Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Archive for the ‘Opinion’ Category

Pilkada Serentak 2015; Menang atau Terpilih ?

Posted by gunawank pada Desember 10, 2015

Pilkada serentak baru saja dilaksanakan, tepatnya pada hari Rabu, 9 Desember 2015 dalam situasi yang cukup kondusif, meski ada sedikit masalah di beberapa daerah.

Untuk yang pertama kalinya dalam sejarah demokrasi di Indonesia, sejumlah 204 pemilihan kepala daerah yang terdiri dari 170 kabupaten, 26 kota dan 8 provinsi dilaksanakan secara serentak di seluruh nusantara.

Sejak digulirkannya sistem pemilihan langsung baik untuk memilih presiden, gubernur, bupati/wali kota maupun anggota legislatif dengan cara memilih langsung nama-nama calon, hampir selalu muncul kisah-kisah tragis dan peristiwa yang tidak elok dari para calon yang gagal maupun pendukungnya, seperti stres, bunuh diri, mengambil kembali bantuan yang diberikan sampai aksi demontrasi atau pengerahan massa yang destruktif untuk menuntuk pembatalan putusan maupun pemilihan ulang, sesuatu yang tidak pernah terjadi pada sistem pemilihan perwakilan di zaman orde baru.

Setelah dicermati, secara langsung bukan sistem yang salah karena tentunya harus melalui kajian yang dalam dan komprehensif untuk menilainya. Namun secara tidak langsung sistem ini menuntut para calon secara pribadi, masing-masing untuk mensosialisasikan dirinya kepada pemilih yang jumlahnya jauh lebih banyak atau dengan kata yang lebih tegas, harus mampu mengajak orang sebanyak-banyaknya untuk memilih dirinya.

Oleh karena itulah, muncul istilah tim sukses, tim pemenangan dan sejenisnya. Kalau dahulu hanya dikenal team kampanye. Apa bedanya?

Secara substansi fungsi dan tugasnya sama, yakni meraih suara sebanyak-banyaknya. Tetapi dari sisi apa yang dilakukan ternyata ada perbedaan.

Tim kampanye bekerja untuk mengkampanyekan atau mempromosikan atau menyebar luaskan informasi dan meyakinkan tentang visi-missi, keunggulan, kemampuan calon dan sebagainya kepada sebanyak-banyaknya calon pemilih. Targetnya, calon yang diusungnya TERPILIH atau TUDAK TERPILIH sesuai dengan jumlah suara yang memilihnya.

Sementara, tim pemenangan melakukan pekerjaan yang lebih dari itu. Selain berusaha mengkampanyekan calon yang diusungnya sebagaimana yang dilakukan tim kampanye, juga berusaha agar setiap orang yang telah mendapatkan informasi itu harus dipastikan memilih calon yang diusungnya.

Oleh karena itu, tim pemenangan lalu melakukan berbagai usaha untuk meraihnya dan tidak jarang dari mereka melakukan usaha-usaha yang tidak dibenarkan baik menurut peraturan perundang-undangan negara, aturan agama maupun norma-norma tradisi dan budaya masyarakat, seperti politik uang, politik hitam, saling fitnah, saling tuduh, saling buka kejelekan, kesalahan masa lalu bahkan sampai kekurangan keluarga dan leluhurnya. Targetnya bukan lagi menggunakan kata TERPILIH atau TIDAK TERPILIH tetapi kata MENANG atau KALAH.

Islam dalam hal ini Rasulullah saw menganjurkan agar umatnya senantiasa berada dalam jamaah, dalam komunitas, dalam kebersamaan. Beliau juga menganjurkan agar setiap jamaah memilih salah seorang diantaranya untuk dijadikan pemimpin. Artinya, perintahnya adalah jamaahlah yang harus memilih pemimpinya bukan seseorang yang ingin menjadi pemimpin memaksa jamaah untuk memilihnya. Sehingga kalimat yang muncul adalah “Alhamdulillah saya TERPILIH” atau “Terima kasih kalian telah MEMILIH saya” bukannya “Alhamdulillah saya MENANG” atau “Sialan saya KALAH“.

Posted in Akhlak, Kompetisi, Opini, Opinion, Pemilu, Pemimpin, Renungan, Serba serbi | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Hari Guru Dan Semangat Nasionalisme

Posted by gunawank pada November 25, 2015

Hari guru3Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 Nopember bersamaan dengan peringatan hari lahir PGRI yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 merupakan bentuk penghargaan dan tanda penghormatan pemerintah Republik Indonesia kepada guru.

Penghargaan ini sangat layak didapatkan oleh guru, bukan saja karena jasanya sebagai pendidik dan agen dalam mencerdaskan anak bangsa yang bekerja tanpa pamrih sehingga mendapat julukan ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa‘, juga karena kiprahnya dalam mengobarkan semangat nasionalisme dan memperjuangkan kemerdekaan.

Berawal dari semangat guru-guru pribumi pada zaman kolonial Belanda dalam memperjuangkan nasib para anggotanya yang memiliki pangkat, status sosial dan latar belakang pendidikan yang berbeda, pada tahun 1912 berdirilah organisasi guru dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang beranggotakan para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan penilik sekolah yang umumnya bertugas di sekolah desa dan sekolah rakyat angka dua.

Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi yang tergabung dalam organisasi PGHB terus berjuang menuntut persamaan hak dan posisi terhadap pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah kepala HIS yang selama itu selalu dijabat oleh orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang-orang pribumi.

Semangat perjuangan ini semakin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kemerdekaan. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional untuk meraih kemerdekaan.

Pergeseran semangat juang para guru dari memperjuangkan persamaan hak menjadi semangat nasionalisme merebut kemerdekaan terlihat jelas dengan dirubahnya  nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) pada tahun 1932. Perubahan nama ini  yang mengganti kata “Hindia Belanda” menjadi “Indonesia” tak ayal sangat mengejutkan pemerintah Belanda. Penggantian kata yang mencerminkan semangat kebangsaan ini tentu saja sangat tidak disenangi oleh Belanda.

Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas.

Puncak semangat nasionalisme para guru adalah diselenggarakannya  Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24-25 November 1945 di Surakarta. Dengan dijiwai semangat proklamasi 17 Agustus 1945 kongres memutuskan segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama dan suku, sepakat dihapuskan.

Sebagai gantinya, kongres menetapkan berdirinya organisasi guru dengan nama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada tanggal 25 November 1945, tepat seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan guru yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk, semuanya bergabung dalam satu wadah “PGRI” untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

***(Dari berbagai sumber)

Posted in Akhlak, Guru, Opini, Opinion, Organisasi, Pahlawan, Pendidik, Renungan, Sejarah, Serba serbi, Teladan | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Sumpah Pemuda; Kesadaran Pentingnya Persatuan

Posted by gunawank pada Oktober 28, 2015

Nusantara adalah negeri kepulauan yang serba kaya. Kaya budaya, kaya bahasa, kaya suku bangsa, plus kekayaan alam yang melimpah ruah, luas lautnya dengan berbagai macam ikan hidup di dalamnya, subur tanahnya serta berbagai barang tambang terkandung di dalamnya, luas hutannya dengan berbagai macam flora dan fauna, dan sebagainya, dan sebagainya.

Namun untaian mutiara khatulistiwa nan cantik jelita ini, saat itu sedang berada dalam genggaman sang angkara. Kaum penjajah dengan segala kekuatan dan keserakahannya membuat rakyatnya sengsara, penduduknya menderita.

Usaha-usaha perlawanan dan pemberontakan muncul di mana-mana, peperangan terjadi diberbagai daerah. Namun bukan membuat enyah bangsa penjajah, justeru semakin memperkuat dan memperluas wilayah penjajahan.

Semangat juang yang tinggi ternyata tidak cukup untuk mengusir penjajah, karena hanya dilakukan secara terpisah di masing-masing daerah.

Menyadari akan hal ini, Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) menggagas diadakannya Kongres Pemuda kedua yang berhasil dilaksanakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng).

Kongres ini diharapkan dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda, demikian dikatakan ketua PPPI, Sugondo Djojopuspito dalam sambutannya pada hari Sabtu, 27 Oktober 1928.

Hasil rumusan dari tiga kali rapat dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 sebagai sumpah setia yang berbunyi :

Kami poetera dan poeteri Indonesia,
mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kami poetera dan poeteri Indonesia,
mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Kami poetera dan poeteri Indonesia,
mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Ikrar para pemuda dari berbagai daerah ini dikenal sebagai SUMPAH PEMUDA.

Dari apa yang dirumuskan, dibahas dan diikrarkan pada Kongres Pemuda Kedua ini tercermin semangat nasionalisme dan kebangsaan yang teramat sangat tinggi meski mereka berangkat dari organisasi-organisasi kepemudaan dari suku yang berbeda-beda tetapi mampu mempersatukan diri dalam satu wadah besar bernama INDONESIA.

Posted in Akhlak, Hikmah, Ibu Pertiwi, Idola, In memoriam, Indonesia, Opini, Opinion, Organisasi, Pahlawan, Sejarah | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Santri, Siswa dan Pelajar

Posted by gunawank pada Oktober 23, 2015

Menurut bahasa, kata santri dan pelajar/siswa memiliki arti yang sama yaitu orang yang sedang menuntut ilmu. Namun dalam kehidupan sehari-hari, beberapa kata yang memiliki arti sama dari sisi bahasa (arti menurut kamus) menjadi berbeda pengertiannya ketika digunakan untuk istilah yang berbeda.

Sebagai contoh, sunnah menurut bahasa artinya jalan, peraturan, ketetapan, sikap dalam bertindak dan bentuk kehidupan. Sedangkan menurut istilah Ulama Muhaditsin, sunnah artinya segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah saw baik berupa ucapan (qauliyyah), perbuatan (fi’liyyah) maupun penetapan (taqririyyah).

Menurut istilah Ulama Fiqih, sunnah artinya hukum suatu amal yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jika tidak dikerjakan tidak berdosa.

Demikian pula berdasarkan istilah yang terjadi di masyarakat, kata santri digunakan untuk orang-orang yang sedang menimba ilmu agama di pondok pesantren atau lembaga pendidikan agama lainnya. Sedangkan kata pelajar atau siswa digunakan untuk mereka yang sedang menimba ilmu di sekolah.

Perbedaan penggunaan istilah ini juga berkaitan dengan sistem pengajaran. Dalam pondok pesantren santri akan mendapatkan pengajaran yang bersifat keilmuan sekaligus pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari dan pembiasaan-pembiasaan yang khas hanya didapatkan di sistem pendidikan pondok pesantren.

Pembiasaan dalam bidang keilmuan:

  1. Santri terbiasa muthola’ah atau mengulang pelajaran di asrama/pondokan setelah mendapatkan pelajaran dari kiai atau ustadz.
  2. Jika belum menguasai atau memahami pelajaran yang didapatkan dari kiai, santri terbiasa meminta penjelasan (sorogan) kepada seniornya.
  3. Untuk memperdalam pemahaman atau menambah wawasan suatu masalah, santri terbiasa berdiskusi (mudzakarah) dengan teman satu kamar atau teman dari kamar yang berbeda.
  4. Santri terbiasa menghafal seluruh isi kitab terutama kitab-kitab kaidah yang berbentuk nazhom (syair), seperti Kitab Alfiyah (kaidah tatabahasa Arab) yang berisi 1.000 bait, Imriti (500 bait), Asbah wan nazhir (qaidah fiqiyah), Waroqot (qaidah ushul fiqih) dan lain-lain.
  5. Setiap santri pasti memiliki kitab semua pelajaran yang diajarkan di pesantrennya.

Serta kebiasaan-kebiasaan lain yang berjalan secara alamiyah tanpa harus di suruh oleh gurunya. Sesuatu yang sulit ditemukan pada lembaga pendidikan selain pondok pesantren.

Pembiasaan dalam bidang kepribadian dan kehidupan sosial:

  1. Santri dididik untuk hidup mandiri, mencuci pakaian sendiri, masak sendiri bahkan tidak sedikit yang mencari biaya hidup sendiri.
  2. Santri dididik untuk hidup sederhana, jauh dari kemewahan.
  3. Santri dididik untuk hidup dalam kebersamaan, saling membantu. Siapapun yang mendapat kiriman makanan dan apapun makanannya, misalnya, akan selalu dimakan bersama-sama dengan teman-temannya.
  4. Santri dididik untuk menjadi pribadi yang anti terhadap kebudayaan barat yang bertentangan dengan morma-norma syariat Islam.
  5. Akhlak, disiplin, hormat kepada guru, kepada orang yang lebih tua, kepada sesama dan selalu mengucap salam apabila bertemu merupakan pembiasaan yang harus dilakukan santri sehari-hari.
  6. Santri akan mentaati apapun yang difatwakan oleh kiainya selama tidak menyimpang dan bertentangan dengan syariat Islam.

Singkat kata, pembiasaan-pembiasaan seperti ini sulit ditemukan pada para pelajar di luar pondok pesantren. Dengan kata lain sulit dipersamakan (berdasarkan istilah) antara santri dan pelajar.

Posted in Opini, Opinion, Pengetahuan, Serba serbi | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Hardiknas 2015; Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila

Posted by gunawank pada Mei 2, 2015

Hari ini, Sabtu (2/5/2015) segenap bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), sebagai media bagi dunia pendidikan Indonesia untuk melakukan refleksi diri sekaligus mengenang jasa bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara.

Sebagaimana dimaklumi, Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, Ki Hajar Dewantara dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959.

Dalam sambutan , Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Baswedan pada peringatan Hardiknas tahun 2015 dengan tema “Pendidikan dan Kebudayaan Sebagai Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila”, setidaknya ada enam poin yang perlu digaris bawahi.

Pertama, pendidikan telah membukakan mata dan kesadaran para penggagas  Republik tercinta ini untuk membangun sebuah negeri Bhineka yang modern.
“Pendidikan telah membukakan pintu wawasan, menyalakan cahaya pengetahuan, dan menguatkan pilar ketahanan moral. Persinggungan dengan pendidikanlah yang telah memungkinkan para perintis kemerdekaan untuk memiliki gagasan besar yang melampaui zamannya. Gagasan dan perjuangan yang membuat Indonesia dijadikan sebagai rujukan oleh bangsa-bangsa di Asia dan di Afrika”.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Berita, Guru bangsa, Idola, In memoriam, Indonesia, Kepres, Opini, Opinion, Pahlawan Nasional, Pejuang, Pendidikan, Sejarah, Tokoh Nasional, Tokoh Pendidikan | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Pemilu Bagi Muslim; Manusia Wajib Ikhtiar, Allah Yang Menentukan

Posted by gunawank pada Juli 16, 2014

Pemilihan Umum untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia baru saja berlangsung, tepatnya pada hari Rabu 9 Juli 2014 (11 Ramadlan 1435 H) dalam suasana damai dan kondusif.

Sudah barang tentu, kondisi seperti tiada lain merupakan anugerah dari Allah SWT, nikmat terbesar bagi segenap Bangsa Indonesia yang patut disyukuri agar nikmat ini terus bertambah-tambah sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran yang artinya:

“Dan jika kamu sekalian bersyukur atas nikmat yang Aku berikan, maka niscaya akan Aku tambah nikmat-Ku untukmu. Dan jika kamu sekalian kufur atas nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku itu sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7)

Dalam ayat di atas Allah berjanji akan menambah nikmat-Nya jika kita mensyukuri nikmat keamanan dan kedamaian dalam pelaksanaan pemilu presiden kali ini dengan nikmat lainnya, yakni terpilihnya Presiden dan Wakil Presiden yang adil dan bijaksana yang akan menghantarkan rakyat dan bangsa Indonesia menuju masyarakat yang adil dan makmur di bawah lindungan dan ampunan Allah SWT, Baldatun Thayibatun wa Rabbun Ghafur.

Mensyukuri nikmat-Nya dengan cara melaksanakan tha’at kepada-Nya, yakni melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi serta meninggalkan segala apa yang dibenci dan dilarang oleh-Nya.

Sebaliknya, apabila kita segenap komponen bangsa ini ada yang melakukan tindakan yang dibenci apalagi yang jelas-jelas di larang oleh Allah SWT, seperti curang, tidak jujur, khianat, mencaci maki, ghibah, menuduh pihak lain tanpa bukti, tidak mentaati peraturan yang telah menjadi komitmen bangsa, sampai kepada sikap maupun tindakan yang mencerminkan pengingkaran terhadap ketetapan Allah SWT, maka pasti Allah akan menurunkan adzab-Nya bagi bangsa ini. Naudzu billahi min dzalik.

Oleh karena itu, mari kita bersabar dan menahan diri. Perkuat keyakinan kita bahwa pemilu dan seluruh prosesnya hanyalah merupakan ikhtiar kita sebagai bentuk pelaksanaan kewajiban manusia sebagai makhluk-Nya. Adapun hasilnya nanti, siapapun yang terpilih nanti harus kita yakini sebagai ketentuan (taqdir) dan pilihan terbaik dari Allah bagi kita bangsa Indonesia.

Posted in Akhlak, Bulan Ramadlan, Hot Topic, Opini, Opinion, Pemilu, Pemimpin, Politik, Presiden, Renungan | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Pemilu, Dulu Dan Sekarang … !

Posted by gunawank pada April 11, 2014

Pemilihan umum telah memanggil kita
S’luruh rakyat menyambut gembira
Hak demokrasi Pancasila
Hikmah Indonesia merdeka

Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya
Pengemban Ampera yang setia
Di bawah Undang-Undang Dasar 45
Kita menuju ke pemilihan umum

 

Dulu, bait lagu Mars Pemilu di atas senantiasa berkumandang di Radio Republik Indonesia (RRI) dan TVRI setiap menjelang pesta demokrasi 5 tahunan. Secara psikologis lirik lagu tersebut sangat mempengaruhi warga bangsa sehingga dengan sukarela, penuh kegembiraan dan semangat demokrasi merasa terpanggil serta menyambut gembira pesta demokrasi lima tahunan tersbut. Terbukti dengan angka partisipasi pemilih hampir selalu mencapai angka 100 persen.

Tapi kini, pemilu yang diselenggarakan sejak masa Reformasi memiliki tingkat partisipasi yang dari angka 100 persen, bahkan pada Pemilu Legislatif yang diselenggarakan pada tanggal 9 April 2014 yang baru lalu partisipasi pemilih kurang dari 70 persen. Salah satu penyebabnya antara lain karena Lagu Mars Pemilu di atas tidak pernah terdengar lagi, sehingga ajakan melalui lagu yang memotifasi kesadaran warga untuk datang ke TPS nyaris tidak ada.

Wallahu a’lam….

Artikel terkait:

Sejarah Pemilu Di Indonesia

Posted in Berita, Fenomena, Hot Topic, Ibu Pertiwi, Indonesia, Info, Opini, Opinion, Politik, Presiden, Renungan, Sejarah, Serba serbi, Topic Hot | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Cukupkah Mengenang Jasa Pahlawan Hanya Dengan Upacara Beberapa Menit…?!!!

Posted by gunawank pada November 10, 2012

Hari ini, tanggal 10 Nopember 2012 seperti biasanya dilakukan setiap tahun segenap masyarakat bangsa Indonesia melaksanakan berbagai cara mulai dari upacara bendera, berziarah ke Makam Pahlawan, pawai obor, renungan malam dan sebagainya dalam rangka mengenang dan memberi penghormatan atas jasa-jasa para pahlawan kusuma bangsa yang telah merelakan harta, raga dan pikiran demi kemerdekaan dan kemajuan bangsa ini.

Pertanyaannya, apakah benar mereka berjuang dengan segenap jiwa dan raganya itu dilakukannya agar mendapat penghargaan, penghormatan atau agar dikenang oleh generasi penerusnya ? Tentunya, TIDAK ! Bahkan mimpi untuk disebut Pahlawanpun tidak pernah.

Para pahlawan kemerdekaan adalah mereka yang dengan kesadaran sendiri dan atas kehendak sendiri berjuang dengan penuh keikhlasan dan rela berkorban demi satu tujuan, Indonesia merdeka terlepas dari kekangan kaum penjajah. Mereka merasa bangga jika negara yang diperjuangkannya merdeka selama-lamanya. Rakyatnya bisa hidup aman, tenteram dan sejahtera. Merdeka dalam pengertian yang seluas-luasnya.

Mereka belum merasa bangga jika hanya dianugerahi gelar pahlawan, jasadnya dimakamkan di Taman Pahlawan, jasanya dikenang setiap tahun dengan upacara dan sebaginya, negaranya lepas dari penjajah tetapi tetap terjajah dalam bentuk penjajahan yang lain.

Juga mereka tidak akan merasa bangga jika negaranya telah merdeka dari bangsa penjajah tetapi rakyanya tetap terjajah oleh kaumnya sendiri, negaranya subur makmur sementara rakyatnya tetap sengsara.

Oleh karena itu, belumlah dikatakan menghormati jasa mereka jika hanya sibuk dengan upacara-upacara atau kegiatan-kegiatan sesaat sementara para penyelenggara negara tetap berbuat korup, rakyat diperintah untuk taat sementara pejabat menyeleweng, rakyat dianjurkan hemat energi sementara para pejabatnya berpoya-poya dan menghambur-hamburkan energi, rakyat yang umumnya miskin harus hidup sederhana sementara pejabatnya hidup bermewah-mewahan dan bergelimang harta.

Posted in Akhlak, Hari Pahlawan, Hot Topic, Hotline News, Opini, Opinion, Pahlawan, Pahlawan Nasional, Pejabat Negara, Pejuang, Renungan, Serba serbi, Topic Hot | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Jadikah BBM Jenis PREMIUM Naik Pada 1 April 2012 ?

Posted by gunawank pada Maret 31, 2012

Jawabannya gampang banget,…….bisa naik, bisa juga tidak. Jawaban pastinya akan ditentukan hari ini dalam “Drama” sidang Paripurna di lantai IV Gedung Nusantara II DPR, Senayan. Kenapa drama…?

Berdasarkan perkembangan terakhir suasana di gedung dewan terhormat, dua partai koalisi yakni PKS dan Golkar bersikap bereseberangan dengan pemerintah, dan nampaknya PPP juga akan mengikuti kedua partai tersebut (mudah-mudahan).

Jika kondisi ini benar-benar terjadi, maka dalam pengambilan keputusan yang akan dilakukan dengan voting terbuka dan seluruh anggota DPR sebanyak 560 orang hadir semua hanya 260 suara yang terdiri dari Partai Demokrat (148 orang), PPP (38 orang), PKB (28 orang), dan PAN (46 orang) yang mendukung kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi.

Sementara suara yang menolak sebanyak 300 suara yang berasal dari PDI-P (94 orang), Partai Gerindra (26 orang), Partai Hanura (17 orang), PKS (57 orang) dan Partai Golkar (106). Namun, biasanya peta politik bisa berubah setiap detik terutama pada detik-detik terakhir pengambilan keputusan. Justru di sinilah letak permasalahannya.

Untuk itu, jalan terbaik bagi seluruh rakyat Indonesia yang notabene (yakin) mayoritas menolak kenaikkan BBM bersubsidi untuk terus berdo’a dan berharap para wakil rakyat di Senayan benar-benar memiliki nurani yang sama dengan rakyat yang diwakilinya. Amin.

——————————————————–

DAN AKHIRNYA………….

Setelah melalui sidang yang cukup panjang hingga dinihari tadi (Sabtu, 31/3/2012) dengan melalui pemungutan suara, dan dengan dukungan 356 suara (Demokrat, Golkar, PPP, PKB dan PAN) sidang paripurna memutuskan memilih opsi kedua yakni pasal 7 ayat 6 UU APBN tahun 2012 yang berbunyi: “Harga jual eceran BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan” (alhamdulillah…!) ditambah ayat baru (ayat 6A), yakni : “Pemerintah dapat menaikkan harga BBM jika harga minyak dunia naik lebih dari 15% dari asumsi APBN selama 6 bulan berturut-turut”.(ha…??!!!).

Artinya: BBM bersubsidi tidak naik per 1 April 2012, tetapi……..setelah itu ? Berdasarkan ayat tambahan tersebut, Pemerintah bisa menaikkannya tanpa harus melalui persetujuan DPR. Inilah yang dimaksud “Drama” pada awal tulisan di atas. Nayatanya, Golkar dan PPP masih berat untuk bisa bereberangan dengan pemerintah.

SELESAI………

Ada pernyataan salah seorang warga masyarakat yang menggelitik berkaitan dengan isu BBM ini. Kira-kira begini bunyinya (karena hanya ditayangkan sekilas oleh salah satu stasiun TV nasional), “Yang membayar subsidi BBM kan rakyat lewat pembayaran pajak dan sebagainya, bukan pemerintah. Jadi pemerintah tidak perlu keberatan dengan subsidi BBM, karena yang membayar subsidi adalah rakyat dan subsidi itu untuk rakyat. Dari rakyat untuk rakyat…….”

Posted in Buah bibir, DPR, Hot Topic, Hotline News, Indonesia, Opini, Opinion, Pemerintah, Politik, Serba serbi, Topic Hot, Wakil rakyat | Dengan kaitkata: , , , , , | 2 Comments »

Syukur dan Tahun Baru

Posted by gunawank pada Desember 21, 2011

Pergantian tahun dari 2011 ke 2012 masih dua mingguan lagi. Namun hingar bingar suasana menyambut Tahun Baru 2012 sudah mulai terasa. Kamar-kamar hotel berbintang di kota-kota besar sudah ramai diboking, bahkan sudah beberapa hotel menutup pesananan karena seluruh kamarnya sudah habis terjual.

Demikian pula halnya dengan tempat-tempat wisata sudah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan membludaknya pengujung, bahkan para pengrajin dan penjual terompetpun sudah mulai menjajakan terompetnya. Karena di masyarakat kita sudah terbentuk imej bahwa tahun baru (masehi) identik dengan terompet.

Lalu, bagaimana seharusnya kita memaknai peristiwa pergantian tahun tersebut?

Berkaitan dengan usia, pergantian tahun mengakibatkan hitungan jumlah usia kita semakin bertambah, namun pada saat yang sama jatah usia kita sebenarnya menjadi semakin berkurang.

Jika kita memaknai datangnya tahun baru ini sebagai pertambahan usia, tentunya ungkapan rasa syukur atas nikmat panjang umur merupakan amal yang harus dilakukan, yaitu dengan menggunakan nikmat tersebut ke jalan yang di ridloi-Nya. Taat menjalankan semua perintah-Nya serta menjauhi semua larangan dan segala sesuatu yang dibenci oleh-Nya. Karena jika kita bersyukur atas nikmatnya, maka Allah pun akan menambah nikmat itu. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Ibrahim ayat 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah), tatkala tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab–Ku sangat pedih.”

Bagi umat Islam, sebagai perwujudan rasa syukur dalam menyambut datangnya tahun baru ini bukan dengan cara berpesta pora, bersuka ria, hura-hura, meniup terompet sehingga memekakan telinga dan berpoya-poya, tetapi justru dijadikan ajang introspeksi diri, muhasabah dan membanyakkan istighfar, memohon ampunan dan keridlaan-Nya. Sebab umur yang panjang tidak menjamin kebaikan seseorang di hadapan Allah Swt. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw dalam haditsnya:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

Seseorang bertanya: Ya Rasulullah siapakah orang yang paling baik? Jawab beliau: Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Orang tersebut bertanya lagi: lalu siapakah orang yang paling buruk? Jawab beliau: Orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya”. (HR. Ahmad, Baihaqi dan Turmudi).

Wallahu a’lam

Posted in Artikel Islam, Fenomena, Hikmah, Opini, Opinion, Renungan, Serba serbi | Dengan kaitkata: , , , , | 6 Comments »