Gunawank's Blog

Banyak Menolong Pasti Banyak yang Menolong

Posts Tagged ‘Hikmah’

Tulul Amal: Suka Mengulur Waktu Untuk Beramal

Posted by gunawank pada Maret 28, 2012

Marilah dalam hidup ini – kita selalu berusaha – memelihara iman yang ada dalam dada kita. Memperkuat rasa taqwa kita kepada Allah SWT, – baik dalam keadaan lapang – maupun dalam kesempitan hidup, dengan cara meningkatkan taat kita kepada Allah Swt, serta memelihara amal kita dari amal-amal yang dapat merusak ketaatan kita kepada-Nya.

Salah satu sikap yang dapat mengakibatkan bermalas-malasan dalam melakukan taat kepada Allah Swt adalah tulul amal, yaitu suka menunda-nunda kebaikan, mengulur-ulur waktu untuk berbuat amal, terlalu banyak pertimbangan dalam beramal, dengan berbagai macam alasan: sibuk, belum sempat, masih muda, masih ini, masih itu dan lain sebagainya.

Seperti kata seseorang: Nanti kalau sudah dapat pekerjaan, saya akan banyak shadaqoh, rajin berjamaah, rajin menghadiri pengajian dan lain-lain. Tetapi setelah dapat pekerjaan….nanti kalau sudah menikah, setelah menikah …. nanti kalau punya anak, setelah punya anak …nanti kalau anak sudah besar, …nanti kalau sudah pensiun, nanti kalau sudah tua, dan seterusnya dan seterusnya. Baca entri selengkapnya »

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Islam, Renungan, Tasawuf | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Takabbur vs Tawadhu

Posted by gunawank pada Maret 13, 2011

Takabur atau sombong adalah sikap dan sifat merasa diri lebih dari yang lain dalam segala hal: ilmu, ibadah, kekayaan, kedudukan, kecantikan dan lain-lain. Bahkan Imam al-Ghazali rahimahullah mengatakan: “Orang yang takabur adalah orang yang apabila dibantah (pendapatnya) oleh orang lain maka ia akan marah dan membencinya, sedangkan jika dia membantah pendapat orang lain akan membantahnya dengan perkataan sesuka hatinya. Suka membantah pendapat orang lain tetapi dia sendiri tidak mau dibantah orang lain”.

Oleh karena itu beliau mengatakan bahwa takabur merupakan sikap dan sifat yang sangat dicela dalam Islam serta merupakan penyakit hati dan termasuk ma’siat batin yang dicela oleh syara’.

فَادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَلَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

“Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu” (QS. An-Nahl: 29)

Baca entri selengkapnya »

Posted in Akhlak, Artikel Islam, Hikmah, Hot Topic, Kisah, KisahSufi, Serba serbi, Tasawuf, Teladan, Tips, Topic Hot, Uswatun Hasanah | Dengan kaitkata: , , , , , , | 10 Comments »

Hikmah Ramadlan: Keteladanan Pemimpin

Posted by gunawank pada September 2, 2010

Suatu hari, Khalifah Abu Bakar hendak berangkat berdagang. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Umar bin Khathab. “Mau berangkat ke mana engkau, wahai Abu Bakar?” tanya Umar. “Seperti biasa, aku mau berdagang ke pasar,” jawab sang khalifah.

Umar kaget mendengar jawaban itu, lalu berkata, “Engkau sekarang sudah menjadi khalifah, karena itu berhentilah berdagang dan konsentrasilah mengurus kekhalifahan.” Abu Bakar lalu bertanya, “Jika tak berdagang, bagaimana aku harus menafkahi anak dan istriku?” Lalu Umar mengajak Abu Bakar untuk menemui Abu Ubaidah. Kemudian, ditetapkanlah oleh Abu Ubaidah gaji untuk khalifah Abu Bakar yang diambil dari baitul mal.

Pada suatu hari, istri Abu Bakar meminta uang untuk membeli manisan. “Wahai istriku, aku tak punya uang,” kata Abu Bakar. Istrinya lalu mengusulkan untuk menyisihkan uang gaji dari baitul mal untuk membeli manisan. Abu Bakar pun menyetujuinya.

Setelah beberapa lama, uang untuk membeli manisan pun terkumpul. “Wahai Abu Bakar belikan manisan dan ini uangnya,” ungkap sang istri memohon. Betapa kagetnya Abu Bakar melihat uang yang disisihkan istrinya untuk membeli manisan. “Wahai istriku, uang ini ternyata cukup banyak. Aku akan serahkan uang ini ke baitul mal, dan mulai besok kita usulkan agar gaji khalifah supaya dikurangi sebesar jumlah uang manisan yang dikumpulkan setiap hari, karena kita telah menerima gaji melebihi kecukupan sehari-hari,” tutur Abu Bakar.

Sebelum wafat, Abu Bakar berwasiat kepada putrinya Aisyah. “Kembalikanlah barang-barang keperluanku yang telah diterima dari baitul mal kepada khalifah penggantiku. Sebenarnya aku tidak mau menerima gaji dari baitul mal, tetapi karena Umar memaksa aku supaya berhenti berdagang dan berkonsentrasi mengurus kekhalifahan,” ujarnya berwasiat.

Abu Bakar juga meminta agar kebun yang dimilikinya diserahkan kepada khalifah penggantinya. “Itu sebagai pengganti uang yang telah aku terima dari baitul mal,” kata Abu Bakar. Setelah ayahnya wafat, Aisyah menyuruh orang untuk menyampaikan wasiat ayahnya kepada Umar. Umar pun berkata, “Semoga Allah SWT merahmati ayahmu.”

Kisah yang tertulis kitab fadhailul ‘amal itu sarat akan makna dan pesan. Di bulan Ramadhan ini, kita dapat mengambil pelajaran dari sikap dan keteladanan Abu Bakar yang tidak rakus terhadap harta kekayaan. Meski ia adalah seorang khalifah, namun tetap memilih hidup sederhana demi menjaga amanah.

Inilah sikap keteladanan dari seorang pemimpin sejati yang perlu ditiru oleh para pemimpin bangsa kita. Perilaku pemimpin, memiliki pengaruh yang besar bagi kehidupan masyarakat. Terlebih, bangsa Indonesia memiliki karakteristik masyarakat yang paternalistik yang rakyatnya berorientasi ke atas.

Apa yang dilakukan pemimpin akan ditiru oleh rakyatnya, baik perilaku yang baik maupun yang buruk. Dengan spirit Ramadhan, maka hendaknya para pemimpin memberi teladan untuk hidup secara wajar agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Wallahu ‘alam.

***Dikutif dari “Puasa dan Keteladanan Pemimpin” oleh Prof. Nanat Fatah Natsir (Republika, 1/9/2010)

Posted in Akhlak, Bulan Ramadlan, Hikmah, Iman, KisahSufi, Pelajaran, Pemimpin, Pendidikan, Puasa Ramadlan, Serba serbi, Shaum, Teladan, Wakil rakyat | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | 3 Comments »

Mengambil Hikmah Batalnya Kunjungan Obama

Posted by gunawank pada Maret 19, 2010

Tersiarnya berita pernyataan resmi yang disampaikan langsung Presiden Barack Obama via RCTI tentang pembatalan rangkaian kunjungannya ke Indonesia dan beberapa negara yang rencananya dilaksanakan mulai 22 Maret 2010 dengan alasan masih ada urusan dalam negeri yang lebih penting yaitu mengikuti voting Reformasi Asuransi Kesehatan, langsung disambut komentar baik yang senang maupun yang kecewa atau setidaknya menyayangkan hal itu harus terjadi.

Sekali lagi, terlepas dari pro-kontra, sikaf yang lebih arif tentunya bagaimana dapat mengambil hikmah dari peristiwa ini.  Antara lain:

Pertama, harus jadi pembelajaran bagi pemimpin bangsa kita bahwa urusan dalam negeri sekecil apapun harus diprioritaskan.

Kedua, bagaimana hormat dan patuhnya seorang presiden (eksekutif) kepada saran dan usulan parlemen (legislatif).

Ketiga, begitu jentelmennya seorang presiden negara adikuasa ketika tidak dapat memenuhi rencana perjalanannya ke sebuah negara berkembang, mau menyampaikan permohonan maafnya langsung tanpa melalui juru bicaranya. Bahkan sebagai penggantinya beliau berjanji akan berkunjung pada bulan Juni lengkap dengan keluarganya.

Keempat, bagi bangsa Indonesia penundaan kunjungan Obama ini sebenarnya akan lebih banyak manfaatnya antara lain suasana kunjungannya akan lebih rilex dan leluasa, oleh karena itu perlu dipersipkan dengan lebih matang antara lain dengan menyusun daftar harapan dan kemanfaatan dari kunjugan beliau bagi bangsa Indonesia, seperti dapat menjadi agen promosi Indonesia ke dunia Internasional, meyakinkan bahwa Islam bukan teroris dan tidak pernah mengajarkan terorisme, Indonesia sebagai bangsa yang majemuk dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia mampu menerapkan demokrasi, meningkatkan kerjasama dibidang pendidikan, ekonomi dan lain-lain.

Posted in Akhlak, Berita, DPR, Guru, Hikmah, Islam, Jadwal, Kerjasama, Pendidikan, Politik, Serba serbi, Tamu negara, Teror, Teroris, Terorisme, Wakil rakyat | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »