Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Qurban Dengan Kornet Atau Uang

“Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah,
tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya.”
(QS: Al-Hajj: 37)


Akhir-akhir semangat untuk melaksanakan syariat qurban getol dikampanyekan oleh mereka yang memiliki kepedulian tentang itu. Manajemen pengelolaan yang ditawarkannyapun bervariasi mulai dari yang konvensional sampai yang lebih profesional dengan berbagai inovasi baru yang menggunakan pendekatan efek manfaat, sehingga muncul penawaran qurban dalam bentuk kornet, bahkan ada yang mengusulkan atau melemparkan wacana qurban dalam bentuk uang,

Ide yang terakhir ini muncul terutama berkaitan dengan musibah demi musibah yang terjadi di negeri tercinta ini, yakni memanfaatkan iven qurban untuk membantu mereka yang menjadi korban bencana.

Ditinjau dari sisi semangat untuk membantu sesama yang membutuhkan dan dari efek manfaat yang lebih besar, tentunya (setidaknya menurut pandangan akal manusia) inovasi maupun pemikiran ini sangat bagus. Tetapi harus diingat bahwa syariat, khususnya yang berkaitan dengan ibadah, tidak selalu yang baik menurut akal manusia baik juga menurut pandangan syariat. Contohnya wanita yang haid tidak diwajibkan bahkan diharamkan untuk berpuasa, padahal tidak semuanya yang sedang haid itu lemah, buktinya mereka masih tetap dapat bekerja bahkan melaksanakan aktifitas olah raga.

Oleh karena itu, pengetahuan tentang hukum syara atau fiqih mulai dari qaidah ushul fiqih, qaidah fiqih, methode qiyas (analogi) dan hukum-hukum syar’i (hukum berdasarkan nash qath’i) maupun hukum-hukum zhanni (hasil istinbat para mujtahid) mutlak diperlukan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa ibadah yang diperintahkan oleh Allah Swt secara garis besar terbagi kedalam dua macam:

Pertama, Ibadah mahdlah, yaitu bentuk ibadah yang diperintahkan untuk dilaksanakan yang disertai dengan ketentuan tatacara pelaksanaannya sebagaimana yang dicontohkan dan diajarkan oleh baginda Rasulullah Saw.

Dengan kata lain, ibadah yang termasuk kelompok ini tidak boleh dilakukan sesuka hati. Contohnya: shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain. Oleh karena itu, suka tidak suka, cocok tidak cocok, sesuai atau tidak sesuai dengan pemikiran akal manusia kelompok ibadah mahdlah ini harus dilaksanakan sesuai dengan waktu, tatacara pelaksanaan, syarat, dan rukun yang telah ditentukan.

Kedua, Ibadah ghair mahdlah, yaitu bentuk ibadah yang perintahnya ada tetapi waktu dan tatacara pelaksanaannya tidak ditentukan secara khusus. Manusia diberi kebebasan dalam pelaksanaannya sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang dimilikinya. Contohnya: dzikir, infaq, shadaqah, shalwat, do’a dan sebagainya.

Berdasarkan jenis ibadah di atas, ibadah qurban termasuk ke dalam kelompok ibadah mahdlah karena waktu, jenis hewan dan cara pelaksanaannya diatur dan dicontohkan oleh baginda Rasulullah Saw. Dari sisi hewan hanya unta, sapi/kerbau dan kambing/domba, dengan ketentuan satu ekor unta atau sapi untuk tujuh orang pengurban, sedangkan satu ekor kambing hanya cukup untuk satu orang pengurban.

Dengan demikian, betatapun besarnya kambing tetap saja hanya berlaku untuk satu orang. Begitu pula sekecil apapun sapi atau unta (yang telah memenuhi syarat), misalnya secara fisik maupun bobotnya lebih kecil dari kambing tetap saja berlaku untuk tujuh orang, tidak bisa dibalik.

Begitu pula seseorang tidak bisa disebut melaksanakan qurban dengan menyembelih 1000 ekor ayam, walaupun dari sisi nilai dan manfaatnya lebih besar dari pada menyembelih seekor kambing.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa qurban dalam bentuk daging kornet (sudah dalam bentuk kemasan olahan), hewan lain selain yang disebutkan di atas maupun dalam bentuk uang jelas tidak sah, atau tidak termasuk qurban (ibadah mahdlah) melainkan hanya merupakan shadaqah (ibadah ghair mahdlah) saja.

Adapun pengolahan daging qurban dalam bentuk kornet atau bentuk olahan lainnya dibolehkan apabila terjadi qurban dalam jumlah banyak dalam satu waktu (seperti yang terjadi di Mekah saat musim haji dimana jutaan hewan qurban disembelih dalam waktu yang hampir bersamaan) sehingga tidak mungkin disalurkan saat itu baik karena jumlah penerima (mustahiq) di sekitar itu tidak memadai maupun teknik pengelolaan yang sulit dilakukan untuk jangka waktu yang pendek. Jadi bolehnya ini karena ada illat (alasan hukum yang mendasari kebolehannya) menghindari tabdir (dampak mubadir).

Illat di atas nampaknya tidak berlaku di Indonesia. Buktinya, masyarakat kita masih berebut bahkan berani “mempertaruhkan nyawa” hanya untuk mendapatkan setengah kilogram -atau mungkin kurang- daging qurban, seperti kericuhan-kericuhan yang terjadi di berbagai tempat saat pembagian daging qurban.

Wallahu a’lam.

Terima kasih, jika anda mengomentari tulisan ini .......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: