Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Archive for the ‘Tasawuf’ Category

Sebutir Kurma Penghalang Do’a

Posted by gunawank pada April 2, 2017

Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram.

Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa.

Empat bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan di bawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali.

Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

“Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,” kata malaikat yang satu.

“Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi.

Ibrahim bin Adham terkejut sekali, ia terhenyak. Jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT, gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.

“Astaghfirullahal adzhim” Ibrahim beristighfar. Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.

Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu, melainkan seorang anak muda.

“4 bulan yang lalu saya membeli kurma di sini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang?” tanya ibrahim.

“Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma,” jawab anak muda itu.

“Innalillahi wa inna’ilaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan?”

Kemudian Ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya. Anak muda itu mendengarkan penuh minat.

“Nah, begitulah,” kata Ibrahim setelah bercerita.

“Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur kumakan tanpa izinnya?”

“Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatasnamakan mereka, karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.”

“Dimana alamat saudara-saudaramu? Biar saya temui mereka satu persatu,” lanjut Ibrahim.

Setelah menerima alamat, Ibrahim bin Adham pergi hendak menemui mereka.

Meskipun rumahnya berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh Ibrahim.

Empat bulan kemudian, Ibrahim bin Adham sudah berada di bawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap-cakap.

“Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara-gara makan sebutir kurma milik orang lain.”

“O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi,” kata malaikat satunya.
“Ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.”

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Do'a, Hikmah, KisahSufi, Renungan, Tasawuf, Teladan, Tobat, Uswatun Hasanah | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

KH. Zezen Bazul Asyhab; Da’i Kharismatik Dari Sukabumi

Posted by gunawank pada November 20, 2015

KH. M. Zein Zaenal Abidin Bazul Asyhab yang sering dipanggil dengan sapaan akrabnya, ajengan Zezen ini lahir di Sukabumi 60 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 17 Februari 1955.

Beliau adalah sosok seorang da’i yang tidak pernah kenal lelah dan letih dalam mengamalkan ilmunya serta mengembangkan dakwahnya pada masyarakat, khususnya di Pondok Pesantren Az–Zainiyyah Sukabumi yang dipimpinnya.

Beliau juga dikenal sebagai seorang guru yang sangat disegani oleh semua muridnya, imam yang sangat dicintai di tengah masyarakat, seorang ayah yang sangat sayang terhadap keluarganya, dan seorang imam yang pemikirannya di terima oleh semua kalangan, semua kelompok, dan semua tingkatan masyarakat. Oleh karena itulah murid-murid beliau memanggilnya dengan sebutan ‘Uwa Imam’.

Sebagai sosok kiayi yang tidak pernah surut dari semangat jihad dalam menegakan agama Allah. Beliau paling tidak suka mendengar orang meremehkan agama, mendengar Islam di lecehkan, Islam berada dalam tekanan, dan melihat pengamalan ajaran Islam yang tidak sepenuh daya.

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Biografi, In memoriam, Mubaligh, MUI, Muslim, Nahdlatul Ulama, NU, Renungan, Tasawuf, Teladan, Tokoh, Tokoh kharismatik, Tokoh NU, Tokoh Sunda, Ulama, Uswatun Hasanah | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Taubat Tidak Harus Menunggu Berdosa

Posted by gunawank pada Oktober 25, 2015

“Dan (juga mereka adalah) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali Imran: 135).

TaubatMenurut bahasa, taubat artinya kembali. Sedangkan menurut istilah, taubat berarti kembali taat kepada Allah swt dengan meninggalkan dan menghindarkan diri dari perbuatan tercela menurut pandangan agama.

Oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari kata taubat selalu diidentikkan dengan para pembuat dosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang hidupnya selalu bergelimang dalam dunia ‘gelap’ yang penuh dengan kemaksiatan. Sehingga para pelaku dosa itu harus bertaubat yakni harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

Bagi mereka yang hidup dalam kemaksiatan maka taubatnya itu harus dilakukan untuk menghindarkan diri dari kemaksiatan tersebut. Bagi mereka yang kesehariannya selalu mengerjakan dosa-dosa kecil, maka taubatnya adalah menghindarkan diri dari memperbuat dosa-dosa kecil tersebut. Demikian juga bagi mereka yang hiruk-pikuknya dalam kubangan kemakruhan (perkara yang dibenci agama) maka pertaubatannya dilakukan dengan cara menghindar dari kemakruhan tersebut. Singkatnya, setiap pribadi harus selalu bertaubat menurut kapasitas masing-masing.

Imam Abdul Wahhab As-Sya’roni mengelompokkan taubat ke dalam tiga tingkatan. Taubat yang paling dasar adalah taubat yang harus dilakukan untuk kembali dari dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil, kemakruhan dan dari perkara yang tidak diutamakan.

Artinya memohon ampun kepada Allah dan kembali ke jalan yang benar dengan memperbanyak amal soleh serta menjauhkan diri dari sesuatu yang dapat menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa besar maupun kecil, meninggalkan pemakruhan dan perbuatan sia-sia.

Tingkatan kedua adalah bertaubat dari merasa diri sebagai orang baik, merasa dirinya telah dikasihi Allah dan merasa dirinya telah mampu bertaubat kepada Allah swt. Sesungguhnya berbagai macam perasaan ini adalah sebuah kesalahan yang lahir dari penyakit hati manusia yang sangat halus.

Perasaan diri sebagai orang baik akan membawa diri merasa aman dengan kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya, dan pada gilirannya akan menjadi pelaku dosa yang tidak merasa berdosa, melakukan berbagai kemaksiatan tanpa merasa berbuat maksiat.

Cara bertaubatnya adalah memohon ampun kepada Allah atas kesombongan dirinya yang merasa telah memiliki kemampuan-kemampuan tersebut dan menanamkan keyakinan bahwa kesemuanya itu hanyalah pemberian Allah SWT. Allah-lah yang telah menjadikannya orang baik. Allah pulalah yang telah memberinya kemampuan untuk berbuat baik maupun kemampuan untuk bertaubat. Yakinkan bahwa tanpa pertolongan Allah, dirinya tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Tingkatan ketiga atau puncaknya taubat adalah kembali mengingat Allah swt dari kelalaian mengingatnya walaupun sekejap saja. Karena melupakan-Nya adalah sebuah dosa. Bukankah Allah telah memerintahkan manusia untuk selalu ingat kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisa: 103)

Jika masih berada dalam tingkat dasar, hendaklah pertahankan taubat kita sambil berusaha belajar menginjak taubat tingkat kedua. Dan apabila telah berada di tingkat kedua, maka berhati-hatilah sesungguhnya syaitan selalu mengintai kelengahan agar kita kembali terjerembab dalam kubangan dosa. Firman Allah:

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112).

Kemudian berdasarkan tingkatan taubat yang ketiga seyogyanya untuk bertaubat tidaklah harus menunggu perbuatan dosa terlebih dahulu, karena pada dasarnya hidup manusia penuh kesalahan. Baik kesalahan dhahir yang kasat mata maupun kesalahan bathin yang dilakukan hati, seperti lupa hati dalam mengingat Allah dan jenis penyakit hati lainnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Barang siapa bertaubat tetapi tidak meninggalkan kesombongan dan kecongkakannya, berarti dia belum bertaubat”.

Mudah-mudahan kita diberi kemampuan dan kemauan untuk banyak bertaubat kepada Allah tanpa harus melihat apakah kita telah berbuat dosa atau tidak, karena ketika kita lupa bertaubat pada hakekatnya kitapun sudah berdosa. Semoga Allah menerima taubat kita. Amin ya Robbal alamin.

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Renungan, Tasawuf, Tobat | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Tulul Amal: Suka Mengulur Waktu Untuk Beramal

Posted by gunawank pada Maret 28, 2012

Marilah dalam hidup ini – kita selalu berusaha – memelihara iman yang ada dalam dada kita. Memperkuat rasa taqwa kita kepada Allah SWT, – baik dalam keadaan lapang – maupun dalam kesempitan hidup, dengan cara meningkatkan taat kita kepada Allah Swt, serta memelihara amal kita dari amal-amal yang dapat merusak ketaatan kita kepada-Nya.

Salah satu sikap yang dapat mengakibatkan bermalas-malasan dalam melakukan taat kepada Allah Swt adalah tulul amal, yaitu suka menunda-nunda kebaikan, mengulur-ulur waktu untuk berbuat amal, terlalu banyak pertimbangan dalam beramal, dengan berbagai macam alasan: sibuk, belum sempat, masih muda, masih ini, masih itu dan lain sebagainya.

Seperti kata seseorang: Nanti kalau sudah dapat pekerjaan, saya akan banyak shadaqoh, rajin berjamaah, rajin menghadiri pengajian dan lain-lain. Tetapi setelah dapat pekerjaan….nanti kalau sudah menikah, setelah menikah …. nanti kalau punya anak, setelah punya anak …nanti kalau anak sudah besar, …nanti kalau sudah pensiun, nanti kalau sudah tua, dan seterusnya dan seterusnya. Baca entri selengkapnya »

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Islam, Renungan, Tasawuf | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Laknat Allah Bagi Pemberi dan Penerima Suap Serta Perantara Keduanya

Posted by gunawank pada Februari 12, 2012

لعن الله الراشي والمرتشي والرائش الذي يمشي بينهما

“Allah melaknat orang yang menyuap, orang yang menerima suap dan orang yang menjadi perantara keduanya” (HR. Al-Hakim)

Menyuap atau menyogok adalah pemberian apa saja (berupa uang atau yang lain) kepada penguasa, hakim atau pengurus suatu urusan agar memutuskan perkara atau menangguhkannya dengan cara yang bathil.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa para ulama telah mengatakan, ”Sesungguhnya pemberian hadiah kepada wali amri—orang yang diberikan tanggung jawab atas suatu urusan—untuk melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan, ini adalah haram, baik bagi yang memberikan maupun menerima hadiah itu, dan ini adalah suap yang dilarang Nabi saw.” [Majmu’ Fatawa juz XXXI hal 161]

Perbedaan antara suap dan hadiah sangatlah tipis. Berdasarkan definisi diatas, suap merupakan hadiah yang tercegah untuk diterima oleh pejabat yang berhak menghukumi sesuatu atau menguasai suatu urusan, karena akan menyebabkan timbulnya kasus penyelewengan kekuasaan.

Untuk lebih jelasnya bagaimana perbedaan antara hadiah dan suap, mari perhatiakan dua hadits berikut ini:

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW, beliau bersbda: “Saling memberi hadiahlah, maka kalian akan saling mencintai” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)

Dari Abu Humaid al-Sa’idi, seorang sahabat Nabi SAW menuturkan: “Rasulullah SAW menugaskan kepada seorang pria dari Bani Asad bernama Ibnu al-Luthbiyah (begitu pula diceriterakan oleh Amr dan Ibnu Abi Amr) untuk mengumpulkan harta zakat. Sepulangnya dari tugas ia menghadap baginda Nabi SAW dan berkata, “Harta yang ini adalah hadiah untukmu, sedangkan harta yang itu hadiah untukku.” Mendengar laporan tersebut Rasulullah SAW bangkit menuju mimbar. Setelah memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah, beliau bersabda: “Apa yang terjadi pada seorang petugas yang telah kutugaskan ini, dengan enaknya ia mengatakan bahwa harta ini adalah hadiah untukmu dan harta yang lainnya adalah hadiah untukku. Tidakkah jika ia duduk santai di rumah ayahnya atau rumah ibunya, apakah hadiah itu akan tetap datang kepadanya atau tidak ? Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, salah seorang dari kalian tidak memperoleh sedikitpun dari hadiah (ketika menjadi pejabat), kecuali di hari kiamat nanti ia akan datang dengan memikulnya, di pundaknya terdapat unta atau sapi betina atau kambing yang mengeluarkan suara khasnya masing-masing.” Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya hingga putih ketiaknya terlihat oleh kami, seraya bersabda, “Ya Allah, aku telah menyampaikannya,. Ya Allah, aku telah menyampaikannya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad dan ad-Darimi. Teks riwayat Muslim).

Berdasarkan hadits pertama, memberi hadiah merupakan amal yang dianjurkan dalam Islam. Namun demikian, para ulama sepakat bahwa perintah tersebut tidak sampai pada hukum wajib, melainkan hanya sunnah saja. Hukum sunnah ini berlaku bagi kaum muslimin yang tidak memegang jabatan atau kekuasaan.

Sementara, bagi para pejabat seperti hakim, jaksa, polisi, pemimpin dalam segala tingkatan maupun pekerja yang ditugaskan mengurus suatu urusan  -sebagaimana hadits kedua di atas- bagi mereka tidak diperkenankan menerima hadiah, terlebih-lebih bagi mereka yang tidak pernah menerima hadiah sebelumnya.

Oleh karena itu, wahai saudaraku yang sedang memegang suatu jabatan, hindarilah untuk menerima pemberian dari masyarakat yang membutuhkan pelayananmu, apalagi memintanya.

Demikian pula bagi masyarakat yang membutuhkan tenaga dan jasa mereka jangan sekali-kali memberikan sesuatu kepada mereka, dengan alasan apapun, seperti agar prosesnya lebih cepat, agar mendapat prioritas dan sebagainya. Ingat, bahwa penerima maupun pemberi suap keduanya dilaknat oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Kedua-duanya adalah ahli neraka. Naudzu billahi min dzalik….!

 الراشى والمرتشى فى النار

“Pemberi dan penerima suap (keduanya) di dalam neraka.” (HR. Tabrani)

Wallahu A’lam….

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Pemimpin, Tasawuf | Dengan kaitkata: , , , | 4 Comments »

Bahaya Hubud Dunia; Terlalu Cinta Kepada Perkara Duniawi

Posted by gunawank pada Februari 10, 2012

Salah satu penyakit hati yang harus kita hindari dan buang jauh-jauh dari diri kita adalah  hubud dunya, cinta yang sangat terhadap urusan dunia, terlalu mengejar-ngejar perkara yang bersifat duniawi.

Dalam kehidupan sehari-hari, dalam dunia perdagangan misalnya, karena berharap mendapatkan keuntungan yang lebih besar sampai berani mengurangi timbangan, mengurangi takaran, berbohong tentang harga, jual beli barang illegal dan lain-lain, yang notabene termasuk perbuatan yang dilarang agama.

Demikian juga dalam bidang pekerjaan, demi meraih posisi, jabatan dan sejenisnya, tega memanipulasi laporan agar mendapat perhatian pimpinan, tega menfitnah atau mengorbankan rekan sejawat, sikut sana sikut sini, melalaikan ibadah, bahkan tidak jarang yang berani menjual keyakinan agamanya demi jabatan yang ingin diraihnya. Naudzubillah.

Dan banyak lagi contoh-contoh lain, yang hakekatnya hal itu dilakukan tiada lain semata-mata karena cintanya yang sangat kepada dunia, terlalu berlebihan mengejar urusan dunia. Baik dilakukan secara sadar atau kasat mata, maupun yang tidak disadari atau tidak kasat mata. Termasuk di dalamnya adalah apabila kita sedang shalat teringat kepada pekerjaan, ingat harta, keluarga atau apa saja di luar bacaan dan gerakan shalat, sudah termasuk hubbud dunia. Sabda Nabi SAW:

حُبِّبَ اِلىّ من دنياكم ثلاث الطيب والنساء وجُلِيت قُرَّ ةَُ عينى فى الصلوة

”Aku diberi rasa cinta kepada duniamu itu tiga perkara, yaitu senang kepada wangi-wangian, cinta kepada wanita dan ketika dijadikan padaku rasa sejuk mataku seolah-olah aku melihat Allah di dalam shalat”.

Sifat hubbud dunya tersebut sagat dicela oleh agama, karena merupakan pangkal dari segala sifat kejahatan yang mencelakakan bagi manusia. Firman Allah dalam Al-Qur’an:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

”Barang siapa menghendaki pahala akhirat niscaya Kami tambah pahala itu baginya, dan barang siapa menghendaki pahala dunya niscaya Kami beri pahala baginya, dan tidak ada bagian yang dia peroleh di akhirat”. (QS. Asy-Syura: 20)

Dan sabda Nabi SAW:

حب الدنيا رأسُ كلِ خَطِيئة

“Cinta kepada dunia merupakan pangkal dari segala kesalahan dan kejahatan”.

Dan sabdanya:

الدنيا سِجْنُ المؤمن وجنة الكافر

“Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir”.

Dan sabdanya :

مَن اَحب دنياه اَضَرَّ بآخرته ومن احب آخرتَه اضر بدنياه فأثِروا ما يَبْقَى على ما يفنى

“Barang siapa yang mencintai dunianya niscaya menjadi madlarat bagi akhiratnya, dan barang siapa mencintai akhiratnya niscaya menjadi madlarat bagi dunianya. Maka pilihlah oleh kamu sekalian akhirat yang kekal atas dunia yang fana”.

Bahkan para ulama ahli tashawuf mengatakan :

“Kebekuan iman timbul karena kerasnya hati
Kerasnya hati timbul karena kebekuan mata
Kebekuan mata timbul karena hubbud dunia”

Dengan kata lain akibat paling hebat dari hubbud dunia adalah matinya mata hati yang akan menimbulkan bekunya iman, sehingga akan sulit menerima kebenaran (haq). Naudzu billah tsuma naudzu billah.

Firma Allah dalam Al-Quran :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ * خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ *

”sesungguhnya orang-orang kafir, bagi mereka  sama saja kamu beri peringatan ataupun tidak kamu beri peringatan, tetap mereka tidak akan beriman. Allah telah menutup rapat hati, pendengaran dan pandangan mereka dengan suatu penutup. Bagi mereka itu adzab yang sangat besar” (QS. AlBaqarah : 6-7).

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Kepribadian, Renungan, Tasawuf | Dengan kaitkata: , , , , | 1 Comment »

Sejarah Munculnya Thoriqoh

Posted by gunawank pada Januari 19, 2012

Thoriqoh adalah salah satu amaliyah keagamaan dalam Islam yang sebenarnya sudah ada sejak jaman Nabi Muhammad SAW. Bahkan, perilaku kehidupan beliau sehari-hari adalah paktek kehidupan rohani yang dijadikan rujukan utama oleh para pengamal thoriqoh dari generasi ke generasi sampai kita sekarang.

Lihat saja, misalnya hadist yang meriwayatkan bahwa ketika Islam telah berkembang luas dan kaum Muslimin telah memperoleh kemakmuran, sahabat Umar bin Khatthab RA. berkunjung ke rumah Rosulullah SAW. Ketika dia telah masuk didalamnya, dia tertegun melihat isi rumah Beliau, yang ada hanyalah sebuah meja dan alasnya hanya sebuah jalinan daun kurma yang kasar, sementara yang tergantung di dinding hanyalah sebuah geriba (tempat air) yang biasa beliau gunakan untuk  berwudlu’. Keharuan muncul di hati Umar RA. yang kemudian tanpa disadari air matanya berlinang. Baca entri selengkapnya »

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Islam, Sejarah, Serba serbi, Tasawuf | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Oleh-oleh Dari Malang

Posted by gunawank pada Januari 18, 2012

Bukan Buah Apel dari Batu yang akan diceriterakan di sini. Bukan pula Keripik Apel, Keripik Nangka, Keripik Ketela maupun Sari buah Apel. Karena semuanya sudah maklum nama-nama jenis makanan tersebut merupakan oleh-oleh khas Kota Malang.

Sebagaimana rekan-rekan blogger ketahui bahwa selama lebih kurang sepuluh hari terakhir ini aku tidak posting tulisan baru, bahkan belasan komentar yang ada sampai saat ini belum sempat dibalas. Sejak Senin, 8 Januari 2012 sampai 15 Januari 2012 aku ikut mendampingi guru-guruku para Kiai  menghadiri Muktamar XI Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An Nahdliyah di Pondok Pesantren Al-Munawwiriyyah, Jl. Sudimoro No. 9 Bululawang Kabupaten Malang Jawa Timur yang berlangsung pada tanggal 10 – 14 Januari 2012.

Ada beberapa kesan menarik yang (menurutku) dapat aku jadikan oleh-oleh:

Pertama, di bawah naungan organisasi Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An Nahdliyah (selanjutnya disingkat Jatman) para penganut berbagai macam aliran Thariqah yang ada di Nusantara dapat bersatu padu mengembangkan dan memasyarakatkan pemahaman tentang thariqah, meski diantara mereka memeiliki perbedaan-perbedaan.

Kedua, atas keberhasilan Jatman ini para tokoh Sufi dunia (dalam Muktamar ini dihadiri juga oleh Tokoh Sufi dari 16 Negara) mendeklarasikan terbentuknya Perkumpulan Sufi Dunia (Multaqa Sufi Fil Alam) sekaligus mendaulat Rais ‘Am Jatman, Al-Habib Luthfi bin Yahya berkenan menjadi Raisnya.

Ketiga, keberhasilan strategi dakwah para Mubaligh penyebar Islam di Nusantara, khususnya di pulau Jawa yang dikenal sebagai Wali Songo yang berhasil meng-Islamkan masyarakat Jawa dengan penuh kedamaian, tanpa paksaan dengan kekerasan apalagi penggunaaan senjata, banyak dikaji oleh para Ulama dunia. Bahkan mereka mengagumi keberhasilan da’wah Syekh Maulana Malik Ibrahim, misalnya, yang datang ke Jawa Timur dengan hanya mampu berbahasa Arab dan tidak mengerti bahasa Jawa dapat menarik simpati dan berhasil meng-Islamkan masyarakat Jawa yang sama sekali tidak mengerti bahasa Arab. Demikian yang dapat kami tangkap dari ceramah-ceramah/dialog yang mereka lakukan dalam forum Muktamar XI ini.

Keempat, suasa Muktamar yang penuh kedamaian, jauh dari hiruk pikuk persaingan, kubu-kubuan, perebutan kekuasaan untuk memenangkan kursi pucuk pimpinan (sebagaimana yang sering terjadi dalam perhelatan bertarap nasional pada organisasi-organisasi lain). Dalam Muktamar Jatman ini pemilihan pucuk pimpinan (Rois ‘Am dan Mudir ‘Am) benar-benar dilaksanakan secara musyawarah mufakat tanpa menggunakan vooting. Kedua jenis pucuk pimpinan tersebut dipilih oleh Majlis Ifta’ sebagai tim formatur yang duduk di dalamnya para Mursyid Thariqah.

Mobil ESEMKA turut dipamerkan pada Muktamar XI

Kelima, dalam muktamar ini pula terjadi deklarasi pengukuhan terbentuknya MATAN (Mahasiswa Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyah). Hal ini menunjukkan bahwa thariqah yang selama ini terkesan “angker”, “seram”, eksklusif mulai dikenal dan diterima masyarakat umum, termasuk generasi muda.

Dan banyak lagi kesan-kesan yang tak dapat kuungkapkan semuanya melalui bahasa tulisan di sini.

Wallahu A’lam bish Showab.

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Berita, Jam'iyah, Kisahku, Organisasi, Ormas Islam, Pelajaran, Serba serbi, Tasawuf, Teladan | Dengan kaitkata: , , , , , | Leave a Comment »

Cilaka 12

Posted by gunawank pada Desember 30, 2011

Cialaka dua belas adalah ungkapan yang sangat populer di lingkungan orang sunda (cilaka = celaka) yang biasanya diungkapkan oleh seseorang yang berada dalam kondisi bahya, merugi, salah, kurang/tidak baik dan sejenisnya. Sebagai contoh:

  • Cilaka 12 euy, lagi asik-asik nyontek eh ketahuan sama pak guru !
  • Waduh cilaka 12 ! PR tentang serba 11 saja belum dikerjakan, sudah datang lagi PR serba 12.
  • dan lain-lain….. (jangan banyak-banyak contohnya, nanti ulangan nilainya 100 semua).

Karena termasuk ungkapan yang turun temurun sejak zaman nenek moyang dan merekapun tidak pernah memberikan penjelasan, sehingga sulit dibuat defisi yang benar-benar tepat. Oleh karena itu sah-sah saja jika ada pendapat yang mencoba menjelaskan maknanya, seperti apa yang akan aku kupas dalam tulisan ini. Baca entri selengkapnya »

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Ibadah, Iman, Islam, Kiamat, Muslim, Renungan, Serba serbi, Tasawuf, Tips | Dengan kaitkata: , , , , | 4 Comments »

Mengenal Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabarah An Nahdliyyah

Posted by gunawank pada Desember 28, 2011

Stop Press………!!!

Dalam rangka menyambut perhelatan MUKTAMAR XI Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabarah An Nahdliyyah pada tanggal 10 – 14 Januari 2012 di Pondok Pesantren Al-Munawwariyyah Bululawang Kabupaten Malang Jawa Timur yang akan dibuka langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada tanggal 11 Januari 2012, akan penulis turunkan beberapa postingan tentang thoriqoh untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sekitar thariqoh.

Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabarah An Nahdliyyah adalah salah satu Badan Otonom Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, merupakan organisasi keagamaan yang bertugas sebagai wadah pengamal ajaran Thoriqoh Al Mu’tabarah yang merupakan salah satu pilar dari ajaran Islam ala Ahlussunah Wal Jama’ah yang telah dirintis dan dikembangkan oleh para Ulama’ salafus sholihin, yang bersumber dari Rosulullah SAW. dari Malaikat Jibril AS. dan atas petunjuk Allah SWT. dengan sanad yang muttasil.

Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabarah An Nahdliyyah merupakan suatu sarana bagi para Mursyid/Muqoddam/Khalifah, untuk lebih mengefektifkan pembinaan terhadap para murid yang telah berbaiat sekaligus sebagai forum untuk menjalin ukhuwah antar sesama penganut ajaran Thoriqoh dalam rangka meningkatkan kualitas keimanan, ketaqwaan dan keikhlasan didalam amaliyah ubudiyyah serta meningkatkan robithoh terhadap guru Mursyid/Muqoddam/Khalifah.

Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabarah An Nahdliyyah memiliki konsep yang senafas dengan konsep dan gagasan kemerdekaan Republik Indonesia dalam rangka membangun generasi bangsa yaitu membangun manusia dari jiwa/rohaniyah dengan memperbaiki akhlaq, keimanan, ketaqwaan dan baru kemudian pembangunan fisik/jasmaniyyah. Baca entri selengkapnya »

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Jam'iyah, Muktamar NU, Nahdlatul Ulama, NU, Organisasi, Ormas Islam, Tasawuf | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »