Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Archive for the ‘Pahlawan’ Category

Hari Guru Dan Semangat Nasionalisme

Posted by gunawank pada November 25, 2015

Hari guru3Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 Nopember bersamaan dengan peringatan hari lahir PGRI yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 merupakan bentuk penghargaan dan tanda penghormatan pemerintah Republik Indonesia kepada guru.

Penghargaan ini sangat layak didapatkan oleh guru, bukan saja karena jasanya sebagai pendidik dan agen dalam mencerdaskan anak bangsa yang bekerja tanpa pamrih sehingga mendapat julukan ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa‘, juga karena kiprahnya dalam mengobarkan semangat nasionalisme dan memperjuangkan kemerdekaan.

Berawal dari semangat guru-guru pribumi pada zaman kolonial Belanda dalam memperjuangkan nasib para anggotanya yang memiliki pangkat, status sosial dan latar belakang pendidikan yang berbeda, pada tahun 1912 berdirilah organisasi guru dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang beranggotakan para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan penilik sekolah yang umumnya bertugas di sekolah desa dan sekolah rakyat angka dua.

Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi yang tergabung dalam organisasi PGHB terus berjuang menuntut persamaan hak dan posisi terhadap pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah kepala HIS yang selama itu selalu dijabat oleh orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang-orang pribumi.

Semangat perjuangan ini semakin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kemerdekaan. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional untuk meraih kemerdekaan.

Pergeseran semangat juang para guru dari memperjuangkan persamaan hak menjadi semangat nasionalisme merebut kemerdekaan terlihat jelas dengan dirubahnya  nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) pada tahun 1932. Perubahan nama ini  yang mengganti kata “Hindia Belanda” menjadi “Indonesia” tak ayal sangat mengejutkan pemerintah Belanda. Penggantian kata yang mencerminkan semangat kebangsaan ini tentu saja sangat tidak disenangi oleh Belanda.

Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas.

Puncak semangat nasionalisme para guru adalah diselenggarakannya  Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24-25 November 1945 di Surakarta. Dengan dijiwai semangat proklamasi 17 Agustus 1945 kongres memutuskan segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama dan suku, sepakat dihapuskan.

Sebagai gantinya, kongres menetapkan berdirinya organisasi guru dengan nama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada tanggal 25 November 1945, tepat seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan guru yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk, semuanya bergabung dalam satu wadah “PGRI” untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

***(Dari berbagai sumber)

Iklan

Posted in Akhlak, Guru, Opini, Opinion, Organisasi, Pahlawan, Pendidik, Renungan, Sejarah, Serba serbi, Teladan | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Sumpah Pemuda; Kesadaran Pentingnya Persatuan

Posted by gunawank pada Oktober 28, 2015

Nusantara adalah negeri kepulauan yang serba kaya. Kaya budaya, kaya bahasa, kaya suku bangsa, plus kekayaan alam yang melimpah ruah, luas lautnya dengan berbagai macam ikan hidup di dalamnya, subur tanahnya serta berbagai barang tambang terkandung di dalamnya, luas hutannya dengan berbagai macam flora dan fauna, dan sebagainya, dan sebagainya.

Namun untaian mutiara khatulistiwa nan cantik jelita ini, saat itu sedang berada dalam genggaman sang angkara. Kaum penjajah dengan segala kekuatan dan keserakahannya membuat rakyatnya sengsara, penduduknya menderita.

Usaha-usaha perlawanan dan pemberontakan muncul di mana-mana, peperangan terjadi diberbagai daerah. Namun bukan membuat enyah bangsa penjajah, justeru semakin memperkuat dan memperluas wilayah penjajahan.

Semangat juang yang tinggi ternyata tidak cukup untuk mengusir penjajah, karena hanya dilakukan secara terpisah di masing-masing daerah.

Menyadari akan hal ini, Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) menggagas diadakannya Kongres Pemuda kedua yang berhasil dilaksanakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng).

Kongres ini diharapkan dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda, demikian dikatakan ketua PPPI, Sugondo Djojopuspito dalam sambutannya pada hari Sabtu, 27 Oktober 1928.

Hasil rumusan dari tiga kali rapat dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 sebagai sumpah setia yang berbunyi :

Kami poetera dan poeteri Indonesia,
mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kami poetera dan poeteri Indonesia,
mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Kami poetera dan poeteri Indonesia,
mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Ikrar para pemuda dari berbagai daerah ini dikenal sebagai SUMPAH PEMUDA.

Dari apa yang dirumuskan, dibahas dan diikrarkan pada Kongres Pemuda Kedua ini tercermin semangat nasionalisme dan kebangsaan yang teramat sangat tinggi meski mereka berangkat dari organisasi-organisasi kepemudaan dari suku yang berbeda-beda tetapi mampu mempersatukan diri dalam satu wadah besar bernama INDONESIA.

Posted in Akhlak, Hikmah, Ibu Pertiwi, Idola, In memoriam, Indonesia, Opini, Opinion, Organisasi, Pahlawan, Sejarah | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Hari Santri Nasional; Antara Pro dan Kontra

Posted by gunawank pada Oktober 22, 2015

Memenuhi salah satu janji kampanyenya, pada hari Kamis (15/10/2015) Presiden Joko Widodo telah menandatangani Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Sebagaimana telah diketahui bersama. saat kampanye Pemilu Presiden 2014, Jokowi menyampaikan janjinya untuk menetapkan satu hari sebagai Hari Santri Nasional. Walaupun ketika itu, Jokowi mengusulkan tanggal 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional.

Menurut Sekretaris Kabinet, Pramono Anung, ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri merupakan usulan dari internal kabinet dan pihak eksternal yang terkait.

Pramono menegaskan, meski tanggal 22 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional, namun pada tanggal tersebut tidak menjadi hari libur . “Dengan keputusan ini, 22 Oktober menjadi Hari Santri dan bukan hari libur nasional,” ucapnya.

Keputusan Presiden Jokowi ini tak ayal menuai pro dan kontra. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyatakan Muhammadiyah keberatan dengan penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Muhammadiyah menilai penetapan Hari Santri Nasional dapat mengganggu ukhuwah umat Islam lewat polarisasi santri-nonsantri yang selama ini mulai mencair.

“Muhammadiyah secara resmi berkeberatan dengan Hari Santri,” kata Haedar Nashir kepada Republika, Sabtu (17/10).

Menurut Haedar, Muhammadiyah tidak ingin umat Islam makin terpolarisasi dalam kategorisasi santri dan nonsantri. Hari Santri akan menguatkan kesan eksklusif di tubuh umat dan bangsa. Padahal, selama ini santri-nonsantri makin mencair dan mengarah konvergensi. “Untuk apa membuat seremonial umat yang justru membuat kita terbelah,” ujarnya, sebagaimana diberitakan harian Republika, Sabtu (17/10).

Lain Muhammadiyah lain pula Nahdlatul Ulama. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siradj bahkan menegaskan bahwa dengan atau tanpa persetujuan pemerintah, PBNU akan tetap merayakan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. PBNU telah merencanakan sejumlah acara dalam rangka perayaan Hari Santri tersebut(Kompas com, Kamis, 15/10/2015).

Menurutnya, tanggal 22 Oktober 1945 merupakan tanggal ketika Kiai Hasyim Asy’ari mengumumkan fatwanya yang disebut sebagai Resolusi Jihad.

Resolusi Jihad yang lahir melalui musyawarah ratusan kiai dari berbagai daerah tersebut merespons pendaratan armada pasukan Inggris yang ‘diboncengi’ pasukan Belanda (NICA) di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Resolusi itu memuat seruan bahwa setiap Muslim wajib memerangi penjajah. Para pejuang yang gugur dalam peperangan melawan penjajah pun dianggap mati syahid. Sementara itu, mereka yang membela penjajah dianggap patut dihukum mati. (Baca tulisan: “Hari Pahlawan; Resolusi Jihad NU Menginspirasi Terjadinya Perang 10 Nopember 1945”).

Posted in Berita, Fatwa, Hot Topic, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, NU, Pahlawan, Presiden, Sejarah, Topic Hot, Ulama | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Cukupkah Mengenang Jasa Pahlawan Hanya Dengan Upacara Beberapa Menit…?!!!

Posted by gunawank pada November 10, 2012

Hari ini, tanggal 10 Nopember 2012 seperti biasanya dilakukan setiap tahun segenap masyarakat bangsa Indonesia melaksanakan berbagai cara mulai dari upacara bendera, berziarah ke Makam Pahlawan, pawai obor, renungan malam dan sebagainya dalam rangka mengenang dan memberi penghormatan atas jasa-jasa para pahlawan kusuma bangsa yang telah merelakan harta, raga dan pikiran demi kemerdekaan dan kemajuan bangsa ini.

Pertanyaannya, apakah benar mereka berjuang dengan segenap jiwa dan raganya itu dilakukannya agar mendapat penghargaan, penghormatan atau agar dikenang oleh generasi penerusnya ? Tentunya, TIDAK ! Bahkan mimpi untuk disebut Pahlawanpun tidak pernah.

Para pahlawan kemerdekaan adalah mereka yang dengan kesadaran sendiri dan atas kehendak sendiri berjuang dengan penuh keikhlasan dan rela berkorban demi satu tujuan, Indonesia merdeka terlepas dari kekangan kaum penjajah. Mereka merasa bangga jika negara yang diperjuangkannya merdeka selama-lamanya. Rakyatnya bisa hidup aman, tenteram dan sejahtera. Merdeka dalam pengertian yang seluas-luasnya.

Mereka belum merasa bangga jika hanya dianugerahi gelar pahlawan, jasadnya dimakamkan di Taman Pahlawan, jasanya dikenang setiap tahun dengan upacara dan sebaginya, negaranya lepas dari penjajah tetapi tetap terjajah dalam bentuk penjajahan yang lain.

Juga mereka tidak akan merasa bangga jika negaranya telah merdeka dari bangsa penjajah tetapi rakyanya tetap terjajah oleh kaumnya sendiri, negaranya subur makmur sementara rakyatnya tetap sengsara.

Oleh karena itu, belumlah dikatakan menghormati jasa mereka jika hanya sibuk dengan upacara-upacara atau kegiatan-kegiatan sesaat sementara para penyelenggara negara tetap berbuat korup, rakyat diperintah untuk taat sementara pejabat menyeleweng, rakyat dianjurkan hemat energi sementara para pejabatnya berpoya-poya dan menghambur-hamburkan energi, rakyat yang umumnya miskin harus hidup sederhana sementara pejabatnya hidup bermewah-mewahan dan bergelimang harta.

Posted in Akhlak, Hari Pahlawan, Hot Topic, Hotline News, Opini, Opinion, Pahlawan, Pahlawan Nasional, Pejabat Negara, Pejuang, Renungan, Serba serbi, Topic Hot | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

11 Mei; Lahirnya Komponis Legendaris, ISMAIL MARZUKI

Posted by gunawank pada Mei 10, 2012

Foto: tokohindonesia.com

Foto: tokohindonesia.com

Ismail Marzuki lahir di Kwitang, Senen, Jakarta Pusat (Batavia) pada tanggal 11 Mei 1914  adalah salah seorang komponis besar Indonesia yang sangat produktif dan pandai melahirkan karya-karya yang mendapatkan apresiasi tinggi dari masyarakat. Lagu ciptaannya yang paling populer adalah Rayuan Pulau Kelapa yang digunakan sebagai lagu penutup akhir siaran oleh stasiun TVRI pada masa pemerintahan Orde Baru

Sejak tahun 1930-an hingga 1950-an, dia menciptakan sekitar 250 lagu dengan berbagai tema dan jenis aliran musik yang memesona. Hingga saat ini, lagu-lagu karyanya yang abadi masih dikenang dan terus berkumandang di masyarakat. Dalam dunia seni musik Indonesia, kehadiran putra Betawi ini mewarnai sejarah dan dinamika pasang surutnya musik Indonesia.

Dalam bermusik, dia mempunyai kebebasan berekspresi, leluasa bergerak dari satu jenis aliran musik ke jenis aliran musik yang lain. Ia juga punya kemampuan menangkap inspirasi lagunya dengan beragam tema. Karya-karyanya sangat kaya, baik soal melodi maupun liriknya. Ia pun mencipta lagu dengan bermacam warna, salah satunya keroncong, di antaranya Bandung Selatan di Waktu Malam dan Selamat Datang Pahlawan Muda.

Keterpesonaan Ismail Marzuki pada sisi-sisi romantisme masa perjuangan melahirkan lagu-lagu bertema cinta dan perjuangan. Meski lagu-lagu karyanya tampak sederhana, syairnya sangat kuat, melodius, dan punya nilai keabadian.

Pada tahun 1931, Ismail Marzuki yang akrab dipanggil Maing, mulai menciptakan lagu berjudul “O Sarinah” yang menggambarkan suatu kondisi kehidupan bangsa yang tertindas. Lagu-lagu ciptaannya antara lain Rayuan Pulau Kelapa yang dicipta tahun 1944, Gugur Bunga (1945), Halo-Halo Bandung (1946), Selendang Sutera (1946), Sepasang Mata Bola (1946), Melati di Tapal Batas (1947), Bandung Selatan di Waktu Malam (1948) dan Selamat Datang Pahlawan Muda (1949).

Pada tahun 1968 Ismail Marzuki mendapat anugerah penghormatan dengan dibukanya Taman Ismail Marzuki, sebuah taman dan pusat kebudayaan di Salemba, Jakarta Pusat.

Komponis pejuang dan maestro musik legendaris ini dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dalam rangkaian Hari Pahlawan 10 November 2004 di Istana Negara. Dia dikenal sebagai pejuang dan tokoh seniman pencipta lagu bernuansa perjuangan yang dapat mendorong semangat membela kemerdekaan.

Lagu-lagunya hingga sekarang masih tetap hidup dan disukai tua dan muda seperti Indonesia Pusaka, Sepasang Mata Bola, Selendang Sutra, Melati di Tapal Batas, Aryati, Jangan Ditanya ke Mana Aku Pergi, Payung Fantasi, Sabda Alam, Juwita Malam, Kopral Jono, dan Sersan Mayorku.

Ismail Marzuki memang telah meninggal di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta, pada tanggal 25 Mei 1958 dalam usia 44 tahun, namun namanya tetap hidup dan karya-karyanya terus melekat di hati masyarakat hingga kini dan masa yang akan datang.

Karya Lagu lainnya :
•    Aryati
•    Gugur Bunga
•    Melati di Tapal Batas (1947)
•    Wanita
•    Rayuan Pulau Kelapa
•    Sepasang Mata Bola (1946)
•    Bandung Selatan di Waktu Malam (1948)
•    O Sarinah (1931)
•    Keroncong Serenata
•    Kasim Baba
•    Bandaneira
•    Lenggang Bandung
•    Sampul Surat
•    Karangan Bunga dari Selatan
•    Selamat Datang Pahlawan Muda (1949)
•    Juwita Malam
•    Sabda Alam
•    Roselani
•    Rindu Lukisan
•    Indonesia Pusaka

*** Dari berbagai sumber

Posted in Biografi, In memoriam, Pahlawan, Pahlawan Nasional, Sejarah, Seniman, Tokoh, Tokoh Nasional | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Biografi KH.A. Wahid Hasyim

Posted by gunawank pada Mei 11, 2011

Kiai Haji Abdul Wahid Hasyim (lahir di Jombang, Jawa Timur, 1 Juni 1914 – meninggal di Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953 pada umur 38 tahun) adalah pahlawan nasional Indonesia dan menteri negara dalam kabinet pertama Indonesia. Ia adalah ayah dari presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid dan anak dari Hasyim Asy’arie, salah satu pahlawan nasional Indonesia. Wahid Hasjim dimakamkan di Tebuireng, Jombang.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Artikel Islam, Biografi, Idola, Nahdlatul Ulama, NU, Pahlawan, Pahlawan Nasional, Tokoh, Tokoh Nasional, Tokoh NU | Dengan kaitkata: , , | 2 Comments »

Biografi Ki Hajar Dewantara; Sosok Pejuang dan Pendidik

Posted by gunawank pada Mei 2, 2011

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, beberapa menuliskan  dalam bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro), lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun;  adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun emisi 1998.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Biodata, Biografi, Guru, Hot Topic, Hotline News, Idola, In memoriam, Pahlawan, Pahlawan Nasional, Pendidik, Pendidikan, Profile, Sejarah, Serba serbi, Teladan, Tokoh, Tokoh Nasional, Tokoh Pendidikan | Dengan kaitkata: , , , , , | 2 Comments »

BIOGRAFI LENGKAP R. A. KARTINI

Posted by gunawank pada April 20, 2011

RA Kartini

BIODATA

NamaTempat lahir

Tanggal lahir

Wafat di

Tanggal wafat

Usia

Nama Ayah

Nama Ibu

Nama suami

Nama Putra

Tokoh

Gelar

Berdasarkan

::

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Raden Adjeng KartiniJepara, Jawa Tengah

21 April 1879

Rembang, Jawa Tengah

17 September 1904

25 tahun

Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati

Jepara (Keturunan Hamengkubuwana VI)

M.A. Ngasirah

K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat,

Bupati Rembang

R.M. Soesalit

Pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Pahlawan Kemerdekaan Nasional

Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964

Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Baca entri selengkapnya »

Posted in Biodata, Biografi, Idola, In memoriam, Pahlawan, Pahlawan Nasional, Sejarah, Teladan, Tokoh Emansipasi Wanita, Tokoh Nasional | Dengan kaitkata: | 23 Comments »

Biografi Muhammad Toha; Pahlawan Bandung Lautan Api

Posted by gunawank pada April 3, 2011

BIODATA

Muhammad Toha (1927 – 24 Maret 1946)
Tempat kelahiran         :   Bandung, Hindia Belanda (sekarang Indonesia)
Tempat kematian         :   Bandung, Indonesia
Pengabdian bagi          :   Republik Indonesia
Dinas/cabang               :   Barisan Rakjat Indonesia
Lama berdinas             :   1945 – 1946
Pangkat                       :   Komandan
Kesatuan                     :   Milisi Penggempur
Komando                    :   milisi gerilya
Pertempuran/perang    :   Bandung Lautan Api (Perang Kemerdekaan Indonesia)


Baca entri selengkapnya »

Posted in Bandung, Biografi, Buah bibir, Hot Topic, In memoriam, Pahlawan, Pahlawan Nasional, Pejuang, Sejarah, Tokoh, Tokoh Bangsa, Tokoh Sunda | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 18 Comments »

Peringatan Hari Ibu 22 Desember, Refleksi Perjuangan Wanita Indonesia

Posted by gunawank pada Desember 21, 2010

Di Indonesia setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai perayaan Hari Ibu yang ditetapkan berdasarkan keputusan Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Kemudian dipertegas oleh Presiden Soekarno  melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 yang menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Berita, Buah bibir, Dewi Sartika, Hot Topic, Hotline News, Ibu Pertiwi, In memoriam, Info, Organisasi, Pahlawan, Pahlawan Nasional, Potret, Sejarah, Serba serbi, Tokoh Emansipasi Wanita, Topic Hot | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »