Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Archive for the ‘Sejarah’ Category

Islam Bukan Agama Pencaci-maki

Posted by gunawank pada Mei 26, 2017

Setelah kemenangan perang Hunain, yang dipimpin Khalid bin Walid, atas titah bagin da Rasulullah SAW. Pasukan kafir akhirnya kocar kocir. Banyak diantara mereka tertangkap dan di bawa ke Basecamp Muslim.

Pada saat itu ada salah satu  Muslim yang ikut berperang meneriakkan yel yel kebencian sewaktu tawanan mereka akan dibawa menghadap baginda Rasulullah SAW.

“Sungguh mulia ummat islam..sungguh merugi ummat Nasoro. Sungguh hina ummat penyembah selain Allah”.

Mendengar teriakan tersebut. Rasulullah langsung keluar dengan wajah yang sangat marah. Beliau menatap kerumunan orang orang yang berjumlah sangat banyak lalu masuk kembali. Melihat Rasulullah SAW tidak seperti biasanya. Abu Bakar r.a. dan Umar r.a, saling pandang dan berseru dengan ucapan sangat keras!

“Diamlah kalian! Rasulullah akan berkata kepada kita semua!”

Lalu sorak sorai kemenangan bagi kaum Muslim, mendadak sunyi. Semua orang menatap ke arah pintu perkemahan yang didalamnya terdapat baginda Rasulullah. Keluarlah sosok sempurna dengan mata berkaca kaca menahan amarah.

“Ketahuilah wahai sahabat-sahabatku. Islam agama paling mulia. Islam agama paling diridloi. Islam agama kebaikan bagi seluruh alam. Namun Islam bukan agama pencaci maki apalagi sampai menyakiti ummat lainnya. Ingat hatiku terasa panas sewaktu kalian berani mencaci maki agama orang lain. Aku takut azab Allah. Aku takut nikmat Islamku tercabut. Aku takut kalian tidak bersamaku kelak. Aku takut hanya karena ulah kalian ummatku menjadi pembakaran api neraka. Dan yang aku takutkan atas ucapan kalian, mereka jadi berani menghina Allah dan Rasul-Nya. Mereka jadi berani menghina Islam dan agama kita semua. Bila mereka sudah seperti itu, maka kalianlah yang menjadi pertanggung jawabannya di akherat kelak dan bukan golonganku.”

Iklan

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Idola, Islam, Muslim, Renungan, Sejarah, Teladan, Uswatun Hasanah | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Keunikan Jam’iyah NAHDLATUL ULAMA

Posted by gunawank pada November 8, 2016

NU itu organisasi paling aneh.

Ketika seorang peneliti dari australia menemukan data arsip tentang jangka waktu organisasi di AD ART pertama, dia menemukan tulisan bahwa organisasi ini (NU) didirikan pada tahun 1926 hingga 29 tahun berikutnya. Ini Aneh,Sebab umumnya tdk ada satu pun organisasi yg membatasi waktu, contoh : didirikan thn 1990 hingga waktu yg tak terbatas, kecuali hanya NU yg membatasi waktunya. Peneliti ini kemudian menanyakan pada Gus Dur, “ini apa maknanya ?”, Gus Dur pun kaget, dan menjawab “mana saya tahu maksudnya, yg merumuskan sudah wafat semua”.
Kemudian gus dur mengamati dari prespektif sejarah, tenyata setiap 29 tahun, NU mengalami perubahan.
1926 sbg organisasi sosial keagamaan,
29 thn berikutnya (1955) menjadi partai politik dan menjadi organisasi yg berafiliasi dg partai politik.
29 tahun berikutnya (1984) berubah lagi menjdi organisasi sosial keagamaan (Khittah 1926 ) konsentrasi dakwah dan pendidikan),
29 tahun berikutnya, 2013 NU menjadi gerakan sivil society.
Di kondisi ini gus dur slalu memerintahkan NU banyak membicarakan lokalitas. Dan hasilnya “Islam Nusantara sbg paradigmanya dlm membangun peradaban dunia”, ini perisapan Gus Dur mengahadapi perubahan 29 tahun berikutnya pada tahun 2042 sbg organiasasi penyangga perdamaian dunia.

Saya memetik dri peristiwa ini bahwa Para pendiri NU dan sekaligus pendiri bangsa dan negara ini bkn orng sembarangan, mereka adalah kyai2 ma’rifat billah. Mereka sdh tahu setiap 29 tahun mesti akan trjadi perubahan di NU.

Jadi, kaitannya dengan NKRI, Bhineka tunggal ika, UUD 45 dan pancasila sbg pilihan paling final, saya yakini benarnya. sbb diputuskan oleh para kyai2 yg ma’rifat.

~keramahan NU selalu dikedepankan sebagai bentuk sikap sebagaimana yang di maksud dengan ayat RAHMATAN LIL ALAMIN.

Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10206647219572662&id=1638052783

Posted in Aneh tapi nyata, Anugrah, Gus Dur, Jam'iyah, Nahdlatul Ulama, NU, Opini, Organisasi, Ormas Islam, Potret, Sejarah, Serba serbi, Ulama | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Hari Guru Dan Semangat Nasionalisme

Posted by gunawank pada November 25, 2015

Hari guru3Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 Nopember bersamaan dengan peringatan hari lahir PGRI yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 merupakan bentuk penghargaan dan tanda penghormatan pemerintah Republik Indonesia kepada guru.

Penghargaan ini sangat layak didapatkan oleh guru, bukan saja karena jasanya sebagai pendidik dan agen dalam mencerdaskan anak bangsa yang bekerja tanpa pamrih sehingga mendapat julukan ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa‘, juga karena kiprahnya dalam mengobarkan semangat nasionalisme dan memperjuangkan kemerdekaan.

Berawal dari semangat guru-guru pribumi pada zaman kolonial Belanda dalam memperjuangkan nasib para anggotanya yang memiliki pangkat, status sosial dan latar belakang pendidikan yang berbeda, pada tahun 1912 berdirilah organisasi guru dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang beranggotakan para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan penilik sekolah yang umumnya bertugas di sekolah desa dan sekolah rakyat angka dua.

Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi yang tergabung dalam organisasi PGHB terus berjuang menuntut persamaan hak dan posisi terhadap pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah kepala HIS yang selama itu selalu dijabat oleh orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang-orang pribumi.

Semangat perjuangan ini semakin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kemerdekaan. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional untuk meraih kemerdekaan.

Pergeseran semangat juang para guru dari memperjuangkan persamaan hak menjadi semangat nasionalisme merebut kemerdekaan terlihat jelas dengan dirubahnya  nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) pada tahun 1932. Perubahan nama ini  yang mengganti kata “Hindia Belanda” menjadi “Indonesia” tak ayal sangat mengejutkan pemerintah Belanda. Penggantian kata yang mencerminkan semangat kebangsaan ini tentu saja sangat tidak disenangi oleh Belanda.

Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas.

Puncak semangat nasionalisme para guru adalah diselenggarakannya  Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24-25 November 1945 di Surakarta. Dengan dijiwai semangat proklamasi 17 Agustus 1945 kongres memutuskan segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama dan suku, sepakat dihapuskan.

Sebagai gantinya, kongres menetapkan berdirinya organisasi guru dengan nama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada tanggal 25 November 1945, tepat seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan guru yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk, semuanya bergabung dalam satu wadah “PGRI” untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

***(Dari berbagai sumber)

Posted in Akhlak, Guru, Opini, Opinion, Organisasi, Pahlawan, Pendidik, Renungan, Sejarah, Serba serbi, Teladan | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Sumpah Pemuda; Kesadaran Pentingnya Persatuan

Posted by gunawank pada Oktober 28, 2015

Nusantara adalah negeri kepulauan yang serba kaya. Kaya budaya, kaya bahasa, kaya suku bangsa, plus kekayaan alam yang melimpah ruah, luas lautnya dengan berbagai macam ikan hidup di dalamnya, subur tanahnya serta berbagai barang tambang terkandung di dalamnya, luas hutannya dengan berbagai macam flora dan fauna, dan sebagainya, dan sebagainya.

Namun untaian mutiara khatulistiwa nan cantik jelita ini, saat itu sedang berada dalam genggaman sang angkara. Kaum penjajah dengan segala kekuatan dan keserakahannya membuat rakyatnya sengsara, penduduknya menderita.

Usaha-usaha perlawanan dan pemberontakan muncul di mana-mana, peperangan terjadi diberbagai daerah. Namun bukan membuat enyah bangsa penjajah, justeru semakin memperkuat dan memperluas wilayah penjajahan.

Semangat juang yang tinggi ternyata tidak cukup untuk mengusir penjajah, karena hanya dilakukan secara terpisah di masing-masing daerah.

Menyadari akan hal ini, Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) menggagas diadakannya Kongres Pemuda kedua yang berhasil dilaksanakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng).

Kongres ini diharapkan dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda, demikian dikatakan ketua PPPI, Sugondo Djojopuspito dalam sambutannya pada hari Sabtu, 27 Oktober 1928.

Hasil rumusan dari tiga kali rapat dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 sebagai sumpah setia yang berbunyi :

Kami poetera dan poeteri Indonesia,
mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kami poetera dan poeteri Indonesia,
mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Kami poetera dan poeteri Indonesia,
mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Ikrar para pemuda dari berbagai daerah ini dikenal sebagai SUMPAH PEMUDA.

Dari apa yang dirumuskan, dibahas dan diikrarkan pada Kongres Pemuda Kedua ini tercermin semangat nasionalisme dan kebangsaan yang teramat sangat tinggi meski mereka berangkat dari organisasi-organisasi kepemudaan dari suku yang berbeda-beda tetapi mampu mempersatukan diri dalam satu wadah besar bernama INDONESIA.

Posted in Akhlak, Hikmah, Ibu Pertiwi, Idola, In memoriam, Indonesia, Opini, Opinion, Organisasi, Pahlawan, Sejarah | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Hari Santri Nasional; Antara Pro dan Kontra

Posted by gunawank pada Oktober 22, 2015

Memenuhi salah satu janji kampanyenya, pada hari Kamis (15/10/2015) Presiden Joko Widodo telah menandatangani Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Sebagaimana telah diketahui bersama. saat kampanye Pemilu Presiden 2014, Jokowi menyampaikan janjinya untuk menetapkan satu hari sebagai Hari Santri Nasional. Walaupun ketika itu, Jokowi mengusulkan tanggal 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional.

Menurut Sekretaris Kabinet, Pramono Anung, ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri merupakan usulan dari internal kabinet dan pihak eksternal yang terkait.

Pramono menegaskan, meski tanggal 22 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional, namun pada tanggal tersebut tidak menjadi hari libur . “Dengan keputusan ini, 22 Oktober menjadi Hari Santri dan bukan hari libur nasional,” ucapnya.

Keputusan Presiden Jokowi ini tak ayal menuai pro dan kontra. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyatakan Muhammadiyah keberatan dengan penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Muhammadiyah menilai penetapan Hari Santri Nasional dapat mengganggu ukhuwah umat Islam lewat polarisasi santri-nonsantri yang selama ini mulai mencair.

“Muhammadiyah secara resmi berkeberatan dengan Hari Santri,” kata Haedar Nashir kepada Republika, Sabtu (17/10).

Menurut Haedar, Muhammadiyah tidak ingin umat Islam makin terpolarisasi dalam kategorisasi santri dan nonsantri. Hari Santri akan menguatkan kesan eksklusif di tubuh umat dan bangsa. Padahal, selama ini santri-nonsantri makin mencair dan mengarah konvergensi. “Untuk apa membuat seremonial umat yang justru membuat kita terbelah,” ujarnya, sebagaimana diberitakan harian Republika, Sabtu (17/10).

Lain Muhammadiyah lain pula Nahdlatul Ulama. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siradj bahkan menegaskan bahwa dengan atau tanpa persetujuan pemerintah, PBNU akan tetap merayakan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. PBNU telah merencanakan sejumlah acara dalam rangka perayaan Hari Santri tersebut(Kompas com, Kamis, 15/10/2015).

Menurutnya, tanggal 22 Oktober 1945 merupakan tanggal ketika Kiai Hasyim Asy’ari mengumumkan fatwanya yang disebut sebagai Resolusi Jihad.

Resolusi Jihad yang lahir melalui musyawarah ratusan kiai dari berbagai daerah tersebut merespons pendaratan armada pasukan Inggris yang ‘diboncengi’ pasukan Belanda (NICA) di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Resolusi itu memuat seruan bahwa setiap Muslim wajib memerangi penjajah. Para pejuang yang gugur dalam peperangan melawan penjajah pun dianggap mati syahid. Sementara itu, mereka yang membela penjajah dianggap patut dihukum mati. (Baca tulisan: “Hari Pahlawan; Resolusi Jihad NU Menginspirasi Terjadinya Perang 10 Nopember 1945”).

Posted in Berita, Fatwa, Hot Topic, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, NU, Pahlawan, Presiden, Sejarah, Topic Hot, Ulama | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Asal Mula Penetapan Tahun Hijriyah

Posted by gunawank pada Oktober 17, 2015

Adalah shahabat Abu Musa Al-Asy-‘Ari r.a. yang menjabat sebagai gubernur Basrah kala itu, mengeluh karena sering mendapat surat yang tidak bertanggal dari Khalifah Umar bin Khatab r.a. Keluhan tersebut beliau sampaikan kepada khalifah melalui sepucuk surat yang bertutur:

إنه يأتينا منك كتب ليس لها تاريخ

“Telah sampai kepada kami surat-surat dari Anda, tanpa tanggal.”

Riwayat lain menyebutkan isi surat beliau:

إنَّه يأتينا مِن أمير المؤمنين كُتبٌ، فلا نَدري على أيٍّ نعمَل، وقد قرأْنا كتابًا محلُّه شعبان، فلا ندري أهو الذي نحن فيه أم الماضي

“Telah sampai kepada kami surat-surat dari Amirul Mukminin, namun kami tidak tau apa yang harus kami perbuat terhadap surat-surat itu. Kami telah membaca salah satu surat yang dikirim di bulan Sya’ban. Kami tidak tahu apakah Sya’ban tahun ini ataukah tahun kemarin.”

Atas kejadian ini kemudian Khalifah Umar bin Khatab mengajak para shahabat untuk bermusyawarah; menentukan kalender yang nantinya menjadi acuan penanggalan bagi kaum muslimin.

Sebagaimana diketahui bahwa pada zaman dahulu masyarakat Arab menjadikan peristiwa-peristiwa besar sebagai acuan penamaan tahun. Ada “Tahun Renovasi Ka’bah” misalnya, karena pada tahun tersebut Ka’bah direnovasi ulang akibat banjir. “Tahun Fijar”, karena saat itu terjadi perang fijar. Tahun kelahiran Rasulullah Saw disebut “Tahun Fiil” (gajah), karena saat itu terjadi penyerbuan Ka’bah oleh pasukan bergajah. Terkadang mereka juga menggunakan tahun kematian seorang tokoh sebagai patokan, misal 7 tahun sepeninggal Ka’ab bin Luai.”

Sementara, untuk acuan bulan mereka menggunakan sistem bulan qomariyah (penetapan awal bulan berdasarkan fase-fase bulan). Sistem penanggalan seperti ini berlanjut sampai ke masa Rasulullah Saw dan khalifah Abu Bakar Ash-Sidiq r.a. Barulah di masa khalifah Umar bin Khatab r.a. diadakan musyawarah shahabat untuk menetapkan penamaan tahun bagi umat Islam.

Dalam musyawarah tersebut muncul beberapa usulan mengenai patokan awal tahun. Ada yang mengusulkan penanggalan dimulai dari tahun diutus Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Sebagian lagi mengusulkan agar penanggalan dibuat sesuai dengan kalender Romawi, yang mana mereka memulai hitungan penanggalan dari masa raja Iskandar (Alexander). Yang lain mengusulkan, dimulai dari tahun hijrahnya Nabi Saw ke kota Madinah. Usulan ini disampaikan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib r.a. Hati Umar bin Khatab r.a. ternyata condong kepada usulan ke dua ini.

الهجرة فرقت بين الحق والباطل فأرخوا بها

Peristiwa Hijrah menjadi pemisah antara yang benar dan yang batil. Jadikanlah ia sebagai patokan penanggalan.” Kata Umar bin Khatab r.a. mengutarakan alasan.

Akhirnya para sahabatpun sepakat untuk menjadikan peristiwa hijrah sebagai acuan tahun. Landasan mereka adalah firman Allah ta’ala,

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيه َ

Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. (QS. At-Taubah:108)

Para sahabat memahami makna “sejak hari pertama” dalam ayat, adalah hari pertama kedatangan hijrahnya Nabi. Sehingga moment tersebut pantas dijadikan acuan awal tahun kalender hijriyah.

Posted in Artikel Islam, Islam, Sejarah | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Hardiknas 2015; Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila

Posted by gunawank pada Mei 2, 2015

Hari ini, Sabtu (2/5/2015) segenap bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), sebagai media bagi dunia pendidikan Indonesia untuk melakukan refleksi diri sekaligus mengenang jasa bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara.

Sebagaimana dimaklumi, Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, Ki Hajar Dewantara dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959.

Dalam sambutan , Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Baswedan pada peringatan Hardiknas tahun 2015 dengan tema “Pendidikan dan Kebudayaan Sebagai Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila”, setidaknya ada enam poin yang perlu digaris bawahi.

Pertama, pendidikan telah membukakan mata dan kesadaran para penggagas  Republik tercinta ini untuk membangun sebuah negeri Bhineka yang modern.
“Pendidikan telah membukakan pintu wawasan, menyalakan cahaya pengetahuan, dan menguatkan pilar ketahanan moral. Persinggungan dengan pendidikanlah yang telah memungkinkan para perintis kemerdekaan untuk memiliki gagasan besar yang melampaui zamannya. Gagasan dan perjuangan yang membuat Indonesia dijadikan sebagai rujukan oleh bangsa-bangsa di Asia dan di Afrika”.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Berita, Guru bangsa, Idola, In memoriam, Indonesia, Kepres, Opini, Opinion, Pahlawan Nasional, Pejuang, Pendidikan, Sejarah, Tokoh Nasional, Tokoh Pendidikan | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Sejarah Pemilu Di Indonesia

Posted by gunawank pada April 22, 2014

Pemilihan Umum atau biasa disingkat Pemilu di Indonesia sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955 hingga sekarang tercatat sudah berlangsung 11 kali (termasuk Pemilu Legislatif yang dilaksanakan tanggal 9 April 2014 yang baru lalu). Berikut sejarah panjang pemilu ke pemilu tersebut:

Pemilu 1955.

Ini merupakan pemilu yang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia. Waktu itu Republik Indonesia berusia 10 tahun. Kalau dikatakan pemilu merupakan syarat minimal bagi adanya demokrasi, apakah berarti selama 10 tahun itu Indonesia benar-benar tidak demokratis? Tidak mudah juga menjawab pertanyaan tersebut. 

Yang jelas, sebetulnya sekitar tiga bulan setelah kemerdekaan dipro-klamasikan oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945, pemerin-tah waktu itu sudah menyatakan keinginannya untuk bisa menyele-nggarakan pemilu pada awal tahun 1946. Hal itu dicantumkan dalam Maklumat X, atau Maklumat Wakil Presiden Mohammad Hatta tanggal 3 Nopember 1945, yang berisi anjuran tentang pembentukan par-tai-partai politik. Maklumat tersebut  menyebutkan, pemilu untuk me-milih anggota DPR dan MPR akan diselenggarakan bulan Januari 1946. Kalau kemudian ternyata pemilu pertama tersebut baru terselenggara hampir sepuluh tahun setelah kemudian tentu bukan tanpa sebab. 

Tetapi, berbeda dengan tujuan yang dimaksudkan oleh Maklumat X, pemilu 1955 dilakukan dua kali. Yang pertama, pada 29 September 1955 untuk memlih anggota-anggota DPR. Yang kedua, 15 Desember 1955 untuk memilih anggota-anggota Dewan Konstituante. Dalam Maklumat X hanya disebutkan bahwa pemilu yang akan diadakan Januari 1946 adalah untuk memilih angota DPR dan MPR, tidak ada Konstituante. 

Keterlambatan dan “penyimpangan” tersebut bukan tanpa sebab pula. Ada kendala yang bersumber dari dalam negeri dan ada pula yang berasal dari faktor luar negeri. Sumber penyebab dari dalam antara lain ketidaksiapan pemerintah menyelenggarakan pemilu, baik karena belum tersedianya perangkat perundang-undangan untuk mengatur penyelenggaraan pemilu maupun akibat rendahnya stabilitas keamanan negara. Dan yang tidak kalah pentingnya, penyebab dari dalam itu adalah sikap pemerintah yang enggan menyelenggarakan perkisaran (sirkulasi) kekuasaan secara teratur dan kompetitif. Penyebab dari luar antara lain serbuan kekuatan asing yang mengharuskan negara ini terlibat peperangan. 

Namun, tidaklah berarti bahwa selama masa konsolidasi kekuatan bangsa dan perjuangan mengusir penjajah itu, pemerintah kemudian tidak berniat untuk menyelenggarakan pemilu. Ada indikasi kuat bahwa pemerintah punya keinginan politik untuk menyelenggarakan pemilu. Misalnya adalah dibentuknya UU No 27 tahun 1948 tentang Pemilu, yang kemudian diubah dengan UU No. 12 tahun 1949 tentang Pemilu. Di dalam UU No 12/1949 diamanatkan bahwa pemilihan umum yang akan dilakukan adalah bertingkat (tidak langsung). Sifat pemilihan tidak langsung ini didasarkan pada alasan bahwa mayoritas warganegara Indonesia pada waktu itu masih buta huruf, sehingga kalau pemilihannya langsung dikhawatirkan akan banyak terjadi distorsi.  Baca entri selengkapnya »

Posted in Berita, Indonesia, Info, Pemilu, Pengetahuan, Politik, Sejarah, Wakil rakyat | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 1 Comment »

Pemilu, Dulu Dan Sekarang … !

Posted by gunawank pada April 11, 2014

Pemilihan umum telah memanggil kita
S’luruh rakyat menyambut gembira
Hak demokrasi Pancasila
Hikmah Indonesia merdeka

Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya
Pengemban Ampera yang setia
Di bawah Undang-Undang Dasar 45
Kita menuju ke pemilihan umum

 

Dulu, bait lagu Mars Pemilu di atas senantiasa berkumandang di Radio Republik Indonesia (RRI) dan TVRI setiap menjelang pesta demokrasi 5 tahunan. Secara psikologis lirik lagu tersebut sangat mempengaruhi warga bangsa sehingga dengan sukarela, penuh kegembiraan dan semangat demokrasi merasa terpanggil serta menyambut gembira pesta demokrasi lima tahunan tersbut. Terbukti dengan angka partisipasi pemilih hampir selalu mencapai angka 100 persen.

Tapi kini, pemilu yang diselenggarakan sejak masa Reformasi memiliki tingkat partisipasi yang dari angka 100 persen, bahkan pada Pemilu Legislatif yang diselenggarakan pada tanggal 9 April 2014 yang baru lalu partisipasi pemilih kurang dari 70 persen. Salah satu penyebabnya antara lain karena Lagu Mars Pemilu di atas tidak pernah terdengar lagi, sehingga ajakan melalui lagu yang memotifasi kesadaran warga untuk datang ke TPS nyaris tidak ada.

Wallahu a’lam….

Artikel terkait:

Sejarah Pemilu Di Indonesia

Posted in Berita, Fenomena, Hot Topic, Ibu Pertiwi, Indonesia, Info, Opini, Opinion, Politik, Presiden, Renungan, Sejarah, Serba serbi, Topic Hot | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

11 Mei; Lahirnya Komponis Legendaris, ISMAIL MARZUKI

Posted by gunawank pada Mei 10, 2012

Foto: tokohindonesia.com

Foto: tokohindonesia.com

Ismail Marzuki lahir di Kwitang, Senen, Jakarta Pusat (Batavia) pada tanggal 11 Mei 1914  adalah salah seorang komponis besar Indonesia yang sangat produktif dan pandai melahirkan karya-karya yang mendapatkan apresiasi tinggi dari masyarakat. Lagu ciptaannya yang paling populer adalah Rayuan Pulau Kelapa yang digunakan sebagai lagu penutup akhir siaran oleh stasiun TVRI pada masa pemerintahan Orde Baru

Sejak tahun 1930-an hingga 1950-an, dia menciptakan sekitar 250 lagu dengan berbagai tema dan jenis aliran musik yang memesona. Hingga saat ini, lagu-lagu karyanya yang abadi masih dikenang dan terus berkumandang di masyarakat. Dalam dunia seni musik Indonesia, kehadiran putra Betawi ini mewarnai sejarah dan dinamika pasang surutnya musik Indonesia.

Dalam bermusik, dia mempunyai kebebasan berekspresi, leluasa bergerak dari satu jenis aliran musik ke jenis aliran musik yang lain. Ia juga punya kemampuan menangkap inspirasi lagunya dengan beragam tema. Karya-karyanya sangat kaya, baik soal melodi maupun liriknya. Ia pun mencipta lagu dengan bermacam warna, salah satunya keroncong, di antaranya Bandung Selatan di Waktu Malam dan Selamat Datang Pahlawan Muda.

Keterpesonaan Ismail Marzuki pada sisi-sisi romantisme masa perjuangan melahirkan lagu-lagu bertema cinta dan perjuangan. Meski lagu-lagu karyanya tampak sederhana, syairnya sangat kuat, melodius, dan punya nilai keabadian.

Pada tahun 1931, Ismail Marzuki yang akrab dipanggil Maing, mulai menciptakan lagu berjudul “O Sarinah” yang menggambarkan suatu kondisi kehidupan bangsa yang tertindas. Lagu-lagu ciptaannya antara lain Rayuan Pulau Kelapa yang dicipta tahun 1944, Gugur Bunga (1945), Halo-Halo Bandung (1946), Selendang Sutera (1946), Sepasang Mata Bola (1946), Melati di Tapal Batas (1947), Bandung Selatan di Waktu Malam (1948) dan Selamat Datang Pahlawan Muda (1949).

Pada tahun 1968 Ismail Marzuki mendapat anugerah penghormatan dengan dibukanya Taman Ismail Marzuki, sebuah taman dan pusat kebudayaan di Salemba, Jakarta Pusat.

Komponis pejuang dan maestro musik legendaris ini dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dalam rangkaian Hari Pahlawan 10 November 2004 di Istana Negara. Dia dikenal sebagai pejuang dan tokoh seniman pencipta lagu bernuansa perjuangan yang dapat mendorong semangat membela kemerdekaan.

Lagu-lagunya hingga sekarang masih tetap hidup dan disukai tua dan muda seperti Indonesia Pusaka, Sepasang Mata Bola, Selendang Sutra, Melati di Tapal Batas, Aryati, Jangan Ditanya ke Mana Aku Pergi, Payung Fantasi, Sabda Alam, Juwita Malam, Kopral Jono, dan Sersan Mayorku.

Ismail Marzuki memang telah meninggal di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta, pada tanggal 25 Mei 1958 dalam usia 44 tahun, namun namanya tetap hidup dan karya-karyanya terus melekat di hati masyarakat hingga kini dan masa yang akan datang.

Karya Lagu lainnya :
•    Aryati
•    Gugur Bunga
•    Melati di Tapal Batas (1947)
•    Wanita
•    Rayuan Pulau Kelapa
•    Sepasang Mata Bola (1946)
•    Bandung Selatan di Waktu Malam (1948)
•    O Sarinah (1931)
•    Keroncong Serenata
•    Kasim Baba
•    Bandaneira
•    Lenggang Bandung
•    Sampul Surat
•    Karangan Bunga dari Selatan
•    Selamat Datang Pahlawan Muda (1949)
•    Juwita Malam
•    Sabda Alam
•    Roselani
•    Rindu Lukisan
•    Indonesia Pusaka

*** Dari berbagai sumber

Posted in Biografi, In memoriam, Pahlawan, Pahlawan Nasional, Sejarah, Seniman, Tokoh, Tokoh Nasional | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »