Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Archive for the ‘Renungan’ Category

Syawwal, Bulan Peningkatan Amal

Posted by gunawank pada Juni 30, 2017

Alhamdulillah, tanpa terasa kini kita telah berada di bulan Syawal. Bulan kesepuluh dalam penanggalan bulan qamariyah, bulan yang di dalamnya terdapat hari raya iedul fitri, hari raya berbuka bagi umat Islam setelah sebulan penuh menjalankan ibadah shaum ramadlan.

Menurut bahasa, syawal berarti naik. Ini mengandung maksud bahwa bagi setiap muslim harus terjadi peningkatan kualitas maupun kuantitas amal mulai bulan syawal dan seterusnya, setelah di bulan Ramadlan dilatih untuk memperbanyak amal.

Sebagaimana kita ketahui bahwa selama bulan Ramadlan kita diwajibkan oleh Allah SWT untuk berpuasa penuh dengan satu tujuan agar setelah melewati bulan Ramadlan setiap muslim meningkat derajatnya, yakni mencapai derajat muttaqin, pangkat yang paling mulia di sisi Allah SWT. Sebagaimana firman-nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu sekalian termasuk orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al-Baqarah: 183).

Untuk mewujudkan fungsi puasa ramadlan sebagai sarana mencapai derajat muttaqin, Allah SWT menyertakan berbagai fasilitas untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas ibadah di bulan Ramadlan, antara lain dijadikannya bulan Ramadlan sebagai bulan yang penuh berkah dan rahmat Allah. Sehingga dalam bulan ramadlan kecenderungan ada peningkatan ibadah kita, seperti lebih rajin membaca Al-Quran, lebih banyak bershadaqah bahkan mungkin hampir setiap hari kita mampu dan mau mengisi kotak infak setiap pelaksanaan shalat tarawih, rajin berjamaah shalat fardu, kuat serta istiqamah melaksanakan shalat tarawih yang jumlah rakaatnya jauh lebih banyak dari shalat pada hari-hari lain di luar bulan Ramadlan, mampu istiqamah shalat witir setiap malam, dan lain-lain.

Pada bulan Ramadlan pula, dengan kehawatiran akan merusak ibadah puasa, kitapun mampu menjaga lisan dari gibah, berdusta, mengadu-ngadu, bersaksi palsu dan lain-lain. Kita juga mampu menahan pandangan, pendengaran, pikiran, hati, perut, tangan dan kaki dari perbuatan maksiat.

Memperbanyak amal sebagai sarana menuju surga Allah SWT dan menahan diri dari perbuatan yang dapat menjurumuskan ke dalam neraka sebagaimana diuraikan di atas, disadari atau tidak, diakui ataupun tidak, sejujurnya sulit dan sangat berat dapat kita lakukan pada hari-hari lain di luar bulan Ramadlan. Maka pantaslah apabila Allah SWT memberikan predikat muttaqin kepada mereka yang “lulus” menjalankan puasa Ramadlan, dan memasukkannya ke dalam golongan  manusia yang kembali kepada fitrah kesucian dan memperoleh kemenangan, minal a’idina wal faizin.

Kini Ramadlan telah berlalu. Lalu bagaimana kita menyikapi hari demi hari kita, setelah kita kembali pada fitrah kesucian jiwa……? Setelah kita dinobatkan sebagai insan yang memperoleh kemenangan…?

Para ulama salaafunassholih memberikan nasihat kepada kita dalam rangka mempertahankan predikat tersebut:

Pertama, pertahankan amal yang telah mampu secara rutin kita lakukan di bulan Ramadlan.

أ لا وانّ علامةَ قبولِ الحسنةِ عَمِلَ الحسنةَ بعد هاعلى التّوال وانّ علامة ردّ ِها ان تتبع بِقِـبْـيال

“Ingatlah bahwa tanda diterimanya amal kebaikan adalah melakukan amalan sholeh setelahnya secara berkesinambungan. Adapun tanda ditolaknya amal ibadah adalah mengiringi amalan kebajikan itu dengan prilaku keji dan mungkar”.

Sebagai tanda diterimanya ibadah puasa dan amal-amal lain yang dilakukan pada bulan Ramadlan adalah terjadinya peningkatan kuantitas maupun kualitas ibadah setelah berlalunya bulan Ramadlan tersebut. Dengan kata lain, mafhum mukhalafhnya adalah jika pada bulan Syawal ini mulai malas berjamaah, meninggalkan shalat witir, malas-malasan tadarus Al-Qur’an, berat untuk bershadaqah, mulai suka menggunjing, bermusuhan, berdusta, menipu, korupsi dan lain-lain kemaksiatan, itu tandanya ibadah kita tidak diterma Allah SWT. Naudzu billah.

Kedua, pada bulan Syawal ini, selain kita harus mampu mempertahankan segala amal yang kita raih di bulan Ramadlan, apalagi dapat meningkatkannya baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya, kita juga harus berusaha keras untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan, agar pahala amal kita tidak habis dirusak oleh kemaksiatan tersebut.

ولا تبطُلْ ماأسلفتــم فى شهررمــضان مِن صــالح ا لأ عــمال

“Janganlah kalian porak porandakan segala pahala kebaikan yang telah terkumpulkan di bulan Ramadhan dari beberapa amalan sholih”.

واعلموا أنّ الحسناتَ يُذهِبْنَ السّيّـئآت. فكذالك السّيّـئآتَ يُبطِلْنَ صالح َالأعمال

“Ketahuilah bahwa segala kebaikan (pahala) dapat menghanguskan segala keburukan (dosa), demikian juga (sebaliknya), segala kejelakanpun dapat menghancurkan amal-amal kebajikan”.

Semoga atas rahmat dan pertolongan Allah SWT, kita diberi kekuatan, kemampuan dan kemauan untuk senantiasa meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita pada bulan Syawal dan hari-hari selanjutnya. Dan semoga pula, kita mampu menahan diri dan menghindari kemaksiatan yang dapat merusak dan menghanguskan pahala amal kita.  Amin ya Robbal ‘alamin.

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Bulan Ramadlan, Hikmah, Ibadah, Iedul Fitri, Renungan | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Islam Bukan Agama Pencaci-maki

Posted by gunawank pada Mei 26, 2017

Setelah kemenangan perang Hunain, yang dipimpin Khalid bin Walid, atas titah bagin da Rasulullah SAW. Pasukan kafir akhirnya kocar kocir. Banyak diantara mereka tertangkap dan di bawa ke Basecamp Muslim.

Pada saat itu ada salah satu  Muslim yang ikut berperang meneriakkan yel yel kebencian sewaktu tawanan mereka akan dibawa menghadap baginda Rasulullah SAW.

“Sungguh mulia ummat islam..sungguh merugi ummat Nasoro. Sungguh hina ummat penyembah selain Allah”.

Mendengar teriakan tersebut. Rasulullah langsung keluar dengan wajah yang sangat marah. Beliau menatap kerumunan orang orang yang berjumlah sangat banyak lalu masuk kembali. Melihat Rasulullah SAW tidak seperti biasanya. Abu Bakar r.a. dan Umar r.a, saling pandang dan berseru dengan ucapan sangat keras!

“Diamlah kalian! Rasulullah akan berkata kepada kita semua!”

Lalu sorak sorai kemenangan bagi kaum Muslim, mendadak sunyi. Semua orang menatap ke arah pintu perkemahan yang didalamnya terdapat baginda Rasulullah. Keluarlah sosok sempurna dengan mata berkaca kaca menahan amarah.

“Ketahuilah wahai sahabat-sahabatku. Islam agama paling mulia. Islam agama paling diridloi. Islam agama kebaikan bagi seluruh alam. Namun Islam bukan agama pencaci maki apalagi sampai menyakiti ummat lainnya. Ingat hatiku terasa panas sewaktu kalian berani mencaci maki agama orang lain. Aku takut azab Allah. Aku takut nikmat Islamku tercabut. Aku takut kalian tidak bersamaku kelak. Aku takut hanya karena ulah kalian ummatku menjadi pembakaran api neraka. Dan yang aku takutkan atas ucapan kalian, mereka jadi berani menghina Allah dan Rasul-Nya. Mereka jadi berani menghina Islam dan agama kita semua. Bila mereka sudah seperti itu, maka kalianlah yang menjadi pertanggung jawabannya di akherat kelak dan bukan golonganku.”

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Idola, Islam, Muslim, Renungan, Sejarah, Teladan, Uswatun Hasanah | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Sebutir Kurma Penghalang Do’a

Posted by gunawank pada April 2, 2017

Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram.

Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa.

Empat bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan di bawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali.

Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

“Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,” kata malaikat yang satu.

“Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi.

Ibrahim bin Adham terkejut sekali, ia terhenyak. Jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT, gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.

“Astaghfirullahal adzhim” Ibrahim beristighfar. Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.

Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu, melainkan seorang anak muda.

“4 bulan yang lalu saya membeli kurma di sini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang?” tanya ibrahim.

“Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma,” jawab anak muda itu.

“Innalillahi wa inna’ilaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan?”

Kemudian Ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya. Anak muda itu mendengarkan penuh minat.

“Nah, begitulah,” kata Ibrahim setelah bercerita.

“Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur kumakan tanpa izinnya?”

“Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatasnamakan mereka, karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.”

“Dimana alamat saudara-saudaramu? Biar saya temui mereka satu persatu,” lanjut Ibrahim.

Setelah menerima alamat, Ibrahim bin Adham pergi hendak menemui mereka.

Meskipun rumahnya berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh Ibrahim.

Empat bulan kemudian, Ibrahim bin Adham sudah berada di bawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap-cakap.

“Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara-gara makan sebutir kurma milik orang lain.”

“O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi,” kata malaikat satunya.
“Ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.”

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Do'a, Hikmah, KisahSufi, Renungan, Tasawuf, Teladan, Tobat, Uswatun Hasanah | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Pilkada Serentak 2015; Menang atau Terpilih ?

Posted by gunawank pada Desember 10, 2015

Pilkada serentak baru saja dilaksanakan, tepatnya pada hari Rabu, 9 Desember 2015 dalam situasi yang cukup kondusif, meski ada sedikit masalah di beberapa daerah.

Untuk yang pertama kalinya dalam sejarah demokrasi di Indonesia, sejumlah 204 pemilihan kepala daerah yang terdiri dari 170 kabupaten, 26 kota dan 8 provinsi dilaksanakan secara serentak di seluruh nusantara.

Sejak digulirkannya sistem pemilihan langsung baik untuk memilih presiden, gubernur, bupati/wali kota maupun anggota legislatif dengan cara memilih langsung nama-nama calon, hampir selalu muncul kisah-kisah tragis dan peristiwa yang tidak elok dari para calon yang gagal maupun pendukungnya, seperti stres, bunuh diri, mengambil kembali bantuan yang diberikan sampai aksi demontrasi atau pengerahan massa yang destruktif untuk menuntuk pembatalan putusan maupun pemilihan ulang, sesuatu yang tidak pernah terjadi pada sistem pemilihan perwakilan di zaman orde baru.

Setelah dicermati, secara langsung bukan sistem yang salah karena tentunya harus melalui kajian yang dalam dan komprehensif untuk menilainya. Namun secara tidak langsung sistem ini menuntut para calon secara pribadi, masing-masing untuk mensosialisasikan dirinya kepada pemilih yang jumlahnya jauh lebih banyak atau dengan kata yang lebih tegas, harus mampu mengajak orang sebanyak-banyaknya untuk memilih dirinya.

Oleh karena itulah, muncul istilah tim sukses, tim pemenangan dan sejenisnya. Kalau dahulu hanya dikenal team kampanye. Apa bedanya?

Secara substansi fungsi dan tugasnya sama, yakni meraih suara sebanyak-banyaknya. Tetapi dari sisi apa yang dilakukan ternyata ada perbedaan.

Tim kampanye bekerja untuk mengkampanyekan atau mempromosikan atau menyebar luaskan informasi dan meyakinkan tentang visi-missi, keunggulan, kemampuan calon dan sebagainya kepada sebanyak-banyaknya calon pemilih. Targetnya, calon yang diusungnya TERPILIH atau TUDAK TERPILIH sesuai dengan jumlah suara yang memilihnya.

Sementara, tim pemenangan melakukan pekerjaan yang lebih dari itu. Selain berusaha mengkampanyekan calon yang diusungnya sebagaimana yang dilakukan tim kampanye, juga berusaha agar setiap orang yang telah mendapatkan informasi itu harus dipastikan memilih calon yang diusungnya.

Oleh karena itu, tim pemenangan lalu melakukan berbagai usaha untuk meraihnya dan tidak jarang dari mereka melakukan usaha-usaha yang tidak dibenarkan baik menurut peraturan perundang-undangan negara, aturan agama maupun norma-norma tradisi dan budaya masyarakat, seperti politik uang, politik hitam, saling fitnah, saling tuduh, saling buka kejelekan, kesalahan masa lalu bahkan sampai kekurangan keluarga dan leluhurnya. Targetnya bukan lagi menggunakan kata TERPILIH atau TIDAK TERPILIH tetapi kata MENANG atau KALAH.

Islam dalam hal ini Rasulullah saw menganjurkan agar umatnya senantiasa berada dalam jamaah, dalam komunitas, dalam kebersamaan. Beliau juga menganjurkan agar setiap jamaah memilih salah seorang diantaranya untuk dijadikan pemimpin. Artinya, perintahnya adalah jamaahlah yang harus memilih pemimpinya bukan seseorang yang ingin menjadi pemimpin memaksa jamaah untuk memilihnya. Sehingga kalimat yang muncul adalah “Alhamdulillah saya TERPILIH” atau “Terima kasih kalian telah MEMILIH saya” bukannya “Alhamdulillah saya MENANG” atau “Sialan saya KALAH“.

Posted in Akhlak, Kompetisi, Opini, Opinion, Pemilu, Pemimpin, Renungan, Serba serbi | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Hari Guru Dan Semangat Nasionalisme

Posted by gunawank pada November 25, 2015

Hari guru3Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 Nopember bersamaan dengan peringatan hari lahir PGRI yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 merupakan bentuk penghargaan dan tanda penghormatan pemerintah Republik Indonesia kepada guru.

Penghargaan ini sangat layak didapatkan oleh guru, bukan saja karena jasanya sebagai pendidik dan agen dalam mencerdaskan anak bangsa yang bekerja tanpa pamrih sehingga mendapat julukan ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa‘, juga karena kiprahnya dalam mengobarkan semangat nasionalisme dan memperjuangkan kemerdekaan.

Berawal dari semangat guru-guru pribumi pada zaman kolonial Belanda dalam memperjuangkan nasib para anggotanya yang memiliki pangkat, status sosial dan latar belakang pendidikan yang berbeda, pada tahun 1912 berdirilah organisasi guru dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang beranggotakan para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan penilik sekolah yang umumnya bertugas di sekolah desa dan sekolah rakyat angka dua.

Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi yang tergabung dalam organisasi PGHB terus berjuang menuntut persamaan hak dan posisi terhadap pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah kepala HIS yang selama itu selalu dijabat oleh orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang-orang pribumi.

Semangat perjuangan ini semakin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kemerdekaan. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional untuk meraih kemerdekaan.

Pergeseran semangat juang para guru dari memperjuangkan persamaan hak menjadi semangat nasionalisme merebut kemerdekaan terlihat jelas dengan dirubahnya  nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) pada tahun 1932. Perubahan nama ini  yang mengganti kata “Hindia Belanda” menjadi “Indonesia” tak ayal sangat mengejutkan pemerintah Belanda. Penggantian kata yang mencerminkan semangat kebangsaan ini tentu saja sangat tidak disenangi oleh Belanda.

Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas.

Puncak semangat nasionalisme para guru adalah diselenggarakannya  Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24-25 November 1945 di Surakarta. Dengan dijiwai semangat proklamasi 17 Agustus 1945 kongres memutuskan segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama dan suku, sepakat dihapuskan.

Sebagai gantinya, kongres menetapkan berdirinya organisasi guru dengan nama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada tanggal 25 November 1945, tepat seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan guru yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk, semuanya bergabung dalam satu wadah “PGRI” untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

***(Dari berbagai sumber)

Posted in Akhlak, Guru, Opini, Opinion, Organisasi, Pahlawan, Pendidik, Renungan, Sejarah, Serba serbi, Teladan | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

KH. Zezen Bazul Asyhab; Da’i Kharismatik Dari Sukabumi

Posted by gunawank pada November 20, 2015

KH. M. Zein Zaenal Abidin Bazul Asyhab yang sering dipanggil dengan sapaan akrabnya, ajengan Zezen ini lahir di Sukabumi 60 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 17 Februari 1955.

Beliau adalah sosok seorang da’i yang tidak pernah kenal lelah dan letih dalam mengamalkan ilmunya serta mengembangkan dakwahnya pada masyarakat, khususnya di Pondok Pesantren Az–Zainiyyah Sukabumi yang dipimpinnya.

Beliau juga dikenal sebagai seorang guru yang sangat disegani oleh semua muridnya, imam yang sangat dicintai di tengah masyarakat, seorang ayah yang sangat sayang terhadap keluarganya, dan seorang imam yang pemikirannya di terima oleh semua kalangan, semua kelompok, dan semua tingkatan masyarakat. Oleh karena itulah murid-murid beliau memanggilnya dengan sebutan ‘Uwa Imam’.

Sebagai sosok kiayi yang tidak pernah surut dari semangat jihad dalam menegakan agama Allah. Beliau paling tidak suka mendengar orang meremehkan agama, mendengar Islam di lecehkan, Islam berada dalam tekanan, dan melihat pengamalan ajaran Islam yang tidak sepenuh daya.

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Biografi, In memoriam, Mubaligh, MUI, Muslim, Nahdlatul Ulama, NU, Renungan, Tasawuf, Teladan, Tokoh, Tokoh kharismatik, Tokoh NU, Tokoh Sunda, Ulama, Uswatun Hasanah | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Sakinah, Mawaddah dan Rahmah

Posted by gunawank pada November 17, 2015

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ketiga kata tersebut sering kita dengar pada acara-acara pernikahan atau kita baca pada ucapan selamat kepada pasangan pengantin baru:

“Selamat menempuh hidup baru. Semoga menjadi keluarga yang “sakinah”, “mawaddah” wa Rahmah”.

Lalu, apa makna sesungguhnya dari ketiga kata itu, dan mengapa selalu terangkai dalam ucapan pernikahan?

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Ibadah, Islam, Muslim, Renungan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Shalat Istisqa’; Istighfar & Do’a Minta Hujan

Posted by gunawank pada November 9, 2015

Kemarau panjang yang ditandai ketiadaan turun hujan sejak Agustus 2015 ini menyebabkan kekeringan yang cukup parah di beberapa daerah di Nusantara.

Dampak lain dari musim kemarau yang panjang ini selain kesulitan mendapatkan air adalah terjadinya kebakaran hutan di semua daerah yang memiliki wilayah hutan. Kabut asap yang ditimbulkannya telah mengakibatkan bencana sampingan gangguan pernafasan, bahkan di beberapa daerah menyebabkan kematian.

Tak ayal lagi, sesuai tuntunan ajaran Islam marak dilaksanakan shalat istisqa hampir di seluruh pelosok negeri. Namun hujan tak kunjung datang, sehingga di beberapa tempat ada yang menyelenggarakannya berulang-ulang.

Rasulullah saw melakukan shalat istisqa ketika memohon diturunkannya hujan, sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah Radhiallahu’anha:

شكا الناس إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم قحوط المطر فأمر بمنبر فوضع له في المصلى ووعد الناس يوما يخرجون فيه قالت عائشة فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم حين بدا حاجب الشمس فقعد على المنبر فكبر صلى الله عليه وسلم وحمد الله عز وجل ثم قال إنكم شكوتم جدب دياركم واستئخار المطر عن إبان زمانه عنكم وقد أمركم الله عز وجل أن تدعوه ووعدكم أن يستجيب لكم ثم قال ( الحمد لله رب العالمين الرحمن الرحيم ملك يوم الدين) لا إله إلا الله يفعل ما يريد اللهم أنت الله لا إله إلا أنت الغني ونحن الفقراء أنزل علينا الغيث واجعل ما أنزلت لنا قوة وبلاغا إلى حين ثم رفع يديه فلم يزل في الرفع حتى بدا بياض إبطيه ثم حول إلى الناس ظهره وقلب أو حول رداءه وهو رافع يديه ثم أقبل على الناس ونزل فصلى ركعتين فأنشأ الله سحابة فرعدت وبرقت ثم أمطرت بإذن الله فلم يأت مسجده حتى سالت السيول فلما رأى سرعتهم إلى الكن ضحك صلى الله عليه وسلم حتى بدت نواجذه فقال أشهد أن الله على كل شيء قدير وأني عبد الله ورسوله

Orang-orang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang musim kemarau yang panjang. Lalu beliau memerintahkan untuk meletakkan mimbar di tempat tanah lapang, lalu beliau membuat kesepakatan dengan orang-orang untuk berkumpul pada suatu hari yang telah ditentukan”. Aisyah lalu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar ketika matahari mulai terlihat, lalu beliau duduk di mimbar. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir dan memuji Allah Azza wa Jalla, lalu bersabda, “Sesungguhnya kalian mengadu kepadaku tentang kegersangan negeri kalian dan hujan yang tidak kunjung turun, padahal Allah Azza Wa Jalla telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan Ia berjanji akan mengabulkan doa kalian” Kemudian beliau mengucapkan: “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Dia melakukan apa saja yang dikehendaki. Ya Allah, Engkau adalah Allah, tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha kaya sementara kami yang membutuhkan. Maka turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang telah Engkau turunkan sebagai kekuatan bagi kami dan sebagai bekal di hari yang di tetapkan).” Kemudian beliau terus mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putihnya ketiak beliau. Kemudian beliau membalikkan punggungnya, membelakangi orang-orang dan membalik posisi selendangnya, ketika itu beliau masih mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau menghadap ke orang-orang, lalu beliau turun dari mimbar dan shalat dua raka’at. Lalu Allah mendatangkan awan yang disertai guruh dan petir. Turunlah hujan dengan izin Allah. Beliau tidak kembali menuju masjid sampai air bah mengalir di sekitarnya. Ketika beliau melihat orang-orang berdesak-desakan mencari tempat berteduh, beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya, lalu bersabda: “Aku bersaksi bahwa Allah adalah Maha kuasa atas segala sesuatu dan aku adalah hamba dan Rasul-Nya” (HR. Abu Daud no.1173)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anahu:

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا يَسْتَسْقِي فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ بِلَا أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ ثُمَّ خَطَبَنَا وَدَعَا اللَّهَ وَحَوَّلَ وَجْهَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ رَافِعًا يَدَيْهِ ثُمَّ قَلَبَ رِدَاءَهُ فَجَعَلَ الْأَيْمَنَ عَلَى الْأَيْسَرِ وَالْأَيْسَرَ عَلَى الْأَيْمَنِ

Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam keluar untuk melakukan istisqa’. Beliau shalat 2 raka’at mengimami kami tanpa azan dan iqamah. Lalu beliau berkhutbah di hadapan kami dan berdoa kepada Allah. Beliau mengarahkan wajahnya ke arah kiblat seraya mengangkat kedua tangannya. Setelah itu beliau membalik selendangnya, menjadikan bagian kanan pada bagian kiri dan bagian kiri pada bagian kanan” (HR. Ahmad 16/142).

Dari kedua hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan shalat istisqa ada tiga amaliah, yaitu shalat sunnah dua rakaat, khutbah dan berdo’a memohon turun hujan.

Posted in Akhlak, Artikel Islam, bencana, Bencana Alam, Buah bibir, Fenomena, Fenomena alam, Hikmah, Ibadah, Iman, Islam, Renungan, Tobat | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

Taubat Tidak Harus Menunggu Berdosa

Posted by gunawank pada Oktober 25, 2015

“Dan (juga mereka adalah) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali Imran: 135).

TaubatMenurut bahasa, taubat artinya kembali. Sedangkan menurut istilah, taubat berarti kembali taat kepada Allah swt dengan meninggalkan dan menghindarkan diri dari perbuatan tercela menurut pandangan agama.

Oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari kata taubat selalu diidentikkan dengan para pembuat dosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang hidupnya selalu bergelimang dalam dunia ‘gelap’ yang penuh dengan kemaksiatan. Sehingga para pelaku dosa itu harus bertaubat yakni harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

Bagi mereka yang hidup dalam kemaksiatan maka taubatnya itu harus dilakukan untuk menghindarkan diri dari kemaksiatan tersebut. Bagi mereka yang kesehariannya selalu mengerjakan dosa-dosa kecil, maka taubatnya adalah menghindarkan diri dari memperbuat dosa-dosa kecil tersebut. Demikian juga bagi mereka yang hiruk-pikuknya dalam kubangan kemakruhan (perkara yang dibenci agama) maka pertaubatannya dilakukan dengan cara menghindar dari kemakruhan tersebut. Singkatnya, setiap pribadi harus selalu bertaubat menurut kapasitas masing-masing.

Imam Abdul Wahhab As-Sya’roni mengelompokkan taubat ke dalam tiga tingkatan. Taubat yang paling dasar adalah taubat yang harus dilakukan untuk kembali dari dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil, kemakruhan dan dari perkara yang tidak diutamakan.

Artinya memohon ampun kepada Allah dan kembali ke jalan yang benar dengan memperbanyak amal soleh serta menjauhkan diri dari sesuatu yang dapat menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa besar maupun kecil, meninggalkan pemakruhan dan perbuatan sia-sia.

Tingkatan kedua adalah bertaubat dari merasa diri sebagai orang baik, merasa dirinya telah dikasihi Allah dan merasa dirinya telah mampu bertaubat kepada Allah swt. Sesungguhnya berbagai macam perasaan ini adalah sebuah kesalahan yang lahir dari penyakit hati manusia yang sangat halus.

Perasaan diri sebagai orang baik akan membawa diri merasa aman dengan kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya, dan pada gilirannya akan menjadi pelaku dosa yang tidak merasa berdosa, melakukan berbagai kemaksiatan tanpa merasa berbuat maksiat.

Cara bertaubatnya adalah memohon ampun kepada Allah atas kesombongan dirinya yang merasa telah memiliki kemampuan-kemampuan tersebut dan menanamkan keyakinan bahwa kesemuanya itu hanyalah pemberian Allah SWT. Allah-lah yang telah menjadikannya orang baik. Allah pulalah yang telah memberinya kemampuan untuk berbuat baik maupun kemampuan untuk bertaubat. Yakinkan bahwa tanpa pertolongan Allah, dirinya tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Tingkatan ketiga atau puncaknya taubat adalah kembali mengingat Allah swt dari kelalaian mengingatnya walaupun sekejap saja. Karena melupakan-Nya adalah sebuah dosa. Bukankah Allah telah memerintahkan manusia untuk selalu ingat kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisa: 103)

Jika masih berada dalam tingkat dasar, hendaklah pertahankan taubat kita sambil berusaha belajar menginjak taubat tingkat kedua. Dan apabila telah berada di tingkat kedua, maka berhati-hatilah sesungguhnya syaitan selalu mengintai kelengahan agar kita kembali terjerembab dalam kubangan dosa. Firman Allah:

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112).

Kemudian berdasarkan tingkatan taubat yang ketiga seyogyanya untuk bertaubat tidaklah harus menunggu perbuatan dosa terlebih dahulu, karena pada dasarnya hidup manusia penuh kesalahan. Baik kesalahan dhahir yang kasat mata maupun kesalahan bathin yang dilakukan hati, seperti lupa hati dalam mengingat Allah dan jenis penyakit hati lainnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Barang siapa bertaubat tetapi tidak meninggalkan kesombongan dan kecongkakannya, berarti dia belum bertaubat”.

Mudah-mudahan kita diberi kemampuan dan kemauan untuk banyak bertaubat kepada Allah tanpa harus melihat apakah kita telah berbuat dosa atau tidak, karena ketika kita lupa bertaubat pada hakekatnya kitapun sudah berdosa. Semoga Allah menerima taubat kita. Amin ya Robbal alamin.

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Renungan, Tasawuf, Tobat | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Hikmah Perigatan Tahun Baru Hijriyah

Posted by gunawank pada Oktober 13, 2015

Tahun Baru 1437 HHari berganti hari, bulan berganti bulan dan pergantian tahun ke tahunpun terus kita lalui. Tanpa terasa, pada malam ini kita telah berada di awal tahun baru hijriyah, 1 Muharram 1437 H. Marilah kita memanjatkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah banyak memberikan nikmatnya kepada kita semua, antara lain ni’mat iman dan Islam, serta ni’mat sehat dan panjang umur sehingga kita masih diberi kesempatan hidup hingga saat ini. Yaitu dengan menggunakan nikmat tersebut ke jalan yang di ridloi-Nya. Karena jika kita bersyukur atas nikmat-Nya, maka Allah pun akan menambah nikmat itu. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Ibrahim ayat 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah), tatkala tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab–Ku sangat pedih.”

Bagi umat Islam, sebagai perwujudan rasa syukur dalam menyambut datangnya tahun baru ini bukan dengan cara berpesta pora, bersuka ria, hura-hura, meniup terompet sehingga memekakan telinga dan berpoya-poya, tetapi justru dijadikan ajang introspeksi diri, muhasabah dan membanyakkan istighfar, memohon ampunan dan keridlaan-Nya. Sebab umur yang panjang tidak menjamin kebaikan seseorang di hadapan Allah Swt. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw dalam haditsnya: Baca entri selengkapnya »

Posted in Artikel Islam, Hikmah, Islam, Renungan | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »