anggaran yang hampir dikata mustahil untuk terealisir, mengingat selama ini anggaran konfercab tidak pernah mencapai angka 100 juta rupiah.

Dalam kumpul-kumpul pertama pasca konferensi kemarin (Selasa, 8/5/12), muncullah ceritera-ceritera pengalaman menarik dari masing-masing anggota panitia. Salah satunya yang aku alami bersama beberapa teman panitia sebagai berikut…………… Baca entri selengkapnya »

Posted in Berita, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Nahdlatul Ulama, NU, Serba serbi | Dengan kaitkata: , , | 2 Comments »

Konferensi Cabang XIX NU Kabupaten Karawang

Posted by gunawank pada Mei 8, 2012

Hajatan lima tahunan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Karawang yang diselenggarakan pada Hari Sabtu-Minggu, 5-6 Mei 2012 di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 3 Cilamaya Wetan Karawang baru saja selesai.

Selain menetapkan Laporan Pertanggungjawaban pengurus dan menetapkan pokok-pokok program kerja lima tahun ke depan, Konferensi Cabang XIX Nahdlatul Ulama Kaupaten Karawang kali ini menetapkan KH. Hasanuri Hidayatullah sebagai Rois Syuriyah dan H. Achmad Marzuki sebagai Ketua Tanfidziyah terpilih untuk masa khidmat tahun 2012-2017.

Keduanya terpilih secara aklamasi/satu putaran pemilihan setelah mengungguli kandidat-kandidat lainnya dalam perolehan suara. Gus Hasan (panggilan akrab KH. Hasanuri Hidayatullah) berhasil meraih 22 suara dari 31 suara Rois Syuriyah yang ada. Sementara H. Marzuki mengantongi 20 suara dari 31 suara Ketua Tanfidziyah yang ada.

Dibandingkan konferensi-konferensi sebelumnya, penyelenggaran konferensi kali ini dinilai mengalami kemajuan yang sangat signifikan yaitu dengan adanya kegiatan pra konferensi (yang selama ini tidak pernah dilakukan) berupa:

  1. Halaqah Ta’mirul Masajid dengan menghadirkan pembicara dari Lembaga Ta’mirul Masajid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta dan Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Karawang pada tanggal 8 April 2012 bertempat di Aula Kantor PCNU Kabupaten Karawang.
  2. Bahtsul Masail Diniyah beberapa masalah keagamaan dan kemasyarakatan pada tanggal 14 April 2012 bertempat di Pondok Pesantren At-Tarbiyah Telagasari Karawang.
  3. Halaqah Pertanian dengan menhadirkan pembicara Prof. Dr.Ir.H. M. Maksum Machfoedz, M.Sc (Guru Besar UGM Yogyakarta) salah seorang Ketua PBNU Jakarta dan pembicara dari PT. Pupuk Kujang Cikampek Karawang pada tanggal 29 April 2012 brtempat di PT. Putra Kemuning Telukjambe Barat Karawang.
  4. Pasar Rakyat, Panggung Kreasi Seni, berbagai perlombaan untuk siswa dan santri, pelatihan jurnalistik dan bakti sosial sunatan masal di arena konferensi yang berlangsung pada tanggal 4-6 Mei 2012.

Selamat atas suksesnya penyelenggaraan konferensi. Selamat pula bagi kepengurusan yang baru. Semoga PCNU Karawang kedepan lebih baik lagi.

Posted in Berita, Hotline News, Info, Jam'iyah, Karawang, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Nahdlatul Ulama, NU, Organisasi, Ormas Islam, Pengurus, Serba serbi | Dengan kaitkata: , , , , | 2 Comments »

Seminggu Sekolah…Langsung Jadi Guru

Posted by gunawank pada April 25, 2012

Gambar: Google search

Sebagaimana telah kuceriterakan dalam kisah “Anak Masjid” terdahulu, pendidikan agamaku melalui pendidikan informal di masjid, mulai dari belajar membaca Al-Quran, belajar menulis huruf Arab sampai belajar membaca kitab klasik berbahasa Arab (kitab kuning) pada tingkatan dasar seperti Matann Safinah, Matan Jurumiyah, Matan Bina dan Amtsilatut Tashrifiyah.

Di kampungku saat itu memang hanya ada tempat-tempat mengaji (pendidikan informal) di masjid, mushala atau di rumah-rumah ustadz dan berlangsung malam hari ba’da Maghrib sampai dengan Isya atau sore hari sehabis shalat Ashar sampai menjelang Maghrib.

Ada satu-satunya Sekolah Agama (sekarang MDA/DTA) itupun di kampung tetangga. Aku tidak mau sekolah di sana. Alasanya klasik (anak-anak sekali), takut karena imtihan/kenaikan kelasnya dilakukan malam hari, sebab untuk sampai ke kampung tersebut harus melewati area pekuburan (dasar si penakut !). Jadi hanya sekolah “dapang” (bahasa sunda: ngadapang = posisi tengkurap, tiarap) di masjid yang aku jalani.

Baru ketika aku kelas 4 SD yaitu setelah satu tahu kedatangan pak ustadz Makmun (salah seorang putra kampung yang telah mondok beberapa tahun di beberapa pesantren) dan mukim di kampungku, dirintislah pendirian Sekolah Agama yang pada awalnya dilaksanakan di masjid pula dengan cara “ngadapang” karena tidak menggunakan bangku maupun meja tulis dan untuk papan tulisnya cukup mengecat hitam dinding masjid.

Karena jumlah murid cukup banyak dengan berbagai tingkatan kemampuan, maka pada awal pembukaan sekolah ini murid-murid dikelompokkan ke dalam 3 kelas, yaitu kelas 0 untuk kelompok anak pemula yang baru belajar huruf, kelas 1 dan kelas 2. Aku dan kawan-kawan sepengajianku masuk di kelas 2.

Untuk kelancaran proses belajar mengajar, pak ustadz Makmun dibantu oleh seorang ustad dari kampung lain yang merupakan temannya ketika di pesantren, namanya pak ustadz Oyo (maaf aku sudah lupa nama lengkapnya dan sekarang beliau sudah meninggal, Allahumaghfirlahu warhamhu).

Dari hari ke hari sejak sekolah dinyatakan dibuka, murid terus bertambah dan pak ustadz makmunpun kelihatannya keteter karena harus mengajar dua kelas, kelas 0 dan kelas 2. Maka setelah seminggu berjalan beliaupun memintaku untuk membantunya mengajar kelas 0 dengan tetap mempunyai hak untuk mengikuti pelajaran di kelas 2. Ya jadi guru sekaligus menjadi murid, begitulah kira-kira statusku saat itu.

Posted in Aneh tapi nyata, Biografi, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Pendidikan, Sekolah, Serba serbi | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Anak Masjid

Posted by gunawank pada April 15, 2012

Masih ceritera seputar masa kecilku, masa yang bagi semua orang pasti penuh dengan kenangan, penuh dengan kisah-kisah atau kejadian, pengalaman dan sejenisnya yang indah untuk dikenang.

Entah itu berupa kenangan yang baik dan menyenangkan maupun kenangan buruk yang penuh penderitaan atau menyedihkan sekalipun. Kesemuanya itu jika terjadi di masa-masa kecil selalu indah untuk dikenang, selalu menarik untuk dikisahkan dan tidak mengenal kata bosan untuk diceriterakan.

Saat itu, di era tahun tujuh puluhan ke sana (maksudnya tahun 1970), khususnya di kampung tempat kelahiranku, masjid merupakan salah satu atau mungkin satu-satunya tempat yang memiliki fungsi ganda atau bahkan multi guna. Disamping sebagai tempat ibadah/shalat (yang merupakan fungsi utama tentunya), masjid juga berfungsi sebagai tempat belajar/mengaji, belajar silat, bermain (di halamannya), berkumpul dan bersenda gurau, bahkan menjadi tempat tidur/menginap anak-anak yang mengaji.

Pendek kata, hampir seluruh aktivitas anak-anak terjadi dan berlangsung di masjid, selain makan dan sekolah atau permaian yang dilarang dilakukan di masjid. Begitulah potret masjid di kampungku saat itu.

Khusus tentang kebiasaan anak-anak tidur di masjid, aku punya kisah tersendiri dan inilah yang menjadi tema (gayanya kaya makalah seminar aja…!) ceritera kali ini.

Anak-anak ini tidak tidur di lantai masjid, karena waktu itu lantainya hanya terbuat dari pasangan batu bata merah tanpa diplester, bukan lantai keramik seperti sekarang. Mereka tidur di loieng masjid yang sebenarnya disediakan untuk tempat mengaji. Tetapi karena kegiatan mengaji dilakukan setelah shalat Isya, sementara kampung gelap gulita di malam hari karena belum ada penerangan listrik, anak-anakpun tidur di loteng itu, sekaligus biar tidak ketinggalan shalat subuh dan ngaji ba’da subuh.

Karena aku adalah anak (kesayangan nenek), selesai mengaji selalu dijemput oleh nenek dan menjelang adzan shubuh aku baru datang lagi (Sunda: ngurunyung) bersama kakekku. Dan karena setiap pagi selalu “ngurunyung” akupun mendapat julukan “Si Kurunyung” dari teman-teman.

Saking malunya mendapat julukan tersebut (karena konotasinya adalah sebuah ledekan, pelecehan) maka akupun mengajukan protes keras (tapi dengan cara demonstrasi seperti sekarang) meminta dizikan untuk tidur di masjid bersama teman-teman. Alhamdulillah, usulan dikabulkan dan sejak saat itupun aku berganti gelar dari si kurunyung menjadi “Anak Masjid”………..(Untuk sementara tamat dulu, yach…!).

Posted in Biografi, Kisah, Kisah Nyata, Kisahku, Serba serbi, Tradisi | Dengan kaitkata: , , , , , | 1 Comment »