Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Archive for the ‘Pengetahuan’ Category

Santri, Siswa dan Pelajar

Posted by gunawank pada Oktober 23, 2015

Menurut bahasa, kata santri dan pelajar/siswa memiliki arti yang sama yaitu orang yang sedang menuntut ilmu. Namun dalam kehidupan sehari-hari, beberapa kata yang memiliki arti sama dari sisi bahasa (arti menurut kamus) menjadi berbeda pengertiannya ketika digunakan untuk istilah yang berbeda.

Sebagai contoh, sunnah menurut bahasa artinya jalan, peraturan, ketetapan, sikap dalam bertindak dan bentuk kehidupan. Sedangkan menurut istilah Ulama Muhaditsin, sunnah artinya segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah saw baik berupa ucapan (qauliyyah), perbuatan (fi’liyyah) maupun penetapan (taqririyyah).

Menurut istilah Ulama Fiqih, sunnah artinya hukum suatu amal yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jika tidak dikerjakan tidak berdosa.

Demikian pula berdasarkan istilah yang terjadi di masyarakat, kata santri digunakan untuk orang-orang yang sedang menimba ilmu agama di pondok pesantren atau lembaga pendidikan agama lainnya. Sedangkan kata pelajar atau siswa digunakan untuk mereka yang sedang menimba ilmu di sekolah.

Perbedaan penggunaan istilah ini juga berkaitan dengan sistem pengajaran. Dalam pondok pesantren santri akan mendapatkan pengajaran yang bersifat keilmuan sekaligus pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari dan pembiasaan-pembiasaan yang khas hanya didapatkan di sistem pendidikan pondok pesantren.

Pembiasaan dalam bidang keilmuan:

  1. Santri terbiasa muthola’ah atau mengulang pelajaran di asrama/pondokan setelah mendapatkan pelajaran dari kiai atau ustadz.
  2. Jika belum menguasai atau memahami pelajaran yang didapatkan dari kiai, santri terbiasa meminta penjelasan (sorogan) kepada seniornya.
  3. Untuk memperdalam pemahaman atau menambah wawasan suatu masalah, santri terbiasa berdiskusi (mudzakarah) dengan teman satu kamar atau teman dari kamar yang berbeda.
  4. Santri terbiasa menghafal seluruh isi kitab terutama kitab-kitab kaidah yang berbentuk nazhom (syair), seperti Kitab Alfiyah (kaidah tatabahasa Arab) yang berisi 1.000 bait, Imriti (500 bait), Asbah wan nazhir (qaidah fiqiyah), Waroqot (qaidah ushul fiqih) dan lain-lain.
  5. Setiap santri pasti memiliki kitab semua pelajaran yang diajarkan di pesantrennya.

Serta kebiasaan-kebiasaan lain yang berjalan secara alamiyah tanpa harus di suruh oleh gurunya. Sesuatu yang sulit ditemukan pada lembaga pendidikan selain pondok pesantren.

Pembiasaan dalam bidang kepribadian dan kehidupan sosial:

  1. Santri dididik untuk hidup mandiri, mencuci pakaian sendiri, masak sendiri bahkan tidak sedikit yang mencari biaya hidup sendiri.
  2. Santri dididik untuk hidup sederhana, jauh dari kemewahan.
  3. Santri dididik untuk hidup dalam kebersamaan, saling membantu. Siapapun yang mendapat kiriman makanan dan apapun makanannya, misalnya, akan selalu dimakan bersama-sama dengan teman-temannya.
  4. Santri dididik untuk menjadi pribadi yang anti terhadap kebudayaan barat yang bertentangan dengan morma-norma syariat Islam.
  5. Akhlak, disiplin, hormat kepada guru, kepada orang yang lebih tua, kepada sesama dan selalu mengucap salam apabila bertemu merupakan pembiasaan yang harus dilakukan santri sehari-hari.
  6. Santri akan mentaati apapun yang difatwakan oleh kiainya selama tidak menyimpang dan bertentangan dengan syariat Islam.

Singkat kata, pembiasaan-pembiasaan seperti ini sulit ditemukan pada para pelajar di luar pondok pesantren. Dengan kata lain sulit dipersamakan (berdasarkan istilah) antara santri dan pelajar.

Posted in Opini, Opinion, Pengetahuan, Serba serbi | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Sejarah Pemilu Di Indonesia

Posted by gunawank pada April 22, 2014

Pemilihan Umum atau biasa disingkat Pemilu di Indonesia sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955 hingga sekarang tercatat sudah berlangsung 11 kali (termasuk Pemilu Legislatif yang dilaksanakan tanggal 9 April 2014 yang baru lalu). Berikut sejarah panjang pemilu ke pemilu tersebut:

Pemilu 1955.

Ini merupakan pemilu yang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia. Waktu itu Republik Indonesia berusia 10 tahun. Kalau dikatakan pemilu merupakan syarat minimal bagi adanya demokrasi, apakah berarti selama 10 tahun itu Indonesia benar-benar tidak demokratis? Tidak mudah juga menjawab pertanyaan tersebut. 

Yang jelas, sebetulnya sekitar tiga bulan setelah kemerdekaan dipro-klamasikan oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945, pemerin-tah waktu itu sudah menyatakan keinginannya untuk bisa menyele-nggarakan pemilu pada awal tahun 1946. Hal itu dicantumkan dalam Maklumat X, atau Maklumat Wakil Presiden Mohammad Hatta tanggal 3 Nopember 1945, yang berisi anjuran tentang pembentukan par-tai-partai politik. Maklumat tersebut  menyebutkan, pemilu untuk me-milih anggota DPR dan MPR akan diselenggarakan bulan Januari 1946. Kalau kemudian ternyata pemilu pertama tersebut baru terselenggara hampir sepuluh tahun setelah kemudian tentu bukan tanpa sebab. 

Tetapi, berbeda dengan tujuan yang dimaksudkan oleh Maklumat X, pemilu 1955 dilakukan dua kali. Yang pertama, pada 29 September 1955 untuk memlih anggota-anggota DPR. Yang kedua, 15 Desember 1955 untuk memilih anggota-anggota Dewan Konstituante. Dalam Maklumat X hanya disebutkan bahwa pemilu yang akan diadakan Januari 1946 adalah untuk memilih angota DPR dan MPR, tidak ada Konstituante. 

Keterlambatan dan “penyimpangan” tersebut bukan tanpa sebab pula. Ada kendala yang bersumber dari dalam negeri dan ada pula yang berasal dari faktor luar negeri. Sumber penyebab dari dalam antara lain ketidaksiapan pemerintah menyelenggarakan pemilu, baik karena belum tersedianya perangkat perundang-undangan untuk mengatur penyelenggaraan pemilu maupun akibat rendahnya stabilitas keamanan negara. Dan yang tidak kalah pentingnya, penyebab dari dalam itu adalah sikap pemerintah yang enggan menyelenggarakan perkisaran (sirkulasi) kekuasaan secara teratur dan kompetitif. Penyebab dari luar antara lain serbuan kekuatan asing yang mengharuskan negara ini terlibat peperangan. 

Namun, tidaklah berarti bahwa selama masa konsolidasi kekuatan bangsa dan perjuangan mengusir penjajah itu, pemerintah kemudian tidak berniat untuk menyelenggarakan pemilu. Ada indikasi kuat bahwa pemerintah punya keinginan politik untuk menyelenggarakan pemilu. Misalnya adalah dibentuknya UU No 27 tahun 1948 tentang Pemilu, yang kemudian diubah dengan UU No. 12 tahun 1949 tentang Pemilu. Di dalam UU No 12/1949 diamanatkan bahwa pemilihan umum yang akan dilakukan adalah bertingkat (tidak langsung). Sifat pemilihan tidak langsung ini didasarkan pada alasan bahwa mayoritas warganegara Indonesia pada waktu itu masih buta huruf, sehingga kalau pemilihannya langsung dikhawatirkan akan banyak terjadi distorsi.  Baca entri selengkapnya »

Posted in Berita, Indonesia, Info, Pemilu, Pengetahuan, Politik, Sejarah, Wakil rakyat | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 1 Comment »

Keunikan Bulan APRIL

Posted by gunawank pada April 3, 2012

Segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti memiliki keunikan yang akan menjadi ciri khasnya masing-masing. Dari keunikannya itulah diperoleh kalimat pembatas yang menjadi bahan untuk mendefinisikan sesuatu tersebut. Dari keunikannya itu pulalah sesuatu bisa dibedakan dari yang lain sehingga bisa dikenali.

Selama ini kebanyakan dari kita mungkin hanya mengenal bulan April sebagai bulan keempat dalam perhitungan kalender masehi, sehingga ketika ditanya: “Apa itu bulan April ?” Jawabnya: “April adalah nama bulan keempat dalam kalender masehi.”

Ternyata ada beberapa keunikan lain dari bulan April selain hanya sekedar sebagai bulan keempat, diantaranya:

  1. Hari pertama pada bulan April selalu sama dengan hari pertama bulan Juli setiap tahunnya.
  2. Pada tahun kabisat, hari pertama bulan April selalu sama dengan hari pertama bulan Januari.
  3. Hari terakhir bulan April selalu sama dengan hari terakhir bulan Desember pada setiap tahun.
  4. April terkait dengan Musim Semi di belahan bumi utara dan Musism Gugur di belahan bumi selatan.
  5. Di negara-negara barat tanggal 1 April diperingati sebagai “Hari Penipuan” (April Fools Day) atau April Mop dimana pada hari itu setiap orang boleh menipu orang lain sebagai lelucon.

Dan bagi menemukan keunikan lainnya, silakan tulis dalam kotak komentar untuk menambah perbendaharaan.

Posted in Berita, Fenomena, Info, Pengetahuan, Serba serbi | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »